Kini berbagai pertanyaan muncul ketika Raelynn terbaring di atas meja operasi. Mempertaruhkan nyawa, berjuang untuk bisa melahirkan bayinya dengan selamat … sendirian. Ya, dengan tubuhnya yang kurus, Raelynn menandatangani surat pernyataan untuk dilakukan operasi untuk dirinya sendiri.
Apakah semua kemalangan ini bermula ketika dia menerima pernikahan di atas kerta yang pria berikan? Ataukah semua ini berawal saat dia mengetahui tentang kehamilannya sekaligus penyakit mematikan yang tidak dia sadari sebelumnya? Atau semenjak malam itu … di saat keluarganya sendiri menyiksa dan menjadikannya pelayan dan bahkan menjualnya demi kepentingan bisnis mereka?
Raelynn rasa, tidak! Bahkan sebelum semua itu terjadi kemalangan mulai menjadi hari-harinya sejak saat itu. Ya … Raelynn ingat sekarang. Semenjak hari itu, dimana dia menolak perjodohan yang di atur oleh keluarga demi untuk mengejar cinta pertamanya.
Mampukah Raelynn bertahan dengan semua kemalangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07. Menjadi Pelampiasan
Keesokan harinya tanpa Raelynn duga, Sang Ayah telah memecat seluruh pelayannya kecuali Bi Martha dan melimpahkan semua posisi yang kosong itu pada untuknya. Mulai dari memasak, mencuci, membersihkan rumah dan mengurus kebun diberikan kepada Raelynn seorang.
Sementara, Bi Martha ditugaskan hanya untuk mengawasi setiap pekerjaan Raelynn saja. Seakan hubungan darah ayah dan anak di antara mereka telah terhapus sepenuhnya pada hari itu, hari dimana Raelynn bersikeras untuk pergi dari rumah.
“Papah aku—"
“Aku sudah memecat seluruh pelayan di rumah ini,” potong Edwin membuat Raelynn terkejut bukan main, “Dan mulai hari ini semua pekerjaan harus dilakukan sendiri olehmu. Bi Martha hanya bertugas mengawasimu saja. Apa kau mengerti?” lanjutnya penuh penegasan.
Raelynn ingin protes dan menolaknya, tetapi tatapan tajam sang Ayah membuatnya tidak berani untuk melakukannya. Sebesar itu ‘kah kesalahan yang Raelynn lakukan, sehingga api kemarahan di mata kedua orangnya sama sekali tidak bisa terpadamkan. Alhasil, Raelynn hanya bisa pasrah menerima pelakuan keluarganya dan menjawab, “Baik, Pah! Aku mengerti!”
“Apa katamu barusan?” sentak Edwin dengan nada tinggi dan tatapan mata yang menusuk, “Pah? Beraninya kau memanggilku dengan sebutan itu. Sejak kau memutuskan untuk keluar dari rumah ini, kau tidak berhak lagi memanggil kami dengan sebutan itu. Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan Tuan, Nyonya untuk istriku dan Nona untuk putriku—Risha. Ingat itu baik-baik!”
Degh …
Betapa sakitnya hati Raelynn mendengar semua itu. Dia tidak layak untuk memanggil orang tuanya sendiri dengan sebutan itu? Apakah sehina itu dirinya sekarang di mata keluarganya. Lagi-lagi pertanyaan itu kembali muncul di benaknya, “Apakah kesalahanku memang sebesar itu? sampai aku tidak layak memanggil kedua orang tuaku sendiri dengan sebutan Papah dan Mamah lagi?”
“Kau tidak mau menjawab!” sentak Edwin.
“Baik, Pa—! Maksudku Tuan!”
Raelynn hanya bisa menuruti kemauan dari sang Ayah menyadari semua itu karena kesalahannya sendiri, meski hatinya menahan rasa sakit yang begitu luar biasa.
“Sekarang pergi ‘lah lakukan pekerjaanmu!” perintah Edwin.
Pada hari itu, Raelynn harus melalui harinya yang bagaikan berada didalam neraka. Apalagi ayahnya berniat akan selalu berusaha menyiksanya setiap kali ada kesempatan. Dengan berbagai hinaan dan cacian, bahkan sering kali ringan tangan pada kesalahan kecil yang dilakukan oleh Raelynn.
Entah kenapa kesalahan Raelynn yang memutuskan untuk kembali pada Javier dulu seperti tidak akan pernah termaafkan olehnya. Sampai akhirnya Raelynn mengetahui dari Bi Martha bahwa perusahaan sedang mengalami krisis yang sangat serius. Dan dari pembicaraan yang tidak sengaja Bi Martha dengar saat itu, semua masalah ini direncanakan oleh keluarga Antonio yang tidak terima penolakan Raelynn hari ini.
Setelah mengetahui apa yang terjadi, Raelynn pun semakin tidak berani melontarkan protes apapun. Sebab secara tidak langsung semua ini terjadi karena sifat keras kepalanya, hingga keluarganya diambang kehancuran.
Raelynn pun akhirnya menerima semua perlakuan buruk dari keluarganya sendiri. Contohnya seperti sekarang, setiap datang waktu makan masakan Raelynn pada akan dihina habis-habisan.
“Hai! Kau mau apa dengan menarik kursi itu?” bentak sang ayah ketika melihat Raelynn hendak duduk satu meja dengan mereka. Karena hari-hari sebelumnya Raelynn belum terbiasa dengan semua pekerjaannya, sehingga selalu melewatkan waktu makan bersama dan berakhir dengan dia menikmati makanan yang di sisakan.
“A-a-aku ingin ikut makan, Tuan.” Raelynn menjawab dengan polosnya, meskipun nada bicaranya sedikit bergetar karena takut terhadap tatapan sang ayah.
“Apa katamu? Mau makan bersama dengan kami?” sentak sang ayah, “Apakah kau lupa dengan posisimu sekarang yang hanya seorang pelayan, Hah? Yang artinya tempatmu bukan di sini lagi melainkan di belakang sana. Lebih tepatnya berada di dekat tong sampah!”
Mendapat sindiran keras dari sang ayah, Raelynn pun langsung sadar akan posisinya yang sekarang bukan ‘lah lagi bagian dari keluarga itu melainkan hanya seorang pelayan saja. Dengan wajah menunduk, menahan tangisnya Raelynn berniat kembali ke dapur dengan perasaan hancur.
Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan maka. Tiba-tiba terdengar suara piring pecah yang begitu menggema diruangan itu.
Pranggg ...
Semua makanan yang tadinya tertata rapi di atas meja, kini sudah jatuh berhamburan di lantai dengan pecahan piring dan gelas yang berserakan dimana-mana. Sontak saja membuat semua orang menjadi terkejut dibuatnya, bahkan Bi Martha yang berada di halaman belakang sampai langsung bergegas ke ruang makan begitu mendengar suara itu dengan panik.
“Makanan apa ini? Kenapa rasanya seperti sampah, hah?” teriak sang ayah yang sudah di penuhi dengan emosi lagi, entah apa alasannya kali ini Raelynn sama sekali tidak bisa menebaknya.
“Ba-bagaimana mungkin rasanya tidak enak? Padahal aku sudah memasak seperti biasanya.”
Perasaan takut kembali melanda hati dan pikirannya. Dia benar-benar tidak percaya bahwa masakannya terasa tidak enak layaknya sampah seperti yang dikatakan oleh ayahnya. Sebab dia sudah mencicipinya lebih dulu dan masakannya bahkan terbilang sangat enak seperti masakan restaurant.
“Jadi maksudmu aku yang berbohong dan mengada-ada begitu, Hah!” Suara bentakan dari sang ayah kembali terdengar, bahkan lebih keras dari sebelumnya.
“Bu-bu-bukan itu maksud saya Pa_, maksudku Tuan.”
Tubuh Raelyn bergetar hebat begitu mendengar bentakan sang ayah yang menggelagar di setiap sudut ruangan itu.
Bahkan Emma dan Risha juga tak bisa berkata apapun untuk meredakan amarah ayahnya. Mereka juga merasa terkejut dan sedikit takut dengan emosi sang ayah yang sangat tiba-tiba itu. Akan tetapi, mereka hanya bisa menyaksikan tanpa berniat membantu Raelynn sama sekali.
Baik Emma maupun Risha sudah tahu alasan kemarahan Edwin. Dimana mereka kembali gagal mendapatkan bantuan untuk menyelamatkan perusahaan mereka yang benar-benar seperti tidak ada harapan lagi untuk bangkit. Edwin membutuhkan pelampiasan untuk rasa frustasi dan sepertinya Raelynn yang akan menjadi tempat pelampiasan tersebut.
“Lalu maksud kamu apa? Kalau kau tidak percaya, coba saja makan sendiri sampah yang kau buat itu.”
Edwin langsung beranjak dari tempat duduknya. Menarik kasar rambut panjang Raelynn, lalu melemparkan tubuhnya ke lantai yang berserakan dengan makanan dan juga pecahan piring dan gelas. Bahkan kepalanya terbentur cukup keras pada ubin lantai yang jelas itu akan meninggalkan rasa sakit yang luar biasa.
“Aakhh …”
Raelynn hanya bisa merintih kesakitan, saat beberapa pecahan piring menusuk tubuhnya. Kepalanya seketika terasa sangat pusing dan matanya mulai berkunang-kunang. Akan tetapi, telinganya masih jelas mendengar cacian dari sang Ayah yang tiada hentinya.
Rasanya sangat sakit, tapi bukan hanya sakit karena luka di tubuhnya, melainkan rasa sakit hati pada keluarganya yang begitu kejam memperlakukan dirinya bagaikan orang yang paling hina di dunia ini.
Bersambung ….
Lagian Gavin ngga bilang sih, siapa anak Edwin Cameron yang dimaksud...
Masa Suho ngga tahu sih, kalo Edwin punya 2 anak perempuan 🤔
next kk