Luna, seorang gadis berusia 19 tahun. Gadis Desa yang merantau ke kota bersama Ibunya. Gadis yang anggun, lembut, ayu, tangguh serta mandiri. Dia hamil tanpa suami dan belum pernah sekalipun melakukan hubungan dengan laki-laki. Berawal dari kejadian yang tidak terduga. Luna mengalami sakit perut lalu melakukan pemeriksaan di rumah sakit PERMATA DOA. Dari situlah awal kehamilan Luna hingga membuat malu keluarga.
Dapatkah Luna dan keluarganya menerima kehamilannya? Atau kejadian di luar dugaan malah dialami oleh keluarga Luna?
Dan bayi siapa yang Luna kandung? Apakah bayi Luna adalah keturunan pertama pewaris perusahaan terbesar di Kota J. Yuk langsung simak ceritanya.
*Mohon dukungan para Readers tersayang..*
Karya ini diterbitkan atas izin mangaToon Heniff, Isi Konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili MangaToon itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heniff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Tanpa permisi Arka langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia tidak jadi ikut makan malam dan langsung masuk ke kamarnya. Ke dua orang tua Arka sangat mengerti sifat Arka yang terkadang persis seperti Papanya yang pendiam, dingin, tanpa ampun, tegas dan tidak ada basa basi. Semua hal yang dia kehendaki psti akan diraih dengan usaha yang kuat. Satu yang paling istimewa Arka sangat taat pada orang tuanya, karena dia tau surga dunianya dan ladang pahala ada di orang tuanya.
Arka masuk ke dalam kamar, dia membanting pintu kamar hingga mengagetkan seisi rumah. Tidak ada yang berani ikut campur ketika Arka marah sekalipun Pak Hari atau Bu Hari sendiri. Ketika Arka marah, semua orang akan mengambil sikap diam. Karena ketika marah, Arka bisa saja pergi ke mana pun yang dia suka, tanpa memperdulikan ada orang yang sedang mebutuhkan bantuannya atau orang yang kangen padanya.
Ketika semua dalam kediaman yang berselimut hawa dingin malam. Tanpa terhindarkan lagi semua larut dalam pikiran dan tidurnya masing-masing. Tidak terkecuali dengan Arka yang begitu capek bergelut dengan masalah kehidupannya yang rumit. Arka tertidur di Kasur King Zise yang menjadi tumpuan tubuhnya ketika masih sendiri hingga menikah dengan Selena.
Karena terlelap Arka tidak sempat mengecek pesan masuk di HP-nya, dan sekitar pukul 2 dini hari HP Arka berdering tanpa henti. Arka terbangun dan mengambil HP di atas nakas. Nama Selena muncul di layar HP canggihnya, dengan sedikit berat hati Arka menerima panggilan Selena.
“Hallo..,” Arka mencoba memberi respon pada Selena.
“Hallo Pak, apa ini benar dengan suami ibu Selena? Kami dari pihak Laka Lantas Polda Jawa Barat menemukan mobil dengan nomer B 5333l NA. Mengalami kecelakaan tunggal di TOL Pelangi.”
“Iy Bapak, saya Arka suami dari Bu Selena dengan mobil berpelat nomer seperti yang Bapak sebutkan. Terimakasih saya akan segera ke sana sekarang juga.”
Arka bergegas mengambil kunci mobil dan segera keluar. Dia tidak membangunkan orang tuanya hawatir semua syok karena kabar yang dia peroleh. Arka menuju ke tempat Pak Bejo Ronda malam dan menemukan Pak Bejo sedang tidur dengan meletakkan kepalanya di atas meja sambill posisi masih terduduk. Arka membangunkan Pak Bejo, Pak Bejo yang kaget, reflek mengambil kuda-kuda.
“Ini aku Pak, bukan maling.”
“Eh Den Arka, saya kira penyusup, iya Den ada apa malam-malam begini Den Arka bangun?”
“Saya mau pergi ke Tol Pelangi bilang Papa sama Mama kalau saya ada urusan yang sangat penting dan harus segera saya selesaikan.”
“O..iy Den nanti akan saya sampaikan ke tuan besar.”
Arka segera pergi meluncur dengan mobil super mewahnya. Sekalipun biasanya dia selalu tampil sederhana, kali ini karena Dia hanya membawa mobil yang dia pakai untuk menjemput Papa dan Mamanya Arka terpaksa menggunakan mobilnya itu.
Tidak perlu waktu lama Arka sampai di Tol Pelangi, dia berhenti di kerumunan para Polisi dan segera turun dari mobilnya.
“Maaf Pak saya Arka, apa ini kecelekaan tunggal dengan nama pengendara Ibu Selena?” Arka bertanya pada satu polisi yang sedang bertugas di sekitar area keramaian itu.
“Iya Bapak, tapi siapa anda, apa anda keluarga pengendara?” Polisi itu bertanya balik pada Arka.
“Saya Suami pengendara mobil dengan pelat nomer B 5333l NA.”
“Oiy Pak. Silahkan anda ke tempat korban karena kami belum membawa korban ke RS terdekat, kami masih dalam proses evakuasi korban, karena korban meninggal di tempat. Tubuhnya terjebak di dalam mobil yang terbalik akibat menabrak bahu jalan Tol.”
“Apa! Istri saya meninggal pak?” Dengan muka yang tiba-tiba berubah pucat dan gugup. Arka menguatkan ke dua kakinya untuk mendekati Selena yang masih proses di keluarkan dari mobil.
Mata Arka nanar melihat tubuh Selena yang sudah tidak bernyawa lagi, perasaanya campur aduk. Di sisi lain Arka sangat tidak menginginkan Selena. Tapi dalam hati Arka tetap masih ada rasa sayang terhadap Selena sekalipun belum sempurna. Arka meremas rambutnya sendiri. Dia tidak tega melihat tubuh Selena yang penuh dengan darah. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, masih dengan sisa-sisa kesadarannya Arka menelepon Rama.
***
Di Rumah Rama, Rama tertidur dengan sangat pulas sampai tidak mendengar suara telepon yang masuk, karena berdering berulang ahirnya Rama terbangun mendengar suara telepon. Dia melihat ke layar benda pipih itu, Bos Arka.
Dasar Bos ini ya, tidak tau ada hari esok apa! Jam segini telepon ngebangunin orang yang lagi mimpi indah saja. Gerutu Rama dalam hati, dan dengan setengah mengantuk dia mengangkat telepon dari Arka.
“Hallo..,” baru saja Rama meletakkan HP di telinganya suara Arka langsung menembus gendang telinganya yang terasa mau pecah.
“Lama sekali sih loe kayak orang mati saja! Di telepon tidak diangkat-angkat. Cepat ke Tol pelangi sekarang juga! Selena kecelekaan dan meninggal di tempat,” belum ada respon dari Rama, telepon Arka sudah terputus.
Ahirnya Rama yang masih setengah sadar langsung terduduk di tepi tempat tidurnya, kakinya terasa lemas, tapi karena dia harus segera ke Tol Pelangi. Rama berusaha bangkit dan menggelengkan kepalanya dengan gerakan cepat, berharap kekuatan dan semangat akan dia peroleh. Rama langsung lari ke garasi tapi dia lupa tidak membawa kunci mobilnya. Sedangkan Rama lupa di mana terahir kali dia meletakkan kunci mobilnya. Karena beberapa hari ini dia bekerja bersama sopir Arka Pak Rejo.
Rama mencoba mencari tapi apalah daya dia tidak juga menemukan kunci mobil yang dicarinya. Tanpa pikir panjang Rama lari ke kamar adik perempuannya. Rama menggedor pintu kamar Lia dengan sangat keras hingga membangunkan seisi rumah. Lia pun terbangun, sambil mengucek matanya yang masih ngantuk.
“Kakak Rama ini ada apa sih kak..! tidak liat apa lagi enak-enaknya tidur dibangunin. Bikin kaget saja.”
“Hai tupai kecil! Mana kunci mobil kakak? Biasanya kakak letakkan di tempatnya tapi kakak cari tidak ada. Pasti kamu yang habis pinjam tapi belum dikembalikan? Bikin repot orang saja!” Sambil menjitak kening adik kesayangannya itu.
“Aduh..! Sakit tau kak..! Itu kuncinya disitu di atas nakas. Maaf Lia lupa mengembalikan, kemarin habis Lia pakai ke Kampus sebentar,” Lia menggerutu sambil memegang keningnya yang dijitak sama Rama.
“Lagian masih pagi buta gini kakak mau kemana sih!?”
Ayah dan Bunda Rama yang mendengar keributan anaknya ikut terbangun dan segera berlari ke kamar Lia.
“Ada apa dengan kalian? Kenapa masih pagi gelap begini sudah ribut,” Tanya Pak Dadang Ayah Rama.
“Iya ini kakak Yah.., masih gelap gini bangunin Lia sambil marah-marah.”
Kemudian sambil lari menuju garasi, Rama menjelaskan “Rama harus ke Tol Pelangi Ayah, Istri Arka meninggal di tempat, karena kecelakan di Tol Pelangi.”
“Astaghfirullah.., Innalillahi wainnailaihi rooji’un,” Ayah dan Bunda Rama bagai paduan suara mengucapkan kata Istighfar dan Doa ketika tertimpa musibah itu.
“Ya Allah yah.., kasihan sekali si Arka itu ya,” Bunda Rama meratapi nasib yang dialami oleh Arka.
“Sudah. Kita doakan bersama saja Bun.., smg Arka dan keluarganya diberi ketabahan dan Selena menjadi Husnul Khotimah. Aamiin,” Mereka pun kembali ke kamar untuk istirahat kembali.
Sementara Lia yang masih tertegun dan kaget mencoba meraih HP untuk mengabari 4 sahabat Group WA MACASOW-nya alias sahabat karib yang manis, caem dan Sholihah.
cepat sadar arka aku kangen eh salah Luna yang kangen🤭🤭