NovelToon NovelToon
Wasiat Dari Mama

Wasiat Dari Mama

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Defani Zulfa

Mungkin bagi sebagian orang hal ini aneh, namun bagiku ini memang nyata. Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Entah itu keberuntungan atau kesialan. Sejak dari kecil mama selalu melarang dan menyuruh aku ini itu. Ketika aku memprotes perintah mama, ia selalu bilang "Lakukan saja perintah mama kalau kamu tidak mau terkena musibah,".

Awalnya aku tak percaya dengan kata mama, namun semakin aku beranjak dewasa aku mulai paham dengan kata-kata mama. Aku menyesal, kenapa aku baru sadar akan kata-kata mama disaat musibah itu datang. Ya aku tidak melakukan perintah mama ketika aku telah menyelesaikan studi ku. Seharusnya aku ikut mama dan papa pulang, namun aku membantah perintah itu.

Hingga suatu hari, keputusan ku itu menyebabkan mama jatuh sakit. Sebelum mama pergi untuk selama-lamanya, ia berwasiat kepada ku untuk menikahi perempuan pilihannya sesegera mungkin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defani Zulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C-6

Hari telah berganti Minggu.

Minggu telah berganti bulan.

Dan bulan telah berganti dengan Tahun.

Waktu terus berjalan, dan tak sedikit pun waktu hendak berbalik arah dan berhenti.

Sudah tiga tahun baik Gilang dan Nabila meninggalkan rumahnya. Meskipun Nabila akan selalu pulang saat libur panjang. Nabila juga hampir setiap minggunya bisa berjumpa dengan keluarganya. Karena memang keluarganya yang menjenguk seminggu sekali.

Berbeda dengan Gilang, karena jarak yang jauh dan kegiatan yang padat. Selama tiga tahun terakhir ini, dia tidak pernah pulang walau hanya sehari saja. Kegiatan di sana sudah menguras banyak waktu nya. Dia ingin segera menyelesaikan kuliahnya dan segera kembali ke keluarga yang selalu ia rindukan.

Mesir

Gilang

Aku merasa diriku yang sekarang berbeda dengan diriku yang dulu. Di sini aku begitu dekat dengan Abah ( pemilik pondok ). Dia tahu bahwa aku tidak seperti santri-santrinya. Aku tidak tahu banyak tentang agama. Dan aku sering absen saat pengajian. Karena tugas dan setiap hari aku selalu pulang sore terkadang sampai Maghrib.

Ini bukan alasan aku tak mau ikut pengajian. Tapi sejak 2 tahun ini aku diminta dosen ku untuk menjadi asisten nya. Awalnya aku berniat untuk menolaknya.

Sebelum memberikan jawaban atas permintaan dosenku itu aku meminta izin terlebih dahulu ke Abah. Karena selama aku di sini Abah lah yang menjadi orang tua ku. Dan aku selalu menuruti perintah nya dan patuh padanya.

F**lashback On**

Ku putuskan untuk segera menghadap Abah untuk membahas soal permintaan dosenku itu. Saat menghadap Abah, aku dipersilahkan untuk menceritakan masalah ku. Abah mendengarkan semua cerita ku dari awal sampai akhir dengan baik. Dan setelah aku selesai bercerita, Abah langsung memberikan aku jawaban.

"Terimalah permintaannya," jawab Abah.

"Bagaimana dengan pengajian ku di sini Bah,"

"Kamu tak perlu khawatir, saya yang akan mengajarimu setiap malam, jika kamu tidak ikut pengajian saat sore,"

"Benarkah bah,"

"Tentu, sesama manusia sudah seharusnya saling membantu. Dan dosen mu telah mempercayai mu dari pada orang lain jadi buktikan bahwa kamu memang bisa dipercaya"

"Baiklah, saya akan menerima permintaannya, "

Flashback End

Sejak saat itu aku menjadi asisten dosen dan secara tak langsung Abah menganggapku seperti anaknya sendiri. Aku sangat bersyukur karena Abah selalu baik padaku. Dan santri-santri di sini juga sangat baik padaku. Walau hanya ada beberapa yang kuliah dan selebihnya masih Mts atau Ma.

Aku sangat beruntung mendapatkan ibu seperti mama ku yang selalu menyayangi ku. Dia selalu menunjukan jalan yang benar kepada ku. Tak pernah sekalipun mama menjerumuskan ku ke jalan yang salah.

Dulu teman-teman ku banyak menganggapku sebagai anak mama. Aku tak peduli kata mereka toh kenyataan nya aku memang anak kandung mama sama papa. Dan sejak aku ada di dalam perut mama, kedua orang tua ku sudah menjagaku dan menyayangi ku sampai sekarang. Seperti keberadaan ku disini, mama lah yang meminta. Aku tak pernah menyesal untuk menuruti permintaan mama.

Waktu begitu cepat, tak terasa sudah tiga tahun aku di sini. Dan sudah tiga tahun pula aku tak pernah bertemu keluarga ku. Aku pernah berniat untuk pulang tapi mama selalu bilang, "Selesai kan kuliah serta mondok mu dan setelah semua selesai baru kamu bisa pulang."

Beberapa hari ini, aku merasa memiliki firasat buruk. Entah firasat itu berkaitan dengan apa, aku tidak tahu. Aku hanya merasa ada sesuatu yang membuat aku tidak tenang.

Beberapa kali aku coba telpon orang rumah, namun tak ada satu pun yang aku hubungi merespon telpon ku. Sampai-sampai aku hampir berniat untuk pulang dan melihat apa yang terjadi di rumah. Namun saat aku meminta izin ke Abah, Abah tak memberi ku izin karena mama lah yang meminta itu.

Padahal setahu ku, keluarga ku tak pernah tahu tentang Abah atau pondok ini. Mereka hanya tahu bahwa aku mondok di salah satu pondok di sini. Karena aku penasaran dengan apa yang dikatakan Abah, ku tanyakan pada nya kapan mama meminta Abah untuk melarang aku pulang.

"Bah, kapan mama memberi tahu Abah untuk tidak mengizinkan ku pulang?"

"Beliau tak memberi ku secara langsung, dia datang ke mimpiku saat beberapa hari sebelum kamu datang ke sini. Dia menitipkan mu dan melarang Abah untuk mengizinkan mu pulang sebelum kuliah mu selesai dan yang lebih penting sebelum kamu mengerti dan paham tentang agama kita,"

"Tapi perasaan saya tidak tenang dan saya takut terjadi sesuatu terhadap keluarga saya Saya ingin pulang untuk memastikan bahwa firasat saya ini tidak benar,"

"Mintalah pertolongan kepada Allah dan curah kan isi hati mu pada-Nya. Karena Dia-lah yang telah mengatur sekenario kehidupan kita,"

"Baiklah Bah, kalau begitu saya izin kembali ke asrama,"

"Iya, jangan lupa pesan Abah tadi......"

"Saya permisi undur diri dulu Bah, assalamualaikum..."

"Wa'alaikumsalam..."

Aku laksanakan perintah Abah. Sebelum ke asrama, ku sempatkan untuk ke kamar mandi terlebih dahulu untuk berwudhu. Setelah itu aku melaksanakan solat dan mencurahkan seluruh hatiku. Tak lupa aku meminta perlindungan kepada-Nya untuk kesehatan dan keselamatan ku, beserta keluarga ku.

Surabaya

Di Surabaya, keadaan keluarga tidak sepenuhnya baik-baik saja. Mereka masih cemas dengan keadaan sang mama yang sedang jatuh sakit.

Sejak kemarin keluarga Rianto berada di rumah sakit milik mereka dimana Ayu ( mama Gilang ) sedang dirawat. Tak ada yang menyangka bahwa Ayu akan sakit diabetes. Mungkin karena selama ini Ayu selalu memakan makanan yang manis.

"Bagaimana keadaan mama kak?" tanya bunga cemas

"Mama baik-baik saja, kamu tenang lah. Dan jangan menampakkan kesedihanmu di depan nya bila dia sadar nanti. Hiburlah mama supaya hatinya selalu bahagia karena jika dia sedih akan memperburuk keadaan nya,"

"Udah waktu yang solat. Kita gantian ada yang di sini temenin mama dan ada yang solat," ucap papa.

"Biar aku saja yang menunggu di sini. Kakak dan papa pergilah terlebih dahulu," jawab Bunga.

"Baiklah kalau begitu, mari kita pergi ke masjid. Dan Bunga, kalau ada apa-apa segera hubungi kami,"

Papa dan kakak bunga pun meninggalkan ruang rapat Ayu. Mereka bergegas pergi ke masjid di rumah sakit ini.

Sedangkan bunga, ia duduk di samping sang mama. Ia menatap mamanya lama, seakan pandangannya tidak mau lepas dari sana.

Beberapa saat kemudian, papa dan kakak bunga telah kembali. Bertepatan dengan panggilan masuk dari Gilang. Bunga ingin mengabaikan panggilan itu, namun ia juga merasa tak tega karena memang keluarganya beberapa hari ini sudah mengabaikan panggilan dari Gilang. Akhirnya ia pun mencoba memberi tahu papanya, ia berharap sang papa mengizinkannya untuk mengangkat panggilan itu.

"Pa, kak Gilang telpon," ucap bunga.

"Angatlah dan Jangan beritahu keadaan mama. Karena mama tidak mau Gilang tahu kondisinya, mama takut nya jika Gilang tahu kondisi di sini ia akan meminta untuk pulang,"

"Baiklah,"

Setelah mendapat izin, bunga keluar untuk menerima telepon sang kakak. Suara Gilang terdengar cemas dan khawatir. Ia sampaikan keadaan di sini, walau kebohongan yang bunga sampaikan.

Setidaknya kak Gilang tak mencemaskan keadaan kami lagi dan tak berniat untuk pulang. Batin Bunga

1
Dahlia Anwar
bukan gitu Thor nulis nya tolong di revisi
Wiji Bajay
mampir 😘
Micke Rouli Tua Sitompul
perempuan gila
Priskha
lama2 jd bosan bacanya
Anwar Sinurat
wahhh tikohnya buanyak jg iya thor
Desi Susanti
pakai gue aja thor.kalau sama teman.kecuali sm org tua apa yg d tuakan.
Desi Susanti
kayaknya bgs ni novel.semoga y thor.
Umi Machmudah
ceritanya sangat bagus
Nina Puji Handayani
kayaknya menarik, apalagi berhubungan sama pondok,aq suka
silvia🙋‍♀️
lanjut thor...kyknya seru nich
♡👿 [V]aM|P!R} 👿♡
lebih suka pengenalan visual nya dr pada ciri2 nx 😁
IntanhayadiPutri
Hy, aku udah mampir lagi tambah like dan jangan lupa mampir pake novel baruku 🙏

RAEL BELLA

Termiakasih🙏
IntanhayadiPutri
Hy, aku udah mampir lagi nambah like dan jangan lupa mampir pake novel baruku 🙏

RAEL BELLA

Termiakasih🙏
IntanhayadiPutri
Aku mampir nih kak, udah 5 like dan 5 rate juga.. jangan lupa mampir ya ke ceritaku

TERJEBAK PERNIKAHAN SMA

makasih 🙏🙏
sri mamaBima
awal cerita nikmati dulu bacax
Key
Bukan amin tp Aamiin..Krna slh huruf dh beda lg artinya
Wahda Mursalina
suka...
Andriyah Nurhidayati
iya ki meski masih muda dan baru lulus SMA paling gak tahu kewajiban istri thdp suami sebagai muslim, lha ini si Nabila kaya jebolan sekolah biasa aja nggak ada adabnya sama suami, yang realistis thor meski cuma di dunia novel, bsok lagi klo buat cerita jgn kayak gini
Wahda Mursalina
tegang
Andriyah Nurhidayati
Kok bosen ya bacanya ra ndang ketemu agak gak masuk akal cari jodoh berdasarkan mimpi dan feeling, walau cma crita novel logika dan realistis, ini th berapa thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!