*Harta Tahta dan Wanita*
Prekuel dari novel 'Kutumbalkan Tubuhku'
Laras tidak pernah menduga, kalau semua kekayaan yang dia nikmati selama ini, didapat dengan cara paling laknat.
Sang suami tidak pernah mau bercerita banyak tentang pekerjaanya, walau dipaksa.
Hingga suatu malam...
Dengan mata dan kepalanya sendiri, Laras melihat sang suami tercinta masuk ke dalam satu-satunya kamar, yang sangat terlarang bagi semua penghuni rumah. Termasuk dirinya, tentu. Tubuh Laras langsung bergetar hebat, ketika dia berhasil mencuri lihat isi didalamnya, melalui lubang kunci.
Dan sejak malam itu, Laras bisa menebak apa yang telah dilakukan oleh suaminya untuk mendapatkan semua kemewahan.
Keadaan semakin rumit, saat Laras mengetahui kalau di dalam rahimnya telah tumbuh benih cinta. Dia tidak mau kejadian lalu terulang, lagi. Cukup satu kali saja.
Laras tidak akan rela, kalau sang calon jabang bayi yang masih sucinya, ikut menanggung dosa. Lalu, langkah seperti apa yang akhirnya akan diambil oleh Laras?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si_Ro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HTW 7
Jangan mencari kebahagiaan, tapi buatlah kebahagaiaan.
Karena kebahagiaan, kita sendiri yang menciptakan.
***/***/***/***/***/***/***/***/***/***
Laras mengerang, ketika cahaya matahari yang menerobos melalui celah tirai mengusik tidurnya. Tetap terasa menyilaukan, meski matanya masih tertutup. Tangannya terulur untuk mengucek indra penglihatan, untuk kemudian dia mulai mengerjap beberapa kali.
“Ah.. malas sekali hari ini,” keluh Laras.
Selepas subuh tadi, Laras sudah kembali terbangun. Dia sempat terkejut, karena mendapati sang suami sudah siap dengan pakaian kerja. Tapi belum sempat mulut Laras berucap, tiba-tiba Tyo mendekati ranjang dan meminta maaf.
Dengan wajah penuh penyesalan, Tyo memberitahukan kalau dirinya harus berangkat keluar kota saat itu juga. Lagi-lagi dengan alasan yang sama, yaitu pekerjaan penting yang membutuhkan kehadirannya ditempat.
Seolah belum cukup dengan itu, Tyo juga mengatakan bahwa kemungkinan besar malam ini dia tidak akan bisa pulang. Laras sampai mengusap kedua lengannya, terbayang sudah kalau dia akan kembali tidur sendiri.
“Ck! Sebenarnya apa perkerjaanmu?” gumam Laras.
Meski merasa keberatan, tapi tidak ada yang bisa Laras lakukan untuk menghalangi kepergian suaminya. Laras melangkah malas, bahkan hanya untuk sekedar mengantar suaminya sampai pintu depan. Setengah hati memaksa terseyum, sebagai balasan dari kecupan Tyo di keningnya.
Laras bukan tipe wanita yang pandai merayu atau merengek, untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Padahal itu mungkin saja akan mudah dilakukan, apalagi dengan alasan dirinya yang sedang mengandung. Laras hanya bisa pasrah menatap kepergian mobil yang ditumpangi oleh Tyo bersama Agus, meninggalkan area halaman rumah besar tempat tinggal mereka.
Karena tidak punya agenda khusus, Laras kembali menaiki ranjang dan berniat melanjutkan tidur. Laras sedikit terhibur saat menyadari, kalau kini dirinya tidak sendirian di dalam kamar. Ada calon bayi mungil, yang sedang meringkuk nyaman dalam kandungannya.
-
Hampir seharian berada di dalam kamar, membuat Laras mengeluh bosan. Dia akhirnya memutuskan untuk mencari udara segar sore hari, di taman kecil yang ada di belakang rumah. Taman yang sengaja di buat oleh Tyo, sejak mengetahui kehamilan sang istri. Tentunya dengan tujuan, agar Laras tidak selalu mengurung diri selama dia pergi bekerja.
Ada berbagai macam bunga yang menjadi pemanis taman itu. Tyo juga membuatkan miniatur air terjun yang langsung terhubung dengan kolam ikan. Lalu ada meja dan kursi yang berbuat dari rotan, sebagai sentuhan terakhir. Sangat cocok untuk dijadikan tempat bersantai.
“Minumnya Mbak?” tawar Bi Mira. Wanita itu membungkuk, lalu meletakkan nampan berisi cemilan sehat dan juga jus buah.
“Terima kasih, Bi.”
“Sudah tugas saya, Mbak.”
Laras meraih gelas jus, dan meminumnya sebagian. Setelahnya, dia kembali menyandarkan tubuh di kursi malas.
“Sebelum bibi kembali ke dapur, apa ada lagi yang Mbak Laras perlukan?” Tanya Bi Mira, sopan.
“Kenapa? Apa pekerjaan dapur masih banyak?”
Bi Mira menggeleng.
“Kalau begitu, Bibi di sini saja. Temani Laras.”
Bi Mira menurut. Memilih tetap berdiri, karena dia tidak berani kalau harus duduk di kursi yang sama dengan majikannya.
“Kenapa berdiri terus? Duduklah, Bi! Jangan terlalu kaku seperti itu,” gerutu Laras.
Bi Mira tersenyum canggung, dan perlahan duduk di kursi yang berada paling jauh dari jangkaun Laras.
“Sudah berapa lama, Bi Mira bekerja di rumah ini?”
Bi Mira langsung menegakkan tubuh, sedikit terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Laras. Karena sejak menikah dengan Tyo, Laras memang belum pernah bertanya tentang hal itu.
“Mm… sejak Tuan Besar masih ada, Mbak Laras.”
“Tuan Besar?”
“Maksud Bibi, ayahnya Tuan Bram.”
“Apa semua orang yang bekerja di rumah ini juga seperti Bibi? Maksud Laras, mereka bekerja sejak Tuan Besar masih ada?” Tanya Laras, lagi.
“Tidak, Mbak Laras. Hanya saya dan suami saya yang bekerja di sini sejak Tuan Besar masih ada. Mereka mulai bekerja di rumah ini, saat Tuan Bram mengatakan akan segera menikah.”
Laras manggut-manggut. Tangannya mengambil salah satu cemilan, dan menikmatinya dengan suka riang. Ternyata keputusannya untuk keluar kamar, membuat suasan hatinya membaik. Mendapat udara segar di sore hari dan menghabiskan waktu untuk berbincang dengan orang lain, mampu mengusir rasa kesepian yang dia rasakan sejak Tyo pergi.
-
Hampir jam 7 malam, saat Laras berjalan perlahan menuruni tangga. Diperhatikannya satu persatu anak tangga, sebelum benar-benar menginjakkan kaki. Dia tersenyum teringat pada sang suami yang entah sudah berapa kali memarahinya, karena cara berjalannya yang sembrono.
“Laras….”
Tepat di ujung anak tangga yang terakhir, kepala Laras menengok ke belakang seketika. Tanpa menjawab, dia mencari sosok yang baru saja memanggilnya. Dan untuk beberapa waktu dia terus mencari, tapi nihil.
Laras yakin benar, kalau baru saja dia mendengar seseorang memanggil namanya. Suaranya terdengar sangat dekat. Sampai membuat bulu kuduknya berdiri. Tapi siapa? Terlebih lagi karena suara itu terasa, asing.
“Cari siapa, Mbak Laras?”
Tubuh Laras berjingkat kaget. Dia sampai memegangi dadanya sebelah kiri, dan mengatur nafas yang memburu.
“Ah Bibi! Kau mengagetkanku!” gerutu Laras.
“Maaf, Mbak Laras.”
Bi Mira tertunduk.
“Sudahlah. Tapi, apa barusan Bibi juga mendengarnya?” Tanya Laras. Sorot matanya yang tajam, seolah sedang memaksa Bi Mira untuk cepat memberi jawaban. Dia ingin memastikan, kalau bukan hanya dirinya yang mendengar suara itu.
“Mendengar apa, Mbak?”
“Suara seorang perempuan memanggil nama Laras? Apa Bi Mira mendengarnya?”
Bi Mira terdiam.
“Laras yakin kalau itu suara perempuan, tapi sepertinya bukan penghuni rumah ini.”
“Bagaimana Mbak Laras, bisa yakin? Lalu suara itu berasal dari arah mana?”
Dengan mata yang dipenuhi keyakinan, tanpa sadar Laras menjawab pertanyaan dengan meninggikan suara.
“Laras yakin, Bi. Laras belum pernah mendengar suara yang seperti itu di rumah ini. Dan suaranya terdengar seperti dari arah situ!” Laras menunjuk tembok yang berada di belakang tangga.
Wajah Bi Mira langsung memucat di belakang tubuh Laras, yang kembali memusatkan perhatiannya pada arah yang dia tunjuk. Kerutan dan gelengan dari kepala Laras, seolah sedang menjelaskan kalau saat ini, wanita itu sedang berpikir dan bertarung dengan logika.
“Apa tidak sebaiknya Mbak Laras makan malam saja dulu, sebelum makanannya menjadi dingin?”
Bi Mira mencoba mengalihkan rasa penasaran Laras. Dan itu berhasil.
Laras menghembuskan nafas frustasi. “Baiklah, Bi.”
By Si_Ro
**
Ayo dukung dan berikan POIN sebanyak-banyaknya untuk novel ‘Ha Tan Wa’, supaya novel baru ini bisa masuk rank.
Untuk orang pemberi POIN terbanyak akan mendapatkan :
Give Away menarik yang khusus bertuliskan ‘Ha Tan Wa’
Author akan follow akun mangatoon pemenang, untuk chat pribadi menanyakan alamat pengiriman Give Away.
Waktu pengumpulan POIN selama 3 bulan, yaitu sampai tanggal 30 November 2020. Masih lama kan?
Dan untuk berapa jumlah orang yang akan menjadi pemenang, masih dalam pertimbangan. Bisa 3 orang, 5 orang, atau malah 10 orang.
Jadi ayo kumpulkan POIN yang banyak, lalu sumbangkan untuk novel terbaru Si_Ro. OK?
Terima kasih.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan semua vote poin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.
apa anaknya laras bakal jadi jodohnya sekar ya🤔🤔
trus tyo terbebas dari iblis itu saat pembangunan jembatan itu ya thor 😲😲
pdahal mampir kesini krna abis baca Serena, ,penasaran sm kisah tentang sekar
terpaksa menunggu deh
udah up nya dikit dikit malah bersambung lagi 🤦