Bebas promosi!
Bukan, Pengantin yang tak Dirindukan.
Dicintai, atau mencintai. Mana yang akan kamu pilih? Jika Winda memilih untuk mencintai, berharap sosok yang dicintai balik mencintai. Namun, sayang. Harapan tidak sesuai kenyataan.
Kepahitan harus diterima. Kala orang yg terlihat benar berjuang. Nyatanya, hanya tipu muslihat semata.
Lantas, apa yang akan terjadi? Penasaran, yuk kita simak kisah selengkapnya!
Happy reading!
IG: @fakhiral2013
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fakrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiriman Bunga?
Seperti biasa. Setelah selesai dari kampusnya. Winda yang belakangan memilih bekerja dengan Annisa. Menjabat sebagai salah satu manager caffe-nya. Bergegas menuju caffe yang memang tidak seberapa jauh dari kampusnya.
Di lahan parkir yang lumayan luas itu. Winda memarkirkan sepeda motornya. Setelah meletakkan helmnya. Winda yang memang sudah lelah. Buru-buru melangkahkan kaki masuk ke dalam caffe-nya. Sapaan dari orang-orang
yang bekerja di caffe tersebut Winda balas dengan senyum dan anggukan. Tanpa kecuali dengan Aminah. Winda juga melakukan hal yang sama, karena ingin segera masuk ke dalam ruangannya.
“Mba, tunggu!” panggil Aminah. Mau tidak mau Winda pun menghentikan langkahnya.
“Iya, Min, ada apa?” sedikit malas. Namun, Winda tetap berusaha bersikap sopan. Bagaimana pun attitude harus dijaga. Meski itu dengan pelayan caffe sekalipun.
“Ini, Mba, ada kiriman.” Aminah menyerahkan satu buket bunga yang sedari tadi dipegangnya kepada Winda.
“Ini apa?” tanya Winda. Merasa tidak pernah memesan bunga. Lantas ini dari siapa?
“Lihat saja di kartu itu, Mba. Mungkin ada nama sama alamat pengirimnya.” Aminah menunjuk ke arah sebuah kartu yang memang terselip di antara kelopak bunga mawar merah tersebut.
Winda mengerling. Melihat ke arah yang ditunjukkan Aminah. Mengambil kartu tersebut. Membuka. Lantas membacanya.
Mendapati lugu senyum-mu. Mengais tulus indah kebersamaan. Mendakwa rasa, mengukir cinta. Sejak kapan cinta itu bermula? Entahlah . . . yang pasti adalah senyum-mu bagian dari semangatku.
Sebuah puisi, atau yang kerap disebut dengan kata mutiara tertera di kartu ucapan yang tadi Winda buka. Tidak ada nama pengirim. Hanya untaian kalimat cinta yang Winda baca. Tapi . . . dari siapa? Siapa yang telah mengirimkannya. Seikat mawar merah segar, harum, nan indah?
Winda mengerutkan dahinya. Bingung dengan yang terjadi terhadapnya. Berpikir, sejak kapan ia memiliki pengagum rahasia?
“Mina,” panggil Winda. Aminah yang sedari tadi berdiri dihadapannya. Dengan segera menyahut panggilan Winda.
“Iya, Mba, ada apa?”
“Nih, bunganya buat kamu aja.” Winda menyerahkan buket bunga tersebut kepada Aminah. Aminah menerimanya.
“Ini beneran buat saya, Mba?” tanya Aminah.
“Iya, buat kamu.” Winda mengangguk. Lantas berlalu masuk ke dalam ruang kerjanya.
Berjalan menuju sofa. Winda meletakkan tas di meja yang ada di depannya. Tubuh direbahkan. Berbantalkan sandaran pinggir sofa. Belum lagi hilang rasa lelah karena memikirkan materi palajaran di kampus. Sekarang Winda
kembali harus dipusingkan dengan sosok yang mengiriminya buket bunga.
Siapa orang itu. Apa Winda mengenalnya? Jika keduanya memang saling kenal. Kenapa tidak datang langsung memberikan bunga itu kepada Winda? Kenapa harus mengirimnya dengan identitas rahasia? Seperti remaja yang baru jatuh cinta saja.
Tidak ingin semakin pusing. Winda lantas bangkit dari sofa. Berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan diri. Ber-wudhu. Menunaikan sahalat dzuhur. Menghadap kepada sang-Rabb. Menjalankan kewajibannya.
***
Semakin sore. Para pengunjung caffe semakin ramai. Turun langsung mengahadapi para pelanggan. Sudah biasa Winda lakukan. Meski menjabat sebagai manager. Winda tidak pernah jumawa dengan posisinya. Gadis itu selalu
bersikap rendah diri. Selalu menyetarakan dirinya sama denga pelayan.
Menjual bukankah berarti harus melayani? Bersikap rendah diri itu juga salah satu kunci untuk menarik pelanggan. Agar mereka merasa puas dan kembali lagi dihari berikutnya. Bicara tentang rasa. Tidak melulu dapat memikat pelanggan. Jika attitude rendah. Pelayanan tidak ramah. Kurang memuaskan. Maka dapat dipastikan tidak akan ada pelanggan yang kembali lagi di esok hari. Itu hukum tata jual. Yang mana selalu memposisikan tamu sebagai raja.
“Mbak!” Seru seseorang dari kejauhan.
Winda menoleh. Sebuah tangan kekar melambai. Melihat itu, Winda yang memang baru saja selesai melayani pelanggan. Lantas bergegas menghampiri sosok tersebut.
Seorang lelaki bertubuh kekar. Berparaskan tampan, dengan setelan ala kantoran terlihat duduk dengan angkuh di sana. Mata lelaki itu menyorot Winda, menatap tajam. Membuat Winda merasa gusar?
Ada apa dengan lelaki itu. Kenapa melihatku dengan tatapan seperti itu. Wajahnya terlihat tidak asing. Seperti pernah lihat. Tapi . . . di mana ya? batin Winda.
Langkah terhenti. Tepat dihadapan pria angkuh. Melihat Winda. Pria itu mendongak. Mengulum bibirnya.
“Kamu?” Winda tersentak. Ingatannya sudah kembali sekarang. Bukankah lelaki ini yang tempo hari bertabrakan di teras caffe dengannya?
“Hai,” sapa Ferry. Tangannya kembali melambai. Dengan senyum yang terus mengukir di bibirnya. “Akhirnya kita ketemu lagi,” ujar Ferry kemudian.
Bergeming. Winda tidak langsung menjawab. Ingin membuang muka. Beralih pergi sekarang juga. Namun, rasanya tidak pantas mengingat Ferry adalah tamu caffe-nya.
“Apa kamu bekerja di sini?” tanya Ferry. Meski sebenarnya sudah tau jawabannya. Tetap saja Ferry ingin mendengar sendiri kalimat itu dari mulut Winda.
“Ya.” Winda mengangguk. Ferry kembali tersenyum. Lelaki itu lantas memperhatikan penampilan Winda dari ujung kaki hingga kepala.
Benar-benar berbeda. Tertutup. Tidak seperti gadis pada umumnya. Meskipun begitu aura kecantikannya begitu terpancar.
Ferry terus mengulum senyumnya.
Jujur. Saat ini Winda merasa sangat tidak nyaman. Cara pandang Ferry membuatnya resah. Risi. Ingin segera pergi dari sana.
“Maaf, Tuan, mau pesan apa?” tanya Winda. Tidak ingin berlama-lama. Ingin segera bebas dari sana.
“Kenapa buru-buru sekali? Bukankah kita belum saling kenal. Kemarin aku sudah memberitahukan namaku. Tapi kamu . . . buru-buru pergi dengan pria itu.” Ferry kembali mengingatkan perihal waktu itu. Saat pertama kali mereka bertemu.
“Maaf, Tuan. Pekerjaan saya sangat banyak. Tidak bisa menemani untuk bicara. Jika anda ingin pesan langsung saja. Jika tidak saya akan pergi. Sementara anda—“
Winda tidak meneruskan kalimatnya. Karena Ferry menyergah ucapannya.
“Dessert Box Chocolate Black Forest satu. Dan . . . Fore Pandan Latte satu.” Ferry memesan. Winda mencatat. Gadis itu kemudian berlalu meninggalkan Ferry. Membuatkan, mengambil pesanannya.
TBC.
sudah sekian lamanya, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.. akhirnya bisa lanjut lgi alur ceritanya.
aq suka banget ceritanya .
please thor.. episode berikutnya jangan kelamaan..🙏❤️❤️
ternyata Reno.mantan suami Maya, kalo gak salah.