Karena pengkhianatan yang dilakukan oleh tunangannya, Rubi terpaksa menikahi Rexa, seorang pria luntang lantung yang baru tadi malam dikenalnya secara tak sengaja. Hal itu terjadi lantaran Rubi tak bisa menghindari pernikahannya yang akan diadakan esok hari.
Sementara pria yang bernama, Rexa, iya iya saja saat Rubi menawarkan sebuah pernikahan kontrak dengannya selama 31 hari, karena dia tak punya tempat tinggal dan tak memiliki uang sepeser pun.
"Deal, 31 hari kita bercerai!" ucap keduanya saling berjabat tangan.
Bagaimana lika liku rumah tangga yang dijalani oleh dua orang asing selama 31 hari?
Dan siapa sebenarnya, Rexa? pria pengangguran yang sering kali disebut mokondo oleh keluarga Rubi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marso menagih uang
"Banguuuun.....Bangun."
Tok kotok kotok
"Banguuuun....Bangun."
Tok kotok kotok
Nada Rubi membangunkan Rexa seperti nada sedang membangunkan para warga untuk melaksanakan sahur menggunakan kentongan. Tapi, Rubi tak menggunakan kentongan sebagai pengiringnya melainkan daun pintu yang di ketuk-ketuk.
Rexa menutupi telinganya dengan bantal. Namun serapat apapun telinganya ditutupi, suara mulutnya dan suara ketukan pintu itu mendengung jelas di telinganya. Dampaknya, Rexa tak dapat memejamkan matanya kembali. Dan dengan perasaan kesal, dia terpaksa bangun.
Rubi mengulum senyumnya melihat pria itu bangun dengan mata yang masih merem melek.
"Sana mandi!" titah Rubi.
Rexa menoleh ke arah Rubi dengan mata yang masih menahan kantuk." Apa kamu pikir aku ini bocah yang harus di suruh-suruh mandi?" Ketusnya.
"Kamu emang udah kolot, tapi kelakuan mu yang masih kayak bocah," timpal Rubi yang tak ingin kalah dari pria itu.
"Kenapa sih kamu ngatur-ngatur hidup aku?"
"Karena kamu sua......ah, aku cuma mau nertibin hidup kamu aja."
"Ck, lalu lintas kali di tertibin."
"Manusia pemalas juga harus di tertibkan."
Rexa tak lagi menyahuti ocehan Rubi melainkan mengorek-ngorek kupingnya, lalu menguap panjang tanpa menutup mulutnya membuat Rubi menutupi hidungnya." Tutup mulutnya bau iler menyebar kemana-mana," ledeknya.
Namun, Rexa seakan tak peduli. Dia lekas berdiri dan meraih handuk yang mengait di paku.
"Untung cuma 31 hari. Lama-lama ada disini kupingku bisa-bisa soak dengar suara mu." Rexa menggerutu sambil berlalu dan menyenggol bahu Rubi hingga tubuh wanita itu memutar 180°.
Rubi berkacak pinggang dan menatap punggung Rexa dengan dongkolnya." Dasar asem...!"
"Mba, mana duitnya?"
Tatapan kesal Rubi beralih pada Tatung yang masih merengek minta uang.
"Ngga ada duit-duitan. Libur sekolah libur duit titik." Kemudian beranjak bersamaan dengan Tatung berseru." Huuuuuuh pelit." Rubi geleng -geleng kepala sambil berlalu.
Rubi membuka pintu kamar Tatung perlahan setelah mengetuknya tapi tak ada sahutan. Nampak Rexa sedang menyisir rambut basahnya, namun tatapan tajamnya mengarah ke arah pintu. Rubi tersenyum nyengir. 'Sok imut' itu yang ada dipikiran Rexa melihat cengiran wanita berlesung pipi.
"Makan!" ucap singkat Rubi.
"Udah kenyang," sahut Rexa.
"Hah!" Rubi terbengong." Udah makan apa kenyang?"
"Makan suara mu."
Raut wajah Rubi seketika berubah kesal." Ya udah kalau udah kenyang."
"Eeh, eh, eh....." Rexa melangkah lebar lalu menahan daun pintu yang hendak ditutup Rubi.
Rubi melepas gagang pintu dan mendengus kesal.
"Katanya udah kenyang!" sindir Rubi tanpa melihat pada Rexa yang kini berdiri di ambang pintu berjarak sangat dekat dengan nya.
"Kupingku yang kenyang. Kalau perut ku jelas lapar dong."
Rubi melirik Rexa dengan ekor matanya. Kini pria itu yang berbalik nyengir padanya. Diiringi wajah datarnya, Rubi melangkah menuju dapur. Dan dibelakangnya, Rexa mengekor hingga sampai di sebuah meja makan sederhana yang terletak di dapur.
"Wah!" Rexa menatap ke atas meja dengan tatapan tidak sabar. Daging rendang, ayam goreng, capcay itu sangat menggugah seleranya yang memang sedang dalam keadaan lapar. Dan tanpa menunggu dipersilahkan oleh Rubi, dia langsung duduk.
Rubi tersenyum kecut melihat Rexa makan dengan lahapnya.
"Mungkin cuma hari ini aja aku kasih kamu makan enak. Besok-besok paling bisanya menghidangkan ikan asin, sambal terasi, goreng tempe. Dan paling mewahnya telor balado."
Apa yang sedang dinikmati oleh Rexa saat ini adalah bahan-bahan makanan sisa hajat kemarin. Jika bahan-bahan itu sudah habis, maka akan kembali ke seperti biasa yang mana satu keluarga itu akan makan ala kadarnya saja. Rubi tak sanggup membeli bahan-bahan makanan mahal karena gajinya sebagai buruh pabrik tak seberapa. Belum lagi pengeluaran lainnya seperti bayar listrik, bayar sekolah dan jajan Tatung, Pampers Safa, kebutuhan ibunya, dan Danang yang masih saja minta uang karena pendapatan sebagai pekerja serabutan tak menentu.
Rexa yang menyadari Rubi hanya memperhatikan pun mendongak.
"Kamu ngga ikut makan?" Tanyanya dengan mulut yang penuh makanan.
Rubi menggelengkan kepalanya." Aku udah makan tadi." Kemudian mengambil gelas bersih dan menuangkan air dari teko. Setelah itu, dia meletakkan gelas itu di hadapan Rexa. Meski hanya sebatas pernikahan kontrak, Rubi tetap akan menjalani perannya sebagai seorang istri.
"Aku keluar dulu." Rubi kemudian beranjak dari hadapan Rexa.
Melihat pekarangan depan rumah membuat Rubi berasa bengek. Dari subuh sampai pagi, dia berkutat membersihkan di area dapur dan belakang. Dan kini di depan rumahnya menyuguhkan pemandangan sampah berserakan bekas pesta kemarin.
Sebenarnya tadi dia sudah meminta kedua adiknya untuk membersihkan. Tapi, ternyata permintaannya itu hanya masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri kedua adiknya itu.
"Danang, Tatung....!" Rubi berteriak dan kembali masuk ke dalam rumah.
"Tatuuung, Danaaang...!"
"Mba, jangan teriak-teriak. Safa lagi tidur." Lina tiba-tiba nongol dari balik pintu kamarnya.
Rubi menoleh ke arah Lina." Mana suami mu?"
"Lagi antar ibu."
"Kemana?"
Lina mengangkat kedua bahunya." Ngga tau, mba."
"Kalau gitu kamu aja."
"Mau apa, mba?"
"Bantuin mba nyapu pekarangan."
Lina langsung geleng-geleng kepala." Ngga, ngga bisa, mba. Aku lagi jagain Safa," tolaknya beralasan.
"Bukanya kamu tadi bilang Safa lagi tidur?"
"Ya, tapi......." Ucapan Lina terhenti saat Rexa melintas dengan cueknya seakan dua orang itu benda mati yang tak menarik untuk dilirik. Mulut Lina menganga, matanya pun tak berkedip." Gantengnyaaa..." ucap Lina mengayun tanpa sadar.
Rubi tersenyum miring. Menyilangkan kedua tangannya di atas perutnya. Dari tatapan serta pujiannya, Rubi tahu jika ipar kecilnya itu sedang terpesona pada suaminya.
"Dasar cabe-cabean."
"Ehem!"
Lina terperanjat." Eeh, itu anu...."
"Kenapa? Apa kamu terpesona sama suami, mba?"
Lina geleng-geleng kepala." Ngga, ngga, mba. Mana mungkin," sangkalnya.
"Awas aja. Kalau iya, mba tidak segan-segan akan.......hrek." Tangannya memperagakan menggorok leher. Sontak muka Lina berubah ketakutan. Rubi tersenyum puas melihat ekspresinya. Kemudian, dia beranjak dengan muka kesal.
Tak dapat dipungkiri. Rubi pun mengakui jika suami kontraknya itu memang ganteng dengan tubuh yang bagus. Kulitnya juga putih dan kontras sekali dengan warna kulitnya yang sawo matang.
Saat Rubi sedang sibuk menyapu, sebuah motor matic tiba-tiba berhenti di depan rumahnya. Orang yang menunggangi motor itu pun turun dan membuka helm nya.
"Marso...." Kedua alis Rubi saling bertautan.
"Masih punya nyali juga dia datang kemari," lirihnya kesal.
Pria yang berperawakan cungkring dan berkulit cokelat itu tersenyum nyengir ke arah Rubi, dan membuat Rubi seketika mual sekali melihatnya.
"Mau apa kamu kemari?" Tanya Rubi agak lantang dan dengan tatapan tajam. Perselingkuhan nya dengan Sundari kemarin malam kembali terngiang di otaknya.
Seakan tak takut, Marso mendekatinya." Aku kemari mau ambil duitku, Rub," ucapnya penuh percaya diri.
Kening Rubi mengkerut." Duit apa?"
"Ya duit yang aku kasih ke kamu buat pernikahan kita."
"Hah!"
"Kamu kan nikahnya sama pria lain. Jadi ya duit itu mau ku ambil lagi."
"Oh ngga bisa gitu, Marsono. Uang itu udah kamu kasih ke aku. Dan semuanya juga gara-gara salah kamu yang kawin sama si Sundari."
"Apapun alasan mu. Ngga di benarkan. Masa pakai uangku tapi nikahnya sama orang lain."
Ngototnya Marso membuat emosi Rubi memuncak.
"Pergi dari sini atau ku buat rempeyek kamu!" suara Rubi menggelegar. Marsono tersentak. Ditambah raut muka Rubi yang seakan hendak memakannya bulat-bulat membuat nyali Marsono seketika menciut.
"Pergi kataku!" Teriak Rubi.
Karena Marsono yang tak mau pergi, Rubi melayangkan sapu lidi ke arah kakinya.
Pluk pluk
"Pergi."
"Aku akan pergi kalau uangnya kamu kembalikan," ucap pria itu sambil menahan rasa sakit di area yang di pukul.
Geram pada Marsono yang seolah tak takut pada sapu yang di layangkan, Rubi mengambil kayu balok sebesar betis orang dewasa berbobot 60kg. Mata Marsono seketika melotot.
"Pergi kataku sebelum balok ini melayang ke arah pusaka mu. Biar kamu ngga bisa kawin lagi sama si dempul itu."
Takut Rubi nekat dan menyakiti miliknya lagi, secepat kilat Marsono menyambar motornya.
"Awas aja kamu, Rubi. Aku akan sewa pengacara," oceh Marsono di atas motornya. Lalu ngeng..."
Rubi membuang baloknya ke sembarang arah. Kemudian mengatur nafasnya yang tersengal. Beruntung, rumah Rubi agak jauh dari tetangga. Jadi tak ada yang melihat aksinya.
Mood nya berubah kesal membuat Rubi tak berkeinginan melanjutkan aktifitasnya. Pekerjaan yang masih acak-acakan itu pun tak lagi dihiraukan. Dia melangkah masuk kedalam rumah.
"Ehem, siapa pria tadi?" Tanya Rexa yang sedang berdiri di balik jendela kaca depan.
Rubi melirik dengan ekor matanya." Tukang kredit panci." Lalu melengos begitu saja.