Arsyila Almahira, seorang mahasiswi tingkat pertama yang berprestasi tetapi mengalami kejadian pahit. Tersebarnya video scandal itu membuat dirinya harus pergi jauh dari ibukota. Ayahnya bahkan mengusirnya dari rumah dan tak lagi menganggapnya anak.
Arsyila memutuskan untuk merubah penampilannya menjadi wanita bercadar. Ia berpindah kuliah di universitas Islam dengan jurusan berbeda dari sebelumnya. Ia juga tinggal di pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya. Jujur, kejadian yang menimpanya membuatnya sedikit trauma dan berniat untuk memperbaiki diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.7
Arsyila dan Adam mendapatkan hukuman berdiri di halaman depan masjid. Mereka memakai papan yang di kalungkan di lehernya. Papan itu tertulis, kami tidak akan pacaran lagi. Tentu mereka menjadi pusat perhatian. Apalagi sekarang hari minggu, jadi semua santri sedang melakukan aktivitas masing-masing. Ada yang berolahraga, ada yang membersihkan masjid dan ada pula yang sekedar menonton dua santri yang sedang di hukum itu.
Arsyila semakin menunduk saat mendengar ada yang bergosip tentang dirinya.
"Lihatlah, baru pisah dengan Gus Ilham beberapa saat saja sudah pacaran sama yang lain," ucap salah satu santriwati yang bernama Dinda.
"Benar, sepertinya targetnya lelaki tampan saja," sahut Sela yang juga tak menyukai Arsyila.
"Huss jangan bicara yang tidak-tidak! Belum tentu yang kalian gosipkan itu tidak benar. Takutnya nanti jadi fitnah," sahut Salma, yang merupakan Santriwati paling pintar.
"Jangan so suci deh! Mentang-mentang tinggal di pesantren jadi so alim gitu," tegur Dinda.
Salma yang tak mau ribut langsung pergi dari sana. Apalagi ia tak suka bergosip seperti Dinda dan Sela. Ya, kedua santriwati ini memang yang terkenal paling ditakuti yang lainnya. Apalagi keduanya suka mengincar lelaki tampan di pesantren. Jadi, saat tahu Arsyila taaruf dengan Gus Ilham membuat mereka membencinya.
Teriknya matahari membuat Arsyila sedikit lelah. Apalagi sejak tadi ia diam saja. Bahkan Adam yang terus mengoceh ia abaikan.
"Kamu kenapa sih diam saja? Apa kamu sakit?" tanya Adam.
"Aku ...." Belum selesai Arsyila berbicara, tiba-tiba ia merasa pandangannya kabur, kepalanya pusing dan tak lama langsung tak sadarkan diri.
Spontan Adam memegangi tubuh Arsyila. Ia menggendongnya lalu membawanya ke ruang kesehatan. Tak lama, seorang ustadzah pun masuk ke ruang kesehatan dan bertanya kronologi Arsyila bisa pingsan kepada Adam.
"Kamu keluar saja! Tidak baik berduaan di ruang UKS," ucap Ustadzah kepada Adam.
"Baik, Ustadzah." Lalu Adam keluar dari ruangan itu.
Setelah di periksa oleh dokter, ternyata Arsyila hanya kelelahan dan kekurangan cairan. Setelah memberikan obat dan juga vitamin, dokter yang memeriksanya langsung pergi. Arsyila pun di suruh untuk istirahat penuh seharian ini.
"Cila, bagaimana keadaan kamu? Tadi aku panik saat tahu kamu pingsan. Pantas saja sih, di luar panas banget." Fatimah mendekati Arsyila yang sedang berbaring.
"Aku tidak apa-apa, Fa. Tidak usah terlalu khawatir seperti itu," ucap Arsyila.
"Ngomong-ngomong bagaimana nih rasanya di gendong pangeran tampan?" Fatimah bertanya dengan sedikit menggoda.
Arsyila mengernyitkan kening. "Siapa pangeran tampan?"
"Itu loh Kak Adam. Tadi tuh Kak Adam yang menggendong kamu saat kamu pingsan. Tahu nggak, semua santri heboh loh. Mereka mengira kalau kamu sama Kak Adam benar berpacaran," ucap Fatimah.
"Kalian kenapa sih suka sekali bergosip. Lagian aku sama Kak Adam itu tidak ada hubungan apa pun," ucap Arsyila.
''Tapi sepertinya Kak Adam itu suka sama kamu loh. Duh kamu beruntung sekali sih di sukai sama lelaki paling tampan di pesantren.'' Fatimah senyum-senyum sendiri membayangkan keberuntungan sahabatnya itu.
''Lebih tampan mana sama Gus Ilham?'' tanya Arsyila.
''Tampan dua-duanya sih. Mereka tuh hampir mirip wajahnya,'' ucap Fatimah.
Arsyila menggeleng-gelengkan kepalanya. Jika membahas lelaki tampan, sahabatnya yang satu ini begitu antusias.
...
...
Begitu sulit Arsyila memejamkan mata. Padahal sudah hampir tengah malam. Entah mengapa perasaannya begitu risau. Bahkan sejak tadi ia teringat dengan Gus Ilham.
''Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa perasaanku tak tenang,'' gumam Arsyila.
Arsyila mendengar ada suara mobil memasuki pesantren. Ia melihat ke arah jendela, sepertinya memang ada yang datang. Arsyila tak tahu yang datang itu siapa, karena jarak dari asrama dengan depan pesantren itu jauh. Namun, ia berharap jika yang datang itu Gus Ilham. Sungguh rasa rindunya kepada Gus Ilham begitu besar.
Di karena kan semalam tidak bisa tidur, pagi ini Arsyila bangun kesiangan. Teman satu kamarnya sudah beberapa kali membangunkannya tetapi Arsyila tak juga bangun. Akhirnya mereka membiarkan Arsyila begitu saja. Saat semua orang sedang mendengarkan kultum pagi di masjid, Arsyila terbangun dari tidurnya. Sebenarnya ia terbangun karena mendengar suara jendela kamarnya ada yang mengetuk.
''Em suara apa sih itu.'' Arsyila beranjak dari atas tempat tidur lalu menoleh ke sumber suara. Ia mendekati jendela lalu membuka horden yang menutupinya. Betapa terkejutnya ia saat melihat Gus Ilham berada disana.
''Gus Ilham, kapan pulang?'' tanya Arsyila sambil membuka jendela.
''Saya pulang semalam, cantik. Kamu baru bangun ya, cantik banget sih, apalagi tidak pakai cadar,'' ucap Gus Ilham.
Arsyila meraba wajahnya, ia lupa jika belum mengenakan cadar. Ia hendak mengambil cadarnya tetapi Gus Ilham mencegahnya.
''Tidak usah panik gitu! Lagian auratmu masih tertutup. Em ini saya bawakan oleh-oleh.'' Gus Ilham menyodorkan bingkisan yang ia bawa kepada Arsyila.
''Terima kasih, Gus,'' ucapnya sambil tersenyum.
''Sama-sama, oh iya nanti setelah pulang kuliah kamu harus menjalani hukuman. Kamu tidak ikut Shalat subuh berjamaah loh,'' ucap Gus Ilham mengingatkan.
''Maaf, Gus. Semalam saya tidak bisa tidur,'' ucap Arsyila sambil menunduk.
''Jangan diulangi lagi! Lebih baik sekarang kamu Shalat subuh dulu. Saya permisi, Assalamu'allaikum.''
''Waalaikum'sallam,'' jawabnya.
Arsyila menatap kepergian Gus Ilham dengan senyum mengembang. Betapa bahagianya pagi-pagi sudah di hampiri oleh pangeran pujaan hatinya itu.
'Semoga aku dan Gus Ilham berjodoh,' batin Arsyila.
Gus Ilham memanglah lelaki idaman setiap santriwati. Siapa pun yang bersanding dengannya adalah wanita yang beruntung. Maka dari itu saat tahu Arsyila dekat dengannya, banyak sekali yang seolah memusuhinya.
Umi Khadijah melihat seorang lelaki yang sedang berjalan dari arah asrama putri. Semakin di perhatikan semakin jelas siapa lelaki itu. Umi Khadijah mendekati lelaki itu yang tak lain adalah Gus Ilham.
''Kamu dari mana, Nak Ilham?'' tanya Umi Khadijah.
''Saya habis berkeliling, Umi,'' jawabnya.
''Yang lain di masjid, tapi kamu malah berkeliling pagi-pagi begini. Apa kamu habis bertemu seseorang?'' Umi Khadijah menatap Gus Ilham penuh selidik.
''Em tidak juga. Kalau begitu saya permisi dulu, Umi.'' Gus Ilham memilih pergi untuk menghindari Umi Khadijah yang sepertinya mencurigainya.
Umi Khadijah mencurigai Gus Ilham. Ia memilih pergi ke asrama putri untuk mengeceknya. Saat berkeliling di asrama putri, tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Namun, Umi Khadijah mendengar ada suara air dari kamar mandi. Sepertinya ada santriwati yang tidak ikut mengaji. Umi Khadijah memilih berdiri disana sambil menunggu santriwati itu keluar.
Betapa terkejutnya saat melihat wanita cantik keluar dari kamar mandi. Umi Khadijah sedikit tak mengenalinya dan menurutnya wajahnya asing.
''Siapa kamu? Saya baru melihatmu?'' tanya Umi Khadijah.
''Saya Arsyila, Umi,'' ucapnya.
Tentu Umi Khadijah terkejut, karena selama ini hanya melihat Arsyila saat memakai cadar. Ternyata dibalik cadarnya itu sangatlah cantik. Bahkan lebih cantik dari putrinya, Ning Aisyah.
'Jika begini saingan Ning Aisyah begitu berat. Pantas saja Nak Ilham jatuh hati kepadanya,' batin Umi Khadijah.
Umi Khadijah menatap Arsyila dengan tatapan yang sulit di artikan. ''Bersiaplah! Hari ini kamu dapat hukuman karena tidak ikut Shalat berjamaah dan mengaji.'' Lalu Umi Khadijah berlalu pergi.
Arsyila menatap kepergian Umi Khadijah yang menurutnya sangat aneh.
''Mengapa Umi jadi dingin begitu sikapnya? Seperti bukan Umi yang aku kenal,'' gumam Arsyila.
hahaha 🤣🤣🤣
kamana wae eta .. 🤣🤣🤣
🤣🤣🤣
saudaranya mungkinn . atau adiknyaa . 🤣🤣🤣🤣🤣
org tua ga tau apa manten baru
pake nannya lagi ga buka pntu lama ngapain . 😝😝😝😝
habs ini apalgi konflik nyaa . 🤣🤣 seruu yaaa.