Di tengah gemerlap dunia sekolah yang penuh dengan nilai-nilai status sosial, Cailyn, seorang wanita dengan penampilan yang tampak ketinggalan zaman, harus berhadapan dengan stereotip dan pandangan merendahkan karena statusnya sebagai anak yatim piatu.
Namun, ketika para siswa elit memilih untuk menilainya sebelah mata, Pangeran sekolah yang menjadi primadona malah memberikan senyuman manisnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Makiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air kotor
Eps. 7
"Tidak kusangka kau pintar sekali menarik rumor jelek," cibir Celestia dengan wajah datarnya. Celestia bertopang dagu, menatap Cailyn datar.
"Hm … terima kasih atas pujiannya Cel," jawab Cailyn sekenanya. Ia membenamkan kepalanya pada tangannya yang di lipat di atas meja.
"Sama-sama."
Sejak Ayara dan Luke terang-terangan menyapa dan berkomunikasi dengan Cailyn di luar perpustakaan, banyak sekali rumor, desas desus dan hal lain yang tidak masuk akal menimpa Cailyn.
Orang-orang elit yang juga ingin dekat dengan Luke dan Ayara namun tidak bisa, semakin tidak suka Cailyn dan menatapnya penuh kebencian dan kecemburuan.
"Kenapa kau tiba-tiba dekat dengan Luke? Apa kau menyukainya?" tanya Celestia.
"Aku hanya mengaguminya. Aku tidak pernah berencana terlalu dekat dengan mereka," jawab Cailyn jujur.
"Baguslah jika kau sadar."
Mungkin Cailyn memang mengagumi ketampanan, wibawa dan kecerdasan Luke. Ia juga menikmati berbicara dan dekat dengan laki-laki itu. Namun, ia tidak pernah berharap jika Luke bisa dekat dengannya.
Bibi Eira juga selalu mengingatkan, agar Cailyn tetap tidak terlihat di sekolah agar tidak banyak mengundang perhatian.
Dan sejak insiden putusnya dengan Agam, kenapa orang-orang itu masih mendekat padahal Cailyn sudah berusaha untuk menjauh? Luke dan Ayara hanya menambah rumor tidak baik untuk Cailyn.
"Hmm … terima kasih sudah menyadarkan ku, Cel," sindir Cailyn kemudian menghela lelah.
"Tentu. Lalu, dengan Ayara juga–"
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba dia semakin menempel kemanapun Luke pergi, mau tidak mau dia juga mengenal ku."
Beberapa hari setelah kejadian di halte, dan beberapa orang yang melihat Luke, Ayara dan Cailyn yang sering berkomunikasi, orang-orang itu mulai bertanya pada Cailyn dengan tidak bersahabat.
"Hei, apa yang kau lakukan pada Luke dan Ayara sampai-sampai mau bicara dengan mu?" tanya seorang perempuan berambut panjang sedikit dibawah bahu.
"Mungkin dia memakai dukun," sambung teman gadis itu.
"Atau dia memberikan sesuatu pada Luke?" Mereka tertawa terbahak. Wajah mereka memandang remeh pada Cailyn.
Rambut keempat anak perempuan ini modelnya terlihat sedikit mirip dengan Ayara. Dengan rambut berkilau berwarna coklat kehitaman. Mungkin mereka memang sangat mengagumi Ayara.
"Ayolah, katakan pada kami. Kami juga ingin dekat dengan mereka," ucap salah satu dari mereka.
"Benar. Kami juga ingin dekat dengannya."
"Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Aku tidak pernah melakukan hal kotor seperti yang kalian pikirkan!" marah Cailyn, menatap mereka tidak suka lalu pergi setelahnya.
"Wah, sombong juga dia."
"Hei, ingatlah, kami menunggu jawaban mu," celetuk salah satu dari mereka kemudian kembali terbahak.
Mereka tetap saja berbicara meskipun Cailyn sudah berjalan menjauhi keempat gadis itu.
.
.
.
"Cel, aku ingin ke toilet sebentar. Jika kau ingin pulang, pulanglah duluan," ucap Cailyn. Mereka berdua sudah berdiri di depan toilet perempuan.
"Tidak. Aku akan menunggu mu disini. Sopir ku belum datang," ucap Celestia biasa.
"Oke. Tunggu sebentar ya," ucap Cailyn kemudian memasuki toilet di sampingnya.
Gadis berambut pendek ini berjalan masuk ke toilet seperti biasa. Beberapa saat setelah selesai dengan urusannya, ia mencoba membuka pintu bilik. Namun, tiba-tiba ….
BYUUR
Cailyn dikejutkan dengan air yang menyiram tubuhnya dari atas. Air itu kotor dan berbau tidak enak, di luar bilik terdengar tawa keras beberapa orang wanita, pelaku penyiraman air kotor itu.
"Oh, apa disana ada orang?"
"Oh, tidak."
"Maaf, kami nggak tahu." Ucap mereka sahut menyahut dengan nada dibuat-buat dan jelas tidak ada rasa bersalah disana.
Cailyn membuka pintu dengan keras, sedangkan wanita-wanita itu sudah berada di depan toilet.
Gadis dengan rambut basah ini berlari dengan cepat lalu menarik salah satu tas milik pelaku yang menyiramkan air bekas pel itu. Mereka berempat adalah perempuan yang kemarin Cailyn temui.
"Hei, lepas!" ucap gadis berambut coklat terang itu. Dia memperbaiki posisi tasnya dengan kasar, matanya menatap Cailyn tajam.
"Mau apa kau, ha?" tanyanya kasar.
Ketiga teman lainnya juga berbalik lalu mendekat, mengerubungi Cailyn dengan aura intimidasi mereka.
"Kenapa kalian menyiramku?" tanya Cailyn dengan sorot tajam. Ia sangat marah karena saat ini mereka sudah berlebihan.
Keempat gadis berkulit putih itu saling pandang lalu tertawa cukup keras. "Haha, memangnya kenapa?" tanya gadis itu lagi dengan wajah merendahkan.
"Mau lapor ke guru? Silahkan," cibir wanita di samping rambut coklat. Ketiga teman yang lain kembali tertawa geli.
Terlihat jelas jika mereka sengaja melakukannya dan tidak berencana menutup-nutupinya. Apakah sekolah ini selalu melindungi mereka yang berstatus sosial tinggi?
"Tidak. Aku hanya ingin melakukan hal sama pada kalian," jawab Cailyn tidak terintimidasi.
Gadis ber name tag Alisya yang sebelumnya tersenyum, kini menatap Cailyn dingin.
"Coba katakan sekali lagi? Berani sekali kau!" ancamnya. Tangan kanannya mendorong bahu Cailyn kasar.
"Lyn, ada apa?" tanya Celestia. Teman baiknya ini terlihat marah setelah melihat kondisi Cailyn.
"Mereka menyiram air kotor pada ku," ucap Cailyn, sekilas menatap Celestia. Teman baiknya itu tidak banyak merespon, dia hanya menatap ke empat wanita di hadapan mereka dengan tajam.
Alisya tidak memperdulikan Celestia, dia hanya terus mengintimidasi Cailyn yang lebih lemah darinya. Begitu juga dengan tiga perempuan lainnya.
"Katakan sekali lagi kalau kau berani," ancam Alisya. Gadis cantik tinggi itu mulai mendekat membuat Cailyn menengadah hanya untuk melihatnya.
Meskipun ini pertama kalinya bagi Cailyn, ia tetap menatap Alisya tajam. Sebenarnya hatinya cukup bergetar tapi tubuhnya tetap berdiri tegak melihat si pembuli.
Suasana itu mengundang banyak mata untuk memperhatikan, murid-murid yang hendak pulang mulai berkerumun, namun tidak terlalu dekat.
Celestia hendak bergerak untuk membantu, Cailyn tidak akan bisa melawan perempuan yang lebih tinggi darinya. Namun ia menghentikan langkahnya saat Cailyn mulai bersuara.
"Apa kau tuli? Aku ingin menyiram air itu pada kalian," balas Cailyn datar.
"Kau!" Alisya kembali ingin mendorong pundak Cailyn sekali lagi namun gadis yatim piatu menepis tangan Alisya kuat.
"Apa kau sadar apa yang kau lakukan? Kau akan menyesal!"
"Aku tidak perlu takut pada orang yang hanya mengandalkan kekuatan orang tuanya."
Keempat gadis cantik itu termangu sesaat lalu tertawa begitu keras. "Setidaknya kami masih memiliki sesuatu yang bisa diandalkan, bukankah begitu?" tanya Alisya remeh.
"Hentikan!" ucap Luke menginterupsi.
Kerumunan itu mulai bubar dengan kedatangan Luke.
"Hei, ada apa?" tanya laki-laki itu khawatir pada Cailyn.
"Mereka menyiramku dengan air kotor," jawab Cailyn biasa.
Tidak bertanya lagi, Luke begitu prihatin melihat keadaan Cailyn. Gadis yang basah kuyup itu juga hanya diam, kemudian pamit setelah beberapa saat.
"Biar aku antar," tawar Luke.
"Tidak per–"
"Cailyn pulang bersama ku," potong Celestia, menatap Luke datar.
Tidak perlu mendengar jawaban laki-laki itu, Celestia menarik lengan Cailyn untuk pergi bersamanya.
Namun Cailyn sempat sedikit mengangguk untuk berpamitan pada Luke.
"Apa kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Celestia.
"Ugh … entah lah."
"Jauhi Luke jika kau ingin semua baik-baik saja." Kalimat itu tidak terdengar seperti saran. Tapi lebih seperti perintah di telinga Cailyn
Cailyn tidak pernah berharap akan dekat dengan Luke, ia sangat tahu resikonya.
semangat terus thooor untuk berkarya.... cerita nya bagus 2 bikin cerita yang baru lagi ya hehehe 🥰