Sekuel Hidden Ceo
🍁🍁
Apa jadinya, jika kamu sedang berhenti di lampu merah, lalu tiba-tiba ada seseorang yang menarik lenganmu dan mengajak kamu ke sebuah acara pesta pernikahan? Bukan sebagai tamu, melainkan sebagai mempelai? Aneh, bukan?
Tetapi itulah yang dialami oleh gadis bernama Yuanita Adisti. Gadis cantik yang tampak kebingungan dengan situasinya saat itu. Ditambah lagi, orang yang mengajaknya, eh, ralat. Lebih tepatnya orang yang memaksa dirinya untuk menikah dengan orang tersebut merupakan seorang guru yang diidolakan di SMA Dahlia, Rio Aldinas Rayyansyah.
Bagaimana perjalanan rumah tangga Yuan, sapaan akrab gadis itu dengan guru idolanya? Simak ceritanya, yuk!
Fb : Lee Yuta
Ig : lee_yuta9
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 7. Meminta Restu
Bab. 7
"Loh, Pak. Saya kan menolak anda, kenapa malah saya diajak datang ke tempat nikahan orang. Bapak nggak lihat pakaian saya?" berontak Yuan yang terus menerus menolak Rio.
Rio menoleh ke arah Yuan. "Lihat kok."
Yuan mengepalkan tangannya dan melayangkan ke udara, namun tidak berani sampai menyentuh punggung Rio. Pria itu sudah berbalik arah dan berjalan lebih dulu. Tidak lupa, Rio sama sekali tidak melepas tangan Yuan.
Merasa membuang suara dan tenaga, Yuan pun ikut saja sambil menunggu jika ada celah, dirinya akan kabur dari pria yang suka seenaknya sendiri.
Hingga sampai Yuan di bawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat harum. Harum bunga melati yang begitu menusuk indera penciumannya dan juga harum bunga mawar. Ada juga bunga sedap malam di sana.
"P-pak ... anda nggak berniat menjadikan saya bahan sesajen, kan?" tanya Yuan mencengkeram kemeja Rio. Takut kalau sampai dirinya dibuat sesajen untuk acara apalah itu namanya.
Rio menoleh dengan alis terangkat. Pria itu tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Yuan.
"Sesajen?"
"Jangan, Pak. Saya masih muda banget loh. Kasihan ayah dan bunda saya, mereka belum punya pewaris lagi selain saya," ucap Yuan sembari memohon. Menarik kemeja Rio, agar pria itu mengurungkan niatnya untuk menjadikan Yuan sebagai tumbal. Pikir gadis berusia delapan belas tahun tersebut.
Rio sepertinya habis ini harus belajar dari papinya, bagaimana caranya agar bisa menahan rasa malu yang teramat sangat. Bahkan sampai menusuk ke tulang sumsum belakang.
"Udah, jangan banyak bicara dan duduk aja di sini," ucap Rio sembari meraih bahu Yuan lalu mengarahkan gadis itu ke tempat duduk yang ada di depan mereka. Di san sudah ada MUA yang siap menyulap penampilan Yuan.
"P-pak, saya—"
"Tolong, bikin dia jadi manis imut sesuai keinginan mami saya. Kalau enggak, kalian nggak akan dapat bayar dari pekerjaan kalian ini." perintah Rio membuat MUA yang bertugas pun menelan salivanya dengan susah. Bisa gawat kalau sampai mereka tidak mendapat upah malam ini.
Setelah mengatakan hal tersebut, Rio menatap ke arah Yuan yang tampak takut di sana.
"Kamu tenang saja, saya tidak akan menyakitimu. Saya hanya butuh bantuan kamu untuk menyelamatkan nama baik keluarga saya. Oleh karena itu, tolong berikan nomor telepon orang tua kamu. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada mereka," pinta Rio dengan nada yang sangat lembut. Sangat berbeda dengan sebelumnya.
Serta, tatapan pria itu tampak begitu teduh tetapi juga sangat kuat. Sampai-sampai membuat Yuan tidak bisa menolak. Seolah tersihir oleh tatapan pria itu sesaat.
Yuan menyerahkan ponselnya kepada Rio dan pria itu membawanya keluar dari ruang rias tersebut.
Rio masuk ke ruangan lain, lalu menyalakan ponsel Yuan yang kebetulan tidak dikunci layarnya. Sehingga sangat mempermudah dirinya untuk mengakses ponsel gadis itu.
Tidak susah mencari nama kontak orang tua Yuan. Karena gadis itu menempatkan nomor orang tuanya pada urutan pertama di kontak tersebut.
"Selamat malam, Om. Perkenalkan, saya Rio Aldinas Rayyansyah. Putra dari Attakendra Rayyansyah. Saya di sini ..."
Kemudian Rio menjelaskan perihal maksud dirinya menghubungi orang tua Yuan. Tentu saja, orang tua Yuan menolak keras pada awalnya. Akan tetapi, entah aoa yang dikatakan oleh Rio pada mereka dengan mulut manisnya itu, sehingga pad akhirnya Rio mendapat restu dan mereka bersedia untuk datang saat ini juga.
Setelah semua selesai, Rio kembali ke ruangan di mana orang tuanya menunggu. Tampak, orang yang pertama kali berdiri ialah sang mami.
"Bagaimana, Sayang? Udah dapet penggantinya? Eh, calon istri yang Mami minta?" tanya Dilla tidak sabaran sama sekali. Membuat suaminya menggeleng kepala.
"Bisa-bisanya aku sangat mencintai wanita seperti itu," gumam Kendra dengan suara lirih.
Zuma yang ada di sampingnya juga menggeleng kepala melihat tingkah mami nya.
"Nggak usah disesali, Pi. Udah punya buntut tiga juga. Terlambat kalau mau menyesal," sahut Zuma sambil berbisik. Karena takut jika mami nya mendengar pembicaraan mereka. Yang ada mereka kena hukum semua.
"Ya gimana lagi ya, Dek. Papi udah cinta hidup sama mami. Meskipun sikapnya kayak gitu," ungkap Kendra sambil tersenyum.
"Maaasss ... aku dengar semua yang kamu katakan loh! Kenapa? Mau ganti status sekarang juga? Hmm?" ucap Dilla menatap tajam ke arah suaminya.