Banyak cerita yang ingin kubagi bersama mu.
Hari-hari saat kau tak ada .
Aku selalu cemas bagaimana aku melewati hari tanpa mu.
Tapi, semestinya hidup harus terus berjalan bukan?
Bayangmu di tengah-tengah cahaya senja, gelak tawamu di sela candaanku, dan senyum di kala sore itu.
Aku senang jika waktu berhenti seperti itu.
Bahkan jauh sebelum semua ini bermula, aku telah membayangkan beberapa kemungkinan.
Entah aku atau kau mengucapkan pisah lebih dahulu atau diam yang menjelaskan keadaan.
Jika kelak kita memang tak lagi bersama, tetaplah menjadi tempat teramat rahasia dan mimpi besar ku yang kubagi hanya padamu saja.
Aku harap itu benar-benar mewakili untuk membuat mu sedikit terhanyut pada ingatan masa lalu.
Kau tahu? Aku masih berkunjung sesekali, meski tanpa mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erwan Saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilu
...****************...
Di rumah Billa setengah jam dari acara Perpisahan sekolah........
"Tok...tok..tok...." Terdengar suara dari arah Pintu kamar Billa.
"Bill ... ayo berangkat nak." Suara dari luar Pintu Billa.
"Gak mau," Billa menjawab.
Billa Baru saja menangis karena kejadian di ruang makan tadi bersama ayah dan ibu nya.
Tiba-tiba ibu Billa masuk ke kamar dan menghampiri Billa sedang menangis duduk di atas kasurnya.
"Kamu gak usah sedih," kata ibu Billa sambil mengelap air mata Billa.
"Pacar kamu kayak mana orang nya. Pasti baik kan orang nya, kalau dia lelaki baik-baik terus dia bisa buat kamu senang terus. Ibu bakal setuju kok kamu berhubungan sama dia asal jangan berlebihan ya," ucap Ibu Billa menasehati.
"Dia anak baik-baik kok , Bu. Dia juga selalu buat Billa senang," ucap Billa sambil merengek.
"Yaudah sebentar lagi acara di sekolah kan, ayo Kita berangkat ayah sudah nunggu in loh," ujar Ibu Billa.
"Yaudah aku siap-siap dulu ya, Bu." Dengan tersenyum Billa menyetujui ucapan Ibu nya.
Billa pum bergegas untuk mengganti pakaian nya dan berdandan mengingat acara ini sekali setahun dan ia pun harus berdandan cantik layak nya anak remaja SMP yang mulai beranjak dewasa. Ibu Billa tetap di kamar memperhatikan dan turut membantu Billa untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah.
"Nahh cantik kan anak Ibu." Sambil mengelus kepala Billa.
"Siapa dulu Ibu nya, Ibu ...," Ucap Billa sambil tersenyum bersama ibunya.
Lalu mereka meninggalkan kamar Billa bersama-sama menuju teras rumah dimana ayahnya Billa sudah menunggu.
"Ayo yahh berangkat," ajak Ibu Billa.
Mereka pun bergegas menuju Mobil untuk berangkat ke sekolah Billa.
Sementara itu Putra dan Ibu nya Telah tiba di sekolah dengan kondisi sekolah belum cukup ramai tamu yang berdatangan...
"Yeee.... sampai, Bu," ujar Putra memasuki Parkiran sekolah."Masih sepi ya, Bu. Maklum, Bu. Rumah kita jauh. Jadi harus datang pagi-pagi."
"Ramai ya nak yang datang?" tanya Ibu Putra sambil turun dari motor.
"Iya Bu, kalau sekarang masih sepi nanti siang baru ramai," Putra menjawab.
Putra pun melepaskan helm di kepala serta meletakkannya di kaca spion sepeda motor miliknya. Putra dan ibu nya pun berjalan meninggalkan daerah parkiran menuju aula sekolah tempat acara akan berlangsung. Tampak dari luar di dalam ruangan sudah tersusun rapi meja dan kursi maupun segala dekorasi ruangan. Perlahan Putra dan Ibunya memasuki ruangan aula sekolah tersebut.
"Wah ... nak cantik ya ruangan ini," puji ibu Putra terhadap dekorasi ruangan tersebut.
"Iya .... Bu," jawab Putra tanda sependapat dengan ibu nya.
Tiba-tiba ada yang memanggil...
"Kak... Kak Putra.... Isi dulu Buku Tamunya," ucap salah satu lelaki berjas rapi duduk di sebelah pintu masuk ruangan tersebut.
Perlahan Putra menghampiri nya...
"Sebentar ya Bu," pinta Putra kepada ibu nya.
"Kenapa To?" tanya Putra.
Toni merupakan salah satu adik kelas Putra yang kebetulan hari ini menjadi penjaga di meja penyambutan tamu.
"Buku tamunya isi dulu lah kak," Toni menjawab pertanyaan Putra.
Tiba-tiba Putra memanggil ibu nya untuk mengajak mengisi buku tamu terlebih dahulu.
"Buku tamunya harap di isi dulu ya Bu," ujar Toni lembut kepada Ibu Putra.
Ibu Putra pun hanya tersenyum lalu memberikan tanda tangan nya di buku tersebut. Kemudian, di ikuti oleh Putra juga. Kemudian Toni mengeluarkan kertas kecil yang tertulis kan sebuah angka.
"Nahhh ... ini Nomor meja nya ya kak, disitu berarti," Sambil menunjuk arah meja yang terletak di sudut ruangan.
"Oke Ton, kamu formal amat hari ini kata-kata mu," ucap Putra yang seperti nya sudah sangat mengenal Toni selama ini.
"Yeeee.... nama nya juga lagi acara kayak gini. Harus profesional dong," ucap Toni sambil seperti berbisik kepada Putra.
Mereka pun saling tertawa bersama. Setelah itu Putra mengajak langsung ibu nya untuk duduk di kursi yang telah di tentukan, sembari melambaikan tangan kepada Toni yang ia tinggalkan.
Di mobil ayahnya Billa...
"Kring..... Kring..... Kring......" Bunyi Handphone ayah nya Billa berbunyi.
Ayah nya Billa pun mengangkat telpon tersebut sembari menyetir,b"Hallo.. Pak Burhan... Ohiyaaa aman kalau soal itu.... iya kenapa?..... oh okeoke semuanya sudah di atur," ucap ayah Billa yang sedang menelepon ke seseorang yang ia panggil Pak Burhan. Yang terdengar hanya suara ayah nya Billa saja tanpa tahu apa yang mereka sebenernya bicarakan.
"Siapa, Yah?" tanya Ibu Billa penasaran.
"Biasa Pak Burhan. Teman kerja Ayah, ia juga akan datang nanti ke sekolah. kan anaknya satu sekolah juga sama Billa," ucap Ayah Billa.
Mendengar hal tersebut Billa yang duduk di bangku tengah mobil hanya terdiam mendengar perkataan Ayah nya.
Dalam hati Billa, "Anak nya Om Burhan itu kata Ayah yang bakal di jodohkan dengan ku," gumam Bila di dalam hati.
Dengan memasang wajah kesal seperti nya Billa sudah mengetahui rencana perjodohan itu sejak sedari lama.
"Kamu tau kan anak Om Burhan yang mana Bill, namanya Rian satu angkatan dengan mu," ucap ayah Billa tiba-tiba.
"Gak tau gak kenal," jawab Billa dengan nada tinggi.
Setelah, mengucapkan kata-kata tersebut. Billa coba menggali ingatan nya tentang anak yang bernama Rian dan satu angkatan nya.Tiba-tiba dia ingat seseorang anak Basket tinggi putih lumayan aktif disekolah dan termasuk anggota OSIS SMP tempat ia bersekolah. Yang paling di ingat Billa adalah ketika anak tersebut pernah berkelahi dengan Putra di sekolah gara-gara sesuatu hal yang ia bicarakan tentang Billa kepada Putra namun apa penyebab perkelahian itu tidak pernah Putra bicarakan kepada Billa.
Yang sebenernya terjadi sebelum perkelahian itu....
Putra yang hendak pergi sendirian ke kamar kecil di cegat anak dari kelas lain.
"Ehhh ... Lu yang namanya Putra, yang berusaha deketin Billa," ucap lelaki yang bernama Rian tersebut sambil memegang kerah baju Putra.
Sementara di belakang anak tersebut terdapat segerombolan teman genk nya yang siap kapan saja membantu bila terjadi perkelahian.
"Kalau iya Kenapa, biar ku kasih tau ya Billa yang deketin gue pertama dan dia sudah resmi jadi pacar gue," kata Putra dengan lantang sambil memegang tangan Rian untuk melepaskan nya dari kerah baju milik Putra.
"Songong Lho ... aku kasih tau juga yaa ... Billa itu nantinya bakal di jodohkan sama gue. Dia bakal jadi milik gue hahahahah," tertawa jahat Rian.
Tiba-tiba Putra mengambil ancang-ancang untuk melepaskan kepalan tangan nya ke wajah Rian.
"Duarrr...." Satu pukulan jitu masuk secara telak ke wajah Rian. Ia pun hampir tersungkur. Dengan sigap Rian berdiri untuk membalas kan pukulan Putra dengan tendangan. Putra Pun menangkis nya dengan tangan namun tetap membuat keseimbangan tubuh Putra hampir goyah. Mengingat Tubuh Rian jauh lebih besar daripada tubuh Putra.
Namun, tiba-tiba teman di belakang Rian turut membantu dengan tendangan terbang ke arah Putra. Dengan Jumlah 1 VS 5 orang alhasil membuat Putra tumbang. Wajah Putra memar dan bibirnya ada yang berdarah dengan keadaan tersungkur.
"Ingat urusan kita belum selesai. Tunggu awas Lo habis pulang sekolah bonyok lagi Lo."Mereka pun meninggalkan Putra yang sedang dalam keadaan tersungkur.
Ia pun bangun secara perlahan-lahan. Namun ia sambil mengingat perkataan Rian tadi. Dalam hatinya ia perlu membalas apa yang Rian lakukan padanya.
Dari arah kelas nampak kejauhan datang salah satu teman Putra yaitu Juan.
"Kamu kenapa Put?" tanya Juan.
"Aku di keroyok sama anak kelas sebelah. Kalau gak salah Rian namanya," ucap Putra sambil memegang bibirnya yang berdarah.
"Nyari gara-gara tuh anak," ujar Juan sambil mengepalkan tangan.
"Berapa orang tadi?" tanya Juan kembali.
"5 Orang termasuk Rian," ucap Putra.
"Oke kita balas gue urus teman 4 nya kamu tinggal balas sama orang yang punya masalah dengan Lo ya," ucap Juan sambil menepuk pundak Putra
Juan adalah adalah teman yang paling dekat dengan Putra ketika di SMP.
Badannya yang cukup besar juga membuat nya berkelahi adalah termasuk hobinya dan kali ini ia akan melanjutkan untuk menekuni hobi nya dengan sembari membantu Putra.
Sepulang Sekolah.....
Putra menyusuri gang yang ia biasa lalui dengan mengendarai sepeda motor miliknya. Nampak dari kejauhan 5 orang tadi sedang menunggu Putra menghadang jalan dengan Rian di depan mereka. Sementara, Putra tiba-tiba berhenti memarkirkan motornya dan melepaskan helm serta tas nya. Ia pun menaruh helm dan tas di motor nya. Tampak di ujung gang tersebut Rian dan genk sudah berbaris menanti Putra.
Namun Tiba-tiba.....
"Dubrakkk....." Suara tendangan melayang ke arah teman-teman Rian.
Seseorang baru saja meluncurkan tendangan nya dari arah lorong tepat di samping mereka berbaris menunggu Putra.
"Musuh kalian ber empat adalah aku. Ayo layani aku," teriak lelaki yang keluar dari lorong samping mereka tanda menantang.
Ia itu Juan teman Putra yang telah berniat untuk membantu Putra membalas kan perlakuan mereka.
Sedangkan, Rian hanya terdiam menoleh ke belakang melihat teman-teman nya di serang oleh pemuda memakai seragam SMP sama dengan nya.
"Heyyy... lawan mu adalah aku," ucap tiba-tiba Putra sambil membenturkan kepala mya dengan kepala Rian secara langsung.
Rian meringis kesakitan, tak sampai disitu Putra menambah nya dengan tendangan tepat di perut Rian yang membuat nya tersungkur. Melihat Rian yang sudah tidak berdaya Putra pun menghentikan perkelahian nya dengan Rian yang terbilang singkat tersebut.
Sementara Juan masih menghabisi satu persatu teman Rian hingga menyisakan satu lagi yang berdiri. Dengan secepat kilat juan melayangkan tinjuan tepat ke pipi kanan teman Rian tersebut.
"Hahahah gak seru amat, gini aja kekuatan mereka, udah lemah keroyokan aja main nya," ujar Juan sambil tertawa.
"Terima kasih ya, Juan," ucap Putra sambil mengajak tos dan tersenyum.
"Ehhh Put apa masalah mu dengan dia hingga bisa berkelahi seperti ini? Oh iya Rian ini kalau gak salah anak pejabat loh. Gawat kalau dia mengadu sama orang tuanya," tanya Juan sembari memberi informasi.
"Ada lahh sesuatu hal, gak penting juga Juan kamu dengarnya," ucap Putra sambil tersenyum kecil.
"Ayo kita pulang aja," ajak Putra.
Mereka pun meninggalkan Gerombolan Genk Rian yang tengah kesakitan, dengan mengendarai sepeda motor milik Putra si Jecky.
Dan itu hal yang sebenarnya terjadi pada peristiwa perkelahian Putra dan Rian dahulu yang detail nya tidak pernah Putra ceritakan dengan Billa bahkan Juan.
...****************...
Terima kasih udah selalu dukung novel "Uta & Alber"
😊
Tanda elipsis pakai spasi.
Ke mana adalah yang benar, bukan kemana.
Eitsss ... Tapi--
semangat terus kak 💕