Ini adalah kelanjutan kisah dari novel Author yang sebelumnya.
----- ----- «» ----- -----
“Om, papa tidak merestui kita, ayo bawa aku pergi,” isak Ayara, sebelum kemudian ia terkejut melihat wajah pria yang di cintainya itu seperti habis kena pukul.
Ya, siapa lagi yang melakukannya, jika bukan Bara, ia memukuli sahabatnya itu tanpa ampun, karena telah mencintai putrinya.
“Apa sakit?”
“Sedikit, tapi tidak apa-apa.” Adit merasakan tangan halus Aya mengusap wajahnya yang habis kena bogem mentah dari Bara.
Ia sangat mencintai gadis kecil itu, tapi keadaan membuat ia harus menjauh!
Novel ini hanyalah hasil dari kegabutan Author!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ny.Jutex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mirip Siapa Ya!?
Setelah berbicara dengan supir yang mengantarkan Ayara, Adit lanjut menghubungi Bara. Ia menjelaskan bagaimana ia bertemu dengan putri sahabatnya itu, dan Bara pun tidak keberatan.
Bara sedikit lega ketika mendengar putrinya sudah mau pergi nonton. Ia juga memberitahu Raisa tentang hal itu.
Adit dan Ayara sudah berada di ruangan bioskop di salah satu mall. Sebelumnya, Adit sempat membeli minuman dan makanan ringan untuk cemilan saat nonton.
Mereka menonton film animasi, karena hanya tiket film itu saja yang tersisa. Awalnya film itu terlihat membosankan, tapi saat di pertengahan ada adegan romantis oleh pemeran utama pria dan wanita.
Adit terkejut, ia pikir itu hanyalah film anak-anak yang aman untuk semua umur. Dengan reflek, Adit menutup mata Ayara dengan telapak tangan kanannya.
“Iihh, Om apa-apaan sih! Lagi tegang juga,” kesal Ayara, menurunkan tangan Adit yang menutupi matanya. “Tuh kan, udahan.” Ayara semakin kesal karena adegan tersebut sudah selesai. Film tersebut lanjut ke bagian dimana pemeran utama pria melawan musuh-musuhnya untuk melindungi kekasihnya.
“Ssstt! Anak kecil ngga boleh,” kata Adit seraya meletakan jari telunjuk di depan bibirnya.
“Aku bukan anak kecil! Lagian ini hanya film kartun,” sahut Ayara, manyun.
“Bener-bener anak lu, Bar. Mirip siapa ya,” batin Adit, karena yang ia tau, Raisa sangatlah bersahaja, seperti Authornya.
Hingga film selesai, Ayara masih terlihat kesal.
Tak kehilangan akal, Adit mengajak gadis itu untuk pergi makan. Namun, Ayara malah menolak dan ingin segera di antarkan pulang.
“Kalau gue anterin dia dalam keadaan begini, terus Bara nanya, gimana gue jawabnya,” ucap Adit dalam hati, karena niat awalnya adalah membuat Ayara kembali ceria, bukan sebaliknya.
“Om akan mengabulkan apa pun keinginan kamu, tapi janji jangan ngambek lagi,” bujuk Adit.
Ayara diam sebentar, ia terlihat sedang berfikir.
“Om ga boong kan?”
“No no no, berbohong itu bukan kelas Om,” jawab Adit percaya diri, sambil mengangkat dua jarinya seperti huruf V. Sementara Ayara mulai terlihat senang setelah mendengar ucapan Adit.
“Temenin aku makan eskrim.”
“Gampang! Cuma itu?” Jangankan cuma makan eskrim, memborong pabrik eskrim pun ia mampu. Ia rasa permintaan gadis itu terlalu gampang.
“Dan....”
“Masih ada lagi?” tanya Adit.
“Kenapa, katanya apa pun,” balas Ayara, kembali memasang wajah kesal.
“Ok, apa pun!”
“Om harus mau nemenin aku nonton dan jalan-jalan, ok?”
Adit berpikir sebentar, bagaimana jika gadis itu memintanya di saat ia sedang sibuk bekerja. Ia teringat waktu Ayara meminta Ricky untuk di temani nonton.
“Udah, Om pasti ngga bisa, kan.” Ayara membalikan badannya ingin pergi. Tapi Adit buru-buru menahannya.
“Tunggu dulu. Ayo, kita bicarakan sambil makan, om ngga bisa mikir kalau dalam keadaan lapar.” Ayara pun setuju, karena ia pun sebetulnya juga merasa lapar.
Mereka memilih salah satu tempat makan di mall itu, lalu mencari tempat duduk yang masih kosong. Setelah memesan makan dan menunggu beberapa saat, pelayan pun datang membawakan pesanan mereka.
“Makan dulu,” titah Adit. ayara yang ingin mendengar jawaban Adit pun kembali diam dan mulai mengaduk makanannya, kemudian ia memulai suapan pertamanya. Ia merasa Adit hanya mengulur-ngulur waktu dengan acara makan tersebut.
“Pelan-pelan makannya, jangan buru-buru,” ucap Adit, lalu ia pun kembali fokus pada makanannya sendiri.
“Biar cepat habis.” Ayara kembali memasukan makanan ke mulutnya hingga beberapa sendok. Ia ingin segera mendapatkan jawaban, jadi ia ingin acara makan itu segera selesai.
Adit menjeda makannya, ia memperhatikan Ayara yang menurutnya sangat menggemaskan. Terlihat kedua pipi gadis itu mengembung akibat mulutnya yang penuh.
Ayara pun sudah menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya, kemudian ia meminum es jeruknya hingga hampir tandas. Sementara Adit sudah merasa kenyang hanya dengan melihat tingkah gadis yang ada di hadapannya itu.
Adit mengelap mulutnya dengan tisu, setelah tadi sempat menyeruput minumannya lebih dulu.
“Ayo, buruan,” desak Ayara.
“Ngga mau makan eskrim dulu?”
“Ishh, plis deh, Om....” Belum sempat Ayara menyelesaikan kalimatnya, pelayan datang membawakan semangkuk eskrim yang terlihat sangat lezat.
“Yakin ga mau?” Adit hendak mengambil eskrim tersebut, tapi Ayara sudah lebih dulu menahan mangkuk eskrim itu.
“Kan ini buat aku,” ucap Ayara.
“Kirain ga mau,” kata Adit, sambil menahan tawa. Sebetulnya ia tidak sungguh-sungguh ingin memakan eskrim.
Ayara mulai menyendok eskrim lalu memakannya, lanjut suapan kedua dan ketiga, lalu seterusnya. Adit yang melihat itu merasa ngilu di buatnya.
“Ok, Om mulai sekarang untuk memberikan jawabannya, tapi kurangin kecepatan makannya ya,” bujuk Adit, seperti membujuk anak TK.
“hmm,” angguk Aya, ia tetap memakan eskrimnya, sambil mendengarkan Adit berbicara.
“Om akan nemenin kamu jalan atau nonton jika libur bekerja, bagaimana?”
Ayara diam, menatap Adit dengan menyelidik. “Bagaimana aku tau kalau om sedang bekerja atau sedang libur? Aku aja ngga tau Om kerjanya apa.”
“Kerja Om itu, ngga jauh berbeda dengan pekerjaan kakak kamu,” jawab Adit.
Ayara diam, ia teringat kalau kakaknya itu hampir tidak ada waktu untuk menemaninya akhir-akhir ini. Itu artinya, Adit juga bakal tidak punya waktu untuk menepati janjinya. Harapannya hanyalah Adit, karena Adit adalah orang pertama yang membuat papa dan mamanya sangat mudah memberikan izin untuknya pergi keluar. Selama ini, ketika ingin pergi keluar, harus ada orang yang bisa di percaya untuk menemaninya. Bahkan, untuk nonton pun harus di tunggui dengan pak supir.
Pernah ia beralasan ingin pergi ke salon, malah mamanya memanggil orang salon untuk datang ke rumah.
“Kapan aku bisa punya teman dekat!” ucap Aya dalam hati.
Aya berdiri dari duduknya, tanpa sepatah kata pun, ia pergi meninggalkan meja.
“Mau kemana?” tanya Adit yang merasa bingung, ia buru-buru membayar semua pesanan mereka tadi, kemudian menyusul Aya. Entah apa yang ada di dalam di pikiran gadis itu, sulit untuk menebaknya.
Sepanjang perjalanan pulang, Ayara masih diam, ia menatap keluar melalui kaca jendela mobil. Sedangkan Adit, ia masih bingung dengan diamnya gadis itu.
Karena merasa lelah dan ngantuk, Ayara pun tertidur dengan posisi kepala menyender di pintu mobil. Adit yang melihat itu, hanya menggeleng seraya tertawa kecil.
“Ternyata dia ngantuk,” gumam Adit. Apa lagi tadi gadis itu sudah makan banyak, pasti akan lebih mudah merasa ngantuk. Adit fokus mengemudi sambil sesekali beralih melihat ke arah Ayara yang sedang tertidur.
Sekilas ia mengingat bagaimana dulu ia membantu Bara untuk mendapatkan hati Raisa, hingga Ricky yang sempat salah faham padanya. Cepat sekali waktu berlalu.
semangat up ya Thor 😘