Namanya Ara, gadis berpostur mungil yang memiliki fitur wajah bak boneka. Tak hanya menjadi pujaan laki-laki seusianya, pesonanya juga memikat pria dewasa disekelilingnya.
Terutama Farhan, pria sederhana yang agak sombong dengan ketampanannya. Dia tak pernah menyangka bahwa suatu saat akan ada seseorang yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Terutama Ara, gadis yang diharapkan dapat menghiburnya dikala bosan, yang bisa ia ajak 'main-main'
Tak seperti Farhan yang awalnya memiliki niat buruk, Dion, pria kaya raya itu menyukai Ara dengan tulus. Wajahnya pun tak kalah tampan dari Farhan. Namun, sikapnya yang dingin kerap membuat orang lain merasa tak nyaman. Selain itu dia sangat posesif terhadap pasangannya.
Siapakah yang akan di pilih Ara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilyFlow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah dia pacarmu?
Setelah membersihkan diri, Samsul turun ke bawah untuk makan malam. Meja itu sudah dipenuhi makanan, tapi tak seorangpun duduk disekelilingnya.
"Dimana Ara?" Samsul bertanya pada pembantunya yang baru saja menyajikan sup daging sapi.
"Nona Ara masih di kamarnya, Tuan."
Samsul menarik kursi dan menjatuhkan tubuhnya di sana. "Suruh dia turun sekarang."
"Baik, Tuan."
Pembantu itu bergegas menuju kamar majikannya yang lebih muda. Dia mengetuk pintu sebelum berkata, "Nona Ara, waktunya makan malam."
Ara duduk di meja belajarnya dan sedang mengerjakan PR, dia menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. "Bibi, aku masih kenyang."
"Baiklah." Pembantu itu berbalik dan bergegas menemui Samsul lagi.
"Tuan... Nona Ara bilang dia masih kenyang, jadi dia akan melewatkan makan malam."
Samsul tidak mengatakan apa-apa. Dia meletakkan sendok dan garpu, dan menelan makanan di mulutnya dengan tidak tergesa-gesa. Dia minum seteguk air sebelum mengusap mulutnya dengan tisu. Kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan menaiki tangga dengan tangan di saku.
Samsul memiliki kunci khusus yang dapat membuka kamar manapun dirumahnya. Kamar Ara tak terkecuali. Dengan demikian dia berhasil masuk ke kamarnya dengan mudah.
Ara masih duduk di kursinya. Tubuhnya menegang dan jari-jarinya yang halus menekan pulpen dengan kuat begitu pintu terbuka. Jantungnya berdegup kencang seiring dengan langkah kaki Samsul yang kian mendekat.
Samsul melirik buku pelajarannya sebentar sebelum merampas dan menutupnya rapat-rapat.
"Karena kamu tidak mau makan, mari kita bicara," katanya sambil mengambil bolpoin di tangannya dan meletakkannya di rak.
Samsul membawa adiknya ke tempat tidur dan mendudukkannya di sana. Setelah itu menarik kursi dan duduk dihadapannya. Mencondongkan tubuh ke depan, dia menatap wajahnya lekat-lekat dengan kedua siku di atas paha. Jari-jarinya yang panjang saling bertaut.
"Katakan padaku, siapa pria tadi?"
Suaranya tidak lembut dan juga tidak terlalu keras. Meski begitu, jantung seseorang berdebar semakin kencang.
"Pria yang mana?" Ara pura-pura tidak tahu. Dia menunduk, menghindari tatapan Samsul.
"Kamu tahu siapa yang Kakak maksud." Samsul menegakkan badan dan melipat kedua tangan di dada. Matanya menyipit saat dia bertanya dengan curiga. "Apakah dia pacarmu?"
"Mustahil!" Ara membantah dengan keras.
"Bagaimana mungkin aku berpacaran dengannya! Pria itu mungkin seumuran dengan Kak Haris. Dia sangat tua."
Samsul merasa seperti ditusuk, hatinya sakit. Haris, adik laki-lakinya baru berumur dua puluh lima tahun, dan Ara menganggapnya sangat tua, lalu bagaimana dengan dirinya, yang empat belas tahun lebih tua darinya? apakah Ara menganggapnya sesepuh? Atau... fosil?
"Senang kamu mengetahuinya. Karena dia sangat tua, sudah pasti dia bukan temanmu. Sepertinya dia juga bukan tukang ojek. Jadi, siapa dia sebenarnya?"
Tinjunya mengepal, teringat bagaimana Farhan menatap dan membelai kepala adik tercintanya.
Untuk pertama kalinya Samsul merasa sangat ingin memotong lengan seseorang serta mencungkil kedua matanya.
Ara menyaksikan tatapan matanya yang membara. Kakaknya terlihat seperti ingin membunuh seseorang.
Jika memberitahu yang sebenarnya maka dia dan Farhan akan tamat. Dengan itu dia berbohong.
"Dia kakak dari temanku. Kami tidak sengaja bertemu saat aku sedang menunggu bus. Kebetulan kami satu arah, jadi dia mengajakku sekalian."
"Dan kamu menerima ajakannya begitu saja? tidak menolak?" Samsul menatapnya dengan tidak percaya.
Bagaimana dia bisa menolak? Farhan begitu memaksa. Ara tidak berani mengutarakan pikirannya dan hanya menundukkan kepala sambil memainkan ujung piyamanya.
Diam sama saja dengan ya. Dia memang tidak menolak. Dengan mata terpejam Samsul memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Harus berapa kali Kakak ingatkan, jangan naik kendaraan orang asing, terutama seorang pria. Mengapa kamu tidak mau mengerti!" katanya putus asa.
"Tapi dia bukan orang asing, aku mengenalnya." Ara mengangkat wajah dan menatap Samsul.
"Bukankah Kakak pernah bilang kalau kita tidak boleh mengabaikan orang yang kita kenal? Itu sama saja tidak menghormatinya jika kita melakukannya."
Samsul tertegun. Adiknya tak pandai berargumen. Dia gadis penurut yang tidak pernah membantah.
Gadis kecilnya sudah dewasa sekarang. Samsul merasa senang sekaligus khawatir.
"Kamu mungkin mengenalnya, tapi kakak tidak. Kakak tidak tahu apa pekerjaannya, di mana rumahnya, dengan siapa dia tinggal dan siapa saja keluarganya. Tidak ada yang bisa Kakak lakukan jika dia melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu?"
"Kak Farhan bukan orang jahat. Dia tidak akan melakukan hal buruk apapun padaku."
"Kamu begitu yakin padanya?" Samsul mencibir.
"Sudah berapa lama dan sejauh mana kamu mengenalnya? Tahukah kamu apa yang ada dipikirannya ketika dia menatapmu?"
Gadis kecilnya begitu menawan. Hanya dengan mengedipkan matanya yang seperti rusa betina, dia mampu menyihir siapa saja yang melihatnya. Bibirnya yang montok dan merah secara alami tampak sangat menggiurkan. Meskipun kakinya tidak terlalu panjang, area dada hingga pinggulnya tak tertahankan. Samsul tidak percaya Farhan begitu polos dan tidak memiliki pikiran kotor terhadapnya.
"Bagaimana aku bisa tahu? Aku bukan Edward Cullen."
Samsul tidak mengatakan apa-apa untuk waktu yang lama dan hanya terus menatapnya dengan tajam.
"Tahukah mengapa kakak melarang kamu naik taksi dan ojek? dan hanya mengijinkan naik angkutan umum?" Katanya kemudian.
Ara menggelengkan kepala. Dia terbiasa mematuhi segala perintahnya dan tidak pernah bertanya apa alasannya.
"Angkutan umum mungkin tidak begitu nyaman dan belum tentu aman juga. Masih ada beberapa tindakan kriminal seperti pencopotan dan pelecehan seksual. Namun, dua kasus itu masih lebih baik, daripada kasus perampokan atau penculikan yang diikuti dengan pemerkosaan dan berujung pembunuhan yang dilakukan oleh driver ojek maupun taksi. Baik itu online maupun offline."
Membayangkannya saja sudah membuat Ara bergidik ngeri. Saat itu dia menyadari sesuatu. "Kakak, maafkan aku, aku salah."
"Apakah kamu sudah mengerti sekarang?"
Ara menganggukkan kepala. Segala perintah maupun larangan kakaknya bukan tanpa alasan. Semuanya semata-mata untuk melindunginya.
Samsul meraih sejumput rambutnya yang tersesat dan menyelipkannya ke belakang telinga. Kemudian membelai kepalanya penuh kasih sayang.
"Karena kamu sudah mengerti, kakak harap kejadian hari ini tidak terulang lagi."
"Aku berjanji ini yang terakhir kali," sumpahnya.
"Turun dan makan lebih dulu, setelah itu baru selesaikan PR," titah Samsul sambil menepuk pelan kepalanya.
"Baiklah."
Keduanya berdiri dan turun ke bawah bersamaan. Samsul baru makan sedikit. Namun, dia sudah kehilangan selera makannya. Dengan itu dia bergegas ke ruang kerja dan menyelesaikan pekerjaannya.
Ara makan dengan tidak tergesa-gesa dan kembali ke kamarnya setengah jam kemudian. Dia hendak menyelesaikan pekerjaan rumahnya ketika ponselnya berbunyi. Dia membukanya dan mendapati pesan singkat dari nomor tak dikenal. Dia membalasnya dengan singkat.
[Siapa?]
Ponselnya kembali berbunyi sepuluh menit kemudian. Ara meletakan bolpoin dan meraih ponselnya lagi. Dia membaca pesan yang baru masuk.
[Farhan. Simpan nomorku]
[Oke]
Ara menyimpan nomornya begitu selesai mengirim balasan, sesuai permintaan Farhan. Dia melempar ponselnya ke meja dan lanjut mengerjakan PR.
...
Farhan sedang berbaring di kamarnya ketika terdengar notifikasi pesan masuk. Dia buru-buru melihatnya dan langsung kecewa. Dia kembali melempar ponselnya ke ranjang setelah membaca pesan tidak penting dari temannya.
Menatap langit-langit, Farhan bergelut dengan pikirannya sendiri.
Haruskah aku menelponnya saja? Tapi, bagaimana kalau dia sedang sibuk? Dia pasti kesal kalau aku mengganggunya. Mungkin tidak apa-apa jika aku mengiriminya pesan.
Dengan itu, jari-jarinya yang panjang dan ramping mulai mengetik sesuatu dan mengirimkannya ke Ara. Farhan tidak menyangka akan mendapat respon secepat itu. Sudut mulutnya melengkung ke atas saat mengirim balasan.
Farhan : [Apa yang sedang kamu lakukan?]
Ara : [Aku baru saja selesai mengerjakan PR]
Farhan : [Apakah aku mengganggumu?]
Ara : [Tidak. Aku sedang tidak melakukan apapun. Bagaimana dengan Kak Farhan? Apa yang sedang Kakak lakukan?]
Farhan : [Aku sedang memikirkan kamu]
Ara : [Aku? Apa yang Kak Farhan pikirkan tentangku]
Farhan : [Rahasia]
Ara : [Mengapa harus ada rahasia diantara kita 🙄]
Farhan : [Kamu tidak mau ada rahasia diantara kita? Kalau ada cinta diantara kita bagaimana? Mau tidak?]
Satu menit, dua menit, hingga setengah jam telah berlalu. Namun, Farhan tapi tak kunjung mendapat balasan. Dia melihat kontaknya yang sudah offline. Apa dia tertidur?
Farhan bangun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil dan menggosok gigi. Saat kembali dia mengecek ponselnya sekali lagi dan mendapati tidak ada yang berubah.
Farhan melepas kaos dan mematikan lampu sebelum membaringkan tubuh di ranjangnya yang sempit.
Tak lama setelah dia memejamkan mata dan tertidur, pintu kamarnya terbuka dengan suara keras.
Farhan kembali membuka mata dan mendapati seorang gadis berdiri diambang pintu. Dahinya yang halus mengernyit. Ara? Mengapa dia ada di sini?
Farhan segera bangun dan duduk di ranjangnya dengan punggung tegak. Matanya tak lepas memandangi wajahnya yang cantik, serta lekuk tubuhnya yang tak tertahankan. Kulitnya yang seputih salju berkilauan dibalik gaun tidurnya yang transparan. Farhan menelan ludah dengan keras.
Senyum tipis menghiasi wajahnya saat Ara berjalan ke arahnya dengan kaki telanjang. Farhan tidak pernah menyangka, gadis yang terlihat murni dan polos justru sangat nakal. Dengan pakaiannya yang tidak senonoh, dia terus menggoda dan juga merayunya.
Farhan meraih tangannya, menghentikannya menjelajahi anggota tubuhnya yang telah mengeras sejak lama. Tatapannya semakin gelap. Dia bertanya dengan suara serak. "Tahukah apa yang sedang kamu lakukan sekarang?"
Ara tidak menjawab dan hanya tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya, lalu menempelkan bibirnya ke bibirnya.
"Kamu yang memulainya, jangan salahkan aku." Farhan membalikkan tubuhnya dan menekannya ke tempat tidur.
Dengan satu tarikan, selembar kain tipis itu terlepas dari tubuhnya. Farhan melemparnya ke lantai dengan sembarang.
Seperti yang pernah ia bayangkan, tubuhnya lembut dan halus saat di sentuh. Farhan membelai dan mencumbunya berulang kali sebelum memasukan miliknya ke dalam miliknya.
Entah sudah berapa lama dan berapa kali mereka mengubah gaya. Ranjangnya berderit setiap kali dia mendorong pinggulnya maju mundur.
skrng lg fokus pngn namatin novel yg satunya dulu jd ini jarang update
tp lg berusaha biar update dua2nya