Demi membalas orang-orang yang membuatnya terpaksa terpisah dengan orangtua, Nayyara telah merencanakan sebuah pembalasan.
Dia menyamarkan dirinya dengan sempurna, menyembunyikan wajah indahnya menjadi wajah buruk yang menggunakan kacamata tebal!
Namun dalam proses balas dendamnya, Nayyara berbuat salah yang fatal—— dia telah menarik perhatian CEO dingin.
""Semua wanita itu murahan"" Harry Balwis
""Kau hanya pria arogan yang haus akan cinta"" Nayyara.
Mampukah Naya mencapai tujuannya? atau dia malah jatuh cinta pada pria itu sebelum tujuannya tercapai?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom yara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Jangan lakukan itu
Mendadak jantungnya seperti berhenti berdetak.
*
*
Tubuh mereka masih berdekatan, Harry tak kunjung menarik tubuhnya kembali setelah berbisik ke telinga Naya, ia seperti terhipnotis dengan aroma yang keluar dari tubuh Naya padahal ia belum mandi.
Naya masih diam mematung, ia berusaha menahan nafasnya karena terlalu gugup sedekat itu dengan sang bos.
Ting
Kotak ajaib yang membawanya terbuka, ia segera keluar tak ingin berlama lama bersama bosnya. Harry masih diam mematung, belum sadar kalau kotak ajaibnya sudah tertutup. Setelah tersadar ia berusaha membuka kotak ajaib itu untuk mengejar Naya entah apa yang ingin ia lakukan, tapi usahanya tak berhasil meskipun menggunakan kekuatan penuh kotak ajaib itu tidak mau terbuka.
Ahhhh....
Naya segera masuk ke dalam kotak ajaib yang lain untuk menuju ke lantai apartemennya. Jangan sampai bosnya tahu sebelah mana apartemennya. Satu yang tidak Naya ketahui apartemennya satu lantai dengan Harry.
Semoga tidak bertemu lagi dengannya di apartemen ini.
Membuka pintu apartemen dan segera membersihkan diri sebelum pesanan makanan yang ia pesan datang.
Naya duduk di sofa sembari memikirkan langkah yang tepat untuk mendekati Harry tanpa membawa perasaan, ia tidak mau cinta menghambat rencananya untuk merebut harta keluarganya yang masih ditangan pamannya.
Paman tunggu saja, aku akan membuat kalian menyesal.
Kring kring kring.
Paman Jody
"Ya paman, ada apa?" ucapnya setelah mengangkat ponselnya.
"Sayang berhati - hatilah mereka menghentikan pencarian untuk menemukanmu"
"Bukankah itu bagus paman, apa mereka menyerah mencariku?"
"Mereka pasti punya rencana lain, dari informanku mereka lebih memperhatikan orang - orang baru yang mendekat ke arah kekuasaan mereka, dan satu lagi sepertinya pamanmu tidak bekerja sendiri masih ada orang lain dibelakang pamanmu"
"Apakah paman sudah menemukan bukti tentang kecelakaan orangtuaku, apa mereka terlibat?"
"Sepertinya mereka pintar menyembunyikan buktinya, aku tidak menemukan apapun, dan untuk saat ini jangan mengunjungi makam orangtuamu dulu"
"Baiklah, paman juga berhati - hatilah" sambungan pun terputus.
Naya memikirkan ucapan pamannya, apakah mereka sudah bisa mendeteksi keberadaannya? Sepertinya ia harus mempercepat rencananya dengan menyakiti putri kesayangannya Tasya.
*
*
Naya menghubungi seseorang.
"Dimana?" tanya Naya pada seseorang yang ia suruh untuk mengikuti Harry.
"Dia masih di loby nona"
"Baiklah"
Bolehkah aku percaya diri, kalau dia sedang menungguku. Sepertinya akan lebih mudah.
Dengan membawa makanan yang ia pesan tadi dan sudah berganti pakaian dengan gaya Naya ia keluar dari apartemen. Berjalan seakan akan ia tidak mengetahui keberadaan Harry. Dari sudut matanya ia melihat Harry berdiri ketika melihatnya.
Ia berjalan ke halte untuk pulang ke rumah kecil yang telah di sewanya. Tapi sebuah mobil berhenti di depannya. Siapa lagi kalau bukan Harry sebagai karyawan yang baik ia harus menyapanya bukan, dengan menundukkan kepalanya.
"Naiklah" perintah Harry datar tanpa ekspresi.
Tepat sasaran
"Hah?"
"Masuklah"
"Ehhhh, Terima kasih tuan, saya bisa naik bis tuan"
"Masuklah, haruskah aku memaksamu"
Akhirnya ia terpaksa masuk ke dalam mobil tuannya dengan senyum menyeringai yang tak dapat dilihat oleh siapapun. Ia hendak membuka pintu belakang tapi sebuah suara mengurungkan niatnya.
"Duduk di depan" perintahnya.
Dengan segera Naya membuka pintu depan lalu duduk di sebelah bosnya, ia sedikit melirik bosnya. "Terima kasih tuan atas tumpangannya" entah karena gugup atau apa ia susah untuk memasang sabuk pengamannya. Tanpa aba aba Harry memasangkan sabuk pengamannya. tiba tiba ia merasa sesak nafas bisa sedekat itu dengan bos aroganya, aroma maskulin menyentuh hidungnya, perasaan apa ini pikirnya.
Harry merasa gugup ketika tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Naya, ia menetralkan keadaan jantungnya yang berdendang ria, sedikit senyum samar terulas di bibir tebalnya.
Aku ingin membuktikan sesuatu, aku ingin tahu siapa kau sebenarnya, apa benar kau gadisku, atau wanita itu atau kalian memang wanita yang sama.
Mobil mereka berhenti di sebuah hotel mewah.
Dengan gugup Naya bertanya. "Kenapa kita kesini tuan?"
"Ikutlah, jangan banyak bertanya"
Dasar Arogan. Naya tersenyum tipis yang hanya dia yang bisa melihatnya.
Sampai dikamar hotel, Harry membuka jasnya dan melemparkannya ke atas ranjang.
Naya hanya berdiri mematung, kegugupan menyelimuti dirinya, kali ini dia benar benar gugup, dadanya bergemuruh, nyalinya sedikit menciut karena dia berperan sebagai Naya sehingga Yara tidak bisa muncul disaat bersamaan.
Ia mundur selangkah ketika Harry mendekatinya. Ia semakin menundukkan wajahnya, memegang erat tali tasnya, kakinya sedikit bergetar.
"Apa yang anda lakukan?" ucapnya terbata.
"Bukankah hal seperti ini sudah biasa kau lakukan, melayani pria hidung belang untuk mendapatkan uang"
"Jangan menghina saya tuan" ucapnya terbata, kedua matanya sudah berkaca - kaca.
"Menghina? Apa kau masih punya harga diri?" Harry mengucapkannya dengan tatapan jijik sembari tersenyum remeh. Naya menatapnya sendu begitukah dirinya bagi seorang Harry pikirnya, air matanya mulai mengalir, diusapnya air mata dipipinya dengan kasar. Berbalik ingin pergi dari kamar hotel itu, belum selangkah tangannya sudah dicekal laki laki yang berdiri di depannya dengan rahang yang mengeras.
"Aku bilang layani aku" ucapnya dengan mengeraskan rahangnya.
"Aku tidak mau" jawabnya dengan suara keras. Ia tidak menyangka akan direndahkan seperti itu, apa sebenarnya kesalahannya, padahal dia belum melakukan apapun untuk mendekatinya.
"Kenapa?"
"Aku bukan wanita murahan"
"Mari kita buktikan" Harry menariknya dan melemparkan Naya dengan kasar ke atas ranjang.
"Auuuwwww" ringisnya.
Harry mulai membuka kancing kemejanya lalu melemparkannya ke sembarang arah. Mendekati Naya, semakin dekat, reflek Naya pun mundur kebelakang, Harry naik ke atas kasur, sedangkan Naya sudah sampai pada sandaran ranjang sehingga dia tidak bisa mundur lagi, dadanya naik turun, ia tidak bisa berbuat apa apa lagi selain memohon, ia menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah mengalir.
"Jangan, jangan lakukan itu tuan" Harry tak menghiraukan ucapannya, nafsu mulai menguasainya, ia menarik kaki Naya kemudian mengungkungnya dibawah tubuhnya.
Naya memberontak,, meskipun tidak mungkin setidaknya ia berusaha untuk melawan, seandainya saat ini ia sebagai Yara mungkin Harry sudah habis ditangannya.
Harry menahan tangannya keatas, kemudian membuka kaca mata tebalnya.
Cantik
Perlahan tangannya turun ke bawah membuka kancing kemeja wanita dibawahnya, niat hati ingin membuktikan kecurigaannya tapi sepertinya Harry terbawa suasana. Naya memohon dengan menggelengkan kepalanya agar Harry tidak melakukan itu.
"Jangan... ku mohon tuan,,, jangan lakukan itu"
Melihat bibir yang sedari tadi memohon untuk dilepaskan, tapi dimata Harry bibir itu meminta untuk disentuh, dengan cepat Harry menyatukan bibirnya dengan bibir manis wanita dibawahnya, hanya menyentuh tanpa **********, tapi mereka berdua merasakan sensasi yang aneh, jantung mereka berdetak tak karuan, debarannya semakin keras tat kala tubuh mereka semakin bersentuhan.
terima kasih atas karya yg sangat menghibur ini thor.. semangat terus utk karya² baru yg lebih wow lagi.