NovelToon NovelToon
SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cerai / Tamat
Popularitas:274.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Neti Jalia

Arinda adalah salah satu dari banyak wanita yang salah dalam memilih jodoh. Berharap bahagia setelah menikah diusia muda, namun ternyata suaminya hanya menjadikannya sebagai mesin pencetak anak.

Sampai suatu hari dia dipertemukan dengan seseorang yang menjanjikan dia kebebasan. Arinta terjebak dalam cinta terlarang. Akankah Arinda bebas? atau dia memilih kembali bersama suaminya demi sang buah hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neti Jalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.7. Bodoh Akut

Teng

Suara besi yang dipukul jam 12 malam, membuat semua karyawan pabrik menghentikan kegiatan mereka. Mia dan Arinda pergi ke kantin hanya berdua saja. Sementara Dian masih meriang di rumah akibat ulah suaminya itu.

Arinda kembali duduk di tempat duduknya, setelah mendapat dua gelas kopi dan beberapa gorengan.

"Itu tanganmu kenapa?" tanya Mia sembari menyesal kopinya.

"Tadi waktu berangkat kerja aku sempat mengalami kecelakaan. Jambrong hancur berkeping-keping." Jawab Arinda sembari mengunyah pisang goreng yang sudah mulai hangat.

"Kamu kecelakaan? terus jambrong hancur? terus kamu kerja nanti pakai apa?" tanya Mia dengan bola mata nyaris keluar.

"Untungnya yang nabrak mau tanggung jawab, buat ngantar jambrong ke bengkel. Terus tadi berangkat kerja juga dia yang ngantar." Jawab Arinda dengan santai.

"Cewek?" tanya Mia penasaran.

"Cowok." Jawab Arinda.

"Terus besok kamu pulang pakai apa? atau di antar jemput sama orang itu? kalau aku jadi kamu, aku telpon itu orang. Minta tanggung jawab antar jemput selama Jambrong sakit," tanya Mia.

Deg

Pisang goreng yang ada ditangan Arinda terlepas begitu saja dari tangannya. Kini Arinda baru sadar, karena panik dirinya sudah melakukan kebodohan yang hakiki.

"Kamu kenapa Rin? kok tiba-tiba muka kamu pucat gitu?" tanya Mia.

"Rin? kamu sakit?" Mia memberondong Arinda dengan berbagai pertanyaan.

"Mati aku mbak. Aku sudah melakukan kesalahan dan kebodohan besar." Jawab Arinda dengan tubuh tersandar lemas di kursi.

"Ono opo toh Rin? wajahmu sampai pucat gitu? kamu khawatir nggak ada yang nganter pulang?" tanya Mia sembari menyesap kopi panasnya.

"Bukan itu aja mbak. Aku bahkan nggak tahu siapa nama orang itu." Jawab Arinda lemas.

"Lah kok bisa? kamu bisa lihat di KTP nya," ucap Mia yang dijawab gelengan kepala oleh Arinda.

"Maksud gelengan kepalamu itu apa? kamu nggak nahan KTP nya?" tanya Mia yang dijawab anggukkan kepala Mia.

"Telpon orangnya kan bisa," ucap Mia.

Kini Arinda tidak tahan untuk tidak mengeluarkan air matanya.

"Mbak. Sampeyan pasti nyesek nduwe konco bodohnya kebangetan kayak aku. Aku ndak tahu nama orang itu, ndak nahan KTPnya, ndak mintak nomor hp nya. Aku bahkan ndak nyatet plat motor orang itu."

"Dan yang paling buat dadaku sesak adalah. Aku bahkan ndak tahu jambrong dirawat di bengkel mana," sambung Arinda.

Mia menepuk dahinya dengan keras. Mia bahkan spontan memukul meja saking kesalnya pada Arinda.

"Uggghhh...sumpah ya Rin. Kalau kamu itu kutu rambut, sudah tak pites dari tadi. Kamu kok bisa-bisanya bodoh begitu? kesel mbak dengernya," ujar Mia.

"Lah terus aku kudu piye iki mbak? gimana nasibku kedepannya ini," kini Arinda jadi pusat perhatian para karyawan kantin, karena wanita dua anak itu menangis tersedu-sedu.

"Mbak juga bingung Rin. Kalau mbak punya duit, sudah mbak pinjami buat kamu beli motor bekas. Tapi kamu tahu sendiri kehidupan kita ndak jauh beda. Masih untung bisa nafas." Jawab Mia.

"Tapi aku ingat kalau ketemu orangnya," timpal Arinda.

"Kamu ingat wajah orangnya ya buat apa? kota ini cukup besar. Gimana cara kamu mencari orangnya? lah wong kendaraan buat nyari aja ndak ada," ujar Mia.

"Kalau gitu sampeyan temenin aku lapor polisi saja mbak," ucap Arinda.

"Sebelum ke kantor polisi mbak mau tanya sama kamu. Sudah berapa tahun motormu mati pajak?" tanya Mia.

"Empat tahun." Jawab Arinda.

"Kenapa ndak kamu bayar?" tanya Mia.

"Sayang duitnya mbak. Yang dibayar juga motornya butut gitu." Jawab Arinda.

"Nah apa kamu pikir polisi juga mau nyari orang cuma buat motor butut kamu? pas diperiksa STNK mu mati pajak udah lama. Bukannya dapat untung, kamu malah bisa disuruh lunasin pajak."

"Jadi aku kudu piye mbak?" tanya Arinda dengan wajah memelas.

Mia menghela nafas panjang. Dia cukup kasihan dengan sahabatnya itu.

"Kalau pulang besok, biar mbak yang antar kamu. Meski rumah kita berlawanan arah, ndak apa-apa mbak yang antar." Jawab Mia.

"Untuk selanjutnya kamu bicarain masalahmu sama suami kamu. Rasanya mustahil kalau dia nggak mau bantuin kamu. Kalau kamu ndak kerja, dia juga kan yang rugi?" sambung Mia. Tapi bukannya wajah Arinda bersinar cerah, saat mendengar solusi itu. Justru wajah wanita itu jadi tertunduk.

"Ngomong sama manusia itu. Serasa lebih enak ngomong sama tunggul. Ngerti sampeyan tunggul mbak?" pertanyaan Arinda di jawab gelengan kepala oleh Mia.

"Tunggul itu sisa tebangan pohon. Sama sekali ndak bermanfaat. Bukan dapat solusi, malah bisa bikin hatiku tambah mangkel. Jangankan hal sepele kayak gini mbak. Dulu waktu aku lahiran Secar, aku yang ngarahin dia buat kartu BPJS."

"Sudah tahu ada tanggungan kayak gitu, malah ndak mau kerja. Sekarang BPJS ndak kubayar lagi. Ntah sudah berapa tunggakkannya sejak Raditia lahir. Rasanya aku mau mati saja kalau begini mbak," sambung Arinda yang kembali terisak.

"Sabar Rin. Kita bertiga ini wanita pilihan. Tuhan pasti ingin memberikan yang terbaik, setelah kita mengalami nasib terburuk," Mia berusaha menghibur.

Arinda tertunduk dimeja. Rasa kesalnya membuat wanita itu sesekali membenturkan kepalanya dengan pelan.

"Bodohnya kamu Arinda. Bisa-Bisanya kamu kehilangan harta berharganu dengan cuma-cuma. Hanya karena cowok itu ganteng, kamu jadi lupa segalanya," gerutu Arinda.

"Seganteng apa sih? kok sampai buat kamu terhipnotis gitu?" tanya Mia penasaran.

"Oalah mbak. Kalau sampeyan ketemu orangnya, pasti ikut kesemsem." Jawab Arinda asal.

"Iya. Tapi akibat kesemsemmu itu, hartamu jadi hilang. Siap-Siap deh bakal perang dunia lagi sama mas Aditmu itu," ucap Mia sembari menyesap kopinya kembali.

"Aduh...sumpah! setres tenan aku mikirno iku mbak. Lah jadi aku harus gimana ini? pakai ojek langganan, yo iso tekor aku mbak. Seseran pas buat beli bensin satu bulan. Ojek langganan mana mau dibayar cuna isi bensin aja," Arinda lagi-lagi membentur-benturkan keningnya diatas meja.

"Sudahlah. Sebaiknya kamu diskusikan dulu sama suamimu besok. Sekarang habiskan kopi dan gorenganmu. Bentar lagi jam istirahat akan selesai," ujar Mia.

"Ora nafsu maneh aku mbak. Sekarang aku pengennya nangis yang kenceng, tapi ya malu banyak orang disini. Ini ya, mesti mas Adit ngomel-ngomel. Ndak ada solusinya ngadu sama dia, malah tambah mumet kepalaku,"

"Aku...."

Teng

Suara besi yang dipukul sudah memenuhi ruangan kantin. Arinda menghela nafas, panjang dan meninggalkan begitu saja kopi dan gorengan yang sudah dia bayar. Arinda sama sekali tidak bernafsu lagi untuk malam ataupun minum. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada motor kesayangannya yang sudah tidak tahu rimbanya.

Arinda bekerja tampak lesu dan tidak bersemangat. Dia sangat sedih dan kepikiran soal motornya itu. Hingga tidak terasa fajarpun mulai menyingsing dan merekapun bergegas mengemasi sisa-sisa bahan yang berserakkan di lantai.

Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, saat Arinda dan Mia keluar dari pabrik. Wajah lelah dan ngantuk sangat terlihat jelas diwajah Arinda dan Mia. Terlebih mata Arinda terlihat bengkak, karena banyak menangisi tentang nasib motornya itu.

Namun tiba-tiba mata Arinda langsung berbinar saat melihat sosok tampan yang tengap berdiri di parkiran. Tanpa pikir panjang, Arinda langsung berlari dan berhambur kepelukkan pria itu. Lain Arinda, lain pula dengan respon Mia sahabatnya. Wanita itu sampai melongo, saat melihat aksi berani Arinda. Terlebih saat melihat pria tampan yang ada dalam pelukkan sahabatnya itu.

1
Dea Abdullah
suka critanya beda dr yg laen yg kebnyajan ceo ceo mulu
Safa Almira
suka ceritanya
Vita Azizah
Luar biasa
Dewi Nuraeni
tinggal Arinda sm Dian yg hrs nyusul Mia biar sm2 jadi jendes/Grin/
Dewi Nuraeni
buat apa lulusan sarjana jga klo ga digunain mh itu ijazahnya..klo cuma buat jdi tukang judol mh ga usah jdi sarjana aja/Grin/
Rydwan Ap
😭😭
Rydwan Ap
arinda cinta mati sama Dante tpi ngk mau melepaskan aditia hmmm jdi mau nya arinda itu apa??
Rydwan Ap
si arinda bkin greget😫
Rydwan Ap
waduhh yg jelas bkan sya pelaku nya kk net😅
Rydwan Ap
main nyosor aja ni sii arinda😂😂
Say Aulia Isma
Luar biasa
Author_Ay: baca karyaku kak

tawanan miliarder posesif
total 1 replies
Nm@
Gimana ya cara menentukan masa Iddahnya?
Nm@
Tentu pula mencari nafkah buat suaminya
Nm@
Kasihan sekali mereka
Nm@
Hadir, Kak
mia mieryza
bagus critanya..
Author_Ay: Permisi kak

Yuk baca juga dan masukkan ke dalam rak karya aku kak di jamin seru

NONA GALAK & TUAN POSESIF 😁😁

BERIKAN LIKE, VOTE DAN KOMEN setiap bab nya ya
total 1 replies
Suci Fatana
ah lucu sekali
Suci Fatana
kurasa kerjaan dante dibidang hukum deh
Suci Fatana
edian tenan lanangan ui...
Suci Fatana
asli ngakak perihal motor😂😂😂🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!