Tidak pernah terbayang kan jika wanita yang beberapa hari ini aku kenal dan aku suka adalah sosok hantu yang gentayangan.
Bagaimana akhir hidupnya dulu, hingga ia menjadi sesosok hantu yang bergentayangan?
Warning!
Isi nya hanya ke haluan dari author gabut 😊 no komen julid nyelekit 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki pilihan
...👻👻👻...
"Iya, benar...saya permisi duluan atuh kang, mau ke ladang." Ujarnya yang lantas pergi.
Aku pun masuk kembali ke dalam mobil dan melajutkan perjalanan menuju lokasi.
.
"Aiih si mas itu teh berani pisan nyamperin tempat begitu." Si bapak bergidik lalu menoleh ke arah mobil yang membawa Bimo, "Astaghfirullah."
Si bapak langsung lari tunggang langgang, mengurungkan niatnya untuk pergi ke ladang, ia kembali pulang ke rumah dengan nafas yang ngos ngosan.
Entah apa yang udah di lihat si bapak di mobil Bimo tadi, sampe sampe membuatnya syok, sampai di rumah ia langsung duduk meringkuk di pojokan kasur dengan menyembunyikan wajah di ke dua lututnya.
"Aih si bapak teh, cepet pisan sudah balik ke rumah?" Tanya sang istri yang sedang memasak di dapur hingga tidak memperhatikan wajah sang suami yang di landa takut.
Dalam penglihatan si bapak saat menoleh mobil Bimo, ia melihat wanita dengan jubah putih, rambut panjang tergerai serta wajah yang menyeramkan sedang menatap ke arahnya. Nyesel si bapak itu sempat menoleh ke belakang hanya untuk melihat mobil orang yang tadi bertanya padanya menanyakan lokasi tanah Pabrik Mekar.
.
.
Bimo sampai di tempat yang ia tuju.
"Akhirnya aku sampai juga." Aku turun dari mobil tanpa ragu.
Sejauh mata ku memandang hanya ada tanah kosong dengan pohon ilalang yang tumbuh tinggi, belum lagi di sebrangnya terdapat pohon bambu yang rindang,
"Apa tidak salah ya, pak bos mau membangun pabrik di tempat ini?" Bulu kuduk ku merinding, pada hal kan ini masih terbilang pagi, tapi suasana tempat ini begitu sunyi, sepi tak berpenghuni, memang ini lokasi yang cukup jauh dari perkampungan belum lagi pihak yang menawari bos tanah ini pun memberikan harga yang cukup jauh dari harga pasaran bila di bandingkan dengan pihak lain yang menawarkan tanahnya pada pak bos.
Setelah mengambil beberapa buah foto, aku langsung mengirimnya ke bos.
Aku berjalan menyusuri lahan yang akan di beli oleh bos ku.
Puk.
Ada tangan yang menepuk bahu ku.
Aku menolehnya, "Gak ada orang, lalu siapa yang menepuk bahu ku? Apa itu perasaan ku saja kali ya?"
Aku melanjutkan menyusuri lahan seorang diri.
Tidak lama aku mendengar ada suara wanita yang memanggil nama ku dari arah belakang ku, "Mas Bimo!"
"Iya?" Aku menoleh, hanya ada pohon bambu dan rerumputan yang dapat aku lihat.
Mungkin hanya angin saja. Ku tepis begitu saja.
Kaki ku baru dapat melangkah 3 langkah, namun harus terhenti di saat ada suara seorang bapak yang memanggil ku dari arah lain, "Bimoooo, Bimooooo, sini!"
Ku lihat dari kejauhan ada seorang bapak yang berdiri di tengah rumput ilalang yang tumbuh tinggi sedang melambai lambaikan tangannya ke arah ku, ia menyuruh ku untuk menghampirinya.
Entah seperti hilang akal, aku berjalan lurus ke arahnya tanpa memperhatikan jalan di sekitar ku.
Terus berjalan dengan tatapan yang kosong.
Grep.
Langkah ku terhenti saat ada tangan yang menggenggam tangan kanan ku seakan menghentikan langkah ku.
Ku menoleh ke belakang dan ku lihat wajah pucat Melati dengan jubah putihnya tengah menggenggam tangan ku.
"Jangan, mas!" Serunya.
"Melati! Ini kau?" Tanya ku yang langsung memegangi ke dua bahunya.
Melati menganggukkan kepalanya.
"Dari mana saja kamu, Melati?" Tanya ku, entah perasaan apa yang ku miliki untuk Melati, tapi bisa melihatnya saja saat ini sudah cukup membuat aku tenang.
"Mas, kau lihat itu!" Melati menunjuk ke arah bapak yang tadi memanggil ku.
Saat aku melihat ke arah bapak itu, "Astagfirullah, itu apa Melati?"
"Itu rupa bapak yang tadi memanggil mu, mas."
Rupa bapak yang tadi memanggil nama ku berubah menjadi seorang bapak yang wajahnya hancur, wajahnya di penuhi darah, terdapat parang yang masih tertusuk di perutnya.
"Apa yang terjadi dengan bapak itu, Melati?"
"Bapak itu korban dari kejahatan, mas ... wajahnya di hantam batu berkali kali dan parang yang menancap di perutnya itu adalah senjata yang di gunakan orang yang mencelakainya."
"Apa kamu tidak salah berkata, Melati? Dari mana kamu tahu apa yang menimpa bapak itu?"
"Mas Bimo meragukan ku? Apa mas Bimo lupa kalo aku ini adalah hantu? Aku ini roh yang gentayangan, mas!"
"Ah iya, aku lupa itu." Aku menepuk jidat ku dengan telapak tangan ku.
"Lebih baik kita pergi dari tempat ini, mas!"
"Baik lah."
Aku dan Melati pergi dari ladang dan masuk ke dalam mobil, aku masuk dengan membuka pintu mobil sedangkan Melati entah bagaimana caranya dia bisa menembus pintu mobil ku lalu duduk manis di sebelah kemudi, tempat yang aku duduki.
"Kau itu dari mana saja, Melati?" Tanya ku sambil melajukan mobil meninggalkan lahan yang di tumbuhi ilalang tinggi.
"Apa mas Bimo merindukan ku?" Tanya Melati dengan tatapan teduhnya.
Ku tatap wajahnya sekilas, "Aku tidak merindukan mu!"
"Lalu, kenapa mas Bimo menanyakan ku?" Tanya Melati.
"Aku hanya menghawatirkan mu, itu saja." Ujar ku acuh.
"Benarkah? Apa mas Bimo akan sedih bila aku tidak muncul lagi di hadapan mas Bimo?"
"Untuk apa aku sedih? Kalo kau mau pergi, pergi saja sanah!" Aku balik menantang Melati, kok hati ku terasa sakit ya saat mengatakannya.
Aku fokus dengan setir kemudi.
Aku menatap mas Bimo, Sampai kapan pun, aku Melati tidak akan meninggalkan mu mas Bimo, meski kau memaksa ku untuk pergi, aku tetap akan ada di dekat mu, karena kamu adalah lelaki pilihan ku, mas Bimo.
Melati menghilang.
Aku menoleh ke samping, aku pikir aku akan melihat wajah pucat Melati, namun aku salah, Melati tidak lagi ada di samping ku. Lagi dan lagi Melati menghilang dari pandangan ku.
"Melati? Melati? Kau di mana? Hey, aku hanya bercanda, Melati! Iya aku ini merindukan mu Melati, Melati! Melati, aku tidak serius dengan ucapan ku tadi." Aku memanggilnya berharap ia akan muncul dan duduk lagi di samping ku, tapi aku salah, ia tidak memunculkan batang hidungnya.
bersambung...
...🍀🍀🍀🍀🍀...
Jangan lupa jempol nya ya 🤭
komen mu merubah popularitas ku 😊
...Salam manis...
-Traces Of The Sun