"Murahan!"
Satu kata yang keluar dari laki - laki berbadan kekar yang saat ini duduk di samping tempat tidur besar.
"Mas, maafkan Luisa mas."
Air mata Luisa mengalir dengan deras ketika Bramasta tunangan yang begitu dia cintai memberikan penghinaan tersebut kepadanya...
"Ternyata aku menunggu wanita yang sudah tidak perawan."
"Jadi selama ini kau tidak mau tidur dengan ku karena takut ketahuan jika kau sudah tidak perawan?"
"Aku terpaksa membuatmu tidak sadar dan memberikan mu obat agar aku bisa merasakan kegadisan wanita yang aku cintai, karena kau tidak pernah mau memberikan untuk ku."
"Dan ternyata kau wanita Murahan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ribka Kurniawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAMASTA PERGI
Alasan kuat apa Luisa yang bisa kau katakan kepada ku ? ayo katakan aku memberikan mu kesempatan untuk melakukan pembelaan diri."
Luisa hanya terdiam dengan semua perkataan dari Bramasta.
"Kenapa kau merasa bersalah karena kau telah menipu aku? sungguh Luisa seandainya kau mengatakan jujur dari awal aku tidak akan seterluka ini."
"Siapa saja laki - laki yang telah menjamah tubuh mu Luisa?"
Deg
Pertanyaan Bramasta kali ini sungguh telah membuat hati Luisa menjadi sangat sakit.
"Mas, apa yang ada di dalam pikiran mas Bram? apakah aku sekotor itu di mata mas Bram, sampai - sampai mas Bram bisa mengatakan hal ini kepada ku?"
Air mata Luisa mulai menetes saat dirinya mengatakan hal tersebut kepada tunangannya.
"Lalu apa lagi yang bisa aku katakan kepada mu selain perkataan itu Luisa, kau telah tidur dengan laki - laki sebelum menikah dan kau telah menutupi semua hal ini dari tunangan mu sendiri."
Saat ini terjadi ketegangan di dalam apartemen Bramasta dengan setiap peristiwa yang telah terjadi.
"Mulai hari ini aku tidak mau lagi menjalin hubungan dengan mu Luisa, sebelum menikah kau sudah mencoba membohongi aku dengan rahasia sebesar ini, tidak menutup kemungkinan kau memiliki rahasia besar yang lainnya, dan itu belum kau ceritakan kepada ku."
"Aku tidak bisa hidup dengan wanita pembohong, aku tidak mau hal itu Luisa."
"Mas, maafkan Luisa mas, aku mohon jangan mengakhiri hubungan kita mas, aku mohon mas."
Luisa yang masih berada di atas tempat tidur dengan berbalut selimut putih mencoba memohon kepada Bramasta untuk tidak mengakhiri hubungan mereka.
"Terlambat Luisa, aku tidak bisa mendengarkan lagi penjelasan mu itu."
Dan setelah mengatakan hal tersebut Bramasta beranjak dari tempat duduknya.
"Ini kunci apartemen ku, aku berikan apartemen ini untuk mu, pengacara ku yang akan mengurusnya, aku tidak mau lagi memiliki kenangan bersama dengan mu."
Selesai mengatakan hal tersebut Bramasta langsung keluar dari kamar dan Luisa hanya bisa menatap kepergian Bramasta dengan tatapan nanar.
"Mas Bram, mas apakah hal ini tidak bisa kita bicarakan lebih lanjut mas."
Hanya hal tersebut yang pada akhirnya Luisa bisa katakan,namun itu tidak akan pernah bisa membuat Bramasta kembali lagi ke dalam pelukannya.
Dengan menghapus setiap air mata Luisa turun dari tempat tidur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Luisa mengguyur kepalanya yang hari ini terasa sangat berat sekali.
"Kau kemana saja Luisa, sudah dua puluh kali aku menghubungi ponsel mu dan ponsel mu mati, kau tau satu jam lagi kau akan live di televisi."
Franda sang manager dari Luisa langsung memburu Luisa dengan berbagai pertanyaan begitu Luisa muncul di ruang ganti salah satu televisi swasta.
Sore hari Luisa pada akhirnya tetap memutuskan untuk mengisi acara talk show di televisi, mata sembabnya, tangisan nya, serta rasa kehilangan karena telah di campakkan oleh Bramasta terpaksa dengan cepat harus segera disingkirkan.
"Maafkan aku Franda seharian aku sibuk dengan para pasien ku, aku harus memberikan konsultasi kesehatan mental kepada mereka."
Untuk membuat Franda berhenti bertanya Luisa terpaksa berbohong kepada Franda yang juga sahabat Luisa dari bangku sekolah menengah atas.
"Lihat aku."
Franda mengatakan hal tersebut sambil membalikkan badan Luisa yang masih berdiri di depan cermin.
pnts lha cmn mentingin ego ya sendri
terlalu egois
ntar juga yesal