NovelToon NovelToon
Mama

Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Misteri / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arina rizqin

"Papa, jahat! Rara mau mama bukan bunda!"

Rara berlari keluar rumah tanpa menggunakan alas kaki. Bara dengan cepat mengejar Rara yang berlari sembari menangis. Ia menyesal.

Bara meraih tubuh anaknya yang sudah dewasa, bukan lagi anak kecil yang dulu selalu dimanja.

"Papa jahat ... hiksss ...." Rara menangis dalan pelukan Bara. Melepas semua rasa rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun untuk mamanya.

"Kita cari keberadaan mama ya," bisik Bara ditengah pelukan mereka. Membuat Rara semakin menangis usai mendengar perkataan sang papa.

"Papa harus menuhin janji itu. Rara nggak mau kalau Papa ingkar lagi." Bara mengiyakan permintaan anaknya.

Hatinya seperti tercabik-cabik melihat buah hatinya yang sudah lama tak bertemu Rida menangis pilu di hadapannya karena keputusannya yang bodoh juga rindu yang menggebu di hati sang anak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arina rizqin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berubah

Pagi hari aku sudah bersiap untuk mencari bukti-bukti kasus keracunan Rara yang menjadikan aku kambing hitamnya, aku tidak ingin menjadi ibu yang dipandang buruk.

"Kamu sudah siap menuju kemari, Nan?" Kukirim pesan tersebut kepada Nanda.

"Aku sudah di jalan menuju rumahmu." Setelah membaca pesan darinya, aku segera menyiapkan laptop yang kemarinku sambungkan ke kamera kecil di gaun Rara.

Tidak sampai lima belas menit terdengar suara klakson mobil, aku bergegas turun dan meminta Nanda mengikuti ku ke ruang kerja.

"Sudah melihatnya?" tanya Nanda.

"Belum, nggak ngerti caranya jadi aku menunggu kamu," jawabku sembari menggelengkan kepala. Setelahnya aku berikan laptop milikku kepadanya, lalu ia segera membukanya. Entah apa yang dilakukannya hingga munculah video dilayar laptopku.

Yang pertama kulihat dapur dan seisinya, lalu ketika aku mendudukan Rara di kursi yang menghadap ke arah pintu dapur. Video berjalan tujuh menit tidak ada yang mencurigakan, hingga Nanda berseru ketika melihat bayangan di kamar mandi dapur.

"Rida! coba perhatikan itu," serunya seraya menunjuk bayangan hitam tersebut, letak kamar mandinya persis setelah pintu dapur. Aku perhatikan dengan seksama video dan juga bayangannya, seperti pernah melihat siluet seseorang yang sama persis dengan yang di video.

"Siapa yang pertama datang ke dapur ketika Rara keracunan!?" tanyanya dengan nada berseru keras, sepertinya ia tidak sabar sekali.

"Nadia, tapi apakah mungkin itu dia?" tanyaku ragu.

"Bisa jadi, karena kedatangannya bahkan lebih cepat sebelum kamu sempat memeluk Rara." Setengah berpikir kami dilanda kemungkinan yang tiada akhir.

"Mengapa jadi seperti ini? Aku tidak menyangka Nadia tega berkhianat di belakangku," ujarku dengan tatapan kosong terarah ke depan.

"Kita tidak bisa langsung memutuskan jika itu adalah Nadia, kita harus mencari bukti yang lebih kuat karena masalah seperti ini tidak bisa di buktikan hanya dengan omongan semata," sanggahnya ketika aku memutuskan jika orang tersebut adalah Nadia.

"Kita tidak bisa main-main dengan masalah seperti ini," lanjutnya seraya terus memerhatikan video di laptopku.

Ding dung dong...

Suara pesan masuk dalam ponselku,

From Mas Bara: Ke rumah sakit sekarang!

To Mas Bara: Ada apa?

From Mas Bara: Ada hal penting yang harus kusampaikan.

To Mas Bara: Baik, aku ke sana sekarang.

"Nan, Mas Bara memintaku untuk ke rumah sakit sekarang. Kamu mau ikut atau menunggu di sini?" tanyaku pada Nanda.

"Ikut saja, aku tidak ingin menunggu di sini. Membosankan." Segera kami bergegas menuju garasi dan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, Nanda yang mengendarainya sedangkan aku duduk di kursi sebelahnya.

***

Sampai rumah sakit, aku langsung bergegas menuju ruangan Rara dan Nanda menunggu di mobil saja katanya.

"Assalamualaikum." Memasuki ruangan Rara setelah mengucap salam aku melihat Rara masih terlelap, Mas Bara duduk di kursi single tempat menunggu dalam ruangan dan Nadia duduk di kursi samping meja. Huh, menyebalkan sekali melihatnya lagi.

"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.

"Ada apa mas?" tanyaku to the point.

"Tanda tangani surat ini," ujarnya dengan meletakkan sebuah map coklat di atas meja. Segera aku mengambilnya, ketika membukanya aku terkejut.

"Apa ini!?" bentakku seraya membanting map tersebut di atas meja.

"Itu surat cerai, aku tidak ingin anakku memiliki ibu yang tega meracuni darah dagingnya sendiri," ketusnya dengan wajah datar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

"Sebegitu gampangnya kamu mau cerai? Hanya karena masalah yang belum pasti siapa pelakunya? Kamu lupa gimana perjuangan kita untuk membangun rumah tangga ini!?" Bentakku kecewa sekali dengan Mas Bara, mengapa semuanya jadi seperti ini?

"Semua sudah berlalu, tidak ada lagi yang harus dipertahankan. Sekali lagi aku tekankan, aku tidak ingin anakku memiliki ibu yang tega meracuni anaknya sendiri!" tekannya dengan tatapan dingin menusuk dalam mataku, andai aku tidak memperkenalkan Nadia kepada Mas Bara, pasti semua tidak akan jadi seperti ini. Andai aku lebih siaga lebih awal. Andai aku menjaga Mas Bara dengan ketat, pasti semua ini tidak akan terjadi, kan? Namun, semua sudah terlambat untuk disesali.

"Jangan lupa kalau aku yang mengandungnya, menyusui, merawatnya dengan penuh kasih sayang. Bahkan, aku yang harus berhenti bekerja setelah kelahiran Rara. Kamu lupa itu semua?" Aku menyentuh dadaku yang semakin sesak.

"Aku juga merawat dan membiayai hidupnya. Ada campur tanganku dalam membesarkan Rara. Tolong, sekali-kali pikirkanlah perasaan orang lain. Jangan egois." Wajahnya nampak memerah menahan amarah.

"Mengapa jadi perhitungan begini? Kalau mau perhitungan, seharusnya hak asuh Rara jatuh ke tanganku." Suasana terasa semakin memanas karena membahas hak asuh anak kami.

"Tidak bisa seperti itu." Ia terdiam sesaat dengan tangan mengepal. "kita lihat saja nanti, siapa yang akan mendapatkan hak asuh Rara."

"Aku akan menandatangani surat ini, tetapi aku ingin hak asuh Rara ada padaku!" Pintaku akhirnya, sakit sekali mengambil keputusan ini. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan Nadia, sahabat pengkhianat ku.

"Kamu tidak akan pernah mendapatkannya, karena di sini kamu yang bersalah," cetus Nadia tanpa diminta, posisinya yang duduk di antara kami jelas membuatnya mendengar semuanya.

"Aku tidak berbicara padamu, aku sedang berbicara pada suamiku." Aku menekankan kata suami agar ia mengerti posisinya, namun dugaanku salah.

"Aku tidak perduli kamu siapa Mas Bara, yang aku tahu kalian segera bercerai dan aku akan menikah dengannya." Ucapan Nadia membuat tubuhku meneggang, sejauh itukah permainan mereka di belakangku sampai-sampai mereka akan segera menikah setelah aku bercerai dari Mas Bara?

"Tapi sekarang kami masih suami istri, jadi kamu tidak ada hak untuk ikut campur urusan rumah tangga kami!" sambarku dengan sebal.

"Dia berhak ikut campur urusan rumah tangga kita, karena dia akan menjadi bagian dariku."

DUARRR ....

Seperti di sambar petir di siang hari bolong, ucapan Mas Bara membuatku mematung dan terdapat senyuman di bibir Nadia.

"Baik, terserah apa mau kali---"

"Mama." Suara parau Rara membuatku menghentikan ucapanku dan segera berjalan menuju brankar Rara.

"Minum." Segera kuambilkan minum dan memberikan pada Rara dengan aku yang memegang gelasnya.

"Mama, kenapa baru dateng? Dari kemarin Rara nungguin mama. Kata papa, Mama datang setelah kerja tapi tidak datang juga sampai Rara tidur lagi." Ucapannya membuatku terdiam seribu bahasa, kurang ajar sekali Mas Bara tidak memberitahuku jika Rara sudah sadar dari kemarin.

Itu adalah pertanyaan yang pertama kali terlontar usai beberapa menit lalu ia sadar.

"Maaf sayang, kemarin Mama lelah jadi ketiduran di kamar." Kuraih tubuh mungilnya ke dalam pelukanku, kuciumi pipinya bertubi-tubi dengan air mata mengalir dari kedua mataku.

"Mama jangan nangis, nanti Rara sedih," gumamnya seraya menghapus air mataku. Demi Tuhan! aku tidak ingin berpisah dari Rara manisku.

"Sudah waktunya Rara dicek, sebaiknya kamu menunggu di luar," usir Nadia secara halus, siapa ibunya di sini?

"Apa maksud kamu?" tantangku membalas tatapan matanya yang merendahkan.

"Rara akan dicek, jadi sebaiknya kamu menunggu di luar."

"Lalu kamu?" tanyaku dengan sinis.

"Tentu saja aku di sini, Rara lebih membutuhkan aku daripada ibu yang tega meracuni anaknya," ucapnya membuatku geram kali ini.

PLAKK ....

Kutampar pipinya hingga memar, aku bukan wanita yang suka bermain tangan. Tapi jika aku bermain tangan siap-siap saja.

PLAKK ....

"Mama!" teriak Rara.

Kupegang pipiku yang baru saja ditampar oleh Mas Bara, aku menahan tangis ketika melihatnya menamparku. Dia sudah berubah.

Hatiku teriris rasanya. Bukan karena rasa sakit tamparan yang suamiku berikan, tetapi karena perilakunya yang seolah-olah membela Nadia.

"Jangan pernah menyakiti calon ibu terbaik untuk anak-anakku!" makinya kepadaku, sesuatu yang dulu sering kudengar darinya kini tidak diperuntukkan untukku lagi. Aku menahan sesak di dada, emosiku membuncah. Kejadian ini bahkan belum jelas, tapi dia, dia yang bersatus suamiku di saat aku terkena masalah seperti ini malah memojokanku.

"Aku bersumpah suatu saat nanti, akan aku lemparkan kebenaran dan bukti-bukti pada kamu, Mas!! Aku bukan seseorang yang mudah kalian jadikan kambing hitam seperti ini! Camkan itu!" Aku berlalu dari ruangan Rara dengan air mata mengalir deras. Tidak akan pernah aku lupakan kejadian yang mereka lakukan padaku hari ini.

...***...

"Mama." Rara menangis sesegukan dengan memeluk tubuhnya setelah melihat mamanya pergi dengan menangis

"Sayang," panggil Bara yang tidak digubris oleh Rara, tidak ada raut penyesalan di wajah Bara setelah menampar Rida tadi.

"Papa jahat! Rara benci papa!" bentak anak itu dengan suara tangisnya.

"Papa nggak jahat sayang, justru papa melindungi Rara dari orang jahat," bisik Nadia tepat di telingan Rara.

"Tapi mama bukan orang jahat, Tante. Rara sayang mama," gumam Rara dengan tangisan yang mengiringi. Ia menangis hingga ia tertidur dengan sesegukan karena lelah.

"Makasih Mas, aku terharu atas pembelaanmu untukku tadi," haru Nadia mengingat bagaimana tadi Bara membelanya.

"Sama-sama, itu juga untuk keberlangsungan akting ini." Seraya memusatkan kembali perhatiannya pada handphone miliknya.

...$$$...

Nah loh, akting apa yang dimaksud Bara? pantengin terus yaa ceritanya (^.^).

Stay tune here ❤

Olla, see you in the next chapter ;) .

I hope you like my story❤

Don't forget to stay at home 😉.

1
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
belum jd istri sah uda berlagak. kujambak nanti kau ya nadia
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
semoga saja berhasil biar terbongkar tuh kebusukan Nadia.
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
ayo Rida ungkap sampai tuntas
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
hilih, kesal sama Nadia. tega banget ngefitnah orang...
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
katanya ga selingkuh tapi sauang2an. apa sih ini orang? ngajak ribut??
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
suami istri sibuk dgn dunia masing-masing sehingga anaklah yg terbengkalai.
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
aku kok ya kasian sama bayinya.
Yusniar Zebua
lanjut
Wani Ikhwani
GWS mbak
ditunggu lanjutannya
A2NNALUP: Terima kasih, Ka. 💚
total 1 replies
Sh❤️≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ
jejak like dlu
Rahmalia Maricar
udah mampir ya like komen rate bintang 5 💞
ʀ𝖍𝒚𝖓𝖆
makin penasaran aku
Yusniar Zebua
lanjut
Eka
nyimak
Elfrina Tinambunan
up nya jangan dikit2 dan lama thor.. suka ceritanya
Herlin Herlina Herlin Her
lanjut thor,
Yusniar Zebua
lanjut
Rizqi
tetap semangat ya...
HIATUS
mampir sayang semangat
A2NNALUP: Makasih, Ka Dhe. 💜
total 1 replies
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!