Arumi mengalami hal buruk dalam hidupnya, ia disiksa keji oleh saudara tirinya. keluarga bahkan anak yang masih dalam kandungannya pun dibunuhnya. Siksaan terus saja didapatinya sampai ia meninggal.
Sebelum napasnya benar-benar menghilang, Arumi berdoa kepada yang maha kuasa, ia ingin menuntut balas kepada Elisa adik tirinya sampai ke keturunannya.
Keajaiban datang, cahaya putih membawa Arumi ke dalam kehidupan yang baru. mampukah Arumi membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budy alifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta Maaf
Elisa kaget melihat Arumi sudah duduk dengan santai di kursinya, sedangkan dia yang jalan lebih dulu baru sampai di depan kelas. Dan dialah yang terlambat.
“Elisa, kamu dari mana?” Bu Yani melipat kedua tangannya di dada, kedua matanya melotot seperti mau keluar.
“Maaf Buk, ban mobil saya bocor di jalan jadi terlambat,” ujarnya dengan wajah melas.
“Dasar wanita ular,” gumam pelan Bunga yang di dengar jelas oleh Arumi.
Melihat lirikan Arumi, Bunga langsung menunduk menutup mulutnya rapat-rapat. Meskipun Arumi sering di perlakukan tidak baik oleh Elisa namun mereka masih keluarga. Dia pasti akan terkena masalah kalau Arumi mengadu.
“Duduk, lain kali tidak ada terlambat dengan alasan apapun,” kata Bu Yani.
“Selalu saja begitu, andai saja orang yang nilainya di bawah rata-rata pasti dimaki sampai habis, tidak boleh masuk,” gumam lirih Bunga lagi.
“Apa Bu Yani selalu seperti itu?” tanya Arumi.
“Ha?” Bunga mengangkat kepalanya menatap ke Arumi.
“Bu Yani selalu berbuat sewenang-wenang?”Arumi mengulang pertanyaannya.
“Iya, beliau akan terus menyerang anak yang nilainya di bawah rata-rata. Bahkan mentalnya sampai kena dan membuatnya keluar dari sekolah ini,” cerita Bunga.
Bu Yani melempar spidol kearah Arumi, namun bisa dia tangkap dengan sempurna. Jika tidak bisa saja mengenai keningnya.
“Arumi, kamu ngomong saja kayak sudah bisa saja, coba lihat tugas kamu,” kata Bu Yani.
Arumi berjalan ke depan membawa buku tugas untuk di tunjukan kepada Bu Yani. Bu Yani lumayan shock karena Arumi bisa mengerjalan soalnya meskipun tidak benar semua.
“Arumi, ini sudah satu semester kenapa kamu masih tidak paham, kamu mau tinggal kelas,” maki Bu Yani.
“Harusnya kamu pergi dari sekolah ini, malu tahu nggak anak-anak di sini kelas unggulan bukan modelan kayak kamu, nyusahin saja,” tambah Bu Yani.
“Buk, bukanya tujuan di sekolah ini untuk belajar. Dan tugas guru mengajari sampai mengerti bukannya malah membuat mental anak down,” Decak Arumi.
“Apa kamu bilang?” Bu Yani melipat kedua tangannya di dada, wajahnya memerah karena marah.
“Berapa orang yang ibu buat sampai akhirnya menyerah di sekolah ini, dan depresi?” Arumi bertanya balik. Ia tidak bisa di tindas seperti ini, ia juga ingin membuat sekolahan ini aman damai.
“Kamu jangan sok-sokan mengajari ibu,” geram Bu Yani.
“Bu, saya bisa menyelesaikan lima soal ini dengan benar,” ujar Arumi.
Bu Yani tertawa di sahut anak-anak yang lain, mereka menertawakan kesombongan Arumi. Mereka tahu kalau selama ini Arumi adalah anak yang nilai akademisnya di bawah rata-rata. Bahkan hampir di setiap mata pelajaran nilainya di bawah rata-rata.
“Jangan terlalu sombong kamu Arumi,” kekeh Bu Yani.
“Arumi, lo jangan mempermalukan diri sendiri lah,” kata Maura dari tempat duduknya.
“Benar juga, kasihan kan yang malu bukan cuma lo doang, tapi Elisa adik lo,” tambah Lila.
Elisa tersenyum, ia mendapatkan dukungan dari orang-orang sekitar. Jadi dia tidak banyak turun tangan untuk membuly Arumi di sekolahan. Hanya sedikit membumbuinya.
“Kalian jangan seperti itu sama kakak gue,” ucapnya lembut seolah dia adalah ibu peri.
“Baiklah, saya akan buktikan bu. Tapi dengan satu syarat,” ujar Arumi.
“Apa?”
“Kalau saya bisa mengerjalan lima soal ini dengan benar semua, maka ibu harus meminta maaf ke pada saya dan teman-teman yang nilainya di bawah rata-rata di lapangan basket depan,” beber Arumi.
“Baiklah, lalu apa hukuman buat kamu yang tidak bisa menjawab?” balas Bu Yani.
“Saya akan keluar dari sekolahan ini,” terangnya.
Bu Yani tersenyum, sepertinya dia tidak perlu banyak tenaga untuk mengeluarkan Arumi. Justru dia sendiri yang akan meninggalkan sekolahan.
“Ok, kamu mulai dari sekarang. Ibu berikan waktu satu jam untuk menyelesaikan semua soal ini,” papar Bu Yani.
Bu Yani dengan percaya diri menyetujuhi permintaan dari Arumi, karena dia tahu kemampuan Arumi. Arumi menundukan kepalanya sebentar, ia berdoa untuk mengerjakan soalnya.
“Tidak perlu terburu-buru Arumi, ibu berbaik hati memberikan waktu satu jam untuk lima soal,” ujaranya.
Arumi dengan cepat mampu menyelesaikan soal-soalnya, tidak ada satu jam dia menyelesaikan semua soal.
“Sudah selesai buk,” tutur Arumi.
“Apa?” Bu Yani berjalan mendekati papan tulis, dia tidak percaya kalau Arumi mampu menyelesaikan dengan sangat cepat.
“Kamu menyontek kan?” tuduh Bu Yani ketika melihat jawaban Arumi benar semua.
“Buk, jangan bercanda deh. Jelas-jelas saya berdiri di sini dengan pengawasan ibu. Bagaimana saya bisa mencontek,” lontar Arumi.
“Buk, benar Arumi sama sekali tidak mencontek,” sahut Ferdi salah satu murid yang nilainya di bawah rata-rata.
“Diam kamu Ferdi,” bentak Bu Yani.
“Bu Yani jangan ingkar janji ya, nanti saat istirahat harus minta maaf kepada Arumi dan teman-teman yang sering ibu rendahkan,” kata Arumi. Ia kembali ke tempat duduknya.
“Tidak mungkin, pasti kamu bohong jawaban ini salah,” Bu Yani mulai memanipulasi hasil jawaban Arumi.
Dipikirnya Arumi masih sama menjadi Arumi yang tidak mengerti apa-apa.
“Rio, lo kan anak yang memenangkan olimpiade tahun ini kan, pasti kamu tahukan semua jawaban soal diatas?” Arumi menatap kearah Rio.
“Buk, jawaban Arumi benar semua. Jadi bu harus menepati janji untuk meminta maaf sama Arumi dan anak-anak lain,” harap Rio.
Semua anak mulai berani mengutarakan perasaannya, selama ini hanya diam takut ancaman-ancaman yang di berikan oleh guru matematika mereka yang killer itu.
“Rio, lo jangan membela Arumi, jelas-jelas Bu Yani guru mana mungkin salah,” Maura membela Bu Yani.
“Benar kata Maura, bukannya seorang guru lebih pandai dari muridnya,” tambah Elisa.
Elisa akan sangat bahagia kalau Arumi di keluarkan dari sekolah, dia bisa menjelekkan Arumi di depan papanya dan membuatnya di usir juga dari rumah. Jadi semua kekayaan milik papanya akan di berikan sepenuhnya kepadanya.
“Guru juga manusia yang bisa salah, apa kita perlu membawa ibu guru matematika lain untuk mengecek soal ini?” tanya Arumi.
Bu Yani menolak, memang jawaban Arumi benar semua. Tidak menyangka kalau Arumi bisa menyelesakan soal yang lumayan sulit untuk anak-anak di bawah standar.
“Arumi kamu terlalu lancang bicara seperti itu sama Bu Yani, kita harusnya berterima kasih karena sudah diajari sampai bisa,” sikap malaikat Elisa dikeluarkan lagi.
Arumi berdiri, ia mengedarkan pandangan keseluruh sudut ruang kelas.
“Teman-teman, siapa yang ingin Bu Yani menepati janjinya?” tanya Arumi.
“Tunjuk tangan kalian jika ingin mendengar Bu Yani minta maaf sama kalian,” tambah Arumi.
Lebih dari separuh murid di kelas mengangkat tangannya, anak-anak yang diatas rata-rata pun sebenarnya tertekan dengan metode ajaran Bu Yani.
..lanjut lgi ya thor