Sekuel Istrinya Ustadz?
Ustadz Afkha atau Adzraffa Khayru Al-jaris tidak pernah bermimpi untuk menikah lagi, apalagi memiliki niat berpoligami. Terlebih usia pernikahannya dengan Shanum atau Rhaishanum Almahyra Qurby baru beberapa bulan saja.
Akan tetapi suatu insiden, membuat Ustadz Afkha di minta bertanggung jawab oleh sang Istri untuk menikahi Zeeta Alghiz atau Zeetasha Umaiza Alghiz. seorang model cantik. Namun, seusai insiden tersebut, kehidupannya menjadi tak memiliki arti. Ia buta dan juga mengalami kelumpuhan pada kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Mengalami Kelumpuhan.
Di tempat Shanum dirawat.
"Assalamual'aikum!" suara salam berbarengan dari arah pintu masuk.
"Wa'alaikum salam warahmatullah ...." jawab serempak Hasna, Lintang dan juga Shanum yang tengah berbaring.
Afsha berjalan cepat kearah Shanum dengan buliran air mata, tak lagi tertahankan, melihat sang sahabat sekaligus iparnya itu terlihat meringkuk lemah.
Shanum segera bangun dari tidurnya kala melihat Afsha sudah berada didepan berangkar-nya dengan menangis.
"Sha ...." ucap Shanum, lalu mereka berpelukan.
"Num ... maafkan aku baru menjenguk mu! aku tidak tahu kalau kamu mengalami musibah, hingga harus dirawat di rumah sakit." ujar Afsha disela tangisan mereka.
"Tidak apa-apa Sha, tapi aku kehilangan calon anak kami." ucap Shanum terbata, "lalu ... A'a Kha, Sha ... A'a Kha ... hiks hiks." Shanum kembali terisak dan tidak dapat meneruskan kata-katanya.
"Kamu kuat Anum! kamu pasti kuat. Aku sudah mengetahui kabar itu dari Dik Aaf." ujar Afsha.
"Aku ingin bertemu Aa, Sha!" ujar Shanum lagi
"Pasti bertemu, insya Allah. Kan Biyya dan Oom sedang disana. Menjaga Aa Kha, kamu sehat dulu ya. Agar bisa segera kesana, bertemu A'a Kha."
"Aamiin ...."
Afsha kemudian menyapa sang Ibu dan Tantenya. "Mimma, Aunty!"
"Hai, Sayang!" balas Lintang dan Hasna hanyalah tersenyum.
Afsha menghambur kedalam pelukan Hasna. Bagaimanapun Afsha adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga mereka. Walupun nampak berani, sudah memiliki putra dan juga suami yang amat menyayanginya. Tetap saja Afsha masih membutuhkan belain hangat sang Ibu.
Gentala yang sudah terlebih dahulu menyapa ibu mertua dan Tantenya, ia duduk di Sofa dengan tenang. Nampak ia sedang menghubungi seseorang melalui aplikasi Chat.
Gean yang masih asik bersama Dayi-nya mulai bosan. Ia turun dari sofa dan menghampiri Hasna. "Anne, Gean inin temu Baba!"
Hasna yang masih memeluk Afsha segera menyudahi pelukannya tersebut.
"Sudah, duduklah bersama suamimu. Mimma mau ajak Gean main." ujar Hasna sembari mengusap lembut air mata Afsha.
"Baik Ima." Afsha tersenyum dan ia menghampiri Gentala dan duduk di sebelahnya. Tangan Gentala membelai lembut kepala Afsha yang tertutup pashmina warna soft pink. Kemudian tangan mereka bertaut di atas pangkuan Afsha.
"Gean Sayang, peluk Anne sini." Hasna merentangkan tangannya, tentu saja Gean senang dan segera menghampiri Hasna lebih dekat, lalu menghambur kedalam pelukannya.
"Anne, Gean inin temu Baba." ujarnya lagi setelah diadalam pelukan Hasna.
"Ia, nanti ya Sayang! Baba sedang ada kepentingan dengan Dayi Afkha, di suatu tempat."
"Kepentingan, cepelti pekeyjaan?" tanya Gean polos.
"Ya semacam itu." Hasna tersenyum lembut sembari mengelus kapala sang cucu.
"Gean, tidak rindu Nenna?" tanya Lintang. Gean menoleh kearah Lintang.
"Lindu juga," Gean menyeringai, memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Gean melepaskan diri dari pelukan Hasna, lalu ia memeluk Lintang. Nenek ketiga setelah Hasna dan Ibunya Gentala. "Pappu juga cedang ada kepetingan, cepelti Baba ya Nenna?" tanya Gean.
"Iya Sayang, kan perginya sama-sama Baba." Gean mengangguk tanda paham.
"Maaf Mima, Saya mau melihat kondisi Aa Kha, apakah ada yang mau ikut dengan kami?" Gentala buka suara.
"Sepertinya kami disini dulu, Ko! Kalau besok Shanum di perbolehkan pulang oleh dokter. Maka kami akan segera kesana. Tadi Biyya sudah menelepon, katanya Aa Kha sudah sadarkan diri." ujar Hasna.
"Alhamdulillah ...." ucap Gentala dan Afsha secara bersamaan.
"Dik, kamu mau ikut kami?" tanya Afsha pada Aftha yang tengah rebahan diatas sofa.
"Kalian saja, aku menjaga para bidadari disini. Takut di culik Jaka gledek." jawab Aftha setengah mengantuk dengan gaya cuek dan asal, membuat yang lain geleng kepala. Namun, tersenyum lucu.
"Yang ada jaka tarub Dik! masa Jaka gledek." protes Afsha sembari berdiri dan membenamkan bantal sofa di dada Aftha.
"Suka-suka aku lah. Bibir aku koq yang bicara."
"Mimma ...."adunya Afsha kepada Hasna.
"Adik ... suka sekali sih godain kakak?" peringatan Hasna dengan nada lembut.
"Habis lucu tuh lihat pipi embemnya, kalau ngambek." ledek Aftha dengan mengekeh.
"Ikh Adik! Ko ...." Afsha makin kesal, kini merengek dan mengadu kepada suaminya.
"Imut dan lucu, Aien ... kan pipi kesukaan aku, Pipinya Khumairaku!" Gentala merayu Istrinya dengan tersenyum dan menatapnya lembut. Membelai pipinya sekilas, membuat Afsha tersipu malu.
"Ciee ... mesra-mesraan terus ... mentang-mentang planet ini belum digusur. Yang lain lagi ngungsi nih!"
"Biarin wle, suka-suka aku!" ledek Afsha kembali. Kedua kakak, beradik itu memang sudah biasa seperti itu. Mereka akan selalu bergaduh saat bertemu, akan tetapi akan ada waktunya saling menunjukkan kasih sayang.
"Sudah Kakak, Adik ...." Hasna melerai.
Gentala berpamitan dan segera mengajak Afsha pergi dari ruangan itu, tujuan mereka ke rumah sakit tempat Afkha dirawat.
"Istirahat lagi ya, Sayang! agar kondisi kamu lebih fit. Semoga besok sudah bisa keluar dari rumah sakit. Nanti kita sama-sama melihat keadaan suamimu."
"Baik Mimma. Terima kasih," jawab Shanum, kini ia merebahkan kembali dirinya dengan Hasna setia disisinya, mengelus kepalanya dengan sayang. Sesekali bergantian dengan Lintang, karena terkadang Hasna sibuk dengan Aftha yang sesekali merengek minta sesuatu, baik makanan ataupun belaian sang ibu.
Orang tua Shanum, sudah lebih dulu berangkat ke rumah sakit tempat Afkha dirawat. Kini sore hari, Afkha mengeluh kakinya lemas, ia tidak mampu berdiri sendiri. Afnan memapahnya.
"Lebih baik di cek kembali oleh dokter A!" saran Afnan.
"Apakah Aa mengalami kelumpuhan Biy?" tanya Afkha lirih.
"Insya Allah, semoga tidak A! mungkin ini efek tidak sadarkan diri sebelumnya." Afnan berusaha menenangkan sulungnya.
"Ia A! sebelum adanya pengecekan kembali, tolong jangan pesimis." Ubaydillah ikut membesarkan hati sang keponakan.
Orang tua Shanum yang sudah sampai di ruangan tersebut dari beberapa menu lalu, ikut membesarkan hati Afkha agar tidak berpikir negatif.
"A'a ingin melihat kondisi model itu Biy!" ucap Afkha saat sudah tenang. Ubaydillah sudah memanggil dokter kembali agar melakukan pemeriksaan kembali terhadap Afkha, mengapa kakinya terasa lemas, hingga tak mampu berdiri apalagi berjalan.
"Besok ya, setelah pemeriksaan kakimu selesai dilakukan." Bujuk Afnan.
"Tapi Biy ...." Ucapan Afkha berhenti. Disaat yang sama, Afsha, Gentala dan Gean masuk kedalam ruangan tersebut dengan mengucap salam.
Semua yang ada didalam ruangan tersebut menjawab salam secara bersamaan. Lalu saling menyapa.
"Baba, Pappu, Dayi!" pekik Gean dengan mata berbinar dan lonjak kegirangan, orang-orang yang selalu menyayanginya berada di tempat yang sama.
"Hai Shalih-nya Baba!" Afnan langsung mengambil Gean dari gendongan Gentala.
Gentala dan Afsha menyapa Afnan, Ubaydillah dan Afkha yang sedang duduk di atas tempat tidurnya, tidak lupa menyapa kedua orang tua Shanum yang duduk di sofa. Menanyakan keadaan Afkha dan Afkha mengaku sudah lebih baik. Ia menunda menceritakan hal yang baru saja terjadi.
Keadaan normal dengan pembicaraan seputar kecelakaan dan juga Shanum. Hingga celoteh Gean memecah keseriusan.
"Gean lindu Baba." Gean mengecupi pipi Kakeknya. Mengambil peci yang Afnan kenakan, karena belum ia lepas setelah Salat Asar. Gean memakai peci itu di kepalanya, walupun nampak kebesaran sambil tertawa-tawa khas anak-anak.
"Baba juga." balas Afnan dengan mengecup kening Gean.
"Baba, Appu ... mali bayapan lagi (mari balapan lagi). Itu celu!" ucap Gean dengan nada kencang. Membuat mereka saling berpandangan.
Afsha terkejut dan tatapannya mulai mengintimidasi Afnan serta Ubaydillah yang diduga sebagai pelakunya, yang membawa Gean ikut balapan.
"Cama Appa juga kan?" tanya Gean yang belum tahu sikon dari sang Ibu, yang kini beralih menatap garang sang Suami.
"Koko ....!"
"No, Aein. Aku hanya mengajaknya satu kali. Itupun tidak lama." Gentala menyeringai.
"Appa Kelen bayapannya. Putal mobiy, beyok, calip, putay yagi ...." celoteh Gean memperagakan laju mobil dengan gerakan tangannya dan malah semakin membanggakan sang Ayah, yang kini sudah kena jewer Afsha.
"Koko, bilangnya hanya mengajak nonton balapan, bukan mengajaknya ikut balapan!" suara Afsha mulai melengking.
"Ampun Aein ...." Gentala berusaha mengedipkan mata kearah Gean, berharap sang putra berhenti membanggakan dirinya dan juga sang kakek di arena balap, saat mengajak dirinya ikut serta turun di sirkuit. Akan tetapi Gean malah asik bercerita, tentang balapan yang katanya seru.
"Jujur salah, gak jujur dosa!" bisik Ubaydillah pada Afnan.
"Lebih baik jujur Dek, yang dijewer kan Genta, bukan kita." bisik Afnan dengan mengekeh.
"Biyya, Oom ... jangan merasa bebas dari hukuman ya!" pekik Afsha.
"O ...o ...." ucap keduanya.
"Kalau marah, tunasnya lebih serem dari akarnya , Dek Sob!"
"Lebih tinggi juga, volume suaranya Aa Bro!" Keduanya mengulum senyum saling berbisik, sembari pura-pura merapikan baju Gean
Bersambung ...
ah coba Afka dengar