"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Carikan Aku Pengacara
*
*
*
"Sa, tapi jangan suudzon dulu Sa. Ini semua masih belum bisa memastikan kalau Andreas ada apa-apa sama Risa."
Gendis mengusap bahu sahabatnya yang ia yakin sekali sedang terguncang hebat.
Isana menoleh kearah Gendis. Tersenyum tipis, tetapi matanya sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.
"Dis, why?" suaranya rendah, tetapi terdengar lebih retak, "Jangan suudzon kamu bilang? Setelah potongan-potongan fakta ini muncul, kamu masih bisa bilang buat aku nggak suudzon?"
Isana menaruh dokumen dari Aditya tadi keatas meja dengan sentakan keras. Seketika membuat Gendis terhenyak, mengedipkan mata berkali-kali. Sentakan itu seperti benda berat yang sengaja dijatuhkan dari atas.
"Sa, Gendis benar." Aditya membenarkan duduknya, "Ini semua masih belum bisa memastikan kalau Andreas terlibat fair sama Risa."
"Jadi sekarang kalian membela Andreas?"
Aditya dan Gendis saling pandang, "Bukan begitu, Sa ..." Ucap keduanya nyaris bersamaan.
"Aku berbicara fakta, Sa." Aditya mencoba lagi, memberi Isana pemahaman.
Isana mengangkat dagunya, "Fakta yang mana lagi, Dit? Fakta yang mana yang bisa menjelaskan semua ini? Karena sejauh yang aku lihat, setiap jejak yang aku temukan selalu berakhir di perempuan yang sama."
Aditya menelan ludah, lalu mengambil kembali dokumen yang tadi dijatuhkan Isana. "Sa, aku bukan membela Andreas."
Ia merapikan beberapa lembar kertas yang sedikit berantakan sebelum melanjutkan. "Tapi dari sudut pandang administrasi, semua ini masih bisa dijelaskan."
Isana terdiam. Menatap lekat Aditya. Menunggu ucapan lanjutan darinya.
"Risa memang bawahan Andreas. Bisa saja Andreas ikut membantu proses pembeliannya."
"Atau?" tanya Gendis.
Aditya mengembuskan napas pelan. Melirik Gendis sekilas, kemudian beralih pada Isana lagi. "Atau Risa meminta nama Andreas dicantumkan sebagai kontak yang bisa dihubungi saat proses serah terima unit. Hal seperti itu kadang terjadi di lingkungan kerja. Apalagi kalau hubungan atasan dan bawahannya cukup dekat secara profesional."
Ia menatap Isana hati-hati.
"Makanya aku bilang, dokumen ini mencurigakan. Tapi belum cukup untuk memastikan kalau mereka punya hubungan khusus."
"Terus bagaimana dengan reservasi di sky suite?" Suara Isana bergetar. Gendis dan Aditya melebarkan pupilnya. Memasang telinga lebih tajam.
Gendis memiringkan kepalanya, alisnya bertaut. "Sky Suite?"
"Kemarin Mas Kahfi kemari, ... " Isana menahan nafas, "Dia bertemu Andreas di Moonlight. Dia juga bertemu Risa."
Gendis menggigit bibir, sedang Aditya menatap Isana tak berkedip.
"Alasan mereka ada delegasi kantor. Oke, aku bisa terima. Tapi, reservasi sky suite atas nama Risa Anjani. Kalau mereka bertemu klien dan delegasi perusahaan, kenapa Risa justru reservasi sky suite? Itu kamar private. Kamar, Dis ..."
Isana menunduk dalam. Menutup wajahnya dengan satu tangan, sementara air mata jatuh diam-diam di balik jemarinya.
Gendis menghembuskan nafas panjang, tangannya terulur mengusap-usap punggung sahabatnya itu.
"Terus kalian bilang, aku suudzon?" Isana mendongak. "Dis ...?" ia menatap Gendis, kemudian beralih pada Aditya "Dit ...?"
"Aku, suudzon?" lanjutnya, dengan menepuk dadanya pelan.
Aditya memasukkan dokumen-dokumen kedalam map coklat. "Sa ... Maaf kalau tadi, kita berdua malah membuat kamu jadi merasa lebih hancur. Tapi, maksud kami supaya kamu bisa lebih rileks. Karna nanti malam kan ada acara anak kamu."
"Iya, Sa ... maafin kita ya. Kita nggak bermaksud." Gendis ikut menimpali.
Isana mengangguk, mengangkat telapak tangannya. "It's oke, aku bisa ngertiin. Dan nggak sepenuhnya menyalahkan kalian. Cuma ya ... Apa ya... Rasanya kok bisa, semuanya berakhir begini. Padahal dulu, hidup aku baik-baik aja. Menikah sama pria yang aku cinta dan juga mencintai aku. Kalian kebayangkan, gimana bahagianya aku dulu. Tapi, sekarang kok ..."
Dada Isana terasa begitu sesak, untuk bicara saja ia harus berusaha mati-matian agar suara itu bisa keluar.
Ia memijit pelipisnya, pelan.
"Sekarang, rasanya untuk menelan ludah aja sulit. Untuk bernafas aja rasanya aku nggak bisa. Semuanya berantakan. Bahkan aku kehilangan senyum aku yang dulu. Aku nggak bisa lagi senyum seperti dulu. Karna setiap kali aku senyum, aku pasti pengen nangis."
Gendis, menutup matanya sekilas. Mendengar kalimat jujur dari sahabatnya membuat ia menitikkan air mata. Ia dengan cepat, ikut masuk kedalam kesedihan yang dirasakan Isana.
"Mas Aditya, Mbak Gendis. Ini diminum dulu tehnya. Maaf Bibik lama, karna tadi Ghazi sempet nangis."
Ucapan Bik Marni memecah kesedihan yang menggantung diruang tamu. Tangannya membawa nampan, berisi tiga cangkir teh dan dua toples cemilan. Menaruhnya diatas meja.
"Terimakasih banyak Bik ..." Aditya tersenyum.
"Iya Mas Aditya, Bibik tinggal dulu ke dapur." Ucap Bik Marni sambil berlalu.
Isana menghembuskan nafas, "Oke, udah ya nangisnya. Toh nangis juga nggak membalikkan keadaan."
Ucapan yang justru membuat dada Gendis nyeri mendengarnya. Karna ia sangat kenal, siapa sahabatnya ini. Seseorang yang seringnya berpura-pura kuat, dan akan menangis saat sendiri.
"Sa ... Kamu nggak apa-apa kok, kalo mau nangis. Kita semua disini. Dengerin kamu. Dan kami nggak akan biarkan kamu sendiri. Aku sama Aditya pasti akan dukung, apapun keputusan kamu. Apapun yang terbaik buat kamu."
"Keputusan aku udah final Dis ..." Isana menegakkan punggungnya. "Aku mau mengumpulkan semua bukti-bukti, aku nggak mau menjadi pihak yang selalu menangis. Kalaupun ini harus berakhir, aku ingin berjalan dengan kepala tegak sebagai perempuan yang memiliki harga diri."
"Aku dukung kamu, Sa." Aditya berkata tegas, "Well, kamu mau aku lakuin apa lagi? Aku siap bantu kamu kapanpun."
Gendis mengangguk-angguk, setuju dengan ucapan Aditya.
"Callme Rain,—" ucap Isana pelan. Namun sorot matanya berubah tajam.
Isana meraih ponselnya, menunjukkan file draft yang menyimpan screenshot akun tersebut. Menunjukkannya pada Aditya dan Gendis.
Gendis terperanjat, "Dia koment di akun sosial media resmi Green Resort? Ini bisa jadi titik terang Isa. Kalau memang pemilik akun ini adalah Risa, kita bisa susun rencana buat menjebak mereka. Aku punya akses penuh di Green Resort. Karna Resort itu diserahkan langsung oleh Pak Althaf untuk aku handle."
"Kamu serius, Dis?" Aditya menatap Gendis lurus.
"Serius ..." Gendis mengangguk. "Aku yakin akun itu milik Risa. Green Resort memang proyek pengembangan besar yang dikerjakan perusahaan Andreas, dan dia ditunjuk langsung untuk menangani seluruh jalannya proyek. Dan setahu aku posisi Risa, sebagai marketing manager ikut terlibat dalam konsep desain sekaligus urusan sponsor, jadi wajar kalau dia punya akses dan keterkaitan erat dengan proyek ini."
"Kalau dilihat dari isi komentarnya..." Aditya menyipitkan mata, menatap layar ponsel dengan seksama. "Mereka berdua akan ditugaskan ke kota Batu. Untuk proyek ini."
"Tepat!" Gendis tersenyum, "Dan kita bisa manfaatkan kesempatan ini untuk menangkap basah mereka. Karna aku juga berada disana. Untuk mengawasi jalannya proyek."
"Gimana menurut kamu, Sa?" Aditya bertanya.
Isana memejamkan mata, menguatkan genggamannya. "Aku siap dengan segala kemungkinannya Dit,"
Suaranya pelan, tapi dingin. Ia membuka mata perlahan. Tatapannya kosong, seperti sudah kehilangan sesuatu yang tak bisa diambil kembali.
"Aku mau keluar dari semua kebohongan yang selama ini Mas Andreas bangun."
Ia berhenti sejenak. Tarikan napasnya berat.
"Carikan aku pengacara."
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍
...kok ga keliatan dia