Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.
Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.
Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.
Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.
Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.
Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:
Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 – Musuh Yang Belum Menyerah
Malam berlalu dengan tenang.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki kehidupan Adrian, Naya dapat tidur tanpa dihantui rasa takut.
Namun kedamaian itu ternyata tidak berlangsung lama.
Pagi hari baru saja dimulai ketika suara dering ponsel membangunkan Adrian.
Pria itu membuka mata perlahan.
Layar ponselnya menunjukkan nama Dimas.
Adrian langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Dimas?"
Suara Dimas terdengar tegang.
"Tuan Adrian, ada sesuatu yang harus Anda lihat sekarang juga."
Sorot mata Adrian langsung berubah tajam.
"Apa yang terjadi?"
"Kami menemukan aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan Ketrin."
Adrian duduk tegak.
"Bukankah dia sedang dalam pemeriksaan polisi?"
"Benar."
"Lalu?"
Dimas menarik napas panjang.
"Semalam seseorang membayar uang jaminan dalam jumlah besar."
Keheningan sejenak.
"Siapa?"
"Itulah masalahnya, Tuan."
Dimas terdengar serius.
"Orang yang membayar menggunakan identitas perusahaan luar negeri."
"Dan setelah kami telusuri..."
"Perusahaan itu ternyata terhubung dengan Arman Wijaya."
Nama itu kembali muncul.
Membuat wajah Adrian langsung mengeras.
Arman lagi.
Semakin lama, semakin banyak kejadian yang mengarah kepada pria misterius tersebut.
"Aku ingin semua informasi tentang Arman berada di mejaku sebelum siang."
"Baik, Tuan."
Panggilan berakhir.
Di sampingnya, Naya yang baru terbangun menatap Adrian dengan khawatir.
"Ada masalah lagi?"
Adrian berusaha tersenyum.
"Hanya pekerjaan."
Namun Naya bisa melihat ketegangan di wajah suaminya.
Dan itu membuat firasat buruk mulai muncul di hatinya.
---
Sementara itu...
Di sebuah apartemen mewah yang berada di pusat kota.
Ketrin berdiri di depan jendela besar dengan wajah muram.
Beberapa hari terakhir menjadi mimpi buruk baginya.
Kariernya hancur.
Nama baik keluarganya rusak.
Dan Adrian benar-benar memutus semua hubungan dengan dirinya.
Namun pagi itu...
Seseorang datang menemuinya.
Seorang pria tinggi dengan setelan jas hitam mahal.
Pria yang selama ini bekerja dari balik layar.
Arman Wijaya.
"Kau terlambat."
Ketrin menyilangkan kedua tangannya.
Arman tersenyum tipis.
"Aku sedang memastikan semuanya berjalan sesuai rencana."
"Kau bilang akan membantuku."
"Aku memang membantu."
Tatapan Ketrin penuh kemarahan.
"Hasilnya aku hampir masuk penjara."
Arman tidak terlihat terganggu sedikit pun.
Sebaliknya, pria itu justru tersenyum.
"Kau terlalu fokus pada Adrian."
"Lalu?"
"Padahal kunci permainan ini bukan Adrian."
Ketrin mengernyit.
"Maksudmu?"
Arman mengambil sebuah foto dari dalam map.
Kemudian meletakkannya di atas meja.
Mata Ketrin membelalak.
"Itu..."
Foto tersebut memperlihatkan Naya.
Namun bukan foto yang pernah dilihat orang lain.
Foto lama.
Foto ketika Naya masih kecil.
Di sampingnya berdiri seorang pria yang wajahnya sengaja ditandai dengan tinta merah.
"Siapa dia?"
Arman menyandarkan tubuhnya santai.
"Jawaban atas semua pertanyaanmu."
Tatapan Ketrin berubah penasaran.
Sementara senyum Arman semakin lebar.
"Dan juga alasan kenapa Adrian tidak boleh terus bersama Naya."
---
Menjelang siang.
Dimas memasuki ruang kerja Adrian dengan membawa setumpuk dokumen.
"Tuan."
"Ada apa?"
"Kami berhasil menemukan sebagian riwayat Arman Wijaya."
Adrian segera menerima dokumen tersebut.
Halaman demi halaman dibuka.
Semakin lama wajahnya semakin serius.
Karena hampir seluruh informasi tentang pria itu sengaja dihapus.
Tidak ada catatan bisnis.
Tidak ada aktivitas perusahaan yang jelas.
Tidak ada jejak yang mudah dilacak.
Seolah seseorang sengaja membersihkan seluruh masa lalunya.
Namun pada halaman terakhir...
Mata Adrian langsung membeku.
Sebuah foto lama terselip di sana.
Foto yang diambil hampir tiga puluh tahun lalu.
Dalam foto tersebut terlihat ayahnya berdiri bersama beberapa orang.
Dan salah satunya adalah Arman Wijaya.
Namun yang membuat Adrian terkejut bukan itu.
Melainkan sosok wanita muda yang berdiri di samping mereka.
Wanita itu sangat dikenalnya.
Sangat.
Karena wanita tersebut adalah ibunya sendiri.
"Dimas."
Suara Adrian berubah berat.
"Ya, Tuan?"
"Dapatkan semua informasi tentang pertemuan ibuku dan Arman."
Dimas mengangguk.
"Segera."
Adrian kembali menatap foto itu.
Firasatnya semakin kuat.
Rahasia yang selama ini tersembunyi mungkin jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Dan entah mengapa...
Semua jejak itu perlahan mulai mengarah kepada Naya.
Bersambung...