NovelToon NovelToon
PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: UJIAN SEKOLAH DAN PEMBUKTIAN PERTAMA

Bab 6: Ujian Sekolah dan Pembuktian Pertama

Senin pagi kembali menyapa dengan ketegangan yang berbeda di SMA Elit Garuda. Minggu ini adalah pekan Ujian Tengah Semester (UTS), momen di mana reputasi akademis anak-anak konglomerat diuji untuk menentukan siapa yang layak mempertahankan gengsi keluarga mereka. Di koridor sekolah, atmosfer terasa lebih sunyi dari biasanya. Murid-murid sibuk membolak-balik buku catatan tebal, sementara beberapa lainnya tampak cemas berbisik di sudut-sudut kelas.

Valerie Vespera berjalan dengan ritme langkah yang santai menyusuri koridor lantai dua. Di bahunya, tas kanvas usang itu tetap setia menemani, kontras dengan tas-tas punggung desainer seharga puluhan juta yang dikenakan murid lain. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kelas XI-A1.

Dari jarak beberapa meter, dia bisa melihat Alethea Belmont sedang dikelilingi oleh geng The Peacock. Alethea tampak memberikan senyuman manis bercampur kecemasan yang dibuat-buat kepada teman-temannya. Namun, begitu sepasang mata Alethea menangkap sosok Valerie yang masuk ke dalam kelas, sebuah kilatan licik yang sangat tipis melintas di balik mata indahnya.

Alethea perlahan mundur dari kerumunan, berjalan menuju meja barisan belakang tempat Valerie biasa duduk. Dengan gerakan yang sangat halus dan terencana, tangan Alethea yang memegang binder catatan sengaja menyenggol tas kanvas Valerie yang diletakkan di atas kursi hingga terjatuh ke lantai marmer.

BRUKK—

Isi tas Valerie sedikit berhamburan. Sebelum Valerie sempat membungkuk untuk mengambilnya, Alethea dengan cepat berlutut, berpura-pura membantu memungut barang-barang tersebut. "Ah, maaf banget, Kak Valerie! Aku beneran nggak sengaja menyenggol tas Kakak. Biar aku bantu rapikan ya..."

Tangan Alethea bergerak lincah di bawah bayangan meja. Dari balik lengan blazer sekolahnya, dia mengeluarkan selembar kertas lipat berwarna merah jambu—kertas rahasia yang berisi draf lengkap kunci jawaban ujian matematika peminatan dan fisika untuk hari ini, yang telah dia curi dari ruang kerja kepala pengawas sehari sebelumnya. Dengan gerakan cepat seperti pesulap, Alethea menyelipkan kertas itu ke dalam kantong dalam tas kanvas Valerie, lalu mengembalikan tas itu ke atas meja dengan senyuman penuh simpati palsu.

"Ini kak, sudah rapi kembali. Maaf ya sekali lagi," ucap Alethea dengan nada lembut, lalu berbalik kembali ke mejanya di barisan depan dengan kepuasan yang membuncah di dadanya.

Alethea membatin dengan kejam, 'Mari kita lihat bagaimana kamu bisa lolos hari ini, gembel panti asuhan. Begitu pengawas menemukan kertas itu di tasmu, kamu tidak hanya akan dikeluarkan secara tidak hormat dari sekolah ini, tapi Papa Gilbert juga akan membuangmu kembali ke jalanan karena memalukan nama Elrod.'

Valerie duduk di kursinya. Dia sama sekali tidak menyentuh tas kanvasnya. Sepasang mata hitam pekatnya menatap punggung Alethea dengan kedataran yang menakutkan. Dia bukan gadis remaja delapan belas tahun yang naif; dia adalah jiwa yang telah hidup dua kali. Gerakan tangan Alethea yang mengira dirinya sangat rapi itu, di mata Valerie, tak lebih dari sekadar trik amatir seorang anak kecil yang sedang bermain pasir.

Valerie tidak mengambil kertas itu untuk membuangnya. Dia membiarkannya tetap berada di sana. Baginya, sebuah jebakan hanya akan menjadi senjata mematikan jika sang mangsa tidak tahu keberadaan jaring tersebut. Dan hari ini, dia akan membalikkan jaring itu untuk menjerat leher si pemasang sendiri.

Pukul 08.00 tepat, bel ujian berbunyi nyaring. Dua orang guru pengawas dengan wajah tegas masuk ke dalam kelas XI-A1, membawa beberapa bundel lembar soal yang masih disegel plastik ketat. Salah satu dari mereka adalah Pak broto, guru kedisiplinan yang terkenal tidak memiliki toleransi sedikit pun terhadap kecurangan.

"Letakkan seluruh tas, buku, dan ponsel kalian di barisan depan kelas atau di bawah kolong meja dalam kondisi tertutup!" perintah Pak Broto tegas. "Ujian hari ini adalah Matematika Peminatan Tingkat Lanjut. Waktu kalian sembilan puluh menit. Tidak ada toleransi untuk kerja sama atau membawa catatan dalam bentuk apa pun."

Lembar soal dan jawaban dibagikan. Begitu kertas ujian mendarat di atas meja marmernya, Valerie langsung membalik halaman pertama. Matanya menyapu deretan soal kalkulus, matriks transformasi geometri, dan persamaan diferensial tingkat tinggi yang biasanya membutuhkan coretan berlembar-lembar bagi murid biasa.

Di barisan depan, Cheryl dan beberapa anggota geng The Peacock sudah mulai mengernyitkan dahi, memegangi kepala mereka menghadapi kerumitan soal. Alethea sendiri tampak menulis dengan tenang, sesekali melirik ke arah jam dinding dengan raut wajah tidak sabar menunggu rencana eksekusinya berjalan.

Sementara itu, di pojok belakang, jemari ramping Valerie mulai bergerak menorehkan tinta pulpen hitamnya di atas lembar jawaban. Dia tidak membutuhkan waktu untuk berpikir lama atau mencoret-coret kertas buram. Kecerdasan aslinya yang tajam, dipadukan dengan memori matematis dari kehidupan dewasanya di masa depan, membuat otaknya bekerja secepat superkomputer.

Sreeet... Sreeet... Sreeet...

Suara goresan pulpen Valerie terdengar konstan, berirama lambat namun pasti. Rumus-rumus rumit dijabarkannya dengan struktur logika yang sangat bersih, efisien, dan sempurna tanpa ada satu pun cacat penulisan.

Tepat dua puluh menit sejak ujian dimulai, Valerie meletakkan pulpennya di atas meja dengan ketukan pelan yang memecah keheningan kelas. Dia berdiri dari kursinya, mengambil lembar jawabannya yang telah terisi penuh, lalu berjalan ke depan kelas dengan langkah kaki yang teramat anggun.

Seluruh murid di dalam kelas seketika mendongak, menatap Valerie dengan pandangan tidak percaya. Bahkan Pak Broto yang sedang membaca koran langsung menurunkan kacamatanya dengan dahi berkerut.

"Valerie? Ujian baru berjalan dua puluh menit. Kamu sudah selesai?" tanya Pak Broto dengan nada sangsi.

"Sudah, Pak," jawab Valerie pendek, meletakkan kertas ujiannya di atas meja guru dalam posisi terbalik.

Cheryl berbisik sinis kepada teman di sebelahnya, "Halah, paling juga asal silang dan dikosongkan karena nggak bisa mikir. Anak kampung mana paham kalkulus tingkat lanjut."

Alethea yang melihat ini langsung memberikan kode mata yang sangat tipis kepada Cheryl. Cheryl yang mengerti instruksi tersebut segera mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara, memutus keheningan ruang ujian.

"Pak Broto! Saya merasa ada yang aneh dengan Valerie!" seru Cheryl dengan suara lantang, menarik perhatian seluruh pengawas. "Bagaimana bisa seorang anak pindahan dari panti asuhan pedalaman bisa menyelesaikan soal olimpiade matematika dalam waktu dua puluh menit kalau bukan karena menggunakan cara-cara curang? Saya curiga dia membawa draf kunci jawaban rahasia dari luar!"

Suasana kelas mendadak gempar. Bisik-bisik ketidakpastian mulai terdengar dari bangku-bangku murid.

Pak Broto berdiri dengan wajah yang langsung menggelap. "Cheryl, ini tuduhan serius. Apa kamu punya bukti?"

"Periksa saja tas kanvasnya yang ada di bawah mejanya, Pak! Saya tadi pagi melihat dia memasukkan sesuatu yang mencurigakan ke dalam sana sebelum ujian dimulai!" jawab Cheryl penuh percaya diri, sementara Alethea duduk dengan kepala menunduk, berpura-pura sedih melihat situasi kekacauan ini.

Pak Broto berjalan mendekati meja Valerie di barisan belakang, diikuti oleh guru pengawas kedua. "Valerie, demi keadilan dan kebersihan nama sekolah, saya harus memeriksa tas kamu."

Valerie berdiri menyandarkan punggungnya pada kusen jendela, melipat kedua tangannya di dada dengan ketenangan yang luar biasa dingin. "Silakan, Pak. Periksa sampai Anda puas."

Pak Broto meraih tas kanvas usang milik Valerie, membuka ritsleting utamanya, dan merogoh ke dalam kantong tersembunyi. Benar saja, dalam hitungan detik, jemari Pak Broto menarik keluar selembar kertas lipat berwarna merah jambu dari dalam sana.

"Ini apa?!" Pak Broto membuka lipatan kertas tersebut di hadapan seluruh kelas. Wajah guru senior itu memerah padam ketika melihat deretan angka dan kode draf yang persis sama dengan lembar kunci jawaban matematika peminatan milik panitia ujian. "Kunci jawaban resmi sekolah?! Valerie, bagaimana bisa barang ini ada di dalam tas kamu?!"

Alethea menutup mulutnya dengan tangan, memasang ekspresi sangat syok. "Ya ampun... Kak Valerie... kok Kakak tega melakukan ini? Padahal Papa Gilbert sudah membiayai sekolah Kakak di sini biar bisa belajar dengan jujur..."

Cheryl langsung berdiri dengan sombong. "Tuh kan bener, Pak! Dia curang! Nilai sempurna atau kecepatan kerjanya itu palsu! Dia harus dikeluarkan sekarang juga dari Garuda!"

Di tengah kepungan tuduhan dan tatapan menghina dari seluruh kelas, Valerie Vespera justru melepaskan seulas senyuman tipis—sebuah senyuman yang teramat anggun, dingin, dan memancarkan aura kegelapan yang absolut. Dia melangkah satu langkah mendekati Pak Broto.

"Pak Broto," suara Valerie beralun begitu tenang, memotong seluruh kebisingan di dalam ruangan. "Sebelum Anda menjatuhkan vonis, silakan Anda buka dan periksa lembar jawaban yang baru saja saya kumpulkan di depan meja Anda."

Pak Broto mengernyitkan kening, namun berjalan kembali ke meja depan dan membalik lembar jawaban Valerie. "Apa bedanya? Kalau kamu menyontek dari kunci jawaban ini—"

"Bedanya sangat besar, Pak," potong Valerie dengan nada suara yang rendah namun sarat akan otoritas mutlak. "Kunci jawaban di kertas merah jambu yang Anda pegang itu berfokus pada draf pengerjaan menggunakan metode substitusi matriks ordo tiga kali tiga tradisional. Sedangkan di lembar jawaban saya, seluruh dua puluh soal kalkulus dan diferensial tersebut saya selesaikan menggunakan metode Kalkulus Vektor Leibniz dan algoritma reduksi baris elementer—sebuah metode tingkat universitas yang bahkan tidak ada di dalam kurikulum sekolah ini, apalagi di dalam draf kunci jawaban murah itu."

Pak Broto tertegun. Dia langsung mengambil pulpen merahnya dan mencocokkan setiap baris pengerjaan Valerie dengan nalar akademisnya sendiri. Mata guru matematika senior itu mendadak membelalak syok, tangannya mulai bergetar saat menyadari bahwa struktur pengerjaan Valerie jauh lebih efisien, lebih jenius, dan sama sekali berbeda jalurnya dengan kunci jawaban yang ditemukan di tasnya.

"Ini... ini beneran struktur logika murni..." bisik Pak Broto dengan suara bergetar, menatap Valerie seolah melihat seorang monster jenius. "Kamu tidak menyontek... Kunci jawaban ini bahkan tidak berguna untuk metode yang kamu pakai!"

Valerie memalingkan wajahnya perlahan, menatap lurus ke arah Alethea yang kini wajahnya mendadak pucat pasi bagai kehilangan seluruh darahnya.

"Dan satu hal lagi, Pak Broto," Valerie melanjutkan, suaranya terdengar begitu santai di tengah keheningan kelas yang mencekam. "Kertas merah jambu itu menggunakan parfum aroma mawar Jo Malone—jenis parfum impor yang sama persis dengan yang dipakai oleh adik angkat saya, Alethea Belmont, sejak pagi tadi. Jika Anda tidak percaya, Anda bisa memeriksa sidik jari minyak terenkripsi pada kertas itu ke laboratorium sekolah, atau kita bisa memeriksa rekaman CCTV koridor kelas jam tujuh pagi tadi untuk melihat siapa sebenarnya yang sengaja menyenggol tas saya demi memasukkan sampah itu ke dalam sana."

DEGGG!

Kata-kata Valerie seperti hantaman petir yang meremukkan seluruh dinding pertahanan Alethea. Tubuh Alethea bergetar hebat di kursinya, sementara Cheryl langsung bungkam dengan wajah pucat, ketakutan setengah mati karena menyadari rencana mereka telah dibaca utuh dari awal.

"Alethea... Cheryl... ikut saya ke ruang kepala sekolah setelah jam ujian ini selesai!" bentak Pak Broto dengan suara menggelegar, menatap kedua siswi itu dengan kemarahan yang meluap-luap.

Valerie tidak menunggu drama itu selesai. Dia mengambil tas kanvas usangnya, melampirkannya di bahu kiri, lalu melangkah keluar dari ruang kelas dengan keanggunan seorang pemenang sejati, meninggalkan Alethea yang mulai menangis ketakutan di dalam ruangan.

Sesampai di koridor taman sekolah yang sepi, Valerie duduk di atas bangku taman yang dinaungi pohon rindang. Dia mengeluarkan ponsel pintarnya yang retak seribu dari saku rok seragamnya. Ujian sekolah ini hanyalah hiburan kecil baginya. Bisnis aslinya di belahan dunia lain tidak pernah tidur.

Dia membuka aplikasi broker internasional Zurich terenkripsi miliknya. Selama dua hari terakhir, akun anonim "V" miliknya telah memindahkan seluruh modal dua miliar rupiah kemarin ke dalam posisi perdagangan berjangka jangka pendek pada kontrak Gold Futures (Emas) yang sedang mengalami fluktuasi masif akibat koreksi suku bunga pasar global.

Menggunakan strategi perdagangan mikroberleverage tinggi yang presisi, Valerie telah mengeksekusi posisi Short (Jual) tepat beberapa menit sebelum laporan inflasi AS dirilis secara global.

Notifikasi kilat di layarnya berkedip lambat, memperbarui nilai total kekayaan bersih yang berada di bawah kendali akun anonimnya.

Saldo Portofolio Internasional Akun "V": USD 136,500.00 (Setara dengan Rp2.047.500.000,00)

Dua miliar empat puluh tujuh juta rupiah modal tunai bersih kini telah sepenuhnya aman di dalam brankas digital luar negerinya.

Valerie mematikan layar ponselnya, menatap ke arah langit biru di atas SMA Elit Garuda dengan pandangan mata yang teramat hambar, dingin, dan penuh dengan dominasi yang absolut. Pembuktian pertamanya di sekolah telah meremukkan topeng Alethea, dan di bawah tanah, mesin finansialnya kini sudah mulai berputar semakin kencang, siap menghancurkan seluruh kekaisaran Elrod hingga tidak menyisakan apa pun selain abu kehancuran.

Bersambung...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Moreno
draf dref draf dref 😑
Moreno
gimana caranya uang tunai tiba2 masuk menjadi saldo digital
masijacoke021205: Sudah diperbaiki ya, Kak! Terima kasih banyak bantuannya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!