"Menikahlah denganku!" ulang Nasya untuk ketiga kalinya.
Perselingkuhan sang kekasih membuatnya terpaksa menyeret pria asing untuk menikah dengannya. Perjanjian di buat di malam pernikahan mereka.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Simak disini ya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neerja_A-Roh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Ya, tidak penting!" Arka terus menarik tangan Nasya ke pintu belakang.
Sampai, buru-buru memasuki mobil berwarna biru metalik, Arka mengunci pintu mobil, menghidupkannya dan segera melajukannya keluar dari pekarangan rumah yang luas.
Samar-samar terdengar teriakan memanggil-manggil nama Arka di telinga Nasya.
"Ada yang memanggilmu, Arka! Apa kau tuli?!" teriak Nasya.
"Diam!" bentak Arka, tidak suka dengan kalimat Nasya. "Aku mendengarnya, kau tidak perlu peduli pada wanita yang berteriak itu! Dia tidak punya urusan denganmu, tapi denganku, dan aku tidak ingin memperpanjang urusan dengannya!"
Cukup membuat Nasya bungkam, Arka menghela napas panjang. Sedikit sesal membuatnya tidak enak hati telah membentak Nasya.
"Maaf,"
Sepanjang perjalanan menjadi hening. Hingga mobil terparkir di pekarangan yang lebih luas di banding rumah milik mertuanya.
"Turun!" perintah Arka sambil membukakan pintu mobil.
"Aku tidak perlu menunggu perintah untuk turun," ketus Nasya sambil menutup pintu mobil yang telah di bukakan Arka.
Ketika hendak membukanya lagi, Arka tergelak, sementara Nasya tercengang.
"Pintu mobil ini akan terkunci otomatis jika kau membanting pintunya begitu!" ucap Arka, tertawa lagi.
Nasya terus berusaha membuka pintu, akan tetapi tidak kunjung terbuka. Membuatnya terpaksa memasang wajah memelas pada Arka.
Tak tega, pintu di buka dengan senyuman mengejek yang tidak lupa Arka berikan pada Nasya.
"Lucu," celetuk Arka, sambil melangkah di sertai gelak tawa renyahnya.
"His!" Nasya mendengus sebal, mengikuti langkah Arka memasuki mansion tingkat tiga itu.
Saat baru saja satu langkah kaki jenjangnya masuk ke dalam, lagi-lagi segala kemewahan di dalam mansion membuat Nasya tercengang. Sekaya apapun ayahnya, ternyata Arka lebih kaya. Buktinya sudah memiliki mansion semewah itu.
"Ini mansion warisan kakekku, bukan milikku!" sinis Arka, melihat ekspresi takjub Nasya. "Lagipula, tidak akan di wariskan untukmu!" imbuhnya, tergelak kembali.
Arka merasa berbeda jika sudah di hubungkan dengan Nasya, dalam satu hari ini ia merasa bingung dengan betapa mudahnya dirinya tertawa.
"Hmm... Dia memang 1 dari 1000 wanita." gumam Arka.
"Siapa yang ingin warisanmu? Keluargaku masih sanggup memberikan warisan besar untukku!" gerutu Nasya, terdengar samar di telinga pria berkulit kuning langsat sedikit kecokelatan itu.
Tak lagi berdebat dan terlibat pembicaraan, Nasya sibuk meneliti setiap inci ruangan mansion besar. Arka lebih memilih berbaring di atas sofa panjang dan memejamkan matanya.
Nasya yang baru membalikan tubuh harus menghela napas panjang.
"Dia bilang tadi apa? Buru-buru? Ku pikir dia punya pekerjaan! Jika mau tidur, kenapa tidak di rumah saja? Malah jauh-jauh datang ke sini!" menggerutu kesal, Nasya memilih duduk saja di sofa tunggal memandangi Arka yang terlelap.
Bosan tentu saja di rasakannya. Akan tetapi harus apa dan kemana ia pergi? Sedangkan Nasya tidak tahu ruangan apa saja yang ada di mansion sebesar itu.
Bagaimana kalau aku tersesat? Nasya membatin.
Mana ada tersesat?! Ini kan rumah, Nasya!
Tanpa berpikir panjang, melangkah mulai melihat-lihat ruangan.
...****************...
"Tan, buka pintunya! Chyra harus masuk!"
Chyra terus menggedor pintu, di dalam Aisha dan Ananda sudah berdiskusi. Mereka melangkah, memutuskan membuka pintu.
"Tan, kenapa bohong padaku? Arka ada di sini! Bahkan aku melihatnya tadi, mobilnyapun aku melihatnya!" ucap Chyra, ekspresi sedihnya membuat siapapun merasa iba.
"Kamu sudah tidak ada hubungan dengan Arka, Ra! Lebih baik jangan datang ke sini lagi! Lagipula Arka sudah memiliki hidup baru dengan istrinya!"
Deg—
Perih terasa di hati Chyra, rasanya seperti ada pisau tajam yang menyayat. Melukai hati yang masih memiliki rasa pada putra tunggal pasangan paruh baya di hadapannya.
"Istri?" lirihnya, suara bergetar, menunjukan betapa dalamnya luka yang baru saja di torehkan.
"Tan, kenapa Tante tega menikahkan Arka?! Tante sudah janji akan menyatukan Arka denganku!" Chyra protes tak terima.
Aisha menunduk, rasa bersalah tentu ada. Ia teringat akan janji yang di ucap pada Chyra.
"Tante tidak berhak, Ra! Hidup Arka mana mungkin Tante bisa atur! Biarlah dia hidup dengan pilihannya!" Aisha menegaskan.
"Chyra, maafkan kami. Mungkin Tantemu bisa berjanji, tapi dia tidak bisa menentang keputusan Arka. Lebih baik kamu pergi, carilah laki-laki lain yang lebih baik dari Arka. Om mohon sama kamu!" Ananda menimpali.
"Tidak!"
......................
dan ingat mau balas dendam