Raina adalah seorang istri yang sholikha, baik hati, dan selalu patuh terhadap suami.
Tidak hanya itu saja dia adalah sosok wanita yang lemah lembut.
Pernikahan nya dengan Nurman Hadiwinata awalnya berjalan dengan hangat dan penuh kebahagiaan walaupun sudah 5 tahun mereka belum memiliki seorang anak.
Namun kebahagiaan itu hancur saat ibu mertua Raina yang bernama Miranda datang mengusik kehidupan mereka.
Akankah Raina mampu menghadapi semua dilema kehidupan dengan ikhlas ataukah dia akan berhenti sampai disitu saja
yuk ikuti kisahnya
dan jangan lupa kasih dukungan
like
komentar
favoritkan
vote ya
dukungan kalian sangat berarti buat author
terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uma shidqiyya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Nurman, Miranda dan Febi memasuki sebuah mall terbesar di kota itu.
Setelah mendapat kode dari Miranda tanpa sungkan dan ragu Febi ber gelanjut ditangan Nurman.
Tanpa sengaja karena terkejut Nurman menghempas tangan Febi yang ber gelanjut manja padanya.
"Maaf, aku tidak bermaksud berbuat kasar kepadamu.
Tetapi sebaiknya kamu harus mengetahui batasan mu" tegas Nurman.
Miranda yang berdiri tidak jauh dari Nurman segera memberikan peringatan kepada putranya itu.
"Nurman bisa tidak kamu lembut sedikit kepada Febi.
Dia itu jauh lebih baik dari istrimu.
Dan dia juga dari keluarga terpandang" kata Miranda.
"Bu, aku harap ibu mengerti.
Aku sudah menikah dan memiliki seorang istri.
Dan perlu ibu ketahui modal yang aku buat usaha selama ini adalah uang pribadi milik Raina dan itu artinya perusahaan yang aku miliki adalah milik dia jadi suatu saat bisa saja dia ambil,
Karena ada surat hitam diatas putih" kata Nurman mengingatkan ibu nya itu.
"Tetapi dia tidak bisa memberikan mu keturunan Nurman ingat itu" Miranda masih saja mencari cara agar Nurman meninggalkan Raina.
"Bu tetapi bukan Raina yang tidak bisa memberikan keturunan.
Aku juga belum memeriksakan diri apakah aku bisa memberikan keturunan ataupun tidak" Nurman terus berusaha menyadarkan ibu nya itu.
"Kamu tidak mungkin tidak bisa memberi keturunan karena keluarga kita tidak ada yang tidak memiliki keturunan.
Jadi tidak mungkin kamu tidak bisa memberikan keturunan" Miranda bersikeras dengan pemikirannya.
"Sudahlah Bu, aku capek mendengarkan semua ucapan ibu.
Sekarang aku harus kekantor karena ada meeting dengan klien penting dan pemegang saham" Nurman sedikit berbohong agar ibu nya mau membiarkannya pergi.
"Tidak, kamu hari ini harus menemani Febi untuk berbelanja.
Mulai sekarang kamu harus bisa dekat dengan Febi.
Ibu gak mau tahu.
Ibu ingin kamu bisa menjalin hubungan dengan Febi.
Dalam satu bulan ibu ingin kamu dan Febi segera melaksanakan pernikahan.
Kalau kamu menolak ibu akan melakukan apapun agar kamu mau menuruti ibu" paksa Miranda.
"Bu mengertilah, kalau hari ini aku gak kekantor bisa-bisa perusahaan ku akan kolaps.
Apa ibu mau hidup seperti dulu lagi dan bahkan mungkin lebih parah" tegas Nurman.
Mendengar akan jatuh miskin Miranda seakan ketakutan akhirnya dia memutuskan untuk mengijinkan Nurman ke kantor.
"Ya sudah, tetapi kamu harus bisa meluangkan waktumu untuk Febi ya, ibu gak mau tahu pokoknya" Miranda mengijinkan tetapi masih tetap memaksa.
Nurman tidak mendengarkan ibu nya dan dia berlalu pergi setelah dia mencium punggung tangan ibu nya itu tanpa menghiraukan keberadaan Febi.
Nurman berjalan sedikit cepat agar dia segera sampai di mobilnya.
Dia segera mengendarai mobilnya dan melakukannya kembali kerumah.
Tak membutuhkan waktu lama Nurman sudah sampai dihalaman rumahnya.
Dia mengetuk pintu begitu keras seakan-akan dia sedang tidak sabar ingin bertemu seseorang.
Tak lama keluarlah Raina yang sudah terlihat rapi dengan baju sederhananya namun tetap terlihat anggun dan mewah.
"Wa'alaikumsalam.
Mas ada apa kok kelihatan terburu-buru gitu sampai mengetuk pintu keras banget" tanya Raina yang keheranan melihat tingkah suaminya itu.
"Sayang, ikutlah denganku sekarang juga.
Aku mohon sayang" pinta Nurman dengan penuh permohonan.
"Tetapi ada apa ini mas, kenapa mas meminta aku ikut dengan mas" tanya Raina yang masih enggan mengikuti suaminya itu.
"Nanti mas jelaskan.
Sekarang mas minta kamu siapkan beberapa pakaian untuk kita pergi ke suatu tempat.
Kita akan liburan beberapa hari" kata Nurman.
"Tetapi mas, kenapa mendadak sekali" Raina benar-benar heran dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Ayolah sayang, kamu ikuti aku saja dan cepat aku tidak mau kita ketinggalan pesawat" bujuk Nurman.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan mempersiapkan beberapa baju untuk kita berdua.
Mas tunggu dulu ya" kata Raina dan berlalu pergi menuju kamarnya.
Raina mengeluarkan beberapa pakaian didalam almari dan memasukkan kedalam koper.
Tak membutuhkan waktu lama Raina sudah mengemas semua apa yang dibutuhkannya dan suaminya nanti selama liburan.
Raina berjalan dengan membawa koper menghampiri suaminya.
"Ayo mas, aku sudah siap" kata Raina.
Raina dan Nurman berjalan beriringan.
Koper yang tadinya dibawa oleh Raina sekarang sudah dibawa oleh Nurman.
Dimasukkannya koper itu di bagasi mobilnya dan kini mereka berdua sudah duduk manis di dalam mobil.
Nurman segera melajukan mobilnya dan dia sengaja mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata karena dia tidak ingin ketinggalan pesawat.
Sebelum sampai dirumah tadi sengaja Nurman memerintahkan orang kepercayaannya sekaligus sekretaris pribadinya untuk mengurus tiket untuk berangkat kesebuah pulau yang selama ini ingin dikunjungi oleh istrinya.
Yaitu di Bangka Belitung.
Tempat yang sangat terkenal dengan keindahan pantainya itu.
Selain itu Nurman juga memerintahkan orang kepercayaannya itu untuk mengurus semua keperluan dia selama disana dan termasuk mengganti nomer ponselnya.
Nurman sengaja mengganti nomor ponselnya karena dia tidak mau diganggu oleh ibu nya.
Sesampai di bandara Nurman sudah disambut oleh orang kepercayaannya yaitu Nicko.
Nicko memberikan kartu SIM card baru kepada Nurman dan sekalian memberikan tiket penerbangan.
"Nick, boleh aku berbicara berdua denganmu" pinta Nurman dan menyuruh Nicko mengikutinya.
"Sayang sebentar ya ada yang harus aku bicarakan dengan Nicko, kami tunggu aku disini sebentar dan ingat jangan kemana-mana sampai aku kembali" pesan Nurman.
"Oh ya, sayang berikan ponselmu.
Aku nggak mau selama kita liburan ada yang mengganggu kita" tegas Nurman sebelum beranjak pergi.
Raina akhirnya meyerahkan ponselnya itu kepada suaminya.
Nurman meninggalkan Raina seorang diri duduk disudut ruang tunggu untuk penumpang kelas bisnis di bandara.
Kini Nurman sudah berdua dengan Nicko.
"Nicko aku minta tolong kamu menghendel semua pekerjaanku selama aku tidak ada, bila ada yang sangat penting aku harap kamu bisa menghubungiku.
Oh ya satu lagi, nanti apabila ibu ku datang katakan saja aku sedang ada tugas luar kota dan apabila dia menanyakan keberadaan istriku bilang saja Raina berada dirumah sahabatnya.
Jangan sampai ada yang mengetahui keberadaan ku dan juga jangan sampai aku ada yang mengetahui nomor ponselku.
Katakan saja nomorku masih tetap yang dulu" pesan Nurman.
"Baik tuan saya akan merahasiakan semuanya" kata Nicko.
"Ya sudah kalau begitu terima kasih banyak" kata Nurman mengakhiri ucapannya dan dia kini beranjak menuju ketempat istrinya itu.
Sesampai disana wajah Nurman sedikit tertekuk karena mendapati istrinya sedang berbicara dengan seorang lelaki yang tidak dia kenal.
"Sayang" sapa Nurman membuat Raina sedikit terkejut.
"Eh mas sudah selesai urusannya" tanya Raina gugup.
Raina begitu takut Nurman akan salah paham karena dia memang tidak mengenal siapa lelaki itu.
"Maaf ya tuan, saya harus pergi dahulu karena suami saya sudah datang" kata Raina dan segera ber gelanjut di lengan suaminya itu.
"Oh silahkan nyonya, maaf sudah mengganggu kenyamanan anda tadi" kata lelaki itu santun.
Raina dan Nurman segera pergi meninggalkan tempat itu karena sekarang sudah ada panggilan untuk penumpang yang akan menuju ke pulau Bangka Belitung.
Nurman masih terdiam dan memang benar adanya kalau dia sedang cemburu melihat istrinya bersama dengan lelaki lain selain dirinya.
"Kamu kenapa mas" tanya Raina memecahkan kecanggungan diantara mereka berdua.
"Kamu cemburu mas, aku dengan orang tadi itu tidak saling mengenal percayalah.
Dia tadi hanya menanyakan tempat untuk boarding pass saja.
Sudah jangan kayak gitu lagi ya, kelihatan jelek tahu" goda Raina.
"Tetapi mas gak suka kamu dekat dengan lelaki manapun sayang.
Apa salah kalau mas cemburu" kata Nurman yang lagi merajuk sangatlah menggemaskan.
Raina yang melihat wajah suaminya jadi ingin tertawa sampai tanpa sadar Raina pun tertawa kecil melihat tingkah konyol suaminya itu kalau sedang cemburu.
"Kenapa kamu malah tertawa sih sayang, aku beneran cemburu nih" Nurman kembali menampilkan muka menggemaskannya.
"Iya, iya aku minta maaf.
Lain kali tidak akan aku ulangi lagi ya.
Sekarang udahan dong, mas jangan marah gitu ya" Raina menghibur suaminya itu.
Nurman membawa Raina kedalam pelukannya dan mencium keningnya dalam-dalam.
"Janji ya sayang, jangan pernah tinggalkan aku dan jangan pernah kamu dekat dengan lelaki manapun selain aku.
oke" pinta Nurman penuh permohonan.
"Iya mas.
Yuk ah nanti kita ketinggalan pesawat lho" ajak Raina.
Nurman dan Raina berjalan menuju ke pesawatnya dan beberapa menit mereka sudah lepas landas.
semangat terus updatenya kak
gdeg sm mmhnya nurmn .. bner" ichh mrtua kek gtu mit amit .. jgn smpe lh ... ckup d dunia novel aj hee