NovelToon NovelToon
Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:372.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rhey Anggraini

Aura dua bersaudara dengan Kakaknya yang bernama Mea. Aura memiliki rasa takut untuk menikah, mengingat betapa buruknya kehidupan rumah tangga Ayah dan Ibunya. Rasa traumanya bertambah parah saat ia melihat rumah tangga Kakaknya tak kalah buruk dengan rumah tangga kedua orang tuanya.

Meskipun begitu, ia tetap memiliki niat untuk menikah, ia ingin menikah. Tapi takut salah dalam memilih pasangan.

Setelah beberapa temannya menikah, ia pun mulai mencoba menerima lamaran seorang pria, ia sholat istikharah beberapa kali namun tidak memiliki hasil yang baik. Akhirnya ia menolak lamaran pria tersebut, tapi ia malah disalahkan dan dimarahi oleh pria tersebut.

Selang beberapa waktu, ada seorang pria yang melamarnya lagi. Ia kembali ikhtiar melalui sholat istikharah, karna mendapat petunjuk yang baik, Aura menerima lamaran Rizky.

Selama menikah dengan Rizky, Aura hidup dengan bahagia dan damai. Ia diterima dengan baik oleh keluarga suaminya. Ia juga dianggap adik sendiri oleh kakak iparnya.

Namun masalah datang karena ada seorang wanita yang mencintai Rizky. Dia adalah Lucy, sahabat sepupu Rizky yang sudah lama mencintai Rizky dan menginginkan Rizky.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhey Anggraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wedding Day

Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Dua hari sebelum hari H, rumah kami sudah ramai di kunjungi oleh saudara-saudara dari jauh. Iya, mereka menginap di rumah kami.

Tetangga yang ikut rewang juga sudah pada berdatangan untuk bantu-bantu menyiapkan persiapan makan jalan, seperti membungkus tisu dan tusuk gigi, menggoreng kerupuk, meracik bumbu-bumbu dan sebagainya.

Sementara Kak Mea, senyuman seakan tidak mau pergi dari bibirnya. Dia terlihat sangat bahagia, lebih bahagia dari hari-hari sebelumnya. Sepupu-sepupu kami terus saja menggodanya sambil mengukir inai di kaki dan tangannya.

"Kak, beruntung Abang itu ya Kak, bisa mempersunting Kakak. Kakak kan cantik, baik, Abang itu kurang tampan." ucap Liya salah satu sepupu kami.

"Tidak apa-apa kurang tampan, yang penting tidak kurang baik, hehe." jawab Kak Mea sambil senyum cengengesan.

"Iya kan, Kak. Yang penting Abang itu baik, bertanggung jawab, sayang sama keluarganya." sambung Riri sepupu kami juga.

"Betul itu. Do'akan saja yang baik-baik untuk kami berdua ya." pinta Kak Mea.

"Iya, Kak." jawab mereka serentak.

Aku hanya duduk diam di sebelah Kak Mea, memperhatikan mereka berdua mengukir inai sambil mendengarkan semua yang mereka bicarakan.

Ntah mengapa, aku masih tidak yakin bahwa Bang Rafli sebaik yang Kak Mea kira. Ntah ini Su'udzon atau firasat buruk, biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Hari ini teratak telahpun di pasang di depan rumah kami, pelaminan yang sangat indah juga telah siap. "Oh ya Allah, indah sekali pelaminannya. Andai saja Aura punya keberanian untuk duduk di sana berdua dengan Pria yang akan menjadi jodoh Aura." Ucapku dalam hati.

Aku yakin, jodoh terbaik pilihan Allah akan datang suatu hari nanti, saat aku benar-benar sudah siap untuk menikah, membentangkan jalan selebar-lebarnya menuju hubungan yang halal. Mengarungi bahtera rumah tangga bahagia bersama orang yang tepat.

Besok pagi pukul 10 Kak Mea akan melangsungkan Akad Nikah. Malam ini dia tidur lebih awal agar saat bangun pagi Kak Mea merasa segar.

***

Pagi-pagi sekali perias pengantin sudah datang untuk merias wajah Kak Mea, dia mendandaninya secantik mungkin di hari bahagia dan bersejarah ini.

"Ma syaa Allah. Cantik banget Kakak." ucapku pada Kak Mea.

"Iya donk, siapa dulu yang make-upin." ucap Kak Lala perias pengantin.

"Iya sih, tapi cantiknya Kak Mea bukan hanya faktor make-up, faktor orang juga itu. Hehe." sahutku dengan cengengesan.

"Aura tidak mau sekalian Kakak make-up. Mana tau nanti ada yang kepincut sama Aura, bisa cepat-cepat nyusul Mea menikah."

"Terima kasih atas tawaran Kakak, tapi Aura tidak pernah make-up, takut nanti jadi aneh wajahnya. Aura mau natural saja."

"Aura tidak perlu make-up juga sudah banyak yang naksir, dianya saja yang belum mau buka hati." ucap Kak Mea.

"Namanya juga usaha, supaya nanti Kakak bisa dapat job lagi di sini. Haha." sahut Kak Lala sambil tertawa.

"Oalah, itu toh alasannya." ucap Kak Mea.

"Iya, tidak ada salahnyakan? Namanya juga usaha. Haha." ucap Kak Lala.

"Hahahahhh." aku hanya balas dengan tawa.

Setelah Kak Mea selesai make-up dan memakai baju kebaya putih, aku menuntunnya menuju tempat Ijab Qobul. Disana sudah ada Ayah, para saksi dan juga Ustadz.

Aku mengikuti semua tahap demi tahap, itung-itung menambah ilmu. Jika tiba giliranku nanti, aku sudah tau dan tidak terlalu gugup.

Kak Mea terlihat sangat canggung dan malu-malu saat duduk di sebelah Bang Rafli. Mungkin karena jarang bertemu membuat Kak Mea belum terbiasa berada di sisi Bang Rafli.

Setelah selesai Ijab Qobul, aku pergi menghampiri Ayah. Bertanya kabarnya, kabar Ibuk, juga kabar kedua adik-adikku. Setelah itu Ayah langsung pulang.

Kemudian aku menemani Ibu duduk di meja tamu. Menyambut setiap orang yang datang dan langsung mempersilahkan mereka masuk dan mengambil makanan.

Aku tatap wajah Ibu, terlihat sangat lelah tapi masih tetap saja bisa beramah-tamah dengan semua tamu undangan.

"Bu, Ibu sudah makan siang, Bu?" tanyaku.

"Belum, sebentar lagi Ibu makan, ini masih ada tamu yang datang. Ibu segan kalau tidak di sambut."

"Iya ya, cukup banyak juga tamu yang memenuhi undangan kita ya, Bu. Kalau begitu Adik ambilkan nasi Ibu ya, Ibu di sini sambil makan."

"Iya, boleh juga. Kamu juga makan ya, Nduk." pinta Ibu.

"Baik, Bu." sahutku. Kemudian aku beranjak dari tempat dudukku dan segera menuju meja hidangan.

Aku ambil satu persatu makanan yang menurutku sangat sedap. Tapi tidak terlalu banyak, takut mubazir kalau tidak habis. Setelah mengambil dua porsi makanan, aku pun kembali ke tempat Ibu.

"Ini, Bu. Enak-enak menunya." ucapku sambil duduk lagi di sebelah Ibu.

"Terima kasih, Nak. Banyak juga ini."

"Kebanyakan ya, Bu?"

"Tidak apa-apa. In syaa Allah bisa Ibu habiskan. Tadi pagi Ibu juga belum sarapan."

"Loh, kenapa Ibu tidak sarapan?"

"Tidak keburu."

"Jangan begitulah, Bu. Kalau tidak makan nanti habis pesta Ibu malah tepar."

"In syaa Allah Ibu kuat. Oh ya, Ayahmu mana?"

"Sudah pulang dari tadi, Bu. Ibuk sama adik-adik juga tidak datang ke sini." jawabku.

"Kenapa begitu? Inikan hari pernikahan anaknya."

"Mana Adik tau, Bu. Biarlah, Bu."

Kemudian kami hanya diam dan fokus pada makanan masing-masing. Aku pun tidak tau apa yang ada di dalam fikiran Ayah. Jika Ibuk tidak mau datang ke sini aku sih nggak masalah, tapi kenapa Ayah juga nggak betah? Padahal di sini juga banyak saudara-saudara dari belah Ayah. Nenek, Bi Yana dan juga lima saudara kandung Ayah yang lainnya juga ada di sini, bahkan tadi malam Nenek dan Bi Yana menginap di rumah kami.

Ibu sudah memaafkan Nenek dan Bi Yana. Mereka juga sudah berubah dan sangat baik terhadap kami.

Aku lihat Kak Mea sudah beberapa kali ganti baju dan foto-foto di pelaminan bersama suaminya, pasangan halalnya.

Sesekali aku dan Ibu ikut berfoto bersama mereka. Begitu juga dengan sepupu dan saudara-saudara kami. Gambar ini nantinya akan menjadi kenangan yang indah.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, kantukku pun sudah datang. Lelah sekali rasanya hari ini, biarpun aku tidak banyak bantu-bantu.

Aku mendatangi Ibu dan memberithukannya kalau aku sudah ngantuk dan lelah. Lalu Ibu menyuruhku masuk ke dalam dan tidur. Agak segan sih, tapi mau bagaimana lagi, jika terus aku paksakan aku takut Asmaku akan kambuh karena terlalu capek.

Sesampainya di kamar aku langsung mengganti pakaianku. Kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu' sebelum tidur.

Masih terdengar suara musik diluar, "Mungkin masih beres-beres." ucapku dalam hati. Tidak menunggu lama, begitu ragaku terbaring di katil akupun terus tertidur.

1
Aulia Afni
karyanya bagus Thor, tp knpa ga di lanjutkan lagi ceritanya
Aulia Afni
kok ga ada lanjutannya kak...
Nuryuniati Haryono
baik.. jalan ceritanya menarik, putus cerita nya agak kaget.. ya.. mendadak
Saroh Saroh
lagi penasaran sama ceritaxa zara dan zayn
rrha🖤: Terima kasih sudah mebaca tulisan saya. kelanjutannya In syaa Allah segera hadir. ditunggu ya kak. 🙏🏻 jangan lupa bantu like dan vote juga. terima kasih 🥰
total 1 replies
Saroh Saroh
lanjut kak
Elis Holisoh
sangat bagus
Nuri 73749473729
lanjuutt lagiii
eka noviasih
lanjutan nya sangat dinanti kakak
eka noviasih
akhirnya aku menemukan kelanjutan cerita ini
Nuri 73749473729
lanjjuutt
Nuri 73749473729
lanjuutt
Nuri 73749473729
harusnya jangan langsung dipertemukan dengan arumi... harusnya beritahu om airnya dulu zara apa cerita ke ayah rizky dulu lanjuut
Nuri 73749473729
lanjuuttt thorr jangan lama2 makin penasaran aja...
Dedah Sucianah
Jangan jangan itu Arumi
Listinawaty Damanik
mantaf
Dedah Sucianah
kayaknya bukan Arumi tapi kakaknya kasian dong Arumi
Dedah Sucianah
jangan jangan itu kakaknya kasian Arumi
Nuri Nurianti Nurianti Nurianti
wah..jangan2 zayn memang saudaranya arfa...
Nuri 73749473729
jangan lupa extra part nya dong thorr
Nuri 73749473729
lanjuutt yg bnyak2 dong upnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!