Kemala seorang wanita belia, yang sudah menjanda dua kali, semua suaminya meninggal secara misterius.
Takdir mempertemukan dia dengan seorang pria dikala hatinya masih merasakan sakit dan trauma terhadap pernikahan. Serta bayang bayang dari masa lalu yang masih terus mengejarnya.
Akankah cinta pria itu dapat menyembuhkan lukanya atau Kemala akan menjada untuk ketiga kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
Sudah tiga hari Kemala di rumah Mimi, hanya berbaring di kamarnya, berjalan dan bicara seperlunya.
Seperti hari ini, Kemala masih dengan tatapan kosong, duduk di atas ranjang sambil berselonjor kaki di atas ranjangnya.
"Kemala, makan yuk," ujar Mimi, dia membawa semangkok bubur hangat untuk Kemala.
"Terima kasih, Mba," Kemala mulai menyendok bubur itu kedalam mulutnya, hambar seperti dirinya. Dia yang terus menelan Tanpa merasakan.
Mimi hanya menghela nafasnya, melihat keadaan Kemala, kalau buka karena uang, malas rasanya merawat orang stres.
Setelah selesai makan Mimi, meraih mangkok di tangan kemala. tak banyak yang gadis itu makan. hanya sepertiga dari isi mangkok itu, lalu Mimi keluar dari kamar itu.
Tap...tap..
suara langkah berat, mulai masuk rumah yang tak terlalu besar itu.
"Mana Kemala," seorang pria dengan wajah tegasnya bertanya pada Mimi.
"Akhirnya Boss datang juga. Kemala di dalam kamar, lagi melamun Bos," ucap Mimi santai.
"Bagaimana keadaannya," imbuhnya lagi.
"Bos Arman ga usah khawatir, dia baik, hanya masih teringat Dion,"
"Jangan panggil namaku, "Hardik Arman.
"Ma-maafkan saya," ucap Mimi terbata, mendapatkan tatapan tajam dari Bossnya.
Sementara di kamar. Kemala sedang meringkuk di ujung kamar, suara yang bicara di luar kamarnya. Kemala kenal dengan baik suara laki laki yang sedang berbicara dengan Mimi. Kemala meringkuk sambil menutup kedua telinganya.
"Tidak, tidak.. tolong jangan," mulut Kemala bergumam lirih.
"Ampun.. ampun.. Kemala tidak mau,.. Kemala..hiks.. hiks.." Kemala terus bergumam. air matanya mulai berderai.
"Pergi.. aku harus pergi dari sini, aku harus pergi," Kemala menatap pada jendela terbuka yang cukup tinggi.
Perlahan Kemala berdiri, mengambil sebuah kursi untuk berpijak, perlahan Kemala mulai memanjat naik.
Bukk
Kemala terjatuh di sisi lain tembok. tak perduli tubuhnya yang baru saja terhantam tanah. pikiran Kemala hanya satu, dia harus segera pergi. Kemala segera berlari ke arah jalan besar.
Ceklek.
Muka Mimi yang awalnya sumringah langsung pucat pasi, melihat kamar kosong. Dua bangku tersusun di samping jendela.
"Sialan," umpat Mimi, dia tak menyangka, Kemala punya keberanian untuk kabur.
Mimi segera keluar kamar, di menghadap Boss yang sedang menunggunya.
"Boss, Kemala melarikan diri," ujar Mimi dengan muka panik
"Dasar ga becus," hardik Arman.
Plakk
Arman melayangkan tamparan keras di pipi Mimi.
"Cepat, cari dan temukan dia," Arman kembali duduk, mengusap wajahnya dengan frustasi.
"Baik Boss," ujar Mimi, dengan secepat kilat dia pergi, sambil memegangi pipinya yang merah.
"Kau masih ingin bermain denganku rupanya, kita lihat sampai dimana kau akan bermain kejar-kejaran denganku," senyum mengerikan mengembang di bibirnya.
Kemala terus berlari dengan kaki polosnya. masuk ke sebuah gang kecil antara dua rumah, Kemala duduk meringkuk, mencoba bersembunyi, dada naik turun. dari kejauhan tampak beberapa orang yang berlari, dari arah yang sama. Kemala semakin ketakutan.
chit..
sebuah mobil pick up berhenti tak jauh dari Kemala bersembunyi. sang sopir turun dari mobil, lalu berjalan ke sebuah warung di seberang jalan. Kemala berjalan mengendap-endap. menyusup ke dalam terpal yang menutupi bagian bak belakang mobil.
Tubuh kecil Kemala menyelusup di antara tumpukan karung yang berisikan sayuran.
"Sial kemana wanita itu," ujar seorang laki-laki yang.
"Boss bisa marah besar,"ujar seorang pria, sambil menendang ban mobil di sebelahnya.
Kemala membungkam mulutnya sendiri, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, tubuhnya sudah gemetar hebat.
Mas Dion, tolong Kemala. Tolong! teriak Kemala dalam hati. air mata Kemala sudah meleleh
"Cepat cari lagi,"
langkah orang itu terdengar menjauh.
Bremmm..
Mobil pick up itu mulai melaju.
*****
Seorang laki-laki sedang berkutat dengan pekerjaannya, tak pernah dia mengeluh sebanyak apapun pekerjaan yang ada di mejanya.
"Woy..nunduk aja loe, cari cewek sono," ujar Damar sambil meletakkan undangan di hadapan Galuh.
"Jangan mulai Damar, ini kantor yang sopan kalau ngomong," ujar Galuh tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
"Sorry Bray, ini waktu makan siang, Gua bukan bawahan loe sekarang," ujar Damar.
Galuh melihat jam rolex yang melingkar di pergelangan tangannya. Benar saja jarum kecil itu sudah menunjukkan pukul 12. Galuh menghela nafasnya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Undangan sapa lagi," Galuh melirik kartu berwarna merah dengan pita emas melilitnya.
"Alex, anak sebelah," Ujar Damar.
"Alex," pekik Galuh.
"Lo mau bikin telinga gua sakit ya, teriak segala,"
"Gua cuma heran aja,"
"Kenapa heran, kali udah jodoh ngapain musti di tunda, emang loe, kenal cewek aja kagak mau,"
"Mungkin bener kata Mama Shinta, loe.. suka sama terong,"
"Brengsek Lo," ujar Galuh sambil melotot.
"Lha gimana Gua ga curiga, seumur umur gua temenan ama loe, belum pernah gua lihat loe jalan ama cewek," Damar melihat Galuh meremehkan.
"Loe belum lihat, bukan berarti gua ga pernah," elak Galuh, padahal memang dia tidak pernah sama sekali.
"Terserah Anda Tuan, jam makan siang telah selesai saya permisi dulu," ujar Damar sembari bangkit dari duduknya. lalu melangkah keluar ruangan Galuh.
"hemm," Galuh kembali berkutat dengan berkas berkas di mejanya.
Hari berlalu begitu cepat, matahari sudah mulai kembali ke peraduannya, sebagai besar karyawan sudah pulang ke rumah mereka, tapi tidak dengan Presdir muda kita, sejak papanya meninggal, Galuh memegang penuh perusahaannya. dia selalu berkerja keras, dia tidak ingin mengecewakan Mamanya. bukan hal mudah memimpin perusahaan di usia mudanya.
Banyak investor yang meragukan kemampuannya, namun seiring berjalannya waktu dengan kerja keras dan ketekunan, Galuh membuktikan kemampuannya.
Seorang wanita paruh baya, duduk santai di ruang keluarga. sesekali dia melirik ke arah jam dinding.
Bremmm Bremmm
Shinta segera pergi ke ruang tamu, dia hafal betul suara mobil anak laki-lakinya.
"Galuh gimana?"
"Gimana apa Ma," ucap Galuh kesal. baru saja dia sampai rumah, sudah di todong pertanyaan Mamanya.
"Udah satu bulan lebih ini, mana cewek kamu," ucap Shinta dengan wajah penuh harap.
"Astaga, Ma, kan masih satu bulan. masih ada dua bulan lagi," ujar Galuh sambil mengendorkan dasinya.
"Ck.. tiga bulan itu untuk menikah, jadi sebelum tiga bulan kamu harus bawa cewek kamu, ga mungkin mempersiapkan pernikahan dalam seminggu,"
Rahang Galuh hampir jatuh, mendengar ucapan Mama cantiknya.
"Dalam seminggu bawa dia ke rumah ini, kalau tidak terima siapapun calon yang Mama
pilih, ok !" ujar Shinta, lalu melangkah pergi meninggalkan anaknya sendiri.
Galuh hanya bisa mengelus dadanya, kepalanya pusing. kemana dia harus mencari seorang gadis yang akan dia perkenalkan pada Mamanya.
Galuh duduk di sofa matanya terpejam sejenak. sekilas wajah sendu wanita yang di hampir di tabrak nya terlintas di benaknya.