Reina tak menyangka kalau pria bernama Gerald itu berani melamarnya, Pria abg itu berani melamar wanita itu di depan teman-teman sekolahnya.
Gerald memang tergila-gila pada Reina,Tetangga nya yang bekerja sebagai notaris di kantor pemasaran Grand wisata Bekasi.
Siapa yang gak tertarik pada Reina? Cantik, baik, pintar, dan lembut hal itulah yang membuat Gerald jatuh cinta pada Reina.
Awal nya Gerald dapat penolakan dari Reina tapi tak menyerah dan pantang mundur.
Pada akhir nya, Reina luluh juga oleh kekuatan cinta abg tampan itu dan mau menerima lamaran pria muda itu dengan hati bahagia.
Tapi kebahagiaan itu tidak di rasa oleh Risa gadis abg yang memiliki hati buat Gerald.
Diam-diam dia ingin menyingkirkan Reina dari kehidupan Gerald.
Bagaimana nasib Reina selanjutnya? Kebahagiaan apa yang di rasa Reina setelah menikah dengan abg? Apa yang membuat Reina kagum pada Gerald?
Penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmanika Kumalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana picik.
Risa mengangguk dengan keyakinan dia melipatkan kedua tangannya di dada, tubuhnya yang meliuk indah itu terlihat jelas saat dirinya memakai baju terusan ketat warna putih sepaha.
Dani tak yakin, lalu dia memandang penuh tanya ke wajah Risa.
"Kau mencintai kak Rhei kan?" Selidik Risa seolah tahu yang di pikirkan Dani.
"Iya..sih, tapi aku terlambat karena dulu aku sudah melepaskan nya karena dia cacat." Sesal Dani.
"Belum terlambat, kak."
"Maksudmu?" Tanya Dani, tak mengerti.
Risa tersenyum miring.
Kediaman pak Handouo.
Akhirnya motor Gerald sudah mendarat dengan mulus di halaman rumah Rheina....alah!
Lalu kedua orang tua Rheina menyambut calon menantunya itu.dengan ramah dan dengan sopan Gerald mencium kedua tangan orang tua Rheina takzim.
"Gak usah, bu matur nuwun sanget, saya harus buru-buru pulang takut kemaleman." Tolak Gerald sambil mengatupkan kedua tangannya,sopan saat bu Handoyo menawarkan nya makan bersama ayah Rheina dan Rheina.
Bu Handoyo pun tak memaksa, lalu dengan sopan Gerald pamit pada kedua orang tua Rheina dan Rheina sendiri.
"Rhei, antarkan Gerald dulu, Nduk." Pesan bu Handoyo, lembut.
"Nggih,ma."
Kembali pada Risa dan Dani.
"Maka itu aku akan kembalikan kak Rhei kepadamu, kak sedangkan aku, bisa bebas bersama Gerald." Gumam Risa, percaya diri.
"Lagipula ya..,mana cocok Gerald dengan kakak Rhei, kak Rhei itu pantas nya sama yang seumuran." sambung Risa, bersungut.
"Bener juga." Gumam Dani, membatin.
"Oh..iya kapan rencananya?"
kediaman keluarga Wiro...
"Bu Gerald isih capek lho..bu, pertanyaan nya besok kenapa?" Gumam pak Wiro sambil geleng-geleng kepala.
"Ayo..le, masuk, lalu mandi ganti baju, makan lalu tidur."
"nggih, pak."
Gerald membuka kaos kakinya melepas sepatunya dan menaruh di rak sepatu berbentuk laci, iyalah..masa' rak baju?he..ee
"Oh..iya..pak, kemana Rendi dan Guntur?" Tanya Gerald sambil celingak-celinguk.
"Mereka sudah bobok." Jawab pak Wiro enteng.
"kok..cepet amat, pak?"
"Ya...mungkin mereka capek tadi pulang sekolah mereka main playtasion segala." Sahut pak Wiro.
"Oh...pantesan." Gumam Gerald.
"Ya..udah kamu mandi dulu sana, biar seger." Perintah pak Wiro.
"Iya, pak."
Oh...iya...besok Gerald izin dulu gak sekolah." Kata Gerald, tiba-tiba sambil mengambil handuk warna orange polos.
"Lho..kenapa?" Tanya bu Wiro, cemas.
Gerald menarik nafas sejenak.
"Aku sama Rheina mau.nyari kartu undangan, bu yang langsung bisa cepat cetaknya." Sahut Gerald.
"Rencana mau undang siapa?" Tanya pak Wiro.
"Rencana aku mau ngundang guru-guru aku dan teman-temanku, Rheina juga mengundang atasan ďan rekan kerjanya."
"Oh..gitu."
"Kalau gitu undang juga rekan kerja bapak ya termasuk...."
Belum bicara pak Wiro.sudah di tatap dengan tajam sang istri sambil tangan nya memegang pisau daging tentu saja pak Wiro menelan ludah ketakutan.
"Sip, pak."
Kediaman keluarga Handoyo....
"Besok kami mau mencari kartu undangan, ma rencana nya kita berdua mengundang guru, kepala sekolah, dan teman-teman sekolah Gerald kalau aku bos dan rekan kerja." Tutur Rheina di saat santai di ruang tv bersama sang mama.
"Jangan lupa umdang tetangga, temen-temen arisan mama juga." Pesan bu Handoyo.
"Ya....itu pastilah, ma."
"Jangan lupa undang juga kolega papa." Pak Handoyo tak mau kalah.
"Sip, pa, tinggal kasih nama aja ke aku."
Di tempat lain...
"Bagaimana kalau gagal?"Tanya Dani sambil tersenyum mesum saat melihat tubuh Risa yang menggoda di tambah kulit Risa yang putih dan halus.
Risa menelan ludah, gelisah.
"Bagaimana kalau rencanamu itu gagal?" Ulang Dani sambil mendekatkan wajahnya pada Risa tentu saja Risa kaget dan mundur.
"A...aku pastikan berhasil, kak." Gugup Risa.
Dani menarik nafas.
"Baiklah, kali ini aku percaya padamu." Kata Dani penuh penekanan.
"Kallau rencanamu itu gagal, kau akan mendapat hukuman dariku." Bisik Dani, mmenekan.
"Apa?"
Dani tak.langsung menjawab, air liurnya seolah menetas saat melihat lekukan tubuh Risa yang sempurna.
"Menjadi budak nafsuku." Jawab Dani, sambil berbisik.
Mendengar itu Risa terjengkit kaget.
"Apa?"
Bersambung...