Sequel "Dua Suami"
Hiatus
Mencintai seorang janda mungkin sudah menjadi sebuah kutukan untukku. Setelah ditinggal istri dan anaknya yang masih dalam kandungan membuatku menutup hatiku rapat-rapat.
Hingga pertemuan dengan wanita hamil tanpa suami membuatku teringat dengan mantan istriku yang sudah meninggal membuatku ingin sekali berada di sisinya untuk menjaganya.
Namun lambat laut bukan perasaan ingin melindungi, tapi mencintainya membuatku mampu membuka hatiku yang telah lama tertutup rapat.
Namun aku harus dengan rela melepaskan saat bayi yang ada di dalam kandungannya membuatku harus rela menyerahkan pada suaminya yang ternyata adalah sepupuku sendiri. Oh tidak, dunia itu ternyata begitu sempit.
Saat diriku ingin sekali menutup hatiku rapat-rapat lagi. Wajah yang sama namun orang yang berbeda membuat kami dekat. Apalagi dia juga seorang janda dengan satu putra.
Apakah aku bisa membuka hatiku untuknya? Meski sifat dan wataknya yang berbeda, namun wajahnya membuatku ingat dengannya?
Maaf semuanya, sementara Hiatus dulu. Aku sedang menyelesaikan karyaku yang lain. 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arazy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Bagh bugh bagh bugh
Suatu halaman kampus elite sedang ada banyak mahasiswa dan mahasiswi berkerumun mengerubuti dua orang pria yang baku hantam. Teman masing-masing para pria itu berusaha melerai keduanya namun tampaknya tenaga keduanya sama-sama tidak ada yang saling mengalah.
Kedua mahasiswa itu terus baku hantam meski seorang gadis berusaha berteriak dalam tangis dan ketakutan serta kepanikan pada kedua pria yang sangat dikenalnya. Gadis yang mencoba melerai keduanya tampaknya tetap tak berhasil hingga keduanya terus beradu jotos. Para dosen dan rektor langsung mendatangi kerumunan untuk melerainya.
Hingga salah seorang menghentikan pukulannya namun salah satu diantaranya tetap berusaha melawan meski tangan dan kakinya bergerak-gerak seperti orang yang tetap berkelahi dan tak pantang menyerah. Keduanya mengusap darah yang menetes di bibir mereka yang sobek.
"Apa-apaan ini?" teriak salah seorang dosen kesiswaan yang bertanggung jawab menangani hal-hal tentang kedisiplinan para mahasiswa ataupun mahasiswi.
Bram dan Ken terdiam tak ada yang menjawab teriakan dosen itu untuk berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada mereka. Entah terlalu malu atau terlalu sibuk dengan rasa kesakitan masing-masing akibat adu jotos itu. Ken lebih terlihat emosi dan tak mampu mengendalikan diri. Sedang Bram lebih memilih bersikap dewasa untuk tidak terbawa emosi berusaha mengendalikan emosinya.
Namun umpatan, teriakkan, hinaan dan cacian yang dikeluarkan Ken membuat Bram mau tak mau meladeni emosi Ken. Hingga adu jotos kembali hendak terjadi lagi membuat keduanya kembali emosi. Namun segera ditahan oleh para mahasiswa lain agar tidak terjadi baku hantam lagi.
**
"Ada yang bisa menjelaskan?" tanya dosen itu di ruang khusus kesiswaan untuk mengatasi mahasiswa dan mahasiswi 'nakal'. Keduanya kini duduk di sisi kanan dan di sisi kiri dosen.
Setelah melerai mereka dengan susah payah dan sedikit paksaan. Dan setelah diobati oleh petugas klinik pula. Keduanya saling menatap bermusuhan karena permusuhan masih terlihat jelas di mata mereka. Jika saja ada laser yang keluar dari mata mereka, mungkin sudah saling bertemu.
Sedang Lena si sumber masalah yang menyebabkan kedua mahasiswa itu baku hantam ditempatkan di ruang terpisah yang masih dekat dengan ruang kesiswaan tersebut diintrogasi terlihat shock dan ketakutan. Air matanya masih menetes meski sudah tak menangis histeris seperti di halaman kampus tadi demi memisahkan kedua pria yang berarti dalam hidupnya itu.
Satu adalah kekasihnya dan satu adalah sahabatnya sejak sekolah menengah atas. Lena pun merasa bersalah karena menjadi penyebab dua pria itu bertengkar karena dirinya.
Kejadian yang menggegerkan kampus itu mendadak langsung viral di kalangan kampus. Meski tak ada yang berani meng upload nya ke media sosial karena pengaruh masing-masing keluarga Bram maupun Ken yang tak bisa dianggap sebelah mata.
Kedua orang tua pria itu cukup berpengaruh di lingkungan masyarakat serta para pebisnis di kalangan para konglomerat di negara itu. Sejak awal baku hantam tak ada seorangpun berani melerai juga karena pengaruh keluarga mereka masing-masing. Para dosen dan rektor pun begitu.
Kalau saja keduanya tak sampai babak belur seperti itu, dosen lain pasti akan segera melerai hanya dosen yang menangani kesiswaan yang berani melerai keduanya karena merasa bertanggung jawab.
"Apa kalian akan terus bungkam? Tanpa ada salah seorang yang menjelaskan?" teriak dosen itu menatap keduanya bergantian yang masih diliputi aura kemarahan yang masih kental sarat akan emosi.
Keduanya tetap tak bergeming mengalihkan pandangannya masing-masing ke arah lain demi menghindari tatapan permusuhan dari keduanya.
"Aku akan memanggil orang tua kalian." teriak dosen itu lagi.
Namun keduanya tampak masa bodoh dengan apapun yang akan dilakukan oleh dosen mereka itu tanpa rasa cemas atau takut dengan murka orang tua masing-masing.
TBC
Masih ada yang bacakah?
Beri komentar dan dukungannya dong, please 🙏🙏
Maaf jarang up tiap hari, sedang ada sedikit perlu. Maaf...🙏🙏
lanjuuut