Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Hayy semuanya 🤗
Author pengen coba buat novel yang baru nih, kalau nggak ada yang suka entar author hapus.
Author cuma mau nyoba doang siapa tahu ada yang suka lagi pun entah kenapa author pengen buat kek gitu astaga 😂
Oke, sinopsisnya kek gini..
"Tidakkkkkkkk aku mohon hentikan". Teriak seorang wanita cantik dari dalam kamar.
Suara tangisan yang menyayat hati dari wanita cantik itu tak menghentikan seorang pria tampan yang bersusah payah melepas pakaian si wanita. Suara tangisan yang memilukan hati sama sekali tak menggoyahkan hati nurani pria 25 tahun yang tampan itu.
Obat yang diberikan oleh rekan kerjanya membuat ia tak bisa mengendalikan dirinya. Membuat ia seakan-akan menjadi buta dan tuli.
Srekk
Karena kalang kabut dan ia tak bisa menahan rasa panas yang mengerilya yang semakin menjadi-jadi pada tubuhnya membuat pria 25 tahun ini merobek pakaian wanita cantik itu.
Dalam sekejap mata pria itu memaksa dirinya untuk masuk kedalam wanita cantik itu. Sedangkan wanita itu sudah sangat lelah memberontak. Dia sudah kehabisan banyak tenaga untuk melawan tenaga pria tampan itu. Tetapi sayang apalah daya tenaga seorang wanita dibandingkan pria.
"Hilang sudah hal yang selalu aku banggakan selama ini, aku sudah tak suci lagi aku kotor, aku kotor. Apa yang harus kukatakan pada suamiku kelak. Mama papa hiks hiks maafkan aku". Batin wanita cantik dengan air mata yang terus mengalir.
Entar lagi yahh, author coba buat lanjutin...
Semoga kalian suka, kalau nggak suka bilang aja dikomen entar author hapus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuliyn1508, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Annyeonghaseyo
Maaf yah semuanya author jarang up di sini soalnya kaga ada yang komen jadinya author nggak semangat buat ngetik heheh
Kalau mau lanjut baca, beri komen dan juga like
Happy Reading 🥳
Ethan ia langsung mematikan game online yang sedang ia mainkan. Ia tak mau lagi membuat sang ibu kelelahan dan jatuh sakit. Ia bangun lalu mengambil tas kantung belanjaan ibunya.
"Ayo mom"
"Ahh iya, sebentar mommy akan membayarnya".
"Baik, Ethan tunggu"
Allis berjalan menuju kasir untuk membayar tagihan bermain anaknya. Setelah membayar ia kemudian kembali menghampiri putranya dan berjalan keluar beriringan.
Mereka berjalan dengan Allis yang terus mengelus sayang rambut Ethan. Sedikit lagi mereka akan sampai pintu keluar. Tiba-tiba
Bughh
Sekali lagi Allis menubruk tubuh seseorang membuat ia sedikit terpental dan menjatuhkan barang yang ia beli. Sedangkan Ethan ia memegang erat tangan ibunya.
"Mommy are you oke". Tanya Ethan sambil membungkuk didepan ibunya
"Ahh yes".
Allis merapikan kembali barangnya dan berdiri lalu disusul oleh Ethan yang ikut berdiri.
"Ahh tuan maafkan saya".
Allis ia membungkuk hormat untuk mengekspresikan rasa bersalahnya. Pria yang baru saja masuk itu hanya diam tanpa berkata sepatah kata pun. Lalu
"Nona apakah kau baik-baik saja".
"Tuan lagi, ahh iya saya baik-baik saja"
"Andrew jalan".
"Baik Mr"
"Suara itu". Batin Allis
Allis ia mencoba untuk menatap siapa pria yang ia tabrak. Dan bummm
"Dia pria yang sama, wajahnya, Ethan benar-benar mirip". Batin Allis
"Baik, Nona permisi".
Ucap Andrew lalu berjalan mengikuti jalan bosnya. Allis ia segera mungkin menarik kembali kesadarannya. Dan secepat mungkin menarik tangan Ethan dan berjalan keluar menuju parkiran.
"Mom tanganku sakit".
"Cepatlah Ethan"
"Tapi"
"Masuk".
Tak ada penolakan lagi yang keluar dari mulut mungil Ethan. Ia masuk kedalam mobil mewah milik ibunya. Allis ia berlari secepat yang ia bisa menuju pintu sebelah. Dan langsung saja menancap gasnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Kakinya masih bergetar, ia sudah mendiskusikan segalanya. Otaknya dan hatinya berselisih pendapat hingga membuat ia bingung harus mendengar yang mana. Apakah ia harus mengikuti ucapan hatinya ?, atau mengikuti ucapan otaknya. Dia bingung
"Tidak".
Teriak Allis dengan kencang lalu menghentikan mobilnya ditepi jalan. Ia menjerit histeris yang membuat putranya terkejut bukan main. Ia menangis tersedu-sedu sambil menenggelamkan kepalanya di stir mobilnya.
"Mommy are you oke".
Ethan yang melihat ibunya seperti itu pun menjadi sedih. Dia melepaskan sabuk pengamannya dan menggeser posisi duduknya mendekati ibunya. Dia mengelus sayang rambut ibunya.
"Mommy apakah kau mendengarkan aku".
"Hiks hiks hiks boy".
Allis ia melihat anaknya sedang menatapnya dengan tatapan sedih. Ia menarik putranya kedalam pelukannya dan kembali menangis dengan tersedu-sedu.
"Mommy apakah kau mempunyai masalah ?".
"Now". Allis ia tetap menangis
"Lalu ?".
"Kau harus berjanji pada mommy apapun yang terjadi kau harus tetap bersama mommy".
"Why ?"
"Tak usah banyak bertanya, kau harus mendengarkan perkataan mommy, apa pun yang terjadi kau harus tetap bersama dengan mommy"
Allis ia menatap dalam putranya dengan kedua tangannya menangkup wajah putranya. Ethan yang melihat tingkah ibunya pun menjadi heran. Baru sekarang ia melihat ibunya seperti ini. Tapi apa yang membuat ibunya menjadi seperti ini ?".
"Yes mom, yes i'm promise".
"Ohh boy"
Allis kembali memeluk erat tubuh mungil putranya. Ia benar-benar bersyukur memiliki putra seperti Ethan yang mengerti kemauannya.
"Ayo kita pulang".
"Go"
Allis kembali melanjutkan perjalanan menuju kerumahnya. Ia tak berani mengemudi jika ia belum yakin bahwa ia baik-baik saja. Ia tak mau mengambil resiko apalagi hidupnya bersama dengannya.
Satu jam berlalu ia sudah sampai didepan gerbang pagar rumahnya. Dua membunyikan klakson mobilnya dan terlihat seorang satpam berlari dengan tergopoh-gopoh menuju gerbang.
"Nyonya".
"Terima kasih"
Satpam menunduk hormat disertai dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Tak kalah juga dengan Allis ia tersenyum kepada satpam itu yang sudah mengabdi padanya tiga tahun lamanya.
Ia memarkirkan mobilnya tepat didepan pintu rumahnya. Lalu ia membantu putra kesayangannya untuk membuka pintu mobil sekalian membukakan sabuk pengaman yang masih melekat ditubuh putranya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi Ethan langsung saja turun dan berjalan dengan santai masuk kedalam rumah tanpa menunggu sang ibu terlebih dahulu. Allis, ia tersenyum kecil disertai dengan gelengan kepala. Ia heran baru saja putranya menghangat tapi sekarang lihatlah putranya bagaikan gunung es yang membeku.
"Kami pulang, Bu".
"Bu"
Saat ia masuk kedalam rumahnya Allis ia tak menemukan seorang yang ia cari, ibunya.
"Disini nak, didapur".
Allis ia segera berjalan menuju dapur untuk mencari ibunya ahh tidak maksudnya ibu angkat. Samantha, wanita paruh baya yang dahulu merawatnya dengan baik. Ia tahu semua hal yang dialami oleh Allis.
Samantha menemani Allis saat Allis dalam keadaan hamil. Samantha yang hidup sendirian dirumahnya pun mengajak Allis untuk tinggal bersama dengannya. Kala itu Allis belum mempunyai pekerjaan tetap dan tinggal di rumah sewaan. Awalnya Allis tak menyetujui itu karena ia khawatir adakah Samantha berniat jahat padanya.
Dua minggu sudah berlalu akhirnya mereka kembali dipertemukan dengan keadaan yang diluar dugaan. Samantha, ia kecelakaan di lampu stop depan toko tempat Allis bekerja. Allis pun yang mengaku bahwa ia adalah keluarga korban akhirnya dipercaya oleh polisi.
Allis menemani Samantha hingga berhari-hari dirumah sakit. Allis ia merasa iba dengan keadaan Samantha, hidup sendirian sama seperti dirinya. Akhirnya ia memutuskan hidup bersama dengan Samantha. Dan tanpa ragu mengangkat Samantha menjadi ibu angkatnya. Samantha menjadi salah satu alasan untuk ia tetap bertahan hidup.
"Bu apakah kau sedang memasak ?"
"Ahh iya, ibu sedang memasak makan siang".
"Bu, jangan terlalu memaksakan diri Allis mampu membayar 2 atau bahkan lebih asisten rumah tangga asalkan ibu tak bekerja".
"Hmm tidak nak, ibu merasa sehat jika harus bekerja seperti ini".
"Tapi Bu, lihat wajah ibu terlihat begitu pucat"
"Tidak, itu hanya perasaanmu saja"..
"Bu ayolah jangan keras kepala seperti ini"
"Hmm nak ibu tak apa-apa, oh ya kemana kau membawa Ethan ?".
"Ah ibu mengalihkan pembicaraanku saja, tak kemana-mana hanya berkeliling saja".
"Benarkah tak adakah pria tampan yang mengejar putri kesayangannya ibu ini secara kan putri ibu begitu cantik".
"A..."
Ucapan Allis terhenti kala ia mengingat bahwa ia bertemu dengan seseorang yang sangat ia hindari.
"Allis".
Samantha ia bingung melihat perubahan wajah Allis. Ia memanggil Allis hingga dua kali tetapi tak ada sahutan sama sekali. Hingga ia menyentuh lembut pundak Allis yang membuat Allis terkejut kaget.
"Ahh kenapa Bu ?".
"Apakah kau melamun"
"Hmm tidak".
"Tetapi ibu sudah memanggilmu beberapa kali tetapi kau tak mendengarnya".
"Ahh mungkin Allis hanya kurang fokus karena Allis terlalu kelelahan".
"Allis akan mandi sebentar".
Allis berjalan menjauh meninggalkan Samantha didapur sendirian. Tetapi
"Allis"
"Hmm"
"Apakah kau bertemu dengan seseorang ?"
"Hmm tidak bu, dan ya kami bertemu dengan banyak orang diluar sana"
"Allis tak bisakah kau bercerita".
"Ibu sudah lama bersama denganmu, jadi ibu tak pernah salah dalam mengenali setiap raut wajah yang kau tunjukkan"
"Allis hanya bertemu dengan seorang teman"
"Benarkah ?"
"Hmm iya".
"Allis kau tak bisa berbohong dariku"
"Huhh baiklah"
Allis kembali berjalan masuk kedalam dapur. Ia berjalan dengan lesu tak tertinggal matanya pun sudah memerah.
"Hey nak apakah kau baik-baik saja ?"
"No"
"Why ?".
"**But.......
Bersambung____-
Hay guys huh keknya author bakalan up disini rajin-rajin soalnya bentar lagi novel author yang satunya bakalan tamat.
Buat yang suka baca disini tolong tetap stay yah jangan lupa kasih like sama komen juga..
Terima kasih 😘
Salam Hangat Author 😘
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨**
sehat selalu Thor moga up nya makin banyak