NovelToon NovelToon
Heart Darkness

Heart Darkness

Status: tamat
Genre:Contest / Cintamanis / Badboy / Romantis / Pengganti / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: Senja Cewen

Aruhi Amarante ditinggal pergi ibunya saat dia masih kecil dan hidup bersama sang ayah yang bekerja sebagai asisten seorang selebritis senior papan atas dan cukup terkenal.

Suatu ketika tejadi kecelakaan tak terduga membuat sang Ayah meninggal dunia dan tinggalah Aruhi sebatang kara.

Aruhi kecil kemudian diam-diam dibawa ke Durante Land dan dibesarkan oleh pengasuh tuan besar Durante di salah satu mess kecil di Land tersebut. Aruhi berjuang mengatasi kondisi setengah sosiofobia yang dialaminya juga harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya.

Takdir lalu membawanya ke hadapan Elgio Durante. Pria pusaka Durante Land. Satu-satunya pewaris langsung Durante Land yang tersisa. Pria itu sulit jatuh cinta dianggap sebagai homoseksual oleh walinya.

Novel ini juga menceritakan kisah seorang Mafia bejat dengan masa lalu buruk yang jatuh cinta hampir gila pada seorang gadis terhormat dan pemberani berusia 17 tahun yang tak lain adalah anak Perempuan Durante.

Semua karakter dalam Novel ini adalah pemeran utama.
Kisah cinta para Mafia Familly Club yang tergambar di dalam novel ini di atas episode 20, sedikit banyak mengandung konten dewasa, kekerasan dan umpatan. Jika tak bisa menanggung Baper silahkan jangan membaca....


*****

Mengutuk keras segala macam bentuk plagiat karya, jika tak bisa berimajinasi harap tak mencuri karya orang lain!


Cara dukung Author adalah beri kritik saran yang membangun.
Jangan lupa tinggalkan like, vote dan favorit.

Salam hangat dariku ...

Ja'o Mora Ne'e Masa Miu (I Love You Full)

Senja Cewen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Cewen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 Hantu Jepang Sadako ...

Elgio menghitung ....

Baru dua hari di rumah Aruhi, ia sudah mulai sekarat. Ingin sekali kabur tetapi takut hukumannya diperpanjang. Tak ada apapun di rumah kumuh ini. Tanpa kesenangan, tanpa hiburan, terlebih udara rumah ini sangat pengap dibanding udara di kandang kuda Durante Land. Elgio yang terbiasa tidur di kamar mewah dan nyaman harus tidur gelisah di sofa sempit ruang tengah Aruhi. Kaki-kaki lonjong terpaksa bertekuk kesemutan sepanjang malam.

Sementara Aruhi betah bertapa dalam kamar dan hanya terlihat ketika lapar. Wajah bocah perempuan itu kuyu layu seperti tanaman teratai tanpa air. Ia hanya makan sedikit tak bersemangat. Masakan Danish juga tidak begitu enak, beda jauh dengan masakan Bibi Maribel.

Elgio bolak-balik di atas sofa sebab dengkuran Danish menderu seperti mesin pemotong rumput di perkebunan. Satu lagi daftar masalah. Televisi sengaja dibiarkan terus menyala untuk meredam dengkuran Danish.

"Aissss, dia tidur atau apa? Itu mulut atau mesin rusak?" keluh Elgio gemas.

Lampu ruangan remang-remang saat pintu kamar Aruhi berderik. Elgio merapatkan selimut menutupi tubuh kurusnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Udara dingin menembus tulang-belulangnya. Sedangkan televisi menayangkan siaran tengah malam tentang perburuan hantu. Kuduk Elgio meremang, kepala membesar. Nyali laki-lakinya menciut.

Elgio berbalik dan mengintip dari celah selimut. Mengapa pintu kamar Aruhi terbuka sedangkan ia tak mendengar langkah kaki kecil Aruhi?

Elgio memutuskan memeriksa ke dalam kamar, berusaha kalahkan rasa takut.

"Aruhi?" panggil Elgio pelan.

"Aruhi?" panggilnya lagi.

Tak ada sahutan. Ia mendorong pintu kamar dan masuk ke dalam. Ruangan itu kosong. Tak ada Aruhi di atas tempat tidur. Jendela kamar tidurpun terbuka dan tirai berayun oleh tiupan angin. Lampu tidur di samping tempat tidur menyala redup.

"Apa Aruhi melompati jendela dan berusaha menemui Benn?"

Elgio kerutkan kening. Tidak mungkin. Ia menggeleng. Aruhi terlalu kecil untuk keluyuran di tengah malam dingin seperti ini. Elgio memeriksa jendela. Ia akan mendengar gedebug tubuh Aruhi saat lompati jendela. Elgio satukan tirai lalu menutup pintu jendela rapat-rapat. Ia berbalik dan ...

"Astaga, ha ... hannn-tuuuu?!"

Elgio melompat ke tempat tidur Aruhi dan terbenam sempurna dibalik selimut. Di pintu masuk seorang gadis kecil pakai dress putih terang dan wajah pucat pasi berdiri kaku. Rambut tergerai ke depan dan poni menutupi separuh wajah.

"Hantu?!" tanya Aruhi dan menekan saklar lampu. Ruangan kamar berubah terang-benderang. "Ini aku ...."

Aruhi menarik selimut Elgio. Bibir Aruhi melengkung samar dapati Elgio tergelung ketakutan dalam selimut.

"Ka - uuu?!" Elgio gertakkan gigi marah. "Darimana saja kau? Berkeliaran dengan wajah seperti itu tengah malam? Aku nyaris berpikir Sadako keluar dari layar televisi."

Bibir Aruhi miring. Ia berpikir keras, "Sadako?"

"Ya ... kau tak tahu Sadako? Hantu Jepang Sadako. Coba Googling, nah, kau mirip jelmaannya. Kenapa tidak mengesot saja tadi? Sekalian saja buat aku mati kaget. Pantasan teman-temanmu tak berani berteman denganmu."

Elgio mengomel panjang lebar sambil menepuk dada coba tenangkan jantungnya yang berdegup kencang.

"Mengapa Kakak ke kamarku?"

"Kau menghilang. Aku kira kau melompati jendela dan pergi mencari Benn. Bikin takut orang saja. Astaga, rumah ini aneh. Pengasuhmu mengorok seperti mesin pengaduk pasir. Sial sekali aku. Semalam kamu dan malam ini Danish."

"Kakak boleh tidur di kamarku. Aku bisa tidur di sofa."

"Tidak! Kau itu cengeng dan kau pasti akan adukan aku pada Ayah. Aisss, model poni macam apa itu? Seperti kumis kambing saja."

Elgio mengacak rambut Aruhi sebelum kembali ke sofa ruang tamu. Mulut Danish menganga lebar. Pengasuh itu bahkan tak terganggu oleh keributan yang Elgio ciptakan. Muncul keinginan untuk menyumpal mulut besar Danish dengan tempayan air. Liur ilerannya bahkan meleleh jatuh dan mengalir sampai jauh. Elgio bergidik jijik.

TV dimatikan. Terlalu banyak mengoceh lama-lama membuatnya ngantuk kemudian jatuh tertidur pulas. Semoga seminggu segera berlalu dan dia bisa pulang ke Durante Land. Semoga ketika bangun besok, mukjizat datang. Tiba-tiba saja seminggu telah lewat. Jika tak terjadi, terpaksa ia harus menelpon Ayah besok dan minta ganti hukuman. Lebih baik jadi pekerja di kandang hewan. Setidaknya dia bisa makan enak dan tidur nyenyak malam hari di kamar tidurnya.

Suasana perumahan begitu sepi menjelang tengah malam. Hanya sesekali terdengar suara kendaraan di jalan utama di depan sana.

Di luar rumah beberapa pria berpenutup wajah mengendap-endap masuk pekarangan. Mereka berbagi jalur dan mulai tumpahkan isi jirigen ke seputaran rumah tanpa seincipun lolos. Seseorang di antara mereka mengangguk memberi tanda dan seorang lainnya mulai nyalakan api. Mereka lalu diam-diam pergi dari sana.

Api merambat mula-mula pelan. Makin lama makin berkibar. Dalam sekejab berkobar-kobar saat mengenai dinding rumah Aruhi. Angin bertiup membantu api meraja lela. Lidah-lidah rakusnya menjilat kesana - kemari mencari mangsa, melahap semua yang ditemuinya.

Elgio menggeliat saat suhu udara menjadi terlalu panas bahkan sangat panas. Dia menggaruk leher yang telah basah oleh keringat. Saat berbalik kakinya tersengat oleh sesuatu. Mata anak lelaki itu terbuka. Ia terbaring dibawah loteng rumah yang telah terbakar.

Astaga, mimpi buruk apa lagi ini?

Elgio melempar selimut saat menyadari itu bukan mimpi. Ia berteriak panik.

"KEBAKARAN TOLONGGGGGG!!! KEBAKARANNNN!!!"

Danish sekonyong -konyong bangun susah payah dan berlari sempoyongan keluar setelah melihat api merambat ke seisi rumah. Elgio mengekor di belakang Danish. Yang terpikirkan oleh Elgio hanyalah menyelamatkan diri sendiri. Di luar beberapa warga berkumpul dengan selang air berusaha memadamkan api. Suasana hiruk pikuk memecah keheningan di malam itu. Seorang warga segera menelpon petugas pemadam kebakaran. Jika tidak, satu perumahan akan habis dilalap api.

"Yah, Tuhan .... ARUHI?!" seru Elgio cemas saat api telah berkobar sepenuhnya.

"Di mana Puteri kecil Pak Benn?" tanya salah seorang warga.

"Dia masih di dalam .... Tolong! Tolong! Aruhi masih di dalam." Danish pucat pasi.

Seakan tersambet sesuatu, Elgio kembali berlari tunggang - langgang ke dalam rumah, lompati kobaran api langsung datangi kamar Aruhi. Anak itu meringkuk ketakutan di atas tempat tidur.

"Yah, Tuhan. Kau ini bodoh? Kau ingin mati dimakan api?" teriak Elgio marah.

Dia menarik Aruhi pergi ke pintu keluar, tetapi Aruhi menolak pergi karena takut. Terlalu banyak api.

"Aku takut, Kak!" serunya berlinang air mata. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus, akibat suhu panas membara dalam kamar itu.

Elgio berusaha keras menyeret Aruhi turun dari ranjang menuju pintu keluar kamar. Namun, asap dan api menghalangi jalan mereka. Sementara jendela tak bisa dilewati karena api juga berkobar di sana. Aruhi menangis ketakutan. Elgio memeluknya ngeri. Mereka terjebak di kamar Aruhi.

Sirene mobil pemadam kebakaran terdengar samar-samar.

"Dengar Aruhi! Kita akan pergi ke jendela dan kau akan naik ke punggungku lalu melompat keluar."

"Tidak mau. Akuuu takuuttt ... " tangis Aruhi di antara suara kobaran api. Keduanya susah bernapas. Api telah membakar ranjang dan almari Aruhi.

"Kita akan hangus di sini. Kamu mau?!"

"Ayaaahhhh, tolong aku!" teriak Aruhi panik. Gadis kecil itu terbatuk-batuk dan tersengal.

Elgio mulai gemetar dan kembali menarik paksa Aruhi. Mereka harus keluar dari sini, atau mereka akan terbakar hidup-hidup. Itu mengerikan.

Semoga Ayah puas jika aku mati di sini. Elgio mendengus dalam hati.

"Cepat kemari, tulalit!" Elgio meradang saat Aruhi bimbang dan menyeret paksa Aruhi yang menangis ketakutan. Mereka mencapai pintu kamar. Ruang tengah sudah sepenuhnya terbakar. Dan seorang petugas kebakaran terlihat di sana dengan tabung pemadam kebakaran.

"Pak, sini!!!" teriak Elgio kencang. Petugas mendekat. Elgio hendak melangkah keluar pintu ketika tiba-tiba tiang loteng roboh dan jatuh tepat di atas Aruhi. Elgio menarik Aruhi ke dalam pelukannya dan tak bisa hindarkan diri dari hantaman keras balok tepat di pundak dan punggungnya.

Argggghhhhh ....

"KAKAKKKK!!!"

Aruhi pingsan sesaat kemudian dalam lindungan tubuh ringkih Elgio yang juga tak sadarkan diri.

Sementara di sudut lain perumahan. Tiga pria meneguk botol minuman keras bersemangat menonton pertunjukkan itu. Api membumbung tinggi ke langit menerangi pekatnya malam. Salah seorang pria berbicara di telepon.

"Jangan cemas, Nyonya. Eksekusi lancar. Dalam hitungan menit, rumah itu akan berubah jadi debu. Wussshhh ...."

*****************************

Jangan lupa tinggalkan like, komentar, favorit untuk Author.

Senja Cewen...

1
choirotun nisa
kenapa malah part September dan Francis ini yg bikin aq sesenggukan gak berhenti nangis ya😄
choirotun nisa
sementara aq mandi keringat klo di dapur😄
choirotun nisa
pokoknya setiap ada nama bunga dan nama masakan.. pasti aq cek di gugel.. setiap bunganya buat aku terkesima dan masakannya buat liurku meleleh 😄
choirotun nisa
omg.. archilles Lucca.. awal mula tau kamu disini😄
choirotun nisa
duh kak senja.. buruan bikin novel lagi donk.. suka banget sama gaya bahasa novel2 kak senja.. lain dr yang lain.. entah ulang2 berapa kali novel2 yg lain
rayy syiiruup
sakitnya ampun ampun
rayy syiiruup
menangis
rayy syiiruup
cerita yg melowww.. bahasa yg.. ah entah lah.. aku sangat menyukai nya
rayy syiiruup
duh... cinta ugal-ugalan
rayy syiiruup
msh menunggu miss senja up judul baru... merindukan author kesayangan
Melatasa Dwi Cahyati
arch calonnya arumi.. baca berualang kali tetep cinta ama karyamu thor..
bunga cinta
baru di novel ini ada musim bayi, wkwkwk
bunga cinta
dar der dor
bunga cinta
elegan
bunga cinta
tiap ban selalu seru dan menegangkan, sukses buat pembaca puas
bunga cinta
berasa nonton film
bunga cinta
ya salaamm lucu sekali mereka
bunga cinta
ulu ulu
bunga cinta
manis sekali mereka
bunga cinta
oo wowwww
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!