Bercerita tentang seorang gadis SMA kelas 2 bernama Ran. Diam-diam Ran jatuh cinta pada teman barunya bernama Saka. Saka adalah murid pindahan yang memiliki kehidupan yang nyaris sempurna. Cinta Ran pun berbalas. Namun, ternyata ada satu hal yang membuat mereka ngga dibolehkan untuk pacaran lebih dari 30 hari. Sebuah rahasia yang ngga ada satu orang pun di sekolahnya tau tentang kehidupan Ran, dan hal itu membuat Saka sangat penasaran. So, what is Ran’s secret?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
07:35 11Multimedia1
Saka yang baru saja tiba di kelas, langsung melihat ada setangkai bunga matahari kecil di mejanya. Ia pun segera mengambilnya, dan membaca secarik kertas yang menempel di bunga matahari.
Sebuah gambar wajah Saka sedang tersenyum dengan tulisan “Maaf,” dan dibalik tulisannya ada inisial HM.
Saka pun langsung tersenyum melihatnya. Ia sudah langsung tahu siapa si pemberi bunga matahari untuknya. Dan matanya langsung tertuju ke arah Ran yang sedang menggambar di mejanya.
***
10:20 Kantin Sekolah
“Lo mau makan apa?” Tanya Devanya, sembari berjalan bersama Ran menuju kantin.
Ran langsung melihat satu persatu semua jajanan yang ada di kantin. Ia bingung mau makan apa, karena ia bukanlah siswi yang suka jajan di kantin, kecuali jajan choco roll atau choco stick.
“Kalo lo mau jajan apa?” Tanyanya balik.
Dengan cepat Devanya langsung menunjuk jajanan yang ada di pojokan kantin, mie ayam. Tapi yang Ran lihat bukanlah jajanan yang dimaksud Devanya, melainkan
“Saka???” Kedua matanya langsung membesar.
“Yuk.” Ajak Devanya, sambil menarik tangan Ran.
Tapi Ran langsung menahannya.
“Gue tunggu di kursi aja. Lo aja yang kesana.” Jawabnya, beralasan.
Ran tak ingin terlihat dekat dengan Saka selama berada di sekolah. Makanya ia berusaha menghindari pacar sebulannya itu.
“Terus lo mau jajan apa?”
“Gue kenyang. Soalnya tadi sarapan banyak banget.”
“Bener?” Devanya sedikit tak percaya.
“Iya. Beneran gue kenyang.” Jawabnya, seraya mengangkat dua jarinya agar terlihat meyakinkan.
“Oke.”
“Fiuuhh” Hal sesepele ini pun jadi terasa menegangkan ketika ada Saka.
Permainan pacaran dengan Saka membuat hidup Ran jadi terasa tak tenang.
Ia menggoyangkan beberapa kali kepalanya, dan merasa seperti orang bodoh seraya berjalan menuju kursi kosong.
Dan ternyata, dari kejauhan Saka melihatinya dengan terheran sambil merengutkan dahinya.
***
“Mau nyobain ngga?” Devanya menyodorkan sesendok mie ayam yang belum dimakannya ke mulut Ran.
Tapi Ran menggeleng.
Perutnya yang awalnya terasa lapar, mendadak jadi langsung kenyang begitu melihat Saka.
Dan sekarang Ran menyadari kalau Saka sedang melihat ke arahnya, dan hanya melepas pandangan darinya sesekali saja. Ran benar-benar merasa sangat risih.
Ia semakin gemas begitu melihat cara makan Devanya yang sangat lambat sambil melihat hp.
“Dev, panggilan alam.” Kata Ran, sambil berpura-pura memegangi perutnya, agar actingnya maksimal.
“Lo mules?”
Jawabnya mengangguk sambil nyengir berat.
“Ya udah sana. Tapi ngga pake lama ya.”
“Oke.”
Ran pun bergegas pergi ke toilet, meskipun itu hanyalah alasannya saja.
***
“Kenapa jadi secanggung ini sih? Harusnya aku tuh ngga terima ajakan dia.” Keluhnya, merasa menyesal.
“Ran, sadarlah…sadarlah…” Ucapnya, sembari bercermin.
“Dosa banget gue udah nikah malah pacaran sama cowok lain.”
“Eh, tapi ini kan cuma sebulan dan cuma main-main aja. Ngga serius dan ngga pake hati. Anggap aja hiburan, lagi main game yang belum tamat.” Pikirnya, polos.
Setelah selesai mencuci tangannya dan merapihkan seragamnya, Ran pun segera keluar dari toilet. Tapi begitu ia keluar dari toilet dan membelok, langkahnya mendadak langsung berhenti begitu melihat sosok seseorang yang berdiri membelakanginya dan mengagetkannya. Bahkan kepala Ran nyaris menabrak punggung orang itu.
Saat itu juga orang itu pun langsung membalikkan badannya, dan ternyata
“SAKA???”
Melihat kekhawatiran Ran yang jelas terlihat olehnya, malah membuat Saka semakin meledeknya. Bukannya kerjasama untuk menutupi hubungan mereka, Saka malah sengaja mendekatinya.
Sikapnya itu membuat mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian setiap orang yang melihat mereka.
Tadi, saat di kantin saja sikap Saka sudah membuat Ran sangat risih. Sekarang, Saka malah sengaja menunggunya di depan toilet dan bersikap akrab dengannya. Rasanya Ran ingin kabur dari hadapan Saka sekarang juga.
Langkahnya mulai beraksi perlahan sambil melirik diam-diam. Tapi Saka langsung menyadari itu. Ia pun sengaja menghalangi jalan Ran yang mau kabur darinya.
Kedua mata Ran yang sudah melirik ke kanan ke kiri, ke atas ke bawah, dan lama-kelamaan ia kesal. Kesabarannya sudah warning, tapi Saka masih tetap terlihat santai meledeknya.
Ran pun hilang sabar, dan dengan cepat ia langsung mengangkat sedikit kakinya lalu menginjak kencang kaki Saka. Lalu bergegas Ran buru-buru kabur dari hadapan Saka.
“AWWW!!!” Saka pun langsung berteriak kesakitan.
***
13:30 11Multimedia1
Saka masih kesal dengan Ran.
Sejak tadi matanya pun menyipit tajam beberapa kali, melihat ke arah Ran dari tempat duduknya.
“Oke. Jadi, siapa yang mau mencoba menjawab soal nomer satu, dua dan tiga?” Tanya Bu Angel.
Mendengar pertanyaan dari Bu Angel, dengan kompaknya hampir semua murid di kelas langsung berpura-pura mengantuk dan lemas.
“Oke. Kayaknya Ibu salah tanya.” Kata Bu Angel, menyadari kesalahan pada pertanyaannya.
“Kalo begitu, silahkan Anne. Lalu siswa baru, Saka, dan…Ran.”
Di antara tiga nama yang disebutkan oleh Bu Angel untuk menjawab pertanyaan dari soal kimia yang ada di papan tulis, Ran lah yang paling tidak siap. Sedangkan Anne dan Saka berjalan dengan mudahnya ke depan kelas.
Hampir seluruh tubuh Ran langsung terasa keram. Ia sama sekali tak bisa menjawab soal yang ada tepat di depan matanya sekarang. Saka yang berdiri disampingnya, terlihat sangat lancar menulis jawaban soal nomer dua, begitu juga dengan Anne. Sedangkan dirinya???
Lemas rasanya.
“Saka, tolong kasih tau rumusnyaaaa aja.” Pinta Ran, memohon dengan wajah yang sengaja dimelasin.
Tapi Saka hanya memandanginya sebentar, lalu ia kembali menulis dan mengacuhkan permintaan Ran.
Setelah selesai menjawab, Saka segera kembali ke tempat duduknya.
“Tega.” Gerutu Ran, pelan.
Anne pun sudah selesai menjawab pertanyaan soal nomer satu. Sedangkan Ran, masih stay di depan soal nomer tiga tanpa menulis satu angka pun.
“Ran?” Panggil Bu Angel, mendekatinya.
Ran langsung nyengir pada gurunya itu. Dan Bu Angel langsung tahu kalau Ran tidak bisa menjawab soal kimia yang diberikan padanya.
***
21:50 Rumah Susun
Hampir jam 10 malam, tapi Ran masih belum juga selesai mengerjakan tugas kimianya. Gara-gara ia tidak bisa menjawab satu soal saja saat di pelajaran kimia tadi, alhasil Bu Angel memberinya 30 soal kimia dan harus di kumpulkan besok.
“Aaaaarrrggghhhh” Emosinya kembali memuncak.
Badannya ia hempaskan ke sandaran kursi yang sedang didudukinya. Rasa lelahnya mulai terasa, penatnya pun semakin terasa begitu ia menyadari kalau suaminya belum pulang ke rumah.
“Kenapa Bang Ale belum pulang juga ya?” Tanyanya, melihat jam di hpnya.
Ran pun bergegas keluar dari kamarnya dan melihat ke ruang tengah. Ia pikir, Ale sudah pulang tapi tidak menyapanya. Tapi ternyata Ale memang belum pulang, ia tak melihatnya. Begitu juga saat ia membuka pintu kamar Ale, gelap dan tanpa Ale.
Ran menyalakan lampu kamar Ale. Ia langsung tersenyum begitu melihat betapa rapi dan bersihnya kamar suaminya. Berbeda dengan kamarnya yang agak berantakan dan jarang ia bersihkan.
“Harum.” Itulah aroma kamar Ale yang ia rasakan.
Ran berjalan mendekati tempat tidur Ale, lalu duduk di atas tempat tidur Ale. Ia meraba sprei tempat tidur Ale yang sangat lembut dan sangat rapi, dan itu membuatnya ingin menidurkan badannya di atas tempat tidur senyaman ini.
“Seharusnya aku bersyukur, karena Allah menghadirkan Abang Ale dalam kehidupan aku seutuhnya. Tapi…ketika perasaan cinta yang sudah bicara, aku jadi merasakan sebaliknya. Menyedihkan.”
“Seandainya pernikahan aku dan Bang Ale ngga secepat ini, pasti aku bakalan mudah untuk jatuh cinta sama dia. Tapi…kenapa seumur hidup aku laki-laki yang aku kenal hanyalah Abang Ale.”
“Emang sih dia ngejagain aku banget, care banget sama aku, selalu ada untuk aku, dan…sayang bahkan cinta banget sama aku. Tapi…sengganya dia kasih aku kebebasan untuk kenal laki-laki lain selain dia. Egois banget kan dia.”
Semua ucapannya perlahan semakin melemah. Tanpa Ran sadari perlahan badannya tertidur di atas tempat tidur Ale, dan untuk pertama kalinya selama ia mengenal Ale.
***
gk ad kelanjutanya kah....??
smngat thor.. smg kamu sehat...selalu
tapi lagi otw review. tunggu aja ya ☺️
atau juga aluna????
thooor katanya mau posting foto bang ale yg asli manaaaaa??
jg lupa si ran nya juga ya....
kalem ga ??
aku suka bngt...
iya kan thor??
uuh makin sayang bgt sama bang ale
lnjut dong thor