NovelToon NovelToon
Suami Malaikatku

Suami Malaikatku

Status: tamat
Genre:Romantis / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa Modern / Rumah Tangga-Anak Genius / Tamat
Popularitas:110k
Nilai: 5
Nama Author: Marina Monalisa

Sebelum membaca di sarankan untuk membuka novel yang berjudul "Calon Istri Pengganti Tuan Abian" karena ini adalah lanjutan dari novel tersebut.

Cerita yang di angkat tentang perilaku suami yang bersosok malaikat selalu mampu membuat hati sang istri meleleh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6. Moment Spesial

Setelah beberapa hari masa rawat Indira dan juga Gia, kini waktunya kedua wanita itu kembali ke rumah mereka.

"Abi, aku jalan saja." ucap Indira yang ingin turun dari gendongan suaminya.

"Tidak, aku tetap mau menggendongmu." sahut Abian.

"Sudah sayang, ikuti permintaan suamimu. Mami rasa itu jauh lebih aman." sahut Nyonya Ningrum yang tersenyum geli.

Indira yang kesal hanya menghela nafasnya kasar, ia pun tidak membantah lagi. Sukses lagi seorang Abian mencuri perhatian para pengunjung di rumah sakit itu dengan tatapan kagum.

Sekertaris Bram yang juga sibuk membantu Gia berjalan kini tidak bisa mencegah saat banyak wartawan mendekat pada mereka.

"Tuan." panggil Bram yang memberinya isyarat jika ia harus melakukan sesuatu.

"Tidak perlu, Bram. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa aku memiliki anak pria satu lagi." sahut Abian.

"Bi...turunkan aku, aku malu." sahut Indira yang sadar saat tersorot kamera.

"Tidak, Sayang. Apa kau ingin suamimu ini di goda wanita lain?"

Mata Indira seketika menatapnya tajam karena kesal mendengar godaan yang Abian lontarkan padanya. Abian justru tersenyum lebar mendapatkan tatapan itu.

Mereka lagi-lagi di liput bersama wajah Rafael yang berada di gendongan Nyonya Ningrum. Sedangkan bayi Bram kini berada di gendongan Nyonya Veren.

Setelah selesai melakukan wawancara singkat itu, kini Abian dengan santainya melangkah melewati kerumunan itu di bantu beberapa pelayan yang ikut menjaga Indira. Mereka semua naik ke mobil, ada empat mobil saat ini yang beriringan menuju kediaman Malik.

Di depan mobil ada Bram dan Gia yang  bersama supir , sedangkan di urutan kedua ada Abian dan Indira bersama Nyonya Ningrum, di urutan mobil ketiga ada Nyonya Veren, Tuan Kriss dan anak dari Bram, dan mobil ke empat beberapa pelayan yang ikut mengiringi perjalanan mereka.

***

"Sudah siap semua?" tanya Kayra yang saat ini tengah berada di rumah Abian.

"Siap." teriak Rabian yang masih terdengar belum begitu jelas dengan wajah gembiranya.

Saat ini kediaman Malik sudah di hiasi dengan balon dan bunga segar yang tertata rapi di pintu hingga masuk ke dalam rumah.

Kayra dan Queensya bersama Gibran dan juga Maureen kini baru saja selesai menyiapkan sambutan untuk bayi itu.

Wajah Gibran hari ini begitu cerah bibirnya terus menampilkan senyuman paling lebar. Semua berdiri bersiap di depan halaman menunggu kedatangan mereka semua.

Saat gerbang tergeser memperlihatkan rating mobil yang menyala berkelap kelip kini semua begitu tampak antusiasnya.

"Itu mereka." ucap Pak Mail yang heboh.

"Mamah...Papah." teriak Rabian yang sudah tidak sabarannya berlari dari pegangan Bi Qila menghampiri mobil yang sudah berhenti semuanya.

"Rabian." ucap lirih Indira.

"Sayang, pelan-pelan." sahut Abian yang melihat Indira hampir berdiri cepat dari pangkuan suaminya.

"Bi, cepat turun ayo."

Tak lama pintu mobil pun tergeser, Rabian dengan antusiasnya menghampiri Indira dan Abian di dalam mobil.

Wajah Rabian yang tadinya begitu ceria kini mendadak sedih, "Sayang ada apa?" tanya Indira panik.

Rabian berlari kembali menghampiri Bi Qila. "Ada apa Tuan muda Rabian?" tanya Bi Qila bingung.

"Mamah di gendong sama Papah, Mamah nda sayang sama Bian." tuturnya dengan suara yang terisak begitu sedih.

Bi Qila tertawa geli begitu juga dengan yang lainnya mendengar anak kecil sepertinya sudah pandai cemburu ternyata.

Indira turun di tuntun dengan suaminya. "Rabian, sini sama Mamah." panggil Indira.

"Nda mau." sahut Rabian.

Indira menatap heran. "Bi Qila, ada apa ini?" tanya Indira.

"Itu Nyonya, sepertinya Tuan muda Rabian cemburu dengan anda dan Tuan saat bergendongan tadi." terang Bi Qila.

"Wah anak Papah sudah pintar cemburu rupanya." ledek Abian yang ingin meraih tubuh putranya. Namun bukannya Rabian mau menerima gendongan itu, justru ia membalikkan tubuhnya dan memilih memeluk Bi Qila.

"Astaga anak kecil bisa-bisanya cemburunya mewarisi seperti ini?" sahut Nyonya Ningrum.

"Mami," mata Abian menatap Nyonya Ningrum seakan tidak terima jika dirinya memiliki sifat cemburu seperti itu.

"Bi, Qila tolong ambil Rafael biarkan Rabian bersama saya." ucap Nyonya Ningrum.

"Ayo sayang, sama Oma sini." sahut Nyonya Ningrum.

"Bian nggak mau, Bian malah Oma, Mamah sama Papah lebih sayang sama dedek." bantah Rabian yang berlari masuk ke dalam rumah dan bersedekat di atas sofa.

Semua terkejut, mengapa anak kecil seperti itu sudah sangat pintar, meski bicaranya belum jelas tapi mereka semua bisa mengerti apa perkataannya.

"Selamat datang kembali yah, Ra." ucap Kayra dan Queensa memeluk tubuh Indira.

"Selamat datang kembali sekertaris Gia." keduanya kembali mengucapkan pada Gia yang berdiri bersampingan dengan Bram.

"Aduh Ayah jadi semakin betah di rumah ini banyak sekali anak kecil." sahut Tuan Kriss terkekeh.

"Iya Ayah, Indira justru sangat senang jika Ayah dan Ibu sering menghabiskan waktu di sini." sahut Indira tersenyum dan memeluk tubuh suaminya.

"Pak Mail, bagaimana kamar untuk kedua anak saya sudah di siapkan?" tanya Abian.

"Iya Tuan, sudah selesai semua." sahut Pak Mail menundukkan kepalanya.

Saat ini Gibran sudah tidak tinggal di kamar yang berdekatan dengan Abian, ia sudah pindah kamar yang lebih luas lagi di lantai dua, sedangkan kedua kamar anaknya berada di lantai atas bersama mereka.

"Wah ini semua sangat indah." sahut Indira menatap takjub pemandangan rumah yang di hias seindah mungkin.

"Ini semua selain sambutan untuk dua wanita yang barusan melahirkan, kami juga persembahkan untuk ulang tahun Rabian yang tertunda Ra." terang Kayra.

"Terimakasih yah, kalian benar-benar sahabat yang paling pengertian." tutur Indira.

"Sama-sama, Ra. Lagi pula kami kasihan dengan keponakan tampan kita yah, Kay? gara-gara Mamahnya suka aneh-aneh sampai menunda hari ulangtahun anaknya." ucap Queensya.

Semua hanya tertawa, kini mereka masuk ke dalam, "Rabian, kemari sama Papah." Abian melangkah pela mendekati putranya yang tengah marah di pojok sofa dengan menatap tajam ada sang Ayah.

"Sayang, lihatlah matamu sangat jauh lebih menakutkan ternyata." Abian menunjuk mata yang ada pada Rabian saat ini.

Hitam bulat besar saat menatap marah pada Abian. "Tapi cemburunya jauh lebih menakutkan sama sepertimu." Indira kembali membalas ledekan suaminya.

"Ayo kemari Papah gendong Rabian yah." Perlahan tubuh mungil itu luluh saat beberapa kali Abian menciumnya dengan penuh kelembutan.

"Rabian kenapa marah?" tanya Abian.

"Mamah sama Papah sayang-sayangan nggak mau ingat Rabian." ucapnya dengan menggelengkan kepalanya.

"Oh sayang, Papah ingat sekali sama Rabian, kan setiap Papah pulang kerja Papah datang main sama Rabian, kan?"

"Tapi Mamah nggak pulag-pulang." bantah Rabian lagi.

"Tuh Mamah sakit sayang, lihat ada dedek bayi di sana." ucap Abian menunjuk ke arah gendongan Bi Qila.

Rabian masih tampak memeluk tubuh Papahnya, rasanya ia sangat rindu bisa berkumpul dengan dua orangtuanya.

 

"Ayo sekarang Rabian tiup lilin yuk." ajak Kayra dan Abian segera membawa putranya mendekat pada kue cake yang sudah terhias begitu indah dengan karakter pesawat.

"Bi...Rabian sepertinya cocok jika menjadi pilot." sahut Indira.

"Yah kalau aku maunya dia meneruskan bisnisku, tapi terserah Rabian di mana dia inginnya." sahut Abian.

Indira tersenyum kini mereka semua mendekat pada Rabian yang berada di gendongan Abian.

Happy birthday to you

happy birthday to you...

happy birthday happy birthday happy birthday Rabian...

"Selamat ulangtahun anak Papah Mamah, semoga menjadi kebanggan keluarga Malik yah Sayang." ucap Abian.

Indira pun ikut memeluk tubuh putranya dan menghujani ciuman di wajah Rabian yang tersenyum bahagia. "Selamat ulangtahu anak Mamah yang tampan ini, sifat cemburunya jangan nurun sama Papah yah? nanti Mamah stress lihat kalian." tutur Indira.

"Sayang, kau ini bicara apa?" Abian bertanya dengan wajah datarnya.

"Memangnya dari mana asal cemburu yang overdosis itu jika bukan dari Papahnya?" tanya Indira menyunggingkan senyuman sinis.

Abian terdiam tanpa menjawab ucapan istrinya lagi, semua bergantian mengucapkan ulang tahun pada Rabian.

Beruntung keadaan Gia dan Indira saat ini sudah jauh lebih baik, meski ia belum terlalu bisa banyak bergerak. Kini semua duduk di ruang tengah mereka menikmati makanan khusus yang sudah di masak koki di rumah itu.

"Ehem, perhatian semuanya." Suara Gibran tiba-tiba memecah keramaian itu menjadi hening.

Wajah yang tadinya tertawa ceria mendadak terhenti dan menatap ke arah sumber suara itu. "Gibran." ucap Indira bingung.

Gibran melangkah menuju Maureen dengan tatapan begitu dalamnya. Semua menatapnya heran sementara Maureen masih terus mengernyitkan dahinya dalam.

Gibran meraih tangan Maureen dan membawanya berdiri. Keduanya saling bertatapan.

Indira sudah bisa menduga apa yang ingin Gibran lakukan saat ini, ia hanya menghela nafasnya kasar. "Maureen, maukah kau menerimaku menjadi pendampingmu?" tanya Gibran.

Maureen tercengang heran mendengar ungkapan Gibran yang tanpa di sengaja. Semua tersenyum bahagia mendengarnya.

"Maureen." panggil Gibran lagi.

"Gibran." ucap lirih Maureen masih tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Air mata bahagia menetes begitu derasnya, di iringi dengan anggukan kepala Maureen yang memberikan jawaban iya pada Gibran.

"Terimakasih." ucap Gibran dengan bahagianya dan segera memeluk tubuh kekasihnya itu.

Semua kini ikut bertepuk tangan menyambut kebahagian kedua pasangan bahagia itu yang masih hangat.

1
Heliati Mamonto
lanjut
bundan@ furqan
ika widya
lucky ma dita ja,, sprtiny lucky org yg baik
nhiena Ali
💖💖💖💖💖💖💖💝💝💝💝💝💝❤❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
sarianum manurung
bakalan kangen SM keluarga malik...Abian i love u
Retno Marsudi
sukses selalu thorrrr
Retno Marsudi
waduhhhh tamat deh,, padahal aku suka novelnya nih,,
Retno Marsudi
bucinnya dikau tuan abiannnnnn
Retno Marsudi
Bayiku,, bukan bayi kami 🤣🤣🤣🤣
Retno Marsudi
Baper akut diriku sama kamu tuan abian malik
Yuni Ati
Jauh-jauhin tuh si ular cobra afrah Thor
Lutfiati Puzz
ak gk bisa mve on dari Abian Malik😭😭😭
ig: monalisa_n28: Hehehe Terimakasih kak🙏🙏
total 1 replies
harap_tenang😌
bi qila mulai lagi deh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
may Saka
kak bikin versi mauren sama gibran don kepo kelanjutan cerita cita mereka berdu nihhh plissssssssssssss.....................
Aris Mamae Rakha
extra part nya dong kak thor...😁😁😘😘
ig: monalisa_n28: Hehehe udah mentok selesainya kak
total 1 replies
Ghea_yuni_Aprinsa
yg berikut'y pa thor.....?
semoga lbh seru y....😘
ig: monalisa_n28: amin kak terimakasih yah kak
total 1 replies
Sri Hendrayani
up lgi donk thor
Sri Hendrayani: buat bonus upnya kak..
cerita bagus banget... 😍😘🥰
total 2 replies
Aris Mamae Rakha
Indira wanita yang lembut, anggun bisa berubah menjadi wanita jadi2an 🤣🤣 bahkan seperti monster kata Bram, 🤭🤭🤭🤭
Aris Mamae Rakha
bener2 cari mati berurusan dengan Abian
ajiu jiu
tamat sdh cerita ringan yg tdk bkin stress , ap akhirnya kita "pisah" di sni Thor 🤔🤔 rasa ny ngk mau novel in tamat 😢😢😢
ig: monalisa_n28: hehehe terimakasih kak sudah setia sampai akhir
total 1 replies
Erna Watie AZ
buat kisah si rabian thorr,,,
ig: monalisa_n28: hehehe masih di pikir dulu yah kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!