Alya Safitri gadis berusia 18 tahun itu kini harus menikah dengan laki-laki bernama Ardi Wijaya, laki-laki pilihan sang ibunda yang di gadang-gadang baik dan lemah lembut tutur katanya, mampu mengasihi dan menjaga Alya dengan sepenuh hati.
Alya menyangkal, namun rasa sakit yang ia terima dari ibu orang tercinta nya mendorong nuraninya untuk menerima tawaran ibunda nya. Meski tak ada rasa ia terpaksa mengambil langkah.
Dia mempertaruhkan hidup, cinta dan masa depan nya demi menjujung harga diri yang telah porak poranda.
Tak ayal bahwa terkadang sebuah ucapan memang lebih menyakitkan dari bilahan pisau tajam. Mampukah Alya menerima Ardi dalam kehidupan dan cinta nya? Atau Ardi hanya akan menjadi tameng balas dendam sakit hati nya?
Ini adalah novel pertama ngothor nganu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Drama sebelum sholat subuh tadi telah usai, diakhiri dengan Alya yang kabur ke kamar mandi sambil memaki Ardi, apa katanya tadi " om-om mesum" haha Ardi tertawa sendiri mendengar dan mengulang makian sang istri, kekanakan sekali pikirnya.
Bukannya marah Ardi malah jadi tambah gemas pada Alya. Senang rasanya melihat wajah kesal sekaligus pipi yang memerah karena marah itu.
Kalau saja ia mampu, ingin rasanya ia mencium bibir mungil yang tak pernah berhenti bicara tatkala sang mertua lebih memilih membela dirinya ketimbang anaknya. Perbedaan usia yang berjarak 12 tahun, membuat Ardi mengerti dan harus lebih extra sabar menghadapi sang istri .
Setelah mengambil wudhu, Satu keluarga itu pun melaksanakan sholat subuh berjamaah dirumah, tentunya dengan Ardi sebagai imamnya.
Selesai sholat seperti kebiasaan yang telah berangsur sejak lama, yakni saling menyalami satu sama lain, yang kecil menyalami yang lebih tua, dan sang istri menyalami sang suami harusnya.
Setelah Ardi menyalami Bu Ratih, ia menyodorkan tangannya ke arah sang istri , Alya hanya melengos, membuang muka nya ke arah lain, hatinya masih saja dongkol dengan kejadian drama tadi.
"Maaf, nanti wudhuku batal." ucap Alya dengan asal, yang penting tidak bersentuhan dengan Ardi batinnya.
"Nduk." ucap Ibu Ratih, dengan sorot mata memperingatkan, Alya menoleh ke arah ibunya, lalu menghela nafas sebentar " hufffftt" seperti menjawab iya iya Alya akan lakukan.
Toel!
Alya hanya menoel sedikit buku jari Ardi, tanpa mau memandang wajah sang suami.
" Kok Kak Alya salim nya begitu sama Mas Ardi? " suara Hayrul menyauti, bocah 11 tahun itu mengomentari kejadian yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya.
" Anak kecil ngga usah ikut-ikutan." timpal Alya sedikit bersungut.
" Kata Pak Haji nggak begitu loh Kak, begini nih kalo salim." ia memperagakan gerakan salimnya pada Ibu Ratih. Hingga wanita paruh baya itu mengulum senyum.
"Hemm... Hayrul dengerin Kakak ya, kalo salimnya suami istri tuh emang begitu , udah kamu nggak usah cerewet , kamu tuh belom ngerti apa-apa sekarang," jelas Alya, entah apa yang ia sampaikan itu ilmunya darimana.
"Berarti nanti istri Hayrul juga toel toel begitu ya Bu? " tanya Hayrul kepada sang ibunda dengan wajah polosnya.
Tampak Ardi menahan tawanya, Ibu Ratih yang ditanya hanya mampu menghela nafas panjang serta menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan sang pembuat fatwa hanya mengacungkan jari telunjuk dan tengah nya , maafkan hamba yang mulia begitu isyaratnya.
•
•
•
Setelah mengemasi mukena dan menaruh nya ditempat biasa Alya menghampiri ibunya. Sedangkan Ardi sudah beranjak kembali ke kamar mereka berdua.
" Bu, apa Ibu akan tetap bekerja disana? " tanya Alya mulai membuka obrolan. Rumah yang dimaksud oleh Alya adalah rumah mantan kekasihnya yaitu Arya. Sebab, selama ini wanita paruh baya itu memang menjadi asisten rumah tangga di sana.
" Iya Nduk, nanti jam 8 ibu berangkat. "
" Hari ini juga ibu langsung masuk? Apa ngga istirahat dulu bu? Ibu kan pasti cape."
" Nggak bisa Nduk, Ibu sudah janji ke Bu Maria untuk masuk hari ini, lagi pula Ibu sudah libur terlalu lama. "
" Ibu yakin nggak papa? " ada gurat khawatir yang tercipta di raut wajah Alya. Sebagai seorang ibu, Ibu Ratih bisa merasakan kegundahan yang ada pada anaknya.
" Kamu tak perlu khawatir kan Ibu Alya, Ibu nggak papa , kamu dirumah saja temani suami mu dan jaga adikmu yah. " ucap Ibu menenangkan.
" Ish Ibu ." muka Alya mulai cemberut.
" Nduk, baik-baik sama Nak Ardi. "
Cup!
Ibu Ratih memberikan kecupan kecil dikening Alya menyalurkan ketenangan serta menyampaikan banyak sekali harapan baik untuk kelangsungan rumah tangga putrinya.
Berbahagialah nduk . ucap Ibu Ratih dalam hati.