NovelToon NovelToon
Sixth Sense [Rahasia Semesta]

Sixth Sense [Rahasia Semesta]

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:37.2k
Nilai: 5
Nama Author: Alfiyahpna_

[Romansa dua dunia-Fantasi barat-Horor]

Mereka berdua, Osric dan Odelia merupakan pasangan Indigo yang cukup fenomenal. Seifried Osric Gideon, ia tidak bisa dilukai oleh makhluk selain manusia asli. Baik itu setan, roh, hantu atau apapun itu. Tetap saja tidak bisa melukai seorang Osric.

Adora Odelia Aloysius, gadis ini walau parasnya yang jelita, namun mereka yang sudah mati tidak ada yang berani mendekat. Jika, gadis ini mendekat, mereka hilang. Begitupun sebaliknya.

Hingga suatu hari, mereka terjerumus kedalam sebuah kerajaan besar
menjadi pemeran yang harus melakoni perannya. Pengorbanan demi pengorbanan mereka lakukan. Rintangan demi rintangan mereka hadapi.

Dari situlah, terkuak jati diri mereka yang sebenarnya. Seorang Ratu dunia Immortal yang tertidur seratus tahun di dunia manusia terbangun. Lantas, sederet fakta dan akhir seperti apa yang akan mereka temui di ujung kisahnya?

Selamat membaca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiyahpna_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Roh Berdaster Bunga-Bunga

...Selamat membaca!...

...*****...

Selepas kejadian beberapa saat lalu, Osric dan Odelia memutuskan untuk singgah di kantin sekolah. Ya memang, awalnya karena paksaan Osric, pemuda itu mengeluh bahwa ia lapar dan bosan di perpustakaan.

Beberapa hari ini, Odelia memang selalu di perpustakaan. Gadis itu lebih menyukai suasana hening yang tidak membuat telinganya sakit.

Osric menghela nafas panjang, ia menyangga dagunya dengan sebelah tangannya. Duduk berhadapan dengan Odelia yang tengah menikmati Ice Cream. Osric jengah, sedari tadi perkataannya tidak ada yang ditanggapi. Gadisnya itu asik sekali dengan ice creamnya. Ia seolah tidak ada.

Hingga beberapa saat selanjutnya, Odelia tersenyum kecil. Mata madunya berkelana, kepalanya ikut bergerak memutari sekelilingnya. "Lo gak bawa prajurit kehaluan lo lagi?"

Ia bertanya demikian, pasalnya, sekeliling mereka sepi. Terasa normal, hanya ada beberapa setan yang jaraknya cukup jauh dari keduanya.

Osric mengangguk. Ia lantas berdecak kesal kala memahami maksud Odelia. "Halu? lah, mereka asli. Terserah sih, lo mau percaya atau enggak. It's up to you."

Odelia menatap Osric serius. Ada pertanyaan yang selalu menari dengan cantik pada benaknya sedari kemarin. Pertanyaan itu membuatnya entah kenapa dirundung kegelisahan yang amat besar. Ia merasa, ada benang merah yang terikat dengannya, dan kini tengah memberontak ingin dilepaskan. "Kenapa, kemarin gak jawab pertanyaan gue? Lo bener manusia?"

Jeda cukup lama. Waktu seolah melambat. Hiruk pikuk kantin kian samar hingga rasanya, dunia seolah ada dirinya dan Osric saja.

Osric tersenyum tipis, ekspresi tengilnya hilang. Gadisnya rupanya sudah mulai menapaki jejak yang ada. "Gue kalau ngomong sekarang, lo pasti gak akan percaya sama gue. Suatu saat nanti gue pasti kasih tahu lo, bersamaan dengan buktinya. Sekarang, gue cuma mau lo aman."

"Aman dari apa?" Tanyanya lugu. Matanya berkedip bingung. Namun gerak bibirnya tak henti melahap Ice Cream yang sengaja Osric beli cukup banyak.

Ugh, Osric gemas. Senyumnya kembali terbit. Ia lalu tertawa kecil. "Suatu saat nanti, lo pasti tahu. Tunggu waktu yang tepat. Gue pasti cerita, semuanya. Sekarang, cukup lo ada disamping gue." Katanya lembut seraya mengusap sudut bibir Odelia yang berantakan karena Ice Cream.

"Enak banget ya? sampai makan aja belepotan. Udah gitu gue gak ditawarin sama sekali. Perlu gue kirimin ke rumah lo gak?" Ujarnya seraya menggelengkan kepalanya antara gemas dan keheranan.

Odelia terkesiap. Ia membisu. Sentuhan tangannya–

Osric menghela nafas kasar. "Ah, gue gak suka saat gue liat wajah lo, gue gak bisa baca pikiran lo. Cuma lo yang gak bisa gue baca pikirannya." Katanya lagi sembari membelai pipi Odelia perlahan dan memandangnya lamat lamat.

Seketika, Ice Cream pada genggaman tangan Odelia terlepas. Tatapan matanya kosong, tubuhnya kaku. Saat itu juga Osric merasa ada kejanggalan. Ia lantas dilanda kepanikan hebat. Osric beranjak, ia berpindah tempat. Duduk di sebelah Odelia seraya menepuk pipinya lembut.

"Delia. Del, Delia. Hey, lo kenapa? Don't make me panic, please."

Odelia bergeming. Nafasnya tertahan. Ada bayang samar dalam pikirannya. Ada rasa bergejolak kuat yang tiba tiba menerjang. Ada sesuatu yang rasanya ia lupakan.

Apa itu?

Merah darah. Berkibar, sutra. Bunga mawar. Bendera. Terik sang surya. Kuda putih. Pedang. Dan—

"Ah!" Odelia memekik pelan, ia merintih, penglihatannya memburam. Kepalanya memberat. Ia lantas mencengkram kepalanya erat, menghalau rasa yang kian menikamnya pedih.

Melihat itu, dengan tergesa Osric mencekal pergelangan tangan Odelia, menahan tangannya untuk tidak mencengkram kepalanya lebih erat. Osric takut, justru gadisnya semakin terluka. Ia memiringkan kepalanya, mengamati wajah Odelia. "Delia, lo kenapa? Lo sakit?"

"Gue—"

Perlahan, Odelia membuka kelopak matanya. Pandangannya mulai jelas. Lagi, ia terkesiap. Osric memandangnya begitu dekat dan lekat. Hingga membuatnya terperanjat dan hampir saja terjungkal dengan memalukan. Namun, tangan Osric lebih dahulu menyangga pinggangnya agar tidak terjatuh.

"Lo kenapa sih? lo baik baik aja kan?" Tanyanya cemas. Odelia mengangguk, menatap Osric dengan raut sendu.

Osric mengernyit, alisnya saling bertaut. Ia manarik tubuh Odelia agar semakin merapat padanya. Lalu, menyibak surai coklat Odelia yang tergerai menutupi sebagian wajahnya. Menatapnya seksama. "Loh, kok mau nangis? Kenapa? ada yang sakit atau kenapa?"

Odelia menggeleng. Osric justru merasa kesal. Ia menggoyang bahu Odelia cukup kencang karena perasaannya yang mulai risau. "Ngomong Del, ngomong. Jangan geleng geleng doang. Gue khawatir."

Odelia mencebik, bibirnya melengkung kebawah. Ia cemberut. Tangannya menyeka matanya yang tiba tiba saja berair. "Gue gak tahu. Tiba tiba sedih gitu. Kenapa dong?"

Osric ternganga. Ia berkedip lugu lalu menggelengkan kepalanya cepat cepat. "Kok lo tanya gue?" Wah. Sepertinya, Osric kehabisan segudang diksi pada memori otaknya. Rasanya, gelora panik dan bingungnya sia sia saja. Ia kira gadisnya ini kesakitan kendati sempat merintih. Tapi?

"Terus gue tanya siapa dong?"

Osric tertawa paksa. Ia menatap Odelia aneh. Tapi, Odelia menatapnya lugu sekali hingga membuat Osric kaku. Lalu—

—hening. Canggung.

Bibir Osric menipis, ia berkedip. Tatapan matanya datar. "Lo gak lagi nutupin sesuatu dari gue kan Del?"

Lucu rasanya. Sejujurnya, Odelia ingin tertawa miris disini, namun ia tahan. Ia tak mau terlihat menyedihkan. Bukankah situasinya terbalik? Ia lantas menatap Osric dalam. Raut sendu pada wajahnya terganti dengan ekspresi tak terbaca. "Bukannya, lo yang lagi nutupin sesuatu dari gue?" Katanya lamat lamat kembali menegaskan suatu hal yang luput.

Osric kehabisan kata. Ia mengeratkan lingkar tangannya pada pinggang Odelia. Mencipta jarak diantara keduanya semakin terpangkas. Kepalanya bergerak gelisah. Iris hitamnya pun teralihkan, tak lagi menatap iris madu Odelia yang sekarang menatapnya intens. "Gue—"

Odelia tersenyum menenangkan, ia melepas tangan Osric yang memeluk pinggangnya erat. Sebelumnya, ia menepuk pelan pipi Osric seraya membelainya cepat. "Gak usah ngomong. Gue coba mengerti lo. It's oke. Dan gue baik baik aja." Katanya sembari mengambil Ice Cream yang tersaji, yang mana dibelikan Osric beberapa waktu lalu.

Osric bergeming. Rasa dalam dadanya semakin membuncah dan kian dalam. Odelia menoleh, melahap Ice Creamnya nikmat. Ia mengarahkan Ice Creamnya tepat pada mulut Osric seraya berkedip lalu tertawa. "Mau ini ya?"

Osric turut tertawa. Ia mengacak surai Odelia cepat sembari menggigit sebagian ice cream rasa coklat itu dengan lahap, bibir Odelia mengerucut. "Enak, rasa coklat."

"Ish, jangan banyak banyak gitu."

Odelia memasang wajah galaknya bersiap mengomel namun terhenti tatkala Osric mengintrupsinya dengan mimik wajah serius. "Ststst, ngomelnya dipending dulu."

Gadis itu menurut dengan wajah datar, kini ia ikut memperhatikan arah pandang pemuda yang duduk di depannya. Odelia memutar tubuhnya, matanya menyorot malas, sekilas. Lalu beralih dengan raut wajah keheranan.

"Kok gitu sih? lo kenal ya?"

Disana, di belakang gadis itu, dengan jarak kurang lebih sepuluh meter, terdapat sosok nenek tua, duduk di kursi kosong bersebelahan dengan salah satu siswa SMA Permata. "Apa yang aneh sih, Del? Itu kan udah biasa."

"Itu kan roh yang gak bisa balik karena ada yang belum terselesaikan semasa hidupnya. What's wrong?" lanjutnya lagi. Odelia mengangguk, namun keningnya berkerut dalam. "Ric, gue salah liat apa gimana ya?"

Osric menatap Odelia dari samping, ia menaikan sebelah alisnya, wajahnya turut kentara bingung namun ada riak jenaka terpatri pada garis wajahnya. "Kenapa? lo butuh kaca mata super?"

"Serius gue, ish."

Odelia berdecak kesal, alih-alih mengomel justru gadis bersurai coklat sepunggung itu kini membulatkan mulutnya, matanya mengerjap tak percaya.

"Ric, emang ada roh pake daster bunga-bunga gitu ya? dasternya dari mana?"

"Nyolong kali." Kata Osric asal berbicara seraya mengedikan bahunya acuh sedangkan Odelia melotot tajam.

*****

...Line!...

...Maaf, kali ini kakak gak bisa jemput. Biasa, soal pekerjaan kakak. Hati-hati di jalan. Suruh Pak Mamat aja biar jemput. Sebagai ganti, nanti kakak pulang bawakan Rainbow Cake spesial buat Princess....

...Lofyu my little Princess❤...

Odelia, menghembuskan nafasnya pelan. Ia sekarang tengah duduk di halte depan sekolah. Dan kali ini, ia mungkin akan pulang sendiri. Pak Mamat jelas tidak akan bisa menjemputnya karena beliau sudah beberapa hari ini izin pulang kampung. Ah, sosok yang menyebut dirinya 'kakak' ini memang pelupa akut.

Tapi di satu sisi, ia juga bahagia karena dalam kurun waktu beberapa jam lagi, lidahnya kembali dimanjakan cita rasa Rainbow Cake kesukaannya.

Jemari gadis itu menari nari dengan lihai, menjawab pesan seseorang yang di panggil 'kakak' dengan hati setengah bahagia setengah kesal. Terlampau serius, gadis beriris madu itu hingga tidak menyadari di sebelahnya ada Osric yang duduk menempel padanya dan mengintip obrolannya dengan wajah masam.

"Itu siapa? Kok ada lope lope gitu? Alay, dih." Katanya sinis sembari memiringkan wajahnya menatap Odelia tajam.

"Astaga. lo—" Odelia berjengit kaget, ponsel yang ia pegang hampir saja jatuh, jikalau gerak tangkapnya tidak baik. "Bukan urusan lo." Netra coklatnya menajam. "Kok lo disini? gue kan udah bilang, gue mau pulang sendiri. Gue gak mau repotin lo. Sana gih, pulang!"

"Dan gue gak bilang gue setuju, Del. Gue gak mungkin biarin lo pulang sendiri. Btw, gak sekalian ayah bunda aja tuh." Katanya tanpa riak pada wajahnya. Kendati demikian, matanya sesekali melirik ponsel Odelia. Wajahnya bahkan sampai memerah.

Dia kenapa?

Odelia mendengus sebal. Ia membuang arah pandangnya pada jalanan. Mengacuhkan Osric yang sepertinya marah? "Aneh lo. Dia kan—"

"—karena dia, lo gak mau pulang sama gue? atau lo lagi menghindar dari gue karena gue gak jawab pertanyaan lo kemarin atau karena gue—" Sahutnya cepat memotong perkataan Odelia.

Odelia balas memotong ucapannya. Ia menatap Osric tajam. "— heh, lo ngomong apa sih?"

Osric diam tanpa kata, ia berdiri, menarik paksa tangan Odelia agar berdiri mengikutinya. "Abaikan. Ayo, gue anterin lo pulang. Gue maksa, lo gak boleh nolak. Karena gue gak peduli."

Odelia hanya pasrah saja saat Osric mulai melajukan motornya membelah jalanan yang padat merayap. Sebelumnya, ia mengernyit bingung saat sekilas dilihatnya sosok nenek tua memakai daster motif bunga-bunga berdiri menatapnya, jaraknya lumayan jauh. Tapi menatap Osric dan Odelia dengan tawa pada bibirnya.

Tapi tunggu—

Kenapa ada sosok yang segitu absurdnya? Atau Odelia salah lihat? Atau dia manusia? Tapi sang nenek tua itu tidak menyentuh tanah, jadi apa dong? Roh? Ah, mungkin saja.

Tapi, mana ada kan roh berdaster bunga-bunga? Atau memang ada? Bukankah, itu sosok yang sedari siang ia lihat di kantin?

Ah, sepertinya gue baru liat wujud setan yang mendekati sempurna.

1
PORREN46R
uda mampir ya
PORREN46R
gak bisa berkata-kata lagi aku ceritanya bagus dan nyambung tidak seperti cerita ku
Future~
aku like dulu semuanya, nanti ku baca
ᏉᎨᎾᏁᎯ
ini lagunya beauty n d beast bukan sih thor??
Alfiyahpna_: benerrr kak yang main emma
total 1 replies
ᏉᎨᎾᏁᎯ
𝚙𝚊𝚗𝚐𝚎𝚛𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚝𝚊𝚗𝚐 𝚓𝚞𝚐𝚊 😊
ᏉᎨᎾᏁᎯ
😅 𝚑𝚊𝚗𝚝𝚞 𝚟𝚎𝚛𝚜𝚒 𝚖𝚒𝚕𝚎𝚗𝚒𝚊𝚕 𝚔𝚊𝚢𝚊𝚔𝚗𝚢𝚊
ᏉᎨᎾᏁᎯ
𝚊𝚠𝚊𝚕 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚊𝚐𝚞𝚜 𝚝𝚑𝚘𝚛, 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 😉
ᏉᎨᎾᏁᎯ
𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚜𝚞𝚔𝚊 𝚐𝚎𝚗𝚛𝚎 𝚑𝚘𝚛𝚘𝚛 𝚜𝚎𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚒𝚗𝚒
Alfiyahpna_
Okay, HALLO!!!

Well, aku keknya udah mulai terlupakan. Yep, oke gapapa. Karena aku juga sejujurnya lupa dengan novel ini, maaf lurrrrr.

Ekhem, cek gelombang yaa. Masih ada ga si yang nungguin ceritanya? mau lanjut apa enggaaaa?

Komen ya lurr! sip. Suwun, lur.
Alfiyahpna_: aw makasi kakaaak😍
total 2 replies
Nelin Agustin
cepetan up min gak sabar nihhh
Om Rudi
tiga like dari Alma Fatara
Om Rudi
dua like dari Alma Fatara
Om Rudi
waktu terus berganti

Perjalanan Alma Mencari Ibu mulai dukung
💓Yhan💓
Hadir memenuhi undangan, aku uda masukin fav ya.. saling suport🥰
Sejahtera
Ditunggu lanjutannya , Kak ^_^
Nelin Agustin
thor jangan lama lama up nya 😭
Alfiyahpna_: Maaf beb, suka lupa punya novel disini😭
total 1 replies
Syaila
Bagi gue, masih jadi yang terfav dan terdabes Thor!💖
Alfiyahpna_: Makasih loh yaa❤
total 1 replies
Syaila
The best ever😍
Alfiyahpna_: ❤❤❤❤❤❤❤
total 1 replies
Eva Santi Lubis
Pertama lanjut thor semangat
Alfiyahpna_: Huhu, makasih kak sudah support selalu❤
total 1 replies
_rus
Aku mampir kembali, Thor. Dengan 9 like, maaf kalo telat datang... 😁

Salam Hangat dari "Sebuah Kisah Cintaku" 😆🙏🏼
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!