Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 16
"Lalu bagaimana dengan pria bernama Raihan itu? Kenapa dia bisa kenal Tsania dan terus berada di sampingnya?"
Danu merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah lembaran kertas cetakan tipis.
"Aku sudah minta tim IT untuk memeriksa latar belakang Raihan tadi subuh. Nama lengkapnya Raihan Anugrah. Dia ternyata seorang arsitek senior di konsultan perencana yang kantornya menyewa lantai 8 di gedung kita ini, Arsen."
Arsen mengerutkan dahi, terkejut mendengar fakta tersebut. "Dia bekerja di gedung yang sama dengan kita?"
"Benar," terang Danu tenang.
"Raihan adalah orany yang sebelumnya tak sengaja menolong Tsania saat pingsan. Dia yang membawa Tsania ke rumah sakit semalam setelah mendapati Tsania pingsan di depan lobby,"
"Jadi dia bukan pacar baru dari Tsania? Tak lebih dari orang yang menolong Namira saja kan?"
"Benar. Sepertinya setelah kalian putus hubungan, Tsania tak pernah dekat dengan pria manapun. Dia fokus dengan hidupnya sendiri dan ibunya yang sakit-sakitan. Mungkin Maya yang memberi tahu keadaan Tsania kepada raihan, makanya dia ada di sana,"
"Ck! Lagian untuk apa Maya malah menghubungi pria itu bukannya menghubungi aku yang jelas-jelas adalah atasannya dan juga Tsania!"
Danu menggelengkan kepala perlahan, menatap Arsen dengan pandangan prihatin yang amat dalam. Keputusasaan sahabatnya itu mulai memicu kembali amarah impulsif yang menutup akal sehat.
"Arsen, tolong pakai otak dinginmu," tegur Danu penuh penekanan.
"Tsania pingsan di lobi gedung ini saat jam pulang kantor, dalam kondisi menggigil hebat dan terus memanggil ibunya! Maya panik setengah mati. Kamu tahu sendiri bagaimana kamu memperlakukan Tsania belakangan ini. Apa menurutmu Maya berani menelepon CEO yang baru saja membentak dan mempermalukan Tsania di hadapan Aurelia dan para direksi?"
Arsen bungkam seketika. Pertanyaan Danu menghantamnya telak, membuat napasnya tertahan di tenggorokan.
"Maya panik karena Tsania terus kejang kram otot akibat demam tinggi," lanjut Danu seraya menatap kertas laporan di tangannya.
"Satu-satunya orang yang melintas dan memiliki mobil saat itu adalah Raihan, yang baru turun dari lift lantai delapan. Raihan langsung membopong Tsania ke dalam mobilnya tanpa membuang waktu. Jika malam itu Raihan terlambat sepuluh menit saja membawanya ke unit gawat darurat, Tsania sudah terserang hipotermia akut yang bisa merusak syaraf otaknya!"
Arsen mencengkeram tepi meja kerja hingga buku-buku jarinya memutih, menghasilkan suara derit kayu mahal yang tertekan hebat. Rasa cemburu buta yang sempat memercik di dadanya runtuh seketika, berganti menjadi kepedihan masif yang menghancurkan seluruh sisa kesombongannya.
Ia memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan Tsania yang terbaring lemah, sendirian, menggigil di lobi gedung megah miliknya tanpa ada satu pun orang kantor yang berani menolong karena takut pada amarah sang CEO, menghancurkan pertahanan batinnya.
"Aku... aku benar-benar sudah menjadi iblis untuknya, Nu," bisik Arsen, suaranya parau dan gemetar hebat.
"Di saat dia bertaruh nyawa di lobi gedungku sendiri, aku malah sibuk mengurus Aurelia yang berpura-pura terintimidasi..."
"Itu sebabnya kamu harus fokus pada rencana awal, Arsen," potong Danu tegas, meremas bahu Arsen.
"Jangan biarkan emosi egois atau rasa cemburumu pada Raihan merusak taktik ini. Raihan ada di sana sebagai penolong, bukan musuhmu. Musuhmu yang sebenarnya sedang duduk di rumah mewahnya, merencanakan pertunanganmu dengan Aurelia Sabtu depan."
Arsen menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk menguasai kembali gejolak dadanya. Pria itu menegakkan tubuhnya yang tegap, menyapu sisa-sisa kehancuran di wajahnya dengan keteguhan dingin.
"Kamu benar," sahut Arsen, matanya kini berkilat tajam.
"Raihan boleh menjaganya untuk sementara. Tapi setelah semua kebusukan ini kubongkar, aku sendiri yang akan mengambil kembali Tsania ke dalam hidupku."
Arsen melangkah mendekati Brankas pribadi, menguncinya kembali, lalu menyambar ponsel khusus enkripsi milik Danu.
"Bagaimana dengan pergerakan Papaku pagi ini? Apa dia menaruh mata-mata di RS YPK Mandiri?" tanya Arsen dengan intonasi rendah dan penuh kewaspadaan.
"Tentu saja," jawab Danu cepat.
"Satu jam lalu, Pak Bisma mengutus dua pengawal kepercayaannya untuk mengecek apakah Tsania benar-benar dirawat di sana atau hanya sandiwara untuk menghindari pemecatan. Tapi aku sudah mendahului mereka."
Arsen menghentikan gerakannya. "Apa yang kamu lakukan?"
"Aku memindahkan identitas rekam medis Tsania ke ruang isolasi penyakit menular di lantai dasar atas nama pasien fiktif," jelas Danu dengan senyum tipis.
"Pengawal Papamu hanya melihat dokumen palsu yang menyatakan bahwa staf bernama Tsania sudah dirujuk ke RS daerah dan tidak berhak menerima penjaminan perusahaan. Sementara Tsania yang asli saat ini sudah aman di ruang perawatan VVIP lantai paling atas, dijaga oleh enam pengawal pribadi berseragam sipil yang melapor langsung padaku."
Arsen menghembuskan napas lega, ada kilat kepuasan yang muncul di matanya.
"Bagus, Danu. Kerja yang sangat bersih. Jangan biarkan sepeser pun uang dari akun Pratama Group menyentuh tagihan rumah sakit itu. Semuanya harus murni keluar dari simpanan pribadi milik almarhumah Ibuku."
"Semua administrasi Nirmala Foundation sudah selesai ditandatangani, Arsen. Tsania tidak akan pernah curiga kalau kamu yang membiayainya."
Pintu ruang kerja Arsen mendadak diketuk dari luar. Seorang sekretaris masuk dengan wajah cemas, membawa sebuah map berlogo emas konsorsium keluarga Aurelia.
"Permisi, Pak Arsen..." bisik sekretaris itu takut-takut.
"Ibu Aurelia baru saja mengirimkan berkas konfirmasi tempat dan skema reservasi untuk acara makan malam pertunangan pekan depan. Beliau meminta Bapak menandatanganinya sekarang juga untuk diserahkan ke pihak media."
Arsen menatap map berlogo emas itu dengan tatapan jijik. Namun, mengingat janji kepatuhan yang baru saja ia lontarkan di hadapan ayahnya, Arsen mengulurkan tangan dan mengambil pulpen.
Tanpa membaca lembar rincian pesta yang terkesan sangat mewah itu, Arsen membubuhkan tanda tangannya di atas kertas berstempel resmi tersebut dengan gerakan mantap.
"Serahkan ini kembali pada Aurelia," ujar Arsen dingin tanpa ekspresi.
"Katakan padanya, aku menyetujui seluruh konsep acara dan jumlah undangan yang dia inginkan."
Sekretaris itu membungkuk hormat lalu segera undur diri dari ruangan. Begitu pintu kembali tertutup rapat, Danu menatap Arsen dengan dahi berkerut.
"Kamu benar-benar akan membiarkan Aurelia mengumumkan pertunangan ini ke seluruh media nasional?"
Arsen bersandar di tepi meja kerjanya, menyilangkan kedua tangan di dada dengan senyum misterius yang amat mematikan.
"Makin tinggi Aurelia terbang bersama kebohongannya, makin hancur saat dia jatuh nanti, Nu," bisik Arsen datar.
"Biarkan dia mempersiapkan pesta termewah dalam hidupnya. Biarkan Papaku merasa telah berhasil menundukkan anak tunggalnya."