Sejumlah muslimah berjilbab didera berbagai permasalahan pelik yang menyerang pilihan jalan mereka untuk berhijab.
Barada, Rina Viona, dan para personel Geng Bintang Tujuh, dituntut memecahkan masalah rumit yang mereka hadapi, termasuk masalah percintaan.
Lalu bagaimana cara mereka bertahan dalam balutan jilbabnya yang harus menghadapi tantangan perkembangan zaman yang semakin terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. SMA Generasi Emas (Gemas)
Kali ini Bu Rista hanya membawa Marlina dan Sinta di dalam mobil sedan mewah yang dikemudinya. Kedua gadis cantik itu mengenakan seragam sekolah serba putih-putih. Rendy tidak masuk sekolah Senin ini, karena ia ditugaskan mendampingi Norel untuk menandatangani kontrak pembuatan album Triple Band.
“Kamu gak mau ikut kerjain murid baru, Mar?” tanya Sinta.
“Enggak. Kalau Lucy cs yang ngerjain, biasanya sudah parah. Belum lagi Virna dan yang lain. Anak cowok juga pasti ikutan,” jawab Marlina.
Sebagaimana biasa, Marlina tetap sibuk dengan gawai di tangannya.
“Eh, Mar!” panggil Sinta dengan suara agak direndahkan.
Marlina tidak menyahut atau berpaling kepada Sinta.
“Jaguar sepertinya naksir kamu,” kata Sinta setengah berbisik.
Kali ini Marlina bereaksi dengan berhenti mengetik pesan yang belum selesai di ponselnya.
“Ronin, maksud kamu?” tanya balik Marlina sambil memandang tanpa ekspresi kepada Sinta.
“Ya,” jawab Sinta seraya mengangguk.
“Jangan sembarangan kalau bicara. Kalau Bu Rista lapor ke Papa, tewas saya,” kata Marlina setengah menggerutuh. Lalu Marlina beralih kepada Bu Rista, “Omongan Sinta tidak benar, Bu.”
“Siap, Neng!” kata Bu Rista dengan pandangan tetap fokus ke jalan.
Mobil berhenti sejenak di sebuah pos masuk yang hanya bisa muat dilalui satu badan mobil. Palang elektronik yang melintang menghalangi laju mobil. Tampak di dalam pos duduk seorang pria dengan perangkat komputernya. Satu pria lagi berseragam satpam berdiri di depan pintu pos.
Di sebelah lainnya, ada pos serupa yang menjaga jalur khusus ke arah yang berlawanan. Jauh ke sebelahnya lagi, ada pintu gerbang teralis yang tinggi dan lebar dalam kondisi tertutup. Jalan itu dikhususkan jika ada kendaraan besar yang lewat, seperti bus dan truk atau yang sejenisnya.
Bu Rista menurunkan kaca pintu lalu mengeluarkan tangannya yang memegang sebuah kartu khusus. Kartu itu ditempelkan kepada alat sensor elektronik.
Bip!
Seiring bunyi respon mesin, palang penghadang bergerak naik membuka jalan. Bu Rista melanjutkan laju mobilnya.
Beberapa kendaraan mewah lainnya terlihat menuju ke arah yang sama atau kembali dari arah yang mereka tuju. Terlihat pula siswa-siswa SMA yang mengendarai motor-motor bagus.
Di depan sana, terlihat berdiri megah bangunan bertingkat empat yang besar dan luas. Di sisi atas gedung yang menghadap ke jalan utama, terdapat tulisan besar berwarna kuning emas berbunyi “SMA Generasi Emas”. Tulisan itu berkilau tersorot oleh cahaya matahari pagi, karena memang posisi gedung sekolah elit itu menghadap ke timur. Sekolah itu lebih populer dengan sebutan “SMA Gemas”.
“Saya baru tahu ada siswi berjilbab yang pakai sepeda,” kata Sinta saat melihat di depan sana. Terlihat seorang siswi berjilbab putih sedang bersepeda dengan santai.
Marlina segera turut memandang ke depan. Dua siswa bersepeda motor yang melesat mendahului mobil Marlina, tampak berubah memelankan kecepatan motornya dan memandangi siswi berjilbab itu, seolah penasaran ingin melihat parasnya.
Siswi berjilbab itu menggunakan sepeda perempuan warna kuning yang punya keranjang di depannya. Di keranjang itu ada tas ransel perempuan warna kuning. Meski sudah mengenakan rok panjang, terlihat di balik roknya ia masih menggunakan celana panjang hitam yang tertutup, sehingga aktifitas menggoesnya tidak membuat kulit kakinya terlihat.
Mobil Marlina semakin mendekati dan melewatinya.
“Dia?!” pekik Sinta terkejut saat mobil itu melewati siswi bersepeda dan mereka melihat wajah siswi itu.
Meski tidak bersuara, tapi wajah Marlina juga menunjukkan keterkejutannya.
Siswi berjilbab itu tidak lain adalah gadis yang kemarin mereka lihat di lampu merah sedang membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak jalanan. Dan juga gadis yang bertemu dengan Norel lalu minta tanda tangan di depan lobi hotel.
“Kok bisa?” tanya Marlina pelan dengan kening agak berkerut, menandakan ia sedang berpikir.
“Benar-benar kebetulan yang unik,” ucap Sinta.
Kaca mobil yang hitam, membuat siswi bersepeda itu tidak tahu bahwa ia sedang diperhatikan dari dalam mobil.
Hingga akhirnya mobil Marlina meninggalkan siswi cantik berjilbab itu dengan sepedanya.
“Heran, masih ada perempuan zaman sekarang yang memilih berpakaian ribet seperti itu,” kata Marlina.
“Berarti anak baru itu, dia dong!” terka Sinta yakin. “Saya gak yakin kalau cewek seperti itu bermasalah di sekolahnya.”
“Jangan tertipu dengan penampilan,” kata Marlina lalu kembali aktif dengan gawainya.
“Tapi, kenapa sekolah mau terima siswi berjilbab?” tanya Sinta yang tidak ditanggapi oleh Marlina.
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan pintu gerbang teralis besar berwarna merah tembaga yang tertutup dan dijaga oleh dua satpam sekolah. Orang di depan gerbang bisa melihat langsung ke dalam, tapi tidak bisa melihat halaman sekolah, karena setelah gerbang ada tangga yang naik lalu turun kembali langsung menuju ke halaman luas sekolah.
Murid-murid SMA Gemas yang turun dari mobil antaran di depan gerbang, masuk melalui pintu kecil yang khusus untuk orang berjalan kaki.
Bagi siswa yang membawa mobil sendiri atau sepeda motor, mereka langsung ke tempat parkir. Sekolah yang memang menargetkan kalangan menengah ke atas ini, memiliki tempat parkir yang luas seperti parkiran pusat perbelanjaan. Siswa-siswa itu masuk ke lingkungan sekolah lewat pintu samping. Tidak sedikit dari siswa itu berwajah-wajah etnis TionghoSa.
Di tembok beton samping gerbang dipasang pula tulisan besar “SMA Generasi Emas”, juga berwarna kuning emas.
Setelah turun dari mobil dengan membawa tasnya masing-masing, Marlina dan Sinta langsung masuk melalui pintu kecil yang ada di pagar gerbang. Bu Rista sendiri segera pergi.
Ketika menaiki tangga, seorang siswi berok pendek berlari kecil mendatangi Marlina dan Sinta. Siswi berwajah lebar berkulit putih tapi cantik itu datang dari sisi samping, yang menunjukkan dia datang dari tempat parkiran.
“Ayo buruan, bentar lagi bel!” kata siswi yang bernama Virna, mengajak Marlina dan Sinta.
“Tunggu bentar,” kata Marlina yang memilih berdiri diam di atas tangga sambil memandang ke arah gerbang, seolah menunggu seseorang.
“Tunggu apa?” tanya Virna.
“Anak baru,” jawab Marlina.
“Yang naik sepeda tadi, ya?” tanya Virna. Ia juga tadi melewati siswi berjilbab bersepeda saat membawa mobil sedan silvernya. “Tapi saya jadi heran, kenapa Papa mau terima siswi berjilbab gitu? Kamu juga tahu, di sekolah kita ini cuma satu yang pakai jilbab dan itu dibiarkan karena anak wakil menteri.”
SMA Generasi Emas sudah berusia tiga tahun. Sekolah ini dibangun dengan tujuan komersil. Modelnya mencontoh sekolah-sekolah maju di negara-negara asing. Meski komersil, tetapi sekolah ini memiliki fasilitas didik yang lengkap dan menerapkan sistem full day school hingga jam tujuh malam.
Bisa dikatakan, tidak ada fasilitas belajar atau praktik yang tidak ada di sekolah ini. Berbagai lab belajar ada, ruang praktik ada, hingga lapangan dan arena olahraga tersedia. Lapangan bulutangkis, bola basket, futsal, renang, hingga lapangan sepak bola tersedia. Khusus sepak bola, lapangannya ada di luar gedung, tepatnya di belakang gedung utama. Maka wajar jika sekolah ini memiliki berbagai tim olahraga.
Dalam usia tiga tahun, sekolah ini sudah menjadi sekolah maju unggulan favorit skala nasional dengan standar internasional. Murid-murid yang bersekolah di sini pun adalah anak-anak dari keluarga orang-orang kaya. Banyak murid yang berasal dari daerah luar Jakarta, bahkan luar pulau Jawa. (RH)
**********
Bagi yang suka dengan cerita Om Rudi, tolong bantu dengan rate, like, komentar, favorit, dan vote 😁🙏🙏
gak heran kalo jandanya sekaliber bunda Maia dapatnya duda sekaliber Irwan Mursi 🤣🤣 eh kok malah ngelantur gue 🤣🤣🤣