NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Sentuhan

“Jangan apa?” Raka menatap matanya dalam. “Aku hanya bilang jujur. Dan aku tidak suka melihatmu takut.”

Ia menarik tangannya kembali, memberi ruang. “Tidurlah. Besok kita bicara lagi soal keamananmu. Malam ini… biar aku yang jaga.”

Alena hanya bisa mengangguk pelan. Saat Raka berbalik menuju pintu, ia sempat menoleh sekali lagi. “Kalau kau takut tidur sendirian… pintu kamarku di ujung lorong. Tidak terkunci.”

Kemudian ia keluar, menutup pintu pelan. Alena duduk diam di tepi tempat tidur, memeluk cangkir teh yang sudah mulai dingin. Pipinya masih terasa panas. Raka malam ini… terlalu manis. Terlalu dekat. Dan justru itu yang membuatnya semakin bingung.

Di luar, di lorong yang sunyi, Raka bersandar di dinding sejenak. Matanya menatap pintu kamar Alena. Senyum tipis masih tersisa di wajahnya, tapi di balik itu ada kewaspadaan yang tajam.

Orang-orang yang mengejar Alena tidak akan berhenti. Dan malam ini, ia sudah memutuskan, siapa pun yang berani mendekati gadis itu… harus melewati mayatnya dulu.

Malam sudah larut. Rumah Raka sunyi, hanya suara AC dan detak jam dinding yang terdengar. Alena terbaring di tempat tidur, tubuhnya meringkuk di balik selimut. Sejak Raka meninggalkan kamar, ia berusaha tidur. Tapi pikiran tentang orang-orang yang mengejarnya terus mengusik.

Perlahan, matanya terpejam, dan mimpi buruk datang. Dalam mimpi itu, ia berlari di lorong gelap. Suara langkah kaki mengejar dari belakang. Tangan-tangan kasar meraihnya. Wajah-wajah kabur berteriak memanggil namanya. Lalu ada darah. Banyak darah. Seseorang menjatuhkannya, dan ia tidak bisa bernapas. “Tidak… lepaskan…!”

Alena terbangun dengan teriakan tertahan. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi pelipis. Napasnya terengah-engah. Tangannya mencengkeram seprai begitu kuat sampai jari-jarinya memutih. Hampir bersamaan, pintu kamar terbuka.

Raka masuk dengan langkah cepat. Rambutnya agak berantakan, hanya mengenakan kaos hitam longgar dan celana pendek. Matanya waspada, seolah siap menghadapi ancaman.

“Alena?” suaranya serak karena baru bangun.

Melihat kondisi gadis itu, ia langsung mendekat tanpa ragu. Duduk di tepi tempat tidur, lalu meraih bahu Alena yang masih gemetar.

“Hei… hei, tenang. Aku di sini.”

Alena masih setengah tersadar. Matanya basah. Saat merasakan sentuhan Raka, ia secara refleks memeluk tubuh pria itu erat-erat, menyembunyikan wajah di dada Raka.

“Mereka… mereka datang…” gumamnya pelan, suaranya pecah.

Raka memeluknya balik. Satu tangannya mengusap punggung Alena dengan gerakan lambat dan menenangkan, sementara tangan lainnya menahan kepala gadis itu agar tetap di dadanya.

“Tidak ada siapa-siapa,” bisiknya di dekat telinga Alena. Suaranya rendah, dalam, dan sangat lembut. “Hanya aku. Kau aman. Aku janji.”

Alena menggeleng pelan, masih memeluk erat. Detak jantung Raka terdengar jelas di telinganya—stabil, kuat, menenangkan. Raka menghela napas pelan. Ia merunduk sedikit, bibirnya hampir menyentuh rambut Alena.

“Mimpi buruk?” tanyanya lembut.

Alena mengangguk kecil, masih tidak berani mengangkat wajah.

Raka tersenyum tipis. Ia mengusap pelan rambut Alena, jari-jarinya menyisir helai yang berantakan. “Sudah berani. Sudah selesai. Sekarang aku di sini.”

Perlahan, Alena mengangkat wajah. Mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Napas keduanya bercampur. Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, wajah Raka terlihat lebih lembut dari biasanya.

“Maaf…” bisik Alena, suaranya serak. “Aku mengganggu tidurmu.”

Raka menggeleng. Ibu jarinya mengusap pelan air mata yang tersisa di pipi Alena. Gerakannya sangat hati-hati, seolah Alena adalah sesuatu yang mudah retak.

“Kau tidak mengganggu,” katanya pelan. “Aku lebih takut kalau kau sendiri menghadapi ini.”

Diam sejenak. Hanya napas mereka yang terdengar. Lalu Raka mendekatkan wajahnya. Dahi mereka saling bersentuhan.

“Boleh aku…?” tanyanya lirih, meminta izin tanpa menyelesaikan kalimat.

Alena tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menatap mata Raka, lalu sedikit mengangguk. Raka mengecup kening Alena pelan. Kecupan itu lama, hangat, penuh rasa protektif. Kemudian ia menurunkan bibirnya ke pelipis Alena, lalu ke ujung mata yang masih basah. Alena menutup mata. Tubuhnya yang tadinya kaku perlahan melunak di pelukan Raka.

Raka menarik tubuh Alena lebih dekat, membiarkan gadis itu duduk di pangkuannya. Kedua lengannya melingkari pinggang Alena, menahannya dengan lembut tapi tegas.

“Tidur lagi,” bisiknya di dekat telinga. “Aku tidak akan pergi. Aku akan di sini sampai kau tenang.”

Alena mengistirahatkan kepala di bahu Raka. Jantungnya masih berdetak kencang, tapi kali ini bukan karena takut.

“Raka…” gumamnya pelan.

“Hmm?”

“Jangan tinggalkan aku malam ini.”

Raka tersenyum kecil. Ia mengecup lembut pelipis Alena sekali lagi.

“Tidak akan,” jawabnya. “Malam ini, dan malam-malam setelahnya… aku di sini.”

Ia merebahkan tubuh mereka perlahan ke tempat tidur, masih memeluk Alena erat. Satu tangannya terus mengusap punggung gadis itu dengan gerakan menenangkan, sementara yang lain membelai rambutnya. Di luar, malam terus berjalan sunyi. Tapi di dalam kamar itu, Alena perlahan merasakan detak jantungnya kembali stabil. Di pelukan Raka yang hangat dan protektif, mimpi buruk itu perlahan menjauh.

Pagi datang lebih cepat dari yang Alena kira. Saat matanya terbuka, ia masih berada di pelukan Raka. Kepala bersandar di dada pria itu, satu lengan Raka masih melingkari pinggangnya. Napas Raka teratur, tapi dari detak jantungnya, jelas ia sudah bangun sejak tadi. Alena langsung kaku. Perlahan ia mencoba melepaskan diri.

“Sudah bangun?” suara Raka serak, rendah, masih terdengar mengantuk.

“Iya…” Alena duduk tegak, pipinya memanas. “Maaf, aku… tadi malam…”

“Tidak apa-apa,” potong Raka lembut. Ia ikut duduk, menyandarkan punggung ke headboard. “Aku yang bilang akan menemanimu.”

Alena menggigit bibir, lalu bergegas turun dari tempat tidur. “Aku harus siap-siap. Mau berangkat ke kantor.”

Raka mengangkat alis. “Sendiri?”

“Iya. Aku bisa naik taksi.”

“Tidak.”

Jawaban itu keluar tegas. Alena menoleh. “Raka, aku harus kelihatan normal di kantor. Kalau kita datang bareng, orang-orang akan—”

“Aku antar,” potong Raka. Ia berdiri, mendekati Alena. “Ini perintah.”

Alena menghela napas panjang. “Baik. Tapi… turunkan aku sebelum lobi. Jangan sampai ada yang melihat kita bersama.”

Raka menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum tipis. “Baik. Aku setuju.”

Mobil melaju di jalanan pagi yang masih relatif sepi. Alena duduk di kursi penumpang dengan tubuh kaku, memandang keluar jendela. Raka sesekali meliriknya, tapi tidak berkata apa-apa. Ketika gedung kantor sudah terlihat di kejauhan, Alena meneguk ludah.

“Turunkan aku di sini saja,” katanya pelan. “Nanti aku jalan kaki.”

Raka tidak menjawab. Mobil tetap melaju.

“Raka…”

Masih diam. Baru ketika mobil memasuki area parkir bawah tanah kantor, Alena menyadari.

“Kau bilang akan menurunkan aku sebelum lobi!”

Raka memarkir mobil di slot yang biasa ia pakai—slot khusus direktur. Ia mematikan mesin, lalu menoleh ke Alena dengan wajah tenang.

“Aku berubah pikiran.”

Alena membelalak. “Apa?! Raka, orang-orang akan melihat—”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!