" Gue jadi pembantu .... arrrrrrrrrr "
Gimana jadinya seorang anak sultan jadi ART⁉ Penasarankan,Ikuti terus kisahnya,bagai mana ribetnya mengurus dua bayi besar sekaligus padahal dirinya bukanlah babysister.
Dan bagai mana pula kisah cinta mereka akan berjalan jika mereka dipertemukana dengan keadaan sedemikian membingungkan.
Akan kah Diandra bisamenerima perasaan cinta itu dan akan kah Dimittriv benar - benar membuka hatinya untuk wanita lain jika dihati terkecilnya masih ada sosok Isbel mantan istrinya.
Lalu bisakah Diandra meluluhkan hatinya disaat dirinya tak yakin cintanya bersambut.
🐼🐼 Pantengin terus ya mentemen ceritanya 🐼🐼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cipand, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB VI
...INSIDEN...
Hari kembali berjalan seperti biasanya,setelah permasalahan antara Mela dan Renal selesai semua kembali berjalan seperti sedia kala.
Pekerjaan Dian terus saja menumpuk seperti biasanya,dan ulah Amel selalu saja sukses membuat Dian pusing tujuh keliling dan belum lagi dirinya harus ekstra kesabaran dalam menghadapi emosinya sendiri karna ulah Amel.
Terkadang Dian berfikir bahwa ini adalah karma yang diberikan untuknya.
" Surti apa loe pernah sumpah serapahin gue? kaya gue ke Amel gini "_ Tanya batin Dian.
Amel selalu saja menguji kesabaran Dian seperti saat ini ditambah lagi para moster kecil itu masih ada disini membuat Dian semakin merasa siap untuk pindah planet saja.
" Mba .. Ian ...Ayo main baleng Afa yu " ajak Syafa pada Dian saat ia tengah menyetrika baju Amel yang hendak dipakai.
" Ama Afillrr aja mba " ucap Syafiir
" Ama Afa " ucap sang adik tak mau kalah
" Afiillrrr "
" Afa .. Afillrrr ..Afa " kekeh Syafa
" Ok... Ok ... Mba main sama Afa sama Afir ya Afa sama Afiir jangan bertengkar lagi ok " pinta Dian sembari jongkok mensejajarkan tubuhnya agar sejajar dengan dua moster kecil yang sudah hampir satu setengah bulan Dian asuh.
Tanpa sadar Dian meninggalkan setrikaan yang masih menyala dengan tubuh setrikaan tertutup menempel pada dress kesayangan Amel.
" Ok ... Mba " jawab kedua moster kecil itu.
" Baik lah Afa dan Afir tunggu sebentar ya mba matikan setrikaan dulu ya " ujar dian yang dianguki kedua moster kecil itu tanpa banyak protes lagi.
Dian mematikan tonbol merah pada saklar terminal kuningan yang mencolok pada saklar utamanya,tanpa melihat setrikaan yang panas itu berdiri atau tertidur.
Lantas Dian langsung mengajak Syafa dan Syafiir bermain dihalaman,Dian benar - benar melupakan baju Amel yang tengah disetrika olehnya tadi.
*
Sedangkan Amel didalam kamar sudah merasa bosan dan kesal karna Dian tak kunjung datang untuk memberikan baju yang hendak dipakai olehnya.
Sore nanti Amel memiliki acara mendatangi pesta ulang tahun sahabatnya,jadi Amel meminta Dian menyiapkan baju kesayangannya untuk dia pakai keacara ulang tahun sahabatnya itu.
Namun yang ditunggu tak kunjung datang jangankan orangnya baju yang disetrikanya pun tak datang.
" Kemana sih dia?" tanya Amel kesal.
Amel masih berusaha sabar dan menunggu,selang 30 menit amel menunggu,emosinya memuncak kesabarannya habis,amel turun ketempat Dian menyetrika.
Saat sampai ditempat yang dituju,Amel tak melihat Dian ditempat itu malah hanya ada setrikaan yang tertidur beralaskan bajunya.
" Kerja belum beres sudah ditinggal, kemana lagi tu anak " gerutuh Amel,sembari melangkahkan kakinya kearah bajunya yang tergeletak diatas tempat setrikaan.
Alangkah terkejut Amel saat mendapati baju kesayangannya yang terlihat nampak kehitaman,Amel mengangkat strikaan yang kini sudah dingin dan Amel semakin dibuat terkejut saat setrikaan itu terangkat dari bajunya.
Dress cantik itu berubah menjadi tak karuan saat ditengahnya bolong sebesar setrikaan.
" Diaaaaaaaannnnnnnnnnnnn " Amrl berterian sekencang yang dia bisa emosinya meluap begitu melihat dress kesayangannya rusak.
**
Mendengar teriakan Amel,Dian yang tengah asik bermain dengan sikembar kaget.
Dian membawa Syafa dan Syafiir kedalam rumah,agar bisa bermain diruang keluarga saat Dian meninggalkan mereka untuk menemui amAmel.
" Nah ... Anak - anak mba Ian dipanggil aunty Amel. Jadi mba ke aunty Amel dulu ya " ucap Dian pada dua bocah kembar ber usia 4 tahun itu.
Mereka mengangguk seraya jari - jemari mereka membentuk lingkaran tanda bilang Ok.
Dian berjalan tergesa - gesa karna teriakan Amel dalam hati ia bertanya ada apa ? apa dirinya melakukan kesalahan lagi ?.
Sampailah Dian dikamar belakang tempat biasa dirinya menyetrika dengen setumpuk baju keluarga Diwangkara.
" Heh ... Ba** loe apain dress kesayangan gue ampe bisa kaya gini ?" bentak Amel bertanya.
Dian benar - benar terkejut saat melihat dress Amel yag sudah bolong bergambarkan strikaan itu,Dian benar - benar lupa jika tadi dia tengah menyetrika dress Amel saat diajak main oleh sikembar tadi.
Dan Dian tidak tau bahwa setrikaan yang dia pakai ternyata bukan dalam keadaan berdiri melainkan tertidur.
_ Mati gue kenapa bisa ampe lupa _ Monolog hati Dian.
Merasa tak mendapat jawaban Amel melangkahkan kakinya kearah Dian saat sudah sampai dihadapan Dian tanpa babibu bebo lagi tanpa Dian sempat menghindar lagi Amel menamparnya begitu kencang.
Prakkkkkk.....
Tamparan dipipi Dian yang cukup keras membuat pipinya berkedut pedas,pipi Dian yang putih mulus menjadi merah,rasa panas menjalar dalam dirinya.
Emosi Amel kembali memuncak saat Dian hanya mematung tanpa beraksi apapun,Dian yang syok mendapatkan serangan yang tiba - tiba itu hanya bisa mematung.
" Heh gue nanya sama loe ya " bentak amel mengingatkan.
" Ma..af nona " ucap Dian bergetar bukan karna takut,melainkan karna sensasi rasa sakit yang baru pertama kali dirinya dapatkan,dan juga berusaha menahan gejolak dalam diri yang ingin keluar.
" Loe bilang maaf denga gampangnya tanpa melihat kesalahan loe.Enak bangetnya " kembali bentaakan itu terdengar.
" Loe emang benar - benar harus dikasih pelajaran ya " bentak Amel,dirinya benar - benar murka pasalnya dress itu belum sempat dia pakai sama sekali karna terlalu sayangnya Amel kepada dress tersebut.
Tapi dengan cerobohnya Dian malah membuat lubang besar dibagian dada dress itu,membuatnya marah.
***
Dian ditarik kearah dapur untuk mengambil sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menghukum Dian yang tidak becus bekerjamenurut Amel.
" Nona mau bawa sayakemana,ampun nona sayatidak sengaja " ucap Dian sembari meringis saat Amel dengan teganya menyeretnya dengan cara menjambak rambut Dian.
" Diamlah Dian ikut dan menurut saja " ucap Amel ketus dengan senyum semiriknya.
Bi Darti yang berada didapur tengah memasak air menjadi kaget karna kedatangan nona termudanya datang dari arah belakang,lebih kaget lagi bidarti saat yang ditarik oleh nona termudanya adalah Dian.
Bi Darti memang tidak mendengar teriakan Amel karna baru pulang dari pasar dengan Rani yang kini sedang merapihkan barang belanjaan yang dibelinya tadi.
Bahkan Rani yang tadi fokus pun menjadi menganga saat melihat Dian diseret seperti binatang.
"Ya allah non Amel ada apa ini?"tanya Bi Darti
" Diam disitu " bentak Amel
" Tapi non kasian Diannya non.Kalau Dian salah biar bibi yang menghukumnya ya " pinta Bi Darti mencoba untuk merayu Amel.
" Minggir " bentak Amel,Amel melihat air yang telah mendidih yang baru saja kompornya dimatikan.
Masih menarik Dian, Amel mendekati kompor dan mengambil teko yang sudah terisi air panas itu dan membawa Dian kearah westafel .
" Nah Dian... Biar tangan loe ga bikin kesalahan mulu gue kasih sedikit pelajaran ya " ucap Amel menatap dian sekis.
Amel menarik tangan Dian kearah westafel dan tanpa ampun lagi Amel menyiram air panas itu ketangan Dian .
" Aaaaahhhhkkkkkkkkkk" pekik Dian
" Ya Allah non Amel " teriak Rani dan Bi Darti bersamaan.
Surya dan Syafitri yang baru saja datang berhaburan kearah dapur karna bendengar pekikan dan teriakan dari arah dapur.
" Ya Allah Amel" bentak Surya saat melihat kelakuan anknya.
Surya memgambil ceret yang Amel pegang yang masih mengguyur lengan Dian,Dian hanya bisa meringis menahan rasa sakit.
Sambil sesekali menahan isak tangisnya,Dian benar - benar menyupahi dirinya yang bisa - bisanya menangis.Air mata bodohnya tak mau berhenti mengalir malah kini dia sampai terisak kecil.
" Apa yang kaamu lakukan ?" bentak Surya bertanya
" Papa" ucap Amel kaget
" Kamu sudah gila hah " kembali Surya membentak Amel.
" Tapi dia salah pa "jelas Amel.
" Tidak seperti ini untuk memghukum yang salah sayang" ucap Syafitri mencoba membuat anak gadisnya mengerti.
" Ayo mah kita bawa Dian kerumah sakit dulu, dan kamu masuk kamar,jangan keluar dari kamar sebelum papa datang dari rumasakit" ucap Surya seraya menggandeng Dian yang masih terisak.
" Tapi pah Amelkan ada acara " sanggah Amel
" Tetap dirumah atau semua fasilitas kamu papah sita " jelas Surya tegas tanpa mau dibantah.
Amel menghentakan kakinya lantas masuk kedaalam untuk kekamarnya.
_ Awas saja kau _ Batin Amel.
****
" Dian maafkan Amel ya " pinta Surya setelah kembali dari rumah sakit,Dian tak menjawab ucapan dari Surya hatinya masih mangkal karna kelakuan Amel,tanpa Dian pernah sadari dirinyapun pernah berada diposisi Amel.
_ Ga akan bisa gue memaafkan anak loe _ Batin Dian murka.
Setelah mobil sampai didepan rumah megah itu Dian langsung keluar dari dalam mobil dan tanpa permisi lagi Dian memilih untuk kembali kekamarnya.
Dan karna insiden itu Amel mendapat hukuman dari Surya,saat Surya tau apa alasan Amel menyiram lengan Dian dengan air panas Surya benar - benar murka atas tidakan anak bungsunya itu.
" Ingat Amel sampai papah melihat kelakuan kamu yang seperti ini lagi,bukan satu bulan fasilitas mu papa cabut tapi selamanya " tegas sang papa.
Ya selama satu bulan Amel dilarang menggunakan fasilitas yang sudah dia punya bahkan uang sakunya pun dipotong sang papa.Itu membuat Amel jera walau masih saja dia dendam pada Dian karna Dian membuat papanya menghukum dirinya.
Jeranya Amel hanya sebatas ucapan saja pembuktiannya belum ada sama sekali terbukti saat surya dan Syafitri tidak ada Amel malah semakin membuli Dian.