NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Isekai
Popularitas:52.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

"Bujur buset!"

​Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.

​Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.

​"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.

​Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.

​Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.

​Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 06 Rasa baru Dalam Rebusan singkong.

Dinda terbangun di pagi buta dengan tubuh yang gemetaran. Udara pagi di Desa Rejo ternyata luar biasa menusuk hingga ke tulang.

​"Hufh..." Dinda meniup kedua telapak tangannya lalu menggosok-gosokkannya dengan cepat, mencoba mengusir rasa dingin yang membalut tubuhnya.

​Karena tidak kuat menahan gigilan, Dinda memutuskan bangkit dan melangkah menuju dapur. Dari sela-sela bilik, ia bisa melihat kepulan asap tipis sudah membubung tinggi dari perapian kayu yang dinyalakan oleh Mbok Ginem.

​"Nduk, sudah bangun toh?" sapa Mbok Ginem ramah saat menyadari kehadiran Dinda.

​Dinda mengangguk pelan dengan bibir sedikit pucat. "Iya, Mbok. Mbok, aku numpang menghangatkan tangan di dekat perapian, ya? Suasananya dingin sekali di sini," katanya sembari merapatkan tubuh ke arah tungku.

​"Walah, iya, Nduk. Sini, duduk dekat si Mbok," Mbok Ginem menggeser duduknya dengan tatapan penuh rasa iba.

​Kasihan cah ayu ini. Pasti orang tuanya di luar sana sedang kebingungan mencari-cari keberadaannya, batin Mbok Ginem merasa prihatin.

​Sambil menikmati kehangatan yang menjalar di tubuhnya, mata Dinda memperhatikan Mbok Ginem yang sedang sibuk membolak-balik singkong rebus di dalam kuali tanah liat. Mengingat rasa singkong semalam yang hambar tanpa rasa, Dinda tiba-tiba teringat akan ruang rahasianya.

​Di dalam rumah minimalis itu kan ada persediaan garam dan penyedap rasa. Kira-kira kalau aku ambil dan bawa ke sini, bisa enggak, ya? batin Dinda menimbang-nimbang.

​Rasa penasarannya mendadak meletup. Tak ingin membuang waktu, Dinda langsung bergegas bangkit. "Mbok, aku ke kamar sebentar, ya. Mau ambil sesuatu di tas," pamit Dinda, membuat alasan agar Mbok Ginem tidak curiga.

​Begitu kakinya menginjak lantai kamar, Dinda buru-buru menutup pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu jemarinya dengan cekatan mengusap permukaan cincin bulan sabit miliknya. Wusss!

​Pandangannya berputar dan sedetik kemudian, ia sudah menapakkan kaki di atas tanah subur perkebunan rahasianya. Dinda terkekeh senang. Ia berjalan cepat setengah berlari menuju rumah minimalis, mendorong pintunya yang sunyi, lalu langsung melesat ke kamar penyimpanan barang.

​Mata Dinda berbinar begitu melihat tumpukan bumbu dapur modern. Di sana berjejer bungkus garam kasar, garam halus, micin, hingga penyedap rasa Masako ayam dan sapi.

​"Nah, ini dia!" Dinda tersenyum lebar. Ia mengambil satu bungkus kecil garam halus dan sebungkus Masako. Tak lupa, ia meraih sebuah kantong plastik bening yang tergeletak di rak untuk wadah bumbu-bumbu tersebut.

​Saat berjalan keluar dari rumah minimalis dan melewati area perkebunan, langkah kaki Dinda mendadak mengerem. Sudut matanya menangkap warna merah merona yang sangat mencolok di antara dedaunan hijau. Itu adalah deretan pohon cabai rawit yang buahnya gemuk-gemuk dan matang sempurna.

​Dinda spontan meneguk ludah. Eumm... kalau makan singkong rebus hangat, terus dicocol sambal bawang yang pedas, kayaknya surga dunia banget ini! pikirnya dengan mata berbinar-binar.

​Tanpa menunggu lama, jemari lentik Dinda bergerak lincah memetik beberapa buah cabai rawit merah yang tampak segar memikat. Tidak jauh dari pohon cabai, ia juga melihat pohon tomat yang buahnya ranum dan berair. Dinda sekalian memetik satu butir tomat besar untuk mengurangi rasa pedas sambalnya nanti.

​Semua hasil jarahannya dimasukkan ke dalam kantong plastik yang sama. Setelah dirasa cukup, Dinda kembali mengusap cincinnya. Wusss!

​Dalam sekejap mata, Dinda sudah berdiri kembali di dalam kamar rumah pohon Wira. Di tangannya kini sudah tergenggam erat sebuah kantong plastik berisi garam, Masako, cabai rawit, dan tomat segar.

​Dinda tersenyum penuh kemenangan. Dengan langkah anggun yang sengaja dibuat sekalem mungkin, ia kembali berjalan menuju dapur untuk menemui Mbok Ginem.

Dinda melangkah mendekati Mbok Ginem yang masih sibuk di depan perapian. "Mbok, aku punya sedikit garam sama penyedap makanan. Apa boleh singkong rebusnya kita beri ini?" tanya Dinda hati-hati, tak ingin menyinggung.

​Mbok Ginem menoleh, dahinya berkerut dalam penuh rasa penasaran. "Apa itu, Nduk?"

​"Ini garam halus, Mbok. Dan yang satu lagi ini penyedap rasa," jelas Dinda sembari mengeluarkan dua bungkusan plastik tersebut.

​Ia membuka kemasannya, lalu menuangkan sejumput kecil garam putih bersih itu ke atas telapak tangan Mbok Ginem yang sudah keriput dimakan usia. Wanita tua itu terdiam, memandangi serbuk putih yang tampak begitu asing di matanya.

​"Cobalah sedikit, Mbok. Ini enak sekali," bujuk Dinda meyakinkan.

​Melihat binar keyakinan di mata Dinda, Mbok Ginem akhirnya memberanikan diri untuk mencicipi serbuk tersebut dengan ujung lidahnya. Ia mengecap-ngecap selama beberapa detik, sebelum akhirnya matanya membelalak terkejut.

​"Aduh, Nduk! Ini rasanya asin gurih. Mirip seperti garam yang sering dibeli orang-orang kaya di kabupaten, tapi yang ini halus sekali! Biasanya yang mereka beli itu bentuknya kasar dan kotor. Pasti ini mahal ya, Nduk?" tanya Mbok Ginem dengan suara bergetar kaget, langsung cemas memikirkan harganya.

​Dinda hanya tersenyum manis lalu menggeleng pelan. Tanpa menjawab, ia kembali menarik lembut tangan Mbok Ginem dan menumpahkan sedikit bubuk kuning Masako di atasnya.

​Mbok Ginem kembali mengernyit, lalu menyesap bubuk kuning halus tersebut.

​Bum!

​Rasa asin-gurih yang kaya akan kaldu daging ayam murni langsung memenuhi rongga mulut Mbok Ginem. Kelezatan modern yang belum pernah ada di zaman kuno ini praktis membuat mata wanita tua itu berbinar-binar takjub.

​"Bagaimana, Mbok? Enak?" tanya Dinda, menahan tawa melihat reaksi polos sang simbah.

​Mbok Ginem mengangguk cepat. "Iya, Nduk! Enak... ini sangat enak sekali!" jawabnya antusias.

​Dinda tersenyum puas. Ia segera berjalan mendekati kuali tanah liat tempat singkong direbus. Dengan gerakan telaten, Dinda menuangkan garam halus secukupnya, disusul dengan taburan penyedap Masako. Ia mengaduk air rebusan itu perlahan agar bumbu-bumbu magisnya larut dan meresap sempurna ke dalam serat-serat singkong.

​Begitu singkongnya mulai empuk dan merekah, aroma gurih nan wangi yang menggugah selera langsung menguar, memenuhi seluruh sudut dapur kecil itu.

​"Aduh, baunya enak sekali, Nduk!" seru Mbok Ginem takjub. Seumur hidupnya tinggal di Desa Rejo, baru kali ini hidungnya mencium aroma masakan sewangi ini, padahal menu pagi ini hanyalah singkong rebus biasa.

​Dinda tersenyum bangga. Ia mengangkat singkong hangat itu lalu menatanya di atas wadah tanah liat yang sudah disediakan Mbok Ginem.

​Belum selesai sampai di situ, Dinda kemudian memasukkan cabai rawit merah dan sebutir tomat segar ke dalam sisa air panas untuk direbus sebentar.

​Mbok Ginem kembali dibuat terperangah. "Loh, Nduk. Itu buah apa lagi yang merah-merah?"

​"Ini namanya cabai rawit dan tomat, Mbok. Ini bisa diolah jadi sambal, nanti dimakan bersamaan dengan singkong rebus hangat. Rasanya pasti berkali-kali lipat lebih mantap!" sahut Dinda meyakinkan.

​Mbok Ginem yang kini sudah menaruh kepercayaan penuh pada Dinda hanya bisa terdiam patuh. Ia memperhatikan gerak-gerik Dinda yang begitu telaten. Sudut bibir wanita tua itu perlahan tertarik, membentuk senyuman yang sangat lembut.

​Sungguh cekatan sekali gadis ini. Ah... beruntung sekali rasanya Wira kalau bisa menikahinya, batin Mbok Ginem penuh harap.

​Tentu saja Dinda tidak tahu apa yang sedang digemari Mbok Ginem di dalam hatinya. Gadis cantik itu tetap fokus pada eksperimen kulinernya. Setelah cabai dan tomat dirasa cukup layu, ia mengangkatnya.

​Karena tidak ada cobek, Dinda memutar otak. Ia mengambil sebuah gelas tanah liat yang bagian bawahnya cukup tebal dan rata untuk dijadikan pengulek darurat. Dengan pasti, ia melumatkan cabai dan tomat itu sampai halus, lalu membumbuinya dengan garam dan sedikit Masako.

​Aroma pedas segar sambal tomat langsung menusuk hidung. Dinda meneguk ludahnya sendiri. Ia mengambil sepotong singkong rebus yang masih mengepulkan asap, lalu mencocolnya ke dalam sambal yang merah merona hingga terbalur rata.

​Nyam.

​Dinda memasukkannya ke dalam mulut. "Eumm... enak banget!" gumamnya pelan menikmati perpaduan rasa gurih, pedas, dan sedikit asam segar dari tomat.

​"Mbok, cobalah," kata Dinda sembari menyodorkan sepotong singkong yang sudah berselimut sambal.

​Mbok Ginem awalnya sempat ragu melihat warna merah membara itu, namun ia tetap membuka mulutnya untuk menerima suapan Dinda. Sesaat setelah mengunyah, mata Mbok Ginem langsung melotot syok.

​"Duh, Nduk! Yang merah ini rasanya aneh sekali. Kok mulut si Mbok rasanya seperti terbakar dan panas ya? Tapi... tapi kok makin dikunyah malah makin enak?!" seru Mbok Ginem heboh sendiri, ketagihan dengan sensasi pedas sambal buatan Dinda.

​Dinda terkekeh geli melihat kepolosan Mbok Ginem. "Kalau begitu, mari kita sarapan bersama, Mbok!"

​Mbok Ginem mengangguk setuju dengan wajah sumringah. "Kamu makanlah duluan, Nduk. Si Mbok mau turun ke bawah sebentar untuk memanggil Wira," kata Mbok Ginem lalu berjalan pergi.

​Dinda tersenyum manis, menatap punggung Mbok Ginem yang perlahan menjauh dari area dapur.

Makasih sudah singgah ya! Kalo penasaran kelanjutannya kirim Update ke aku aja ya....

Thanks you yang sudah singgah.♡

1
Siti Naimah
cuma bisa membayangkan saja.. Dinda masuk di kehidupan jaman dulu kala..entah di jaman Majapahit atau apa.dimana rakyat pedesaan pada heran melihat minuman kopi teh sachet an.. minuman instan..juga makanan biscuit.. apalagi kompor gas🤭...tentu penduduk desa tersebut cuma bisa bengong.



😄😄😄😄
Tasyacysya: Izin Zaman dulu, Tapi bukan majapahit, semacam dunia lain..😄
total 1 replies
Siti Naimah
Gauri..sadar diri dong🤭
masak pengen merebut Wira dari Dinda...kan masih banyak cowok2 yg laen
Siti Naimah
gak habis pikir dengan apa yg lagi dialami oleh Dinda... betul2 sesuatu yg gak masuk akal🤭...tapi aku suka banget.. mestinya banyak hal aneh2 yg lain... ditunggu kelanjutannya 😄
Siti Naimah
semoga kakak author sehat selalu..
ditunggu karyanya🙏
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
istirahat saja kak... jangan terlalu memaksa diri
Siti Naimah
walah namanya minta sumbangan..dan ngantri gitu aja kok coba2 berniat genit sama Wira...ya tentu aja bikin Dinda jadi sewot 🤭
Siti Naimah
semangat berkarya 💪
Sri rahayu
lumayan jauh Thor 😁😁😁
Siti Naimah
ceritanya Dinda sama Wira bakal menjadi pedagang sembako nih👍
Siti Naimah
kasihan banget prajurit penjaga perbatasan sampai susah untuk mencari makanan.sampai singkong pun tidak dapat.semoga bisa segera mendapat makanan dari Dinda..gak kebayang jika lihat Indomie..tentu pada heran dan bingung.ada makanan aneh tapi enak banget 🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
belum terlalu jauh kok aman
Dewiendahsetiowati
lanjut Thor
Siti Naimah
semoga mpu Barata lekas sembuh..
dan bisa bekerja kembali
Siti Naimah
mpu Barata seperti nya mulai berangsur sembuh dan keadaannya membaik.makanya jadi lapar dan doyan makan
Siti Naimah
ini si lawe juga baru mengenal barang aneh dan asing.tisu basah...itu model barang jaman modern ya lawe..he..he😄
Siti Naimah
bisa membayangkan... betapa senangnya panji menjumpai makanan yang asing..tapi lezat banget🤭
Siti Naimah
Dinda punya jiwa sosial yang tinggi😍👍
Siti Naimah
biscuit merupakan makanan aneh dan mewah di tempat nya panji😄
Siti Naimah
wah membayangkan system nya Dinda kok gak bisa ya🤭jadi bingung sendiri.tapi ya sudahlah yang penting Dinda berhasil 💪
Siti Naimah
rasain lho Lilis..makanya jangan sombong.berusaha supaya bisa menerima hal2 baru dan mengakui kelebihan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!