⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Selesai makan malam, Disty kembali ke kamar lebih dulu selagi Javeno merokok di ruang tengah.
Bukan untuk tidur, tapi Disty justru berdiri dan bertumpu di pembatas balkon sambil menatap keindahan bulan dan bintang yang bertabur di atas langit yang cerah itu.
"Ibu ninggalin aku berdua sama Ayah, aku nggak tau Ibu dimana sekarang ini, Ibu menghilang tanpa jejak. Dan Ayah.. Ayah yang malah justru mau jual aku dan jadiin aku pelacur di bar, sampai akhirnya aku terselamatkan sama Javeno, walau pada akhirnya aku tetap jadi pelacur. Pelacur milik Javeno," oceh Disty dan sangat lirih di akhir ucapannya.
Menghapus air matanya yang keluar begitu saja lalu ia tertawa kecil. Tawa miris.
"Kalau seandainya Ayah sama Ibu nggak mau aku, kenapa di pertahankan dan malah di lahir kan ke dunia yang bahkan nggak pernah adil sama aku?"
Pertanyaan itu sering kali muncul di kepalanya. Dari kecil, Ayah dan Ibunya kurang dalam memberi perhatian padanya. Sampai Ibunya meninggalkan dia bersama sang Ayah. Lalu perlahan Ayahnya yang malah ingin menjual dirinya.
Disty menghapus air matanya dengan cepat saat ada tangan yang melingkar di perutnya dari belakang.
Siapa lagi kalau bukan Javeno.
"Menangis?" tanya Javeno lembut.
"Keinget sama Ayah sama Ibu," jawab Disty jujur.
"Nggak perlu di ingat," kata Javeno ikut menatap ke depan.
"Kenapa?" tanya Disty menyandarkan tubuh sambil memegang tangan Javeno yang berada di perutnya.
"Nggak penting!"
"Tapi mereka orang tua aku."
"Orang tua yang meninggalkan dan menjual anak sendiri?"
Disty diam dengan pertanyaan itu. Dan mereka sama-sama diam sekarang. Hingga sebuah pertanyaan terlintas di kepala Disty.
"Jav," panggilnya pelan.
"Hm," dehem Javeno memejamkan mata menikmati angin malam yang menyapa kulit mereka.
"Kalau seandainya.. aku pergi?" tanya Disty sangat hati-hati, takut membuat Javeno marah dan berakhir dengan memberinya hukuman.
"Kemana?" Javeno masih menanggapi dengan suara lembut dan pelukan yang semakin erat karena angin mulai dingin.
Disty tidak langsung menjawab, ia menyusun kata lebih dulu agar tidak membuat amarah Javeno bangkit.
"Pergi dari rumah, menjauh dari kamu dan menghilang tanpa bisa kamu temuin," ucap Disty dengan jantung yang berdegup kencang.
Javeno menerbitkan senyum yang tidak bisa Disty lihat.
"Kamu nggak akan bisa," jawabnya masih santai.
"Dan kalau ternyata aku bisa?"
Javeno membuka matanya, melepas pelukan dan membalik tubuh Disty agar menghadap dirinya. Menatap mata bulat gadis cantik di depannya ini.
Menuntun lembut dagu Disty agar mendongak menatapnya, lalu ia mendekatkan wajah dan menyatukan kedua bibir mereka dengan lembut.
Pergerakan yang lembut tanpa tuntutan. Dan Disty menerima serta membalas tanpa perlawanan.
Disty mendorong Javeno saat dirinya mulai kehabisan napas.
Javeno tidak marah dengan itu, tangannya terulur mengusap bibir basah Disty.
"Aku menginginkan nya," kata Javeno dengan suara berat dan tatapan sayu. Menginginkan hal lebih lagi dari Disty.
"Jawab dulu," kata Disty menahan dada bidang Javeno yang ingin kembali mendekatkan diri.
"Apa?" tanya Javeno tidak melepas pandangan nya dari bibir ranum Disty. Tangannya juga semakin mencengkram pinggang ramping Disty. Bukan hanya sekedar ciuman, tapi sesuatu yang lebih dari itu dan Disty paham dengan itu.
Karena ini.. bukan pertama kalinya.
Miris memang.
Tapi Disty juga sudah mengakui kalau dia adalah pelacur nya Javeno.
"Kalau aku berhasil dan bisa pergi jauh dari kamu?" Disty bertanya.
"Nggak akan bisa," jawab Javeno masih sama seperti tadi.
"Kenapa?" tanya Disty lagi dengan kernyitan di dahi.
Nafsu Javeno semakin tinggi, tangannya mulai meraba keatas, di dua gundukan kenyal itu.
Disty menahan tangan kekar itu. "Jawab dulu. Kenapa?"
"Karena sebelum kamu bisa melakukan itu, aku yang akan melumpuhkan mu lebih dulu atau bahkan membuatmu hidup tanpa kedua kaki lagi," jawab Javeno sarkas.
Dan setelah memberi jawaban yang menyeramkan itu, Javeno langsung menggendong Disty masuk ke kamar untuk melakukan apa yang dia inginkan.
~●~●~
Tidur nyenyak Disty terganggu saat ketukan di luar kamar itu tidak berhenti dan selalu datang.
Membuka mata dan melihat jam dinding yang tergantung. Menunjukkan pukul 06.10 WIB.
Disty mengambil remot control yang akan langsung terhubung kepada Amel yang bertugas membangunkan mereka setiap pagi. Dari remot itu Amel akan tau kalau majikannya sudah bangun.
Amel tidak akan datang lagi dan tidak akan mengetuk pintu. Ia kembali ke tugas nya untuk memeriksa semua pekerjaan para pelayan.
Disty mengucek matanya, lalu menoleh ke samping di mana Javeno masih tertidur pulas sambil memeluknya.
Di dalam selimut tebal ini, mereka berdua tidak mengenakan sehelai benang pun, hanya selimut yang menutupi tubuh mereka.
Mereka belum menikah, tapi hubungannya sudah seperti pasangan suami istri. Dan Disty tidak bisa melawan. Dia menerima dan akan terus seperti itu.
"Jav, bangun," ucap Disty lembut membangunkan Javeno.
Javeno membuka matanya, ia duduk dan bersandar. Sedangkan Disty membenarkan selimutnya.
"Aku nggak sekolah ya," pinta Disty pelan.
Javeno langsung menunduk, menatap Disty yang masih rebahan itu.
"Kenapa?"
"Leher aku penuh tanda yang kamu buat semalam. Cushion juga nggak akan bisa nutupin ini," jawab Disty sangat masuk akal. Karena memang benar seperti itu.
"Hm," dehem Javeno dan segera turun dari ranjang, ke kamar mandi.
Disty sendiri kembali memejamkan mata karena ia masih sangat mengantuk. Tubuhnya lelah, selain itu mental nya juga lelah.
Kalau ia memaksa tetap sekolah, yang ada tubuhnya akan semakin hancur nantinya, karena Zaffar pasti tidak akan berhenti mengganggu dirinya dan berakhir Javeno yang akan memberi hukuman padanya.
Sebelum berangkat sekolah, Javeno mencium kening Disty tanpa mengganggu tidur gadis itu. Lalu ia keluar dan duduk di ruang makan seorang diri.
"Jangan mengganggu gadisku, biarkan dia beristirahat," kata Javeno sambil menunggu roti oles nya.
"Iya Tuan," sahut mereka patuh.
Javeno menatap tajam Anggun yang tersenyum tipis dan menunduk hormat, lalu menatap Amel.
"Ajarkan sopan santun pada mulutnya kalau dia tidak mau kehilangan segalanya termasuk nyawa!"
Itu adalah peringatan Javeno. Karena dia bukan tidak tahu apa yang membuat Disty kembali ke kamar sangat cepat tanpa menyelesaikan makan malam semalam. Rumah ini penuh pengawasan dirinya.
"Baik Tuan," sahut Amel menunduk patuh dengan rasa bersalah nya.
~•~
Zayna menunggu Disty di dekat gerbang.
"Biasanya kalo Javeno udah datang sendiri tanpa Disty, biasanya nggak lama Disty bakal datang juga di antar supir. Kok sekarang udah 10 menit nggak dateng juga?"
Zayna memeriksa jam tangannya. Ia sering melakukan ini, menunggu Disty dan mengajak ke kelas bersama.
"Apa dia lagi nggak baik-baik aja sampe nggak masuk sekolah?" pikir Zayna sambil melangkah masuk ke sekolah karena bel sudah berbunyi.
"Semoga lo baik-baik aja ya Dis," gumam Zayna sangat tulus.