Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
(Flashback H-49 sebelumnya)
Mobil sedan hitam itu meluncur tenang di jalanan kota yang siang itu cukup padat. Interiornya luas dan elegan, dipenuhi aroma samar kulit kursi yang tampak baru. Segalanya terasa rapi, bersih, dan teratur, persis seperti pria yang sedang mengendarainya.
Aku duduk di kursi penumpang, dengan kedua tangan terlipat di pangkuan. Dari balik kaca jendela, gedung-gedung kota melintas satu per satu, namun pikiranku tidak benar-benar memperhatikannya. Yang justru terus menarik perhatianku adalah pria di sebelahku. Mason Roux.
Ini pertama kalinya aku berada di satu tempat, hanya berdua dengannya. Aneh sekali. Padahal aku tidak pernah merasa canggung berbicara dengan siapa pun sebelumnya. Namun sekarang, duduk di dalam mobil yang sama dengannya, justru membuatku tidak tahu harus mengatakan apa.
Suasana di dalam mobil pun mendadak sunyi. Hanya suara mesin yang halus dan sesekali desis ban menyentuh aspal yang terdengar. Lalu, aku meliriknya diam-diam. Mason terlihat fokus menyetir, dengan kedua tangannya yang memegang kemudi dengan mantap. Bahunya tampak tegap, dan ekspresinya tenang, hampir tidak berubah sejak kami meninggalkan universitas tadi.
Ada sesuatu tentangnya yang terasa jauh. Bukan dingin—ia tidak terlihat seperti orang yang sengaja menjaga jarak. Namun ada ketenangan dalam dirinya yang sulit ditembus, seperti permukaan danau yang terlalu dalam untuk diperkirakan.
Beberapa detik pun berlalu. Aku akhirnya berdeham kecil, memberanikan diri memecah keheningan itu. “Terima kasih sudah datang ke acara kelulusanku.” kataku, sedikit gemetar.
Ia menoleh sekilas kepadaku, hanya sebentar, sebelum kembali menatap jalan. “Tidak masalah.” , jawabnya datar dan pendek. Lalu keheningan pun kembali mengisi mobil itu.
Aku menggigit bibir bawahku pelan, mencoba mencari topik lain. “Kau datang langsung dari tempat kerjamu?”
“Ya.”
Aku tersenyum kecil, walau ia tidak melihatnya. “Apa pekerjaanmu sangat sibuk?”
“Ya. Bisa dibilang cukup.”
Aku mengangguk pelan, meski lagi-lagi ia tidak memerhatikan reaksiku. Jawabannya selalu singkat, dan nadanya datar. Namun entah mengapa, aku tidak merasa diabaikan. Sebab, ia menjawab dengan sopan, hanya saja, ia sepertinya memang bukan tipe pria yang banyak bicara.
Aku mencoba lagi. “Ayahku mengatakan kau sudah mulai memimpin beberapa proyek perusahaan.”
“Ya. Beberapa.”
“Kedengarannya berat.”
“Tidak juga. Aku sudah bisa melakukannya.”
Aku terdiam sejenak. Percakapan kami terasa seperti melempar batu kecil ke permukaan air yang tenang—menimbulkan riak sebentar, lalu kembali sunyi. Namun justru karena itu aku semakin memperhatikannya. Ia bukan pria yang mudah dibaca. Aku tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya. Dan entah mengapa, hal itu justru membuatku semakin penasaran.
Setelah melaju selama lebih dari setengah jam, mobil yang kami tumpangi akhirnya melambat dan berhenti di depan sebuah restoran yang tampak besar dan elegan. Bangunan itu berdiri anggun dengan dinding kaca besar dan pintu kayu gelap yang tampak mahal.
Seorang pelayan segera menghampiri untuk menyambut kedatangan kami. Sementara itu, Mason turun lebih dulu. Aku sempat berpikir ia akan langsung berjalan masuk, tetapi ia justru memutar langkah ke sisi mobil tempat aku duduk. Hingga akhirnya, pintu di sampingku terbuka. Ia berdiri di sana, menunggu dengan sikap tenang.
“Silakan.”
Aku turun dari mobil, sedikit gugup karena kedekatan jarak kami. “Terima kasih.”
Gestur sederhana itu membuat jantungku berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Lalu, kami berjalan masuk ke restoran bersama. Suasana di dalamnya tenang dan elegan. Lampu-lampu gantung memancarkan cahaya hangat, sementara aroma makanan memenuhi udara dengan lembut.
Seorang pelayan mengantar kami menuju ruang makan privat di bagian dalam. Dari jauh aku sudah melihat empat orang yang duduk di meja besar. Ayah, Ibu, Rowan Roux, dan Sarah Roux.
Begitu kami mendekat, Sarah langsung tersenyum lebar. “Akhirnya kalian datang.”
Ibu juga terlihat lega. “Kami baru saja ingin memesan.”
Rowan bangkit sedikit dari kursinya lalu menepuk bahu Mason dengan akrab. “Kau lama sekali.”
“Ya. Lalu lintas siang ini cukup padat,” jawab Mason singkat.
Kami semua akhirnya duduk di meja. Dan para pelayan pun mulai menyajikan hidangan satu per satu. Suasana makan siang itu pada awalnya terasa hangat dan santai. Ayah memuji kelulusanku, Ibu beberapa kali menatapku dengan bangga, dan Sarah bahkan tidak berhenti mengatakan betapa cantiknya aku hari ini.
“Hazel terlihat begitu anggun,” katanya sambil tersenyum.
Aku hanya bisa tertawa kecil. Sementara Rowan di sisi lain sibuk menanyakan kabar pekerjaan Mason. “Kau masih mengurus proyek di Lyon?”
“Ya.”
“Bagaimana perkembangannya?”
“Semuanya lancar.”
"Hmm, baguslah."
Percakapan mereka terasa jauh lebih singkat dibandingkan yang kubayangkan. Namun semuanya tetap berjalan nyaman. Aku pun mulai merasa lebih santai. Sampai akhirnya Rowan meletakkan gelasnya di meja.
Gerakan kecil itu menarik perhatian semua orang. Ekspresinya berubah sedikit lebih serius. “Sebenarnya ada satu hal yang ingin kami bicarakan hari ini.”
Aku ikut menoleh padanya. “Keluarga Frost dan keluarga Roux sudah saling mengenal lama,” lanjut Rowan.
Ayah pun tampak mengangguk setuju. “Kita sudah melalui banyak hal bersama.”
Rowan tersenyum tipis. “Dan aku berpikir, mungkin sudah waktunya hubungan kedua keluarga ini menjadi lebih dekat.”
Aku masih belum benar-benar memahami arah pembicaraan itu. Namun kalimat berikutnya membuatku membeku. “Bagaimana kalau kita menjodohkan Hazel dan Mason?”
Sendok di tanganku berhenti bergerak. Aku menatap Rowan tanpa berkedip. Ia mengatakan hal itu dengan santai, seolah membicarakan sesuatu yang sangat wajar. Ayah bahkan langsung menimpali. “Sejujurnya aku juga memikirkan hal yang sama.”
Aku menoleh padanya dengan kaget. Dan Ibu tampak tersenyum lembut. “Aku pikir mereka pasangan yang serasi.”
Sarah juga mengangguk penuh semangat. “Aku sudah menyukai Hazel sejak pertama melihatnya.”
Percakapan itu berlangsung begitu alami di antara mereka. Seolah semuanya sudah memikirkan hal itu sejak lama, kecuali aku. Jantungku mendadak berdetak lebih cepat dari biasanya.
Perlahan aku menoleh ke arah Mason. Ia sedang memotong makanannya dengan tenang. Dan ekspresinya tidak berubah. Tidak terlihat terkejut, tapi juga tidak terlihat senang. Ia bahkan tidak mengatakan apa pun. Tidak menyetujui ide perjodohan yang baru saja keluar dari mulut Rowan, juga tidak menolaknya
Ia hanya diam. Dan aku terus memperhatikannya diam-diam. Apa yang sebenarnya ia pikirkan? Apakah ia tidak menyukai ide ini? Atau ia hanya tidak peduli Namun satu hal sudah jelas bagiku. Aku sudah terlanjur jatuh hati. Perasaan itu datang begitu tiba-tiba, begitu cepat, hingga aku sendiri tidak sempat menahannya.
Aku menatapnya beberapa detik lebih lama. Dalam hatiku aku berbisik, 'Bahkan jika kau tidak menyukai ide ini, aku akan membuatmu menyukaiku. Aku akan membuatmu jatuh hati padaku.'
Aku tidak tahu dari mana keberanian itu datang. Namun tekad itu terasa nyata di dalam dadaku.
Rowan melanjutkan pembicaraan dengan nada penuh harapan. “Aku berharap Hazel dan Mason bisa mulai saling mengenal lebih dekat.”
Sarah menambahkan, “Kalau semuanya berjalan baik, kita bisa segera merencanakan pertunangan.”
Aku yang sedang meneguk air langsung tersedak. Batuk kecil keluar dari tenggorokanku. Dan Ibu segera menepuk punggungku. “Hati-hati, Sayang.”
Aku pun menelan ludah dengan susah payah. Pertunangan? Secepat itu? Aku bahkan baru bertemu Mason hari ini. Belum sempat aku mengumpulkan pikiran, ponsel Mason tiba-tiba bergetar di atas meja. Ia melirik layar, lalu ekspresinya berubah sedikit serius.
Rowan sontak mengerutkan kening. “Pekerjaan?”
Mason mengangguk. “Maaf.”
Ia berdiri dari kursinya. “Aku harus menerima ini.”
Rowan terlihat tidak terlalu senang, namun Mason sudah berjalan menjauh. Ia keluar dari ruangan. Dan dari tempat duduk kami, jendela besar memperlihatkan sisi luar ruangan dengan jelas. Tanpa sadar aku menoleh ke arah sana. Menatap Mason yang berdiri beberapa meter dari pintu ruangan, sedang berbicara di telepon.
Sikapnya tampak tegap, dan gerakannya tegas. Aku bisa melihat ada aura kepemimpinan yang kuat dalam setiap gesturnya. Aku masih menatapnya cukup lama. Aku benar-benar terpikat padanya. Pria ini terlalu memikat. Dan mungkin, aku sudah terlambat untuk tidak jatuh cinta padanya.
Beberapa menit kemudian Mason kembali. Ia duduk kembali di kursinya. “Aku minta maaf,” katanya.
Semua menoleh. “Ada masalah pekerjaan yang harus segera kutangani.”, lanjutnya.
Rowan langsung mengerutkan kening. “Kau baru saja datang.”
“Ini mendesak,” jawab Mason tenang.Ia menatap kami satu per satu, sampai akhirnya berpamitan. “Aku harus pergi sekarang.”
Rowan jelas terlihat kesal. “Ini tidak sopan, Mason.”
Namun Ayah justru tersenyum santai. “Tidak apa, Rowan.” sahutnya. Lalu, ia menatap Mason. “Pekerjaan memang harus didahulukan.”
Mason mengangguk kecil. “Terima kasih.”
Ia berdiri, berpamitan singkat, lalu berjalan keluar dari restoran. Tanpa sadar aku mengikuti sosoknya dengan tatapan lekat sampai pintu tertutup di belakangnya.
Rowan menghela napas kesal. “Anak itu terlalu terobsesi dengan pekerjaan.”
Sarah pun tersenyum kecil. “Maafkan dia. Dia hanya terlalu bersemangat dengan pekerjaannya.”
Namun Ayah justru berkata dengan nada positif. “Aku justru menyukainya.”
Semua orang pun menoleh padanya. “Pria yang bertanggung jawab pada pekerjaannya adalah pria yang bisa diandalkan.”
Ibu mengangguk setuju. Dan Sarah juga sontak tersenyum. Lalu Sarah menoleh kepadaku dengan lembut. “Hazel, bagaimana menurutmu?”
Aku sedikit terkejut. “Apakah kau keberatan dengan ide perjodohan ini?”
Semua mata tertuju padaku. Sementara aku terdiam beberapa detik. Namun dalam pikiranku hanya ada satu sosok, yaitu Mason.
Aku menarik napas pelan. “Aku… tidak keberatan.”
Aku pun mengangkat pandangan. “Aku akan menerima ide ini.”
Wajah mereka langsung terlihat senang. Rowan bahkan mulai membicarakan kemungkinan pertunangan dengan penuh antusias. Dan Ayah ikut menanggapi. Sementara Ibu dan Sarah tampak bersemangat.
Namun aku hanya duduk di sana, mendengarkan mereka berbicara. Saat ini pikiranku sedang melayang jauh, pada pria yang baru saja pergi meninggalkan restoran ini, yaitu Mason Roux. Dan, entah mengapa, sejak hari ini, pikiranku seakan tidak bisa lagi menjauh darinya.