Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Masuk ke Istana Kaca
Sekitar setengah jam perjalanan yang lancar tapi agak macet di tengah kota, mobil itu akhirnya berhenti mulus di depan gedung tinggi yang besar, megah, dan mewah banget. Di bagian depan gedung itu ada tulisan besar yang terbuat dari emas mengkilap: Adhitama Corp. Faris sampe melongo ngeliat gedung itu, rasanya gedung itu lebih gede, lebih tinggi, dan lebih luas daripada seluruh luas tanah kampung tempat dia tinggal di Sidoarjo, kelihatan gagah dan berwibawa banget, bikin orang yang ngeliat rasanya kecil dan nggak berarti.
Pas mereka masuk ke dalem lobi gedung itu, Faris makin kaget dan kagum. Lantainya terbuat dari marmer putih yang halus dan mengkilap banget sampe bisa kelihatan bayangan orang yang jalan di atasnya, suasananya hening, rapi, bersih, wangi, dan mewah banget, nggak ada debu atau sampah sedikit pun yang kelihatan. Semua orang yang lewat, baik itu resepsionis, staf kantor, maupun karyawan biasa, langsung berhenti jalan, menunduk hormat sama Viona, terus nyapa dengan suara serentak, sopan, dan hormat banget seolah Viona itu ratu atau pemimpin besar mereka.
"Selamat siang, Bu Viona!" sapa mereka serentak sambil menunduk hormat.
Viona cuma ngangguk singkat dan datar, mukanya tetep dingin, tegas, dan berwibawa, nggak banyak ngomong sama mereka, nggak senyum atau ngobrol santai kayak orang biasa. Faris yang jalan di belakangnya sampe merasa canggung banget dan nggak nyaman, rasanya kayak dia orang asing yang salah masuk tempat, kayak orang gembel yang tiba-tiba masuk ke istana raja. Bajunya yang biasa aja, tas ranselnya yang lusuh, sama gayanya yang santai banget kelihatan nggak nyambung sama lingkungan mewah, rapi, dan ketat aturannya ini. Dia rasanya jadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana, mereka natap dia dengan pandangan penasaran, meremehkan, atau heran kenapa orang kayak dia bisa jalan sama Bu Viona.
"Kamu tunggu di sini dulu di sofa itu, jangan kemana-mana sebelum saya suruh," perintah Viona pas mereka sampe di depan satu ruangan yang pintunya besar banget, terbuat dari kayu bagus sama kaca tebal, kelihatan mewah dan penting banget. "Saya bakal daftarin nama kamu resmi ke bagian kepegawaian sebagai asisten pribadi sekaligus pengawal saya. Nanti orang dari bagian itu bakal nyamperin kamu, ngurus seragam kerja, kartu akses masuk ke semua ruangan, sama perlengkapan lain yang kamu butuhin buat kerja. Tunggu aja dengan tenang, jangan banyak gerak atau ngomong sembarangan sama orang lain di sini, ini kantor resmi bukan pasar atau tempat nongkrong."
"Sekarang juga Bu? Nggak bisa besok aja nggak apa-apa kan?" tanya Faris polos dan agak mengeluh dikit, dia natap jam tangannya yang udah agak rusak. "Kan udah mau sore, saya juga capek banget abis perjalanan semalaman terus tadi berantem pula, badan saya rasanya pegal semua pengen istirahat sebentar aja. Nggak ada toleransi dikit buat pegawai baru gitu ya Bu?"
Viona berhenti jalan, dia muterin badannya, natap Faris dari bawah ke atas dengan pandangan yang agak sinis, ketus, dan nggak percaya sama keluhan Faris. Dia bener-bener nggak ngerti pikiran Faris yang santai banget ini.
"Iya sekarang juga Faris! Kamu mikir musuh saya bakal nunggu kamu istirahat, nunggu kamu ganti baju baru, nunggu kamu siap dulu terus baru mereka nyerang saya gitu? Mereka nggak bakal kasih waktu kita buat istirahat atau bersiap-siap sedikit pun, mereka bakal nyerang kapan aja mereka dapet kesempatan!" jawab Viona tajam dan tegas, dia emosi dikit karena sifat santai Faris itu. "Di sini aturannya kerja dulu baru istirahat, bukan istirahat dulu baru kerja. Paham kan?"
Setelah ngomong gitu, Viona langsung masuk ke dalem ruangannya dan nutup pintu itu kencang banget sampe bunyi brak yang nyaring dan bergema di sepanjang lorong, nunjukin kalau dia bener-bener kesel sama keluhan Faris yang ngawur itu.
Faris cuma geleng-geleng kepala pelan, dia garuk kepalanya lagi yang emang sering dia lakuin kalau bingung atau kesel dikit, terus dia ngomong pelan sambil senyum sengklek nahan ketawa.
"Wih, galak banget bos saya ini, baru juga jadi anak buah udah dimarahin terus. Sengklek juga cewek ini, cantik-cantik, kaya, berkuasa tapi omongannya tajam banget kayak silet, nyerempet dikit aja bisa luka rasanya," gumamnya pelan tapi jelas, terus dia ngeluarin rokok Gajah Barunya lagi dari saku, dia kertek-kertek ujungnya pelan-pelan buat ngilangin rasa capek sama emosi yang ada di hati. "Tapi nggak apa-apa, biarin aja, yang penting gajinya lancar, fasilitasnya lengkap, dan saya bisa kirim uang ke rumah buat orang tua. Masalah bos galak, tegas, atau pelit itu udah jadi makanan sehari-hari saya dari dulu, udah biasa rasanya, biar aja dia mau ngomong apa juga yang penting tugas saya kelar."
Faris duduk santai di sofa ruang tunggu yang empuk, lebar, dan mahal banget, dia taruh tas ranselnya di sampingnya rapi, terus dia natap orang-orang yang lewat satu per satu dengan tatapan waspada dan tenang, dia udah mulai belajar ngamatin keadaan sekelilingnya biar siap kalau ada apa-apa. Nggak lama kemudian, sekitar lima belas menit berselang, datang ke arahnya satu orang pria yang udah berumur sekitar lima puluh tahunan, pake kacamata tebal yang bikin matanya kelihatan kecil, bajunya rapi banget, bersih, wangi, tapi mukanya kelihatan sombong, angkuh, dan sinis banget. Itu adalah Pak Hardi, kepala bagian kepegawaian atau HRD di perusahaan Adhitama Corp, orang yang punya wewenang besar soal urusan pegawai.
Pak Hardi berhenti tepat di depan Faris, dia natap Faris dari atas sampe bawah dengan pandangan meremehkan, jijik, dan nggak suka banget, kayak lagi ngeliat sampah atau orang yang nggak berguna sama sekali buat perusahaan besar ini. Dia natap baju Faris yang lusuh, natap rambut Faris yang agak berantem, natap tas ransel yang ada di samping Faris, semuanya dia liat dengan pandangan nggak suka.
"Jadi, kamu orang baru yang tiba-tiba direkrut sama Bu Viona? Kamu yang bakal jadi pengawal pribadi dia gitu?" tanya Pak Hardi dengan nada sinis, merendahkan, dan meragukan kemampuan Faris banget. "Kamu tahu ini perusahaan apa? Ini Adhitama Corp, perusahaan besar, terkemuka, sama paling berpengaruh di kota ini, bukan tempat buat anak kampung yang baru dateng, yang mau numpang tenar atau cari makan gampang tanpa kerja keras. Di sini semua orang harus punya kemampuan, punya pendidikan tinggi, punya etika, punya sopan santun, punya wawasan luas, bukan orang kasar yang cuma bisa berantem doang kayak preman jalanan. Kamu kira ini panti asuhan atau tempat amal buat orang miskin kayak kamu yang nggak punya apa-apa?"
Faris yang dari tadi berusaha sabar, senyum sopan, dan mau memulai hari baru dengan damai serta niat baik, tiba-tiba ngerasa darahnya mendidih banget naik ke kepala. Dia emang miskin, dia emang anak kampung, dia emang nggak punya harta atau pendidikan tinggi, tapi dia nggak terbiasa dihina, direndahkan, atau dibilang nggak berguna orang lain tanpa alasan yang jelas, apalagi soal asal-usul dan keadaan ekonomi keluarganya. Itu hal yang paling dia jaga, paling dia hormati, dan paling dia lindungin sama kuat. Dia miskin tapi dia bukan pemalas, dia miskin tapi dia kerja keras, dia miskin tapi dia jujur dan punya harga diri yang tinggi.
Faris berdiri pelan-pelan dengan tenang dan tegap, dia masukin rokok Gajah Baru yang dia pegang itu ke dalem saku celananya biar nggak kelihatan nggak sopan, terus dia natap Pak Hardi dengan tatapan yang dingin, tajam, dan menakutkan banget, bikin Pak Hardi mendadak ngerasa merinding, nggak nyaman, sama ngerasa kecil banget di depan Faris. Badan Faris yang tegap, tinggi, sama berotot kelihatan samar-samar di balik bajunya yang biasa aja, tiba-tiba kelihatan jauh lebih berwibawa dan kuat dibanding Pak Hardi yang kurus, pendek, sama lemah itu.
"Saya nggak cari tenar, saya nggak cari amal, saya nggak cari belas kasihan Bapak atau siapa pun di sini Pak," jawab Faris tenang tapi tegas, nadanya rendah tapi penuh ancaman yang tersirat, bikin orang yang denger langsung ngerti kalau dia bener-bener marah dan tersinggung. "Saya di sini cuma mau kerja halal, cari uang hasil keringat sendiri buat nafkahin sama bahagiain orang tua saya yang udah tua. Kalau Bapak nggak suka sama saya, kalau Bapak ngerasa keberatan ada pegawai kayak saya, kalau Bapak ragu sama kemampuan saya, bilang aja sama Bu Viona buat nggak terima saya atau buat pecat saya sekarang juga. Saya nggak masalah sama sekali, saya bisa pergi dari sini sekarang juga dan cari kerja lain yang lebih menghargai orang lain. Tapi inget baik-baik dan pikirin matang-matang sebelum ngomong sembarangan: saya ada di sini bukan karena saya minta, bukan karena saya nawain diri, tapi karena Bu Viona sendiri yang minta saya buat kerja sama dia, Bu Viona sendiri yang percaya sama saya. Jadi kalau ada apa-apa atau ada masalah gara-gara saya di sini, Bapak yang bakal tanggung jawab sepenuhnya sama Bu Viona, bukan saya, paham kan Pak?"
Pak Hardi diem kaku, mulutnya kebuka tapi nggak ada suara yang keluar, dia bener-bener kaget sama keberanian dan ketegasan Faris yang nggak nyangka-nyangka. Dia tau siapa Viona Adhitama, dia tau betapa berkuasa, tegas, dan kerasnya wanita itu, nggak mungkin sembarangan orang bisa masuk ke sini apalagi jadi pengawal pribadinya kalau nggak punya kelebihan yang luar biasa dan dipercaya banget. Pak Hardi sadar, dia udah terlalu berlebihan, terlalu sombong, sama terlalu kasar merendahkan orang yang mungkin jauh lebih berharga, lebih penting, dan lebih berkuasa daripada dia sendiri di mata Bu Viona. Kalau dia terus nyari masalah sama Faris, bisa-bisa dia sendiri yang bakal kena masalah besar sama Viona dan malah kehilangan jabatan enak yang dia duduki selama ini.
"Hmph! Baiklah kalau gitu, sok atuh jangan banyak omong dan banyak alasan," ketus Pak Hardi dengan nada kesel dan malu, dia muterin badannya duluan biar nggak ketahuan kalau dia gugup sama takut, berusaha nutupin rasa malunya udah salah menilai orang. "Ikut saya ke gudang seragam di lantai bawah, saya siapin baju kerja sama perlengkapan kamu yang standar aja. Jangan ngarep dapet barang mewah atau khusus ya, ambil aja apa yang ada, jangan banyak minta-minta atau ngeluh nggak bagus, di sini barangnya terbatas buat pegawai biasa."
Faris cuma senyum tipis dan datar, dia ngikutin Pak Hardi dari belakang sambil masih mainin rokok Gajah Barunya di tangan, kertek-kertek ujungnya santai buat nenangin diri, nggak peduli sama omongan Pak Hardi yang menyebalkan dan sombong itu. Dia udah biasa ngadepin orang kayak gitu, orang yang merasa dirinya paling hebat dan paling berkuasa cuma karena punya jabatan atau uang dikit, tapi sebenernya lemah dan nggak punya apa-apa selain itu.