Liburan yang harus nya bahagia, harus berakhir duka saat Renata Di jebak oleh sahabat dan calon suami nya. Renata tidak menyangka jika hari itu ia harus menikah dengan seorang pengangguran. Dengan mahar Seribu rupiah yang di miliki oleh pria asing itu, mereka pun akhirnya sah di mata para masyarakat.
Renata tidak pernah semalu itu. Ia di anggap berzina dan akhirnya di paksa menikahi pria asing.
Orang tua nya tidak tahu. Ia sendirian di sana. Mereka semua telah meninggal kan nya di desa terpencil itu.
Akan kah Renata bisa bangkit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal mula
Beberapa bulan kemudian....
Tanaman cabe, tomat, dan sayuran mulai memperlihatkan hasil nya. Ada beberapa sayuran yang sudah dijual ke pasar oleh Fuad. Semakin hari, tanaman dan pepohonan yang ada di sana semakin banyak jenis nya.
Renata tidak bisa diam saja dan berpangku tangan melihat tanah kosong yang ada di sekeliling rumah mertua nya. Semua lahan yang terbengkalai, ia sulap menjadi kebun mini.
Ia juga mulai membuat rumah kaca dari hasil penjualan sayuran. Lama kelamaan, Renata mulai terbiasa tinggal di desa itu. Walaupun ada sesekali warga yang masih saja mencemooh nya jika bertemu.
Namun, Renata sangat pintar mengambil hati mereka. Renata tahu jika di desa masih banyak yang belum maju pikiran nya. Ia mendekati warga satu demi satu dan di ajak untuk bekerja di kebun nya dengan upah yang lebih besar dari kebun lainnya. Ya walaupun lebih seribu rupiah.
Tapi yang nama nya untung, tetap akan di pilih yang bisa memberikan upah yang lebih besar.
"Nak Renata, jangan lupa hasil panen di tabung. Bukan kah kamu berencana mencari orang tua mu?" ucap mertua nya Renata.
"Iya, Bu. Tapi seperti nya akan sulit. Semua jalan menuju keluar dari desa ini di jaga oleh seseorang. Mereka memakai senja-ta lengkap. Teman Fuad pernah melihat jika mereka memajang foto kami di papan pengumuman yang ada di perbatasan."
Renata terlihat sendu. Ia sudah menyerah untuk pulang ke kota. Seperti nya Marisa dan juga Levaro memang sengaja menahan nya di desa itu.
Renata tidak mungkin membahayakan Fuad dan Ibu nya. Biarlah ia di sana memikirkan ide lain supaya orang tua nya yang datang ke desa itu.
"Pasti itu semua ada hubungan nya dengan teman-teman mu. Sungguh mereka jahat sekali ya, nak Renata. Jangan bersedih. Selama masih ada ibu, ibu akan selalu ada untuk mu."
"Terima kasih, Bu. Aku sangat bersyukur memiliki mertua seperti ibu. Dimana-mana banyak yang bilang menantu dan juga mertua jarang akur."
Renata tersenyum kecut. Setidak nya saat ini ia memiliki seseorang yang tulus menyayangi nya. Suami nya pun sudah mulai berubah. Hampir setiap hari Fuad akan menjajakan sayuran dengan motor butut nya.
Sayuran hasil panen itu cepat sekali laku karena tekstur nya sungguh berbeda. Hasil tangan nya Renata memang tidak di ragukan lagi. Dengan bibit tanaman yang ia dapat di pasar, ia bisa menjadikan tanaman itu subur dan rasa nya pun berbeda.
Pupuk yang digunakan dan juga obat pembasmi hama, merupakan hasil racikan nya sendiri. Oleh karena itu, banyak yang menyukai sayuran yang di tanam oleh Renata.
Adapun warga di desa itu, tidak semua nya memiliki kebun sayuran. Kebanyakan dari mereka bekerja di ladang milik orang lain.
"Gawat! Renataaa. Ini gawat sekali."
Tiba-tiba saja Fuad datang dengan suara sepeda motor nya yang khas. Ia juga seperti baru saja di kejar anjing gila dengan keringat yang membasahi pakaian nya.
"Ada apa? Kenapa kamu terkejut seperti ini?" Renata menatap suami nya dengan heran.
"Calon suami mu dan teman mu akan menikah Minggu depan. Bukan itu saja. Orang tua mu juga akan mengumumkan jika mereka akan mengangkat si Marisa itu menjadi anak nya."
"Apa? Apa orang tua ku mengatakan hal itu? Aku tidak percaya Papa dan Mama sama sekali tidak kehilangan merasa kehilangan diri ku."
"Itu benar. Papa mu mengatakan jika kamu anak durhaka yang tahu nya hanya menghabiskan uang saja. Maka dari itu, Marisa yang baik seperti ibu peri itu akan di angkat menjadi anak mereka untuk menggantikan mu."
"Fuad, diam! Sejak kapan ibu peri sejahat itu. Mulut mu itu, apa tidak bisa di saring sebelum berbicara dengan istri mu?"
"Maaf, Bu. Tapi aku kan orang nya selalu jujur dan apa ada nya. Tadi aku lihat berita itu di televisi warga. Bu, seperti nya kita harus beli televisi baru supaya tidak ketinggalan informasi. Sudah lah jaringan internet sering bermasalah. Televisi pun tidak ada." Sungut Fuad dengan cemberut.
"Tanyakan pada istri mu. Jika dia bersedia, ibu pun juga bersedia."
Fuad memandang ke arah Renata yang masih saja memikirkan orang tua nya. Selama ini, memang ia begitu di manja oleh mereka. Tapi, ia sama sekali tidak pernah membuat masalah dan selalu menjadi anak yang membanggakan.
Entah apa yang sudah dilakukan oleh Marisa dan juga Levaro sehingga orang tua nya marah dan membuang nya begitu saja.
"Fuad. Kita harus beli televisi. Aku ingin tahuu berita tentang mereka. Aku yakin saat ini Marisa terkenal karena mencuri hasil kerja keras ku. Dan aku, akan membuat replika nya di sini."
"Apa maksud mu? Kamu mau eksperimen?"
"Ya begitu lah. Hanya saja, yang aku buat akan lebih hebat dari yang ia rebut."
Mata Renata berkilat penuh dengan amarah. Saat ini seperti nya ia harus membuktikan kerja keras nya itu. Ia punya ilmu dan juga kemampuan. Ia juga jenius karena keturunan orang tua nya.
"Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, nak. Ibu dan Fuad akan mendukung mu."
"Terima kasih."
Mereka saling berpelukan satu sama lain. Saat mereka ingin beranjak, tiba-tiba saja seorang warga datang dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
"Permisi. Nak Rena...."
"Iya, Bu. Ada apa mencari saya?" Renata melihat seorang wanita dengan wajah yang tidak baik-baik saja. Ia tahu jika wanita itu seperti nya keracunan.
Dan Renata sangat mengenal wanita itu. Masih ingat di dalam ingatan nya jika wanita yang ada di hadapan nya pernah menam-par nya malam itu.
"Nak Rena, ibu mau minta tolong. Apa tanaman obat yang nak Rena miliki masih ada? Saya lihat beberapa hari yang lalu tetangga saya sakit minum itu langsung sembuh."
"Maaf, Bu. Tetangga ibu sembuh karena ke puskesmas. Bukan karena tanaman obat. Ibu coba dulu ke sana, ya."
"Tolong lah nak Rena. Kami tidak ada uang untuk ke puskesmas. Tetangga saya mengatakan jika tanaman obat itu ajaib dan bisa menyembuhkan gatal-gatal di sekujur tubuh anak nya."
Renata menghembuskan nafas nya dengan kasar. Ia masih bingung. Harus kah ia membantu ibu tersebut. Hati nya penuh dengan dilema.
Ia ingin sekali membantu tapi takut nya jika terjadi sesuatu, pasti ia yang akan di salahkan. Jika tidak di bantu, maka wanita itu pasti akan semakin membenci nya.
Padahal Renata sedang mencoba untuk menjadi pribadi yang baik di desa itu. Apakah ia mau menolong wanita tersebut?
kasih racun saja tuh 🤣🤣🤣🤣
aduh kan ya gmn masa iya krn uang bnyk trus bnyk istri kan ya kasihan istri sah pertamnya kan
tinggal ngu aja kapan itu datang
weeekkk
ahahaha soookorrrrr
ben kapok
perlu di tiadakan itu
jangan2 fuad anak jenius tp krn kecelakaan jd kek gtu
pasti trauma yg buat dya sprti anak kecil stop di memori di situ juga
ringan dan bisa belajar dari ketulusan berteman it seperti apa