Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Tangga yang Tak Mudah
Sore itu, halaman Sekolah Sihir Everton dipenuhi cahaya keemasan yang jatuh di antara pepohonan tinggi. Angin berhembus pelan, membawa daun-daun kering yang berputar seperti tarian kecil yang tak pernah selesai.
Para murid berjalan berkelompok, sebagian tertawa, sebagian mengeluh tentang pelajaran, dan sebagian lagi sibuk dengan dunia mereka sendiri.
Di tengah keramaian itu, Evelyn Edison berjalan sendirian seperti biasa.
Namun kali ini—
Langkahnya terhenti.
“Evelyn.”
Suara itu datang dari samping, santai tapi cukup jelas untuk membuatnya menoleh.
Seorang pemuda berdiri tidak jauh darinya, bersandar santai pada batang pohon besar. Rambutnya sedikit berantakan, namun senyumnya ringan, tidak menyimpan penilaian seperti kebanyakan orang lain.
Wiliam Elbert.
Salah satu kakak kelas yang… tidak pernah menjauhinya.
Evelyn menatapnya sebentar. “Kak Wiliam.”
Wiliam mengangkat alis sedikit. “Jarang lihat kamu berhenti di tengah jalan. Biasanya langsung hilang kayak bayangan.”
“Aku hanya sedang berpikir.”
“Bahaya itu,” balasnya santai. “Orang yang terlalu banyak berpikir biasanya malah masuk masalah.”
Evelyn tidak tersenyum. “Mungkin.”
Wiliam memperhatikannya beberapa detik, lalu berdiri tegak. “Kamu lagi mikirin sesuatu yang serius, ya?”
Evelyn terdiam sejenak.
Lalu—
“Aku mau tanya sesuatu.”
Wiliam menyilangkan tangan. “Langsung ke inti. Gaya kamu banget. Tanya aja.”
Evelyn menatapnya lurus.
“Sebagai penyihir… apakah kita punya kesempatan untuk tinggal di bumi?”
Pertanyaan itu membuat Wiliam berhenti.
Bukan terkejut.
Tapi… tertarik.
“Hm,” ia tersenyum tipis. “Pertanyaan yang jarang ditanyakan.”
“Jawab saja.”
Wiliam tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan pelan mengitari Evelyn, seolah sedang menilai sesuatu.
“Kamu lagi tertarik sama dunia manusia?” tanyanya santai.
“Aku hanya ingin tahu.”
“Semua orang yang bilang ‘hanya ingin tahu’ biasanya udah melangkah lebih jauh dari itu.”
Evelyn diam.
Wiliam tertawa kecil. “Baiklah, aku jawab.”
Ia berhenti di depan Evelyn.
“Jawabannya… ada.”
Evelyn sedikit mengernyit.
“Ada?”
Wiliam mengangguk. “Tapi cuma satu cara.”
“Apa?”
Wiliam tersenyum, kali ini lebih serius.
“Kamu harus naik tingkat.”
Evelyn terdiam.
“Naik… tingkat?”
“Kelas A,” lanjut Wiliam. “Kalau kamu bisa sampai ke sana, kamu bisa dipilih.”
“Dipilih untuk apa?”
“Untuk reinkarnasi.”
Sunyi sejenak.
Evelyn menatapnya lebih dalam.
“Reinkarnasi… menjadi manusia?”
Wiliam mengangkat bahu. “Bukan cuma manusia. Kamu bisa memilih jadi apa pun yang kamu inginkan.”
Evelyn terdiam.
Untuk pertama kalinya, jawabannya terasa… nyata.
“Jadi…” ia bicara pelan, “memang ada cara untuk hidup di bumi.”
Wiliam mengangguk. “Ada. Tapi bukan dengan keluar dari dunia ini.”
“Melainkan… memulai dari awal.”
“Betul.”
Evelyn menunduk sedikit, mencerna kata-kata itu.
“Kenapa hanya kelas A?”
Wiliam tertawa kecil. “Karena dunia ini nggak sebebas yang kamu kira.”
“Maksudnya?”
Ia bersandar lagi ke pohon. “Dunia ini menyuguhkan pilihan. Tapi… pilihan itu tidak untuk semua orang.”
Evelyn mengangkat pandangannya.
“Hanya untuk mereka yang cukup kuat?”
“Bukan cuma kuat,” koreksi Wiliam. “Tapi juga layak.”
“Kelayakan ditentukan oleh siapa?”
Wiliam tersenyum miring. “Itu yang tidak pernah dijelaskan dengan jelas.”
Sunyi sejenak.
“Jadi…” lanjut Evelyn, “kalau aku ingin ke bumi, aku harus mencapai kelas A?”
“Ya.”
“Dan itu satu-satunya cara?”
Wiliam menatapnya.
“Cara yang aman,” jawabnya pelan.
Evelyn langsung menangkap maksud itu.
“Berarti ada cara lain.”
Wiliam tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata, “Ada hal yang tidak seharusnya dicoba.”
“Karena berbahaya?”
“Karena konsekuensinya tidak bisa diperbaiki.”
Evelyn tidak melanjutkan.
Namun pikirannya jelas tidak berhenti.
Wiliam menghela napas pelan.
“Kalau kamu serius,” katanya, “maka fokus saja ke satu hal.”
“Apa?”
“Naik ke kelas A.”
Evelyn terdiam lagi.
Kali ini lebih lama.
“Kelas A…” ulangnya pelan.
Ia tahu itu bukan hal mudah.
Di Sekolah Sihir Everton, tingkatan bukan sekadar simbol. Itu adalah ukuran kemampuan, kendali, dan kedewasaan seorang penyihir.
Dan ia—
Masih berada di kelas E.
Tingkat yang jauh dari puncak.
Perjalanan panjang.
Terjal.
Dan… penuh rintangan.
“Itu lama,” katanya akhirnya.
Wiliam mengangguk santai. “Sangat lama.”
“Berapa lama?”
“Tergantung kamu.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban paling jujur.”
Evelyn menghela napas pelan.
“Kalau aku tetap di jalur ini…”
“Bisa bertahun-tahun,” potong Wiliam. “Atau bahkan lebih.”
Evelyn menatap ke depan.
Langit sore mulai berubah warna.
“Kamu menyerah?” tanya Wiliam tiba-tiba.
Evelyn langsung menggeleng. “Tidak.”
“Bagus.”
“Aku hanya… menghitung.”
Wiliam tersenyum kecil. “Itu lebih berbahaya dari menyerah.”
Evelyn menatapnya sekilas.
“Kenapa?”
“Karena orang yang terlalu banyak menghitung biasanya mencari jalan pintas.”
Evelyn tidak menjawab.
Namun kalimat itu… terasa tepat.
Terlalu tepat.
“Aku tidak bilang kamu harus terburu-buru,” lanjut Wiliam. “Tapi kalau kamu benar-benar ingin sesuatu…”
Ia berhenti sejenak.
“Merangkaklah sampai kamu bisa berdiri di sana.”
Evelyn terdiam.
Kata-kata itu sederhana.
Namun berat.
“Merangkak…” ulangnya pelan.
“Ya,” kata Wiliam. “Karena tidak semua jalan bisa ditempuh dengan berlari.”
Sunyi.
Angin kembali berhembus.
Evelyn menunduk sedikit, lalu mengepalkan tangannya.
“Kalau itu satu-satunya cara…”
Ia mengangkat wajahnya lagi.
“Aku akan sampai ke sana.”
Wiliam menatapnya.
Untuk beberapa detik, ia tidak tersenyum.
“Kalau begitu…” katanya pelan, “jangan berhenti di tengah jalan.”
Evelyn mengangguk.
Namun di dalam dirinya—
Ada sesuatu yang masih bergerak.
Sesuatu yang tidak sepenuhnya puas dengan jawaban itu.
Karena meskipun ia sudah menemukan jalan…
Ia juga tahu—
Ada jalan lain.
Jalan yang lebih cepat.
Lebih berbahaya.
Dan mungkin… lebih dekat.
Evelyn melangkah pergi.
Meninggalkan Wiliam di belakang.
Langkahnya tetap tenang.
Namun tujuannya kini lebih jelas.
Kelas A.
Reinkarnasi.
Bumi.
Tiga hal yang kini terhubung menjadi satu garis.
Namun jauh di dalam hatinya—
Masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
Jika seseorang seperti Fanny memilih jalan lain…
Dan tetap melangkah meski tahu risikonya…
Apakah benar jalan itu sepenuhnya salah?
Atau…
Hanya terlalu berbahaya untuk diakui?
Langit perlahan gelap.
Dan di antara bayangan yang mulai memanjang—
Ambisi kecil itu mulai tumbuh.
Diam.
Namun pasti.