NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

"Aku jual diri demi 1 Miliar Emas, tapi aku TIDAK JUAL HARGADIRI!"

Lin Qingyan menerima pernikahan kontrak dengan pria lumpuh tak berdaya demi menyelamatkan keluarganya. Semua orang menertawakan dia, mengira dia akan hidup menderita selamanya.

Tapi siapa sangka? Di balik tubuh lemah itu tersembunyi sosok Raja Dunia yang paling ditakuti! Dan dia hanya tunduk pada satu wanita: Lin Qingyan!

Siapa berani meremehkan istri kontrak ini? Bersiaplah digilas habis! Karena aku bukan wanita biasa, aku adalah Ratu yang akan menguasai segalanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Barikade Kasih dan Darah

📖 BAB 23: Barikade Kasih dan Darah

Suasana di dalam ruang tengah yang tadinya hangat kini terasa mencekam, seolah oksigen di sana baru saja disedot habis oleh kekuatan tak kasat mata. Bau amis dari kertas bertinta darah yang menempel pada anak panah itu menusuk indra penciuman Gu Beichen, memicu insting predator yang sudah bertahun-tahun ia tidurkan demi kehidupan domestik yang damai.

Setiap detik yang berlalu terasa seperti dentuman palu yang menghantam dada. Beichen menatap Lin Qingyan yang mematung dengan wajah sepucat kapas. Ia tahu, kebahagiaan yang mereka bangun dengan susah payah kini sedang berada di ujung tanduk.

### 🛡️ Benteng yang Tak Terlihat

Gu Beichen segera memberikan instruksi lewat tatapan mata kepada asisten pribadinya, Xiao Li. Tanpa perlu kata-kata, Xiao Li mengangguk dan mundur dengan langkah cepat, segera mengaktifkan protokol "Zero Gravity"—keamanan tingkat tertinggi yang melibatkan enkripsi sinyal radio dan pengaktifan sensor gerak laser di seluruh penjuru rumah.

"Beichen... jelaskan padaku. Siapa mereka sebenarnya? Apa maksud dari 'Anak Takdir'?"

Suara Lin Qingyan akhirnya pecah, bergetar hebat. Ia mendekap Chenfeng dan Chenyu ke dalam pelukannya dengan erat, seolah-olah jika ia melepaskan mereka sedikit saja, dunia akan merenggut mereka. Matanya yang berkaca-kaca menatap Beichen, menuntut kejujuran yang selama ini tersimpan rapat.

Beichen mendekat, meletakkan tangannya di bahu Qingyan. Sentuhannya dingin, namun ada kekuatan besar di sana.

"Mereka adalah sisa-sisa masa lalu yang seharusnya sudah mati di tumpukan sejarah, Sayang. Klan Tua adalah organisasi bayangan yang memuja kekuatan purba dan legenda mistis. Bagi mereka, kembar yang lahir dengan ciri fisik tertentu—seperti Qingyu dan kedua kakaknya—bukanlah manusia, melainkan bejana atau alat untuk ritual penguatan kekuasaan mereka."

Ia mengambil Qingyu dari pelukan Qingyan untuk sejenak, menatap mata bayi itu yang jernih.

"Aku tidak akan membiarkan mereka menjadikan putriku sebagai persembahan bagi kegilaan mereka."

Beichen menyerahkan kembali Qingyu kepada istrinya.

"Ikuti Xiao Li. Masuklah ke ruang perlindungan di bawah tanah. Di sana ada pasokan makanan untuk satu bulan, fasilitas medis lengkap, dan jalur pelarian rahasia yang terhubung langsung ke dermaga pribadi. Jangan keluar, jangan nyalakan ponsel kecuali melalui jalur satelit yang kuberikan. Mengerti?"

"Tapi bagaimana denganmu?"

tanya Qingyan, air matanya kini mengalir deras.

"Kau mau melawan mereka sendiri? Mereka bilang mereka akan datang dalam jumlah banyak!"

Gu Beichen tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya yang kini berwarna gelap pekat.

"Aku? Aku akan mengingatkan mereka mengapa sepuluh tahun lalu mereka memohon ampun agar aku tidak menghancurkan markas pusat mereka. Aku adalah Gu Beichen, dan tidak ada yang boleh menagih hutang pada Raja yang sudah pensiun."

### 🌑 Malam yang Merayap dalam Kesunyian

Setelah Qingyan dan anak-anak aman di ruang bawah tanah, atmosfer di rumah besar itu berubah total. Lampu-lampu kristal yang mewah dimatikan, diganti dengan pencahayaan merah redup dari lampu darurat. Para pengawal berbaju hitam mulai mengambil posisi di setiap sudut strategis—di balik pilar, di balkon, hingga di atas atap.

Waktu 3x24 jam yang diberikan musuh bukanlah waktu untuk bernegosiasi bagi Beichen, melainkan waktu untuk melakukan pembersihan massal. Ia tidak akan menunggu mereka datang; ia akan menjebak mereka di kandangnya sendiri.

Di dalam ruang kerja pribadinya yang kedap suara, Beichen menggeser sebuah rak buku kuno yang mengungkap sebuah brankas baja setebal sepuluh sentimeter. Di dalamnya tidak ada tumpukan uang atau emas, melainkan kenangan dari masa-masa berdarahnya: sebuah lencana perak berbentuk kepala serigala yang melolong ke bulan—simbol otoritas tertinggi di dunia bawah—dan sepasang belati pendek yang terbuat dari baja hitam meteorit.

*Drrt... Drrt...*

Ponsel di atas meja kayu mahoni itu bergetar. Sebuah nomor tanpa identitas muncul. Beichen mengangkatnya tanpa ekspresi.

"Tuan Gu, kudengar kau sudah menyembunyikan 'perhiasan' kami di bawah tanah?" suara parau seorang pria tua terdengar dari seberang sana, diikuti suara tawa yang kering seperti gesekan amplas.

"Dinding baja tidak bisa menghalangi kami. Takdir selalu menemukan jalannya."

"Takdirmu adalah untuk dikubur di tanah ini," jawab Beichen datar.

"Aku sudah menyiapkan tiga puluh enam liang lahat di hutan belakang rumahku. Jika klanmu mengirim lebih dari itu, sisanya akan kujadikan pupuk untuk mawar milik istriku."

"Sombong! Kau pikir kau masih memiliki kekuatan yang sama seperti dulu? Kau sudah lemah karena cinta, Beichen!"

"Cinta tidak membuatku lemah," Beichen menarik pelatuk pistol hitam di tangannya, suara *klik* logam yang beradu terdengar sangat mematikan.

"Cinta memberiku alasan untuk menjadi lebih kejam dari iblis mana pun yang pernah kau kenal. Datanglah, dan mari kita lihat siapa yang akan memohon nyawa di fajar besok."

Beichen menghancurkan ponsel itu dengan satu remasan tangan. Amarahnya kini sudah berada di titik didih, namun otaknya bekerja dengan presisi mesin yang dingin.

### 💥 Pecahnya Pertahanan Pertama

Tepat saat jam besar di aula berdentang menunjukkan pukul dua pagi, kabut tebal mulai turun menyelimuti halaman kediaman Gu. Ini bukan kabut alami; aromanya berbau belerang dan bahan kimia. Musuh telah tiba lebih cepat dari gertakan mereka.

Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah gerbang depan. Sensor laser di seluruh halaman mulai berbunyi nyaring di ruang kendali. Namun, para penyerang itu tidak menyadari satu hal:

mereka sedang masuk ke dalam perangkap yang disebut

"Labirin Kematian".

Dari monitor pengawas, Beichen melihat sekelompok pria berjubah kelabu bergerak dengan lincah, melompati pagar setinggi tiga meter seolah gravitasi tidak berlaku bagi mereka. Mereka bukan tentara bayaran biasa; mereka adalah pembunuh terlatih dari Klan Tua yang menggunakan teknik pernapasan khusus.

"Grup A, eksekusi," perintah Beichen melalui

*earpiece*.

Dalam sekejap, dari balik semak-semak yang tampak biasa, rentetan tembakan dengan peredam suara dilepaskan. Sosok-sosok berjubah itu tumbang satu per satu tanpa sempat mengeluarkan suara. Namun, jumlah mereka seolah tidak ada habisnya. Dari balik kegelapan hutan, puluhan lainnya terus bermunculan.

Di tengah kekacauan itu, sebuah bayangan hitam melesat sangat cepat melewati barisan pertahanan luar. Sosok ini berbeda—ia bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang. Ia tidak membawa senjata api, melainkan sebilah belati panjang yang bersinar ungu di bawah cahaya bulan, menandakan adanya racun mematikan pada bilahnya.

Sosok itu berhasil melewati jendela lantai dua yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka. Tujuannya hanya satu: Kamar utama, tempat ia mengira sang

"Anak Takdir" dan ibunya bersembunyi.

Gu Beichen, yang berdiri di kegelapan koridor lantai dua, sudah menunggu. Ia mematikan *earpiece*-nya agar tidak terganggu. Ia ingin menikmati momen ini.

"Kau terlalu berisik untuk seorang pembunuh bayaran," suara Beichen menggema di koridor yang sunyi.

Sosok berjubah itu berhenti mendadak, tubuhnya merendah, siap menerkam.

"Gu Beichen... Serahkan anak itu, dan mungkin kami akan membiarkan istrimu tetap hidup sebagai budak klan."

Mendengar kata "budak" untuk istrinya, aura membunuh di sekitar Beichen meledak. Tekanan udara di koridor itu seolah meningkat drastis.

"Kesalahan terbesarmu," bisik Beichen sambil melangkah maju, "adalah menganggap kau akan keluar dari rumah ini dalam keadaan utuh."

Pertarungan jarak dekat pun pecah. Denting logam antara belati hitam Beichen dan belati ungu musuh menciptakan percikan api di tengah kegelapan. Musuh itu sangat cepat, namun Beichen jauh lebih berpengalaman. Ia bergerak seperti bayangan yang menyatu dengan malam, menghindari serangan mematikan hanya dengan selisih milimeter.

Dengan satu gerakan memutar yang brutal, Beichen menangkap pergelangan tangan musuhnya dan... *KRAK!* Suara tulang yang patah menggema, diikuti teriakan tertahan. Belati ungu itu jatuh ke lantai. Beichen tidak berhenti; ia menghantamkan lututnya ke dada musuh hingga ia terlempar menabrak dinding kayu.

Beichen mendekat, menginjak leher pria itu dengan sepatu pantofelnya yang mengkilap.

"Katakan pada tuanmu... ini baru permulaan."

### 🌫️ Rahasia yang Terpendam

Di saat yang sama, di ruang bawah tanah, Lin Qingyan tidak bisa tenang. Ia memeluk ketiga anaknya sambil menatap monitor kecil yang terhubung ke beberapa kamera. Ia melihat suaminya bertarung dengan cara yang belum pernah ia lihat sebelumnya—begitu dingin, begitu tanpa ampun.

Namun, perhatiannya teralih pada sebuah kotak kecil tua di pojok ruang perlindungan itu. Kotak yang selama ini tertutup debu. Rasa penasaran membawanya untuk membukanya.

Di dalamnya, ia menemukan sebuah foto tua. Foto Gu Beichen yang masih muda, berdiri di depan sebuah gerbang batu besar dengan lambang yang sama dengan yang dibawa oleh Klan Tua. Di bawah foto itu, terdapat selembar surat tua dengan tulisan tangan Beichen:

*"Jika suatu saat mereka menemukanku, itu bukan karena kesalahanku, tapi karena darah yang mengalir di nadiku adalah darah yang sama dengan mereka."*

Jantung Qingyan berdegup kencang. Jadi, Beichen bukan hanya musuh bagi Klan Tua... tapi dia adalah bagian dari mereka? Atau mungkin, dialah pewaris sebenarnya yang mereka cari?

Di luar, suara badai semakin kencang, menutupi suara pertempuran yang masih berlangsung.

Malam ini baru saja dimulai, dan rahasia besar tentang garis keturunan keluarga Gu baru saja mulai terkuak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!