Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Aku Suka Kamu
Bab 15
Wajah Aya masih terpaut dengan wajah tampan di hadapannya. Pun dengan Edward yang enggan menoleh, seolah menikmati momen tersebut. Waktu seolah berhenti berputar. Memanfaatkan kesempatan itu. Dua mata bulat dengan bulu lentik, hidung yang ujungnya mancung menarik untuk disentuh serta belahan di dagu melengkapi penampilan Aya menuju kata cantik. Meski wajah itu sedikit pucat.
Jarak wajah mereka pun begitu ingin sekali Edward mengikis jarak dan mendaratkan bibirnya di kening, pipi dan bibir Aya. Koridor menuju parkiran yang mulai sepi di saat malam, pencahayaan yang tidak sempurna saat siang hari, tapi cukup untuk menyimpulkan kalau tatapan mereka mengandung arti.
Aya bukan bocah yang tidak mengerti rasa, ada hal yang tidak biasa antara dirinya dengan Edward. Perhatian dan kepedulian pria itu bukan sekedar kepedulian antara dokter dan pasien. Senyum dan tatapan yang diberikan ketika mereka bertemu, pun saat Adit mendatanginya. Edward yang datang menengahi bahkan mengantarkan sampai rumah, bukan sebuah kebetulan. Celoteh rekan dokter di café, menggiring kalau pria itu memiliki rasa.
“Om ….”
Ia butuh kejelasan dan kepastian. Tidak ingin kecewa dan berujung sakit hati karena salah mengartikan perasaan. Debaran jantung ketika bertemu, wajah yang mendadak merona saat wajah itu tersenyum padanya. Rasa yang tidak dia dapatkan saat bertemu dengan Adit.
Puncaknya adalah hari ini. Bukan hanya Edward, dokter di IGD dan bukan hanya dirinya pasien di sana. Perhatian dan kepedulian Edward begitu kentara, ejekan dan sindiran serta tatapan dari rekan sejawatnya seolah mendukung untuk ada urusan lain diantara mereka. Urusan yang melibatkan hati dan perasaan. Dan Ay, dia panggil Aya dengan sebutan Ay. Bukan kependekan dari Aya, bisa saja sebutan lain untuk ayang.
“Aku suka kamu, Ay.”
Aya mengerjapkan matanya mendengar kalimat yang keluar dari bibir Edward.
“Aku tidak bisa romantis dan tidak tahu bagaimana mengungkapkan dengan baik, yang jelas aku menyukaimu.”
“Om Edward, bercanda ‘kan?”
“Menurutmu apa aku bisa bercanda untuk masalah begini?”
Aya menelan saliv4. Edward selalu menunjukan wajah serius, datar dan dingin. Meski dengannya pernah tersenyum dan tertawa, sepertinya jarang dilakukan pada orang lain.
Ia menggeleng pelan dan bingung untuk berkomentar. Masih terkejut kalau Edward akan sejujur itu.
“Jangan dijawab, aku hanya menyampaikan perasaanku dan menjawab pertanyaanmu tadi. Kita pulang, sudah malam."
Kali ini tangan Edward merangkul bahu Aya yang masih terdiam, mungkin saja shock karena ditembak oleh seorang pria. Entah harus bersikap apa, belum pernah merasakan dan melalui situasi romansa, karena selama ini hidupnya benar-benar diatur oleh Romo.
Seperti biasa, Edward akan memperlakukan Aya seperti Ratu. Membukakan pintu mobil dan memastikan gadis itu nyaman. Memutar dan menempati kursi pengemudi. Katakanlah ia mengambil kesempatan, karena Aya lupa memakai seatbelt. Sengaja mendekat bahkan posisinya seolah memeluk saat menarik seatbelt dan sengaja berlama di sana lalu ….
Cup.
Edward tidak tahan untuk tidak melakukan itu. Mencium pipi Aya.
“Nafas Ay, kamu berharap aku melakukan apa?”
“Ish, om nyebelin.” Aya mendorong dad4 Edward yang terkekeh dan menjauh. Kalau saja suasana itu di siang hari, mungkin akan terlihat betapa meronanya wajah Aya.
Edward masih terkekeh saat mobil melaju meninggalkan area rumah sakit, bergabung di jalan raya dengan kendaraan lainnya.
“Ngambek atau mau lagi?” tanya Edward mendapati wajah Aya yang cemberut.
“Suka tiba-tiba gitu, nggak kasih aba-aba.”
“Oh, jadi kalau kasih aba-aba boleh? Oke, berikutnya aku kasih tanda dulu."
“Ya bukan gitu juga.”
Bunyi dering ponsel Aya dari dalam tas. Ternyata telpon dari Adit. Sempat saling tatap dengan Edward.
“Jawab saja, loudspeaker.”
Menggeser icon hijau dan membuat mode speaker. “Halo.”
“Cahaya, romo kamu baru saja telpon aku. Ada urusan bisnis yang harus aku dan beliau urus, sebaiknya kamu ikut aku pulang. Cukup sudah kamu main-main di Jakarta. Aku maafkan ulah kamu dengan pria kemarin.”
“Mas, jangan hubungi aku lagi. Kita sudah tidak ada urusan dan jangan ikut campur lagi dengan hidupku.”
“Cahaya, kelakuanmu dengan pria kemarin akan sampai ke telinga Wira Janitra kalau kamu tidak ikut pulang denganku.”
Aya sempat menoleh pada Edward. “Jangan mengancamku, mas.” Panggilan pun diakhiri oleh Aya, bahkan memblokir kontak itu.
“Romo kamu, seperti apa dia?” tanya Edward menoleh lalu kembali fokus dengan kemudi.
“Romo, beliau ….”
***
“Mbak Andin.”
Andin dengan langkah gegasnya pun terhenti, memastikan pria yang baru saja memanggilnya. Padahal ia terburu-buru, Aya sudah pulang sejak tadi dan di rumah hanya sendirian dengan kondisi tidak sehat.
“Adit,” ucap Andin.
“Iya mbak, aku Adit.”
“Sedang apa kamu di sini?” tanya Andin menatap sekeliling. Koridor yang dilewati oleh nakes dan suasana tidak seramai saat siang.
“Aku ke sini untuk menjemput Cahaya, apa dia tidak cerita kalau aku sudah dua kali menemuinya di sini.”
Andin menghela nafas. Adiknya itu benar nakal. Rencana ia akan menanyakan ada hubungan apa dengan Edward dan sekarang Adit menyampaikan beberapa kali datang mencari Aya.
“Adit, mbak buru-buru. Urusan kamu dengan Aya ….”
“Mbak tahu kalau dia dekat dengan dokter di sini?” Adit menyela ucapan Andin dengan pertanyaan yang sama dengan isi kepalanya.
“Mbak nggak paham maksud kamu. Aya belum lama di Jakarta, di sini pun dia jadi pasien.”
“Juga jadi pelayan di cafe dan sekarang dekat dengan salah satu dokter. Besok aku pulang, aku minta Cahaya ikut tapi dia menolak. Entah apa sikap Pakde Wira kalau tahu Cahaya menolak perjodohan kami malah dekat dengan pria lain.”
Sepertinya Andin sepakat dengan Aya menolak menikah dengan pria itu. Mendengar ancaman pria itu membuat jengkel seperti tukang ngadu. Mengganggu karena sedang terburu-buru.
“Adit, dengar ya. Mbak nggak ngerti maksud kamu. Kalau Aya sudah menolak perjodohan kalian, mbak tidak bisa ikut campur. Itu haknya. Permisi!” Andin sudah melanjutkan langkahnya mengabaikan Adit.
“Mbak ingin Aya seperti mbak? Kerja keras hidup di perantauan bahkan sampai menjadi pelayan. Apa kata orang, keluarga Janitra menjadi pelayan dan perawat di rumah sakit.” Adit tersenyum sinis saat ia mendapatkan perhatian dari Andin yang menoleh.
“Lalu apa kata orang, keluarga Waskita merengek pada keluarga Janitra demi perjodohan. Mengejar sampai Jakarta, jelas-jelas sudah ditolak.” Gantian Andin yang tersenyum sinis dan berlalu.
“Si4lan, adik kakak sama-sama l0nte. Jarwo!” teriak Adit.
“Iya mas."
"Kita pulang, kalau Wira tidak bisa berikan solusi untuk pernikahanku dan Cahaya, kita lakukan dengan caraku.”
astaga naga romo itu menantu mu loh
Lbh nyesek lg klo aya tiba2 palang merah auto buka puasanya semingguan 🫣🤣🤣
sabar dok kan engga yg pertama² bgt yeekan 🤣
Bang Anji lak mesti sibuk live steaming trussss dan yg pasti tukang kompor 🤣🤣🤣 ini untung Rama gk ikut , klo ada yg pasti hebohnya ngalah2i satu Rt 😂😂😂