NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati terpuruk

Sementara itu di pintu kamar tamu yang tertutup rapat, Cantika duduk meringkuk di tepi tempat tidur. Tangan kirinya terkepal, sementara tangan kanannya menekan dadanya yang terasa sesak. Suara Viona yang manja dan penuh tuntutan masih terdengar samar-samar dari ruang tamu, meski Arka berusaha menjaganya agar tidak terlalu keras. Setiap kata mesra yang keluar dari mulut tunangan suaminya itu seperti jarum kecil yang menusuk-nusuk hati Cantika.

Ia menunduk, air mata yang tadi pagi sudah dikeringkan kembali menggenang di pelupuk matanya. “Lagi-lagi aku disembunyikan,” gumamnya dalam hati, suaranya hanya berupa bisikan yang hampir tak terdengar. “Seperti benalu yang tak diinginkan.”

Cantika mengingat kembali bagaimana semuanya bermula. Pernikahan mendadak itu terjadi karena desakan warga kampung halaman mereka yang marah besar ketika Arka tertangkap basah dengan Cantika berdua di gubuk kosong . Padahal, saat itu Arka hanya sedang menolong Cantika,Gosip menyebar cepat, nama baik kedua keluarga terancam, dan akhirnya pernikahan menjadi satu-satunya jalan keluar. Tidak ada cinta. Tidak ada lamaran romantis. Hanya paksaan dan rasa malu yang harus ditutupi.

Kini, ia menjadi istri sah di atas kertas, tetapi di mata Arka, ia hanyalah beban yang harus disembunyikan setiap kali Viona muncul. Viona wanita cantik, kaya, dan sudah ditetapkan sebagai tunangan Arka sejak lama oleh kedua keluarga besar. Cantika tahu posisinya. Ia hanya gadis biasa dari keluarga sederhana, tanpa kekayaan, tanpa koneksi, dan tanpa pesona yang bisa menandingi Viona.

Di dalam kamar yang sunyi itu, Cantika merasa dadanya semakin sesak. Ia bangkit pelan, berjalan ke jendela kecil yang menghadap ke balkon apartemen. Sinar matahari senja yang keemasan menyusup masuk, menerangi wajahnya yang pucat. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Mata yang masih bengkak, rambut yang acak-acakan karena semalaman menangis, dan baju rumah sederhana yang ia kenakan. “Apa aku pantas di sini?” bisiknya pada bayangannya sendiri.

Suara Viona kembali terdengar, kali ini lebih dekat, seolah wanita itu sedang berusaha mendekat ke lorong kamar. “Aku selalu tahu jika milikku sedang diganggu oleh orang lain.” Kata-kata itu menusuk tepat ke ulu hati Cantika. Milikku. Viona menganggap Arka sebagai miliknya sepenuhnya. Dan Cantika? Ia hanya pengganggu sementara.

Cantika menutup mulutnya dengan tangan agar isakannya tidak terdengar. Air matanya akhirnya jatuh juga, membasahi pipinya yang sudah dingin. Ia merasa seperti benalu yang menempel di pohon yang sebenarnya tidak membutuhkannya. Pernikahan ini tidak didasarkan pada cinta, melainkan karena terpaksa. Arka jelas masih mencintai Viona. Sikap dinginnya pagi tadi, kata-katanya yang tegas “jangan terlalu berharap hubungan kita” semuanya semakin memperjelas posisi Cantika.

“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Cantika sambil duduk kembali di tepi tempat tidur. Pikirannya berputar-putar. Ia bisa saja meminta cerai, tapi bagaimana dengan keluarganya di kampung pasti akan hancur hatinya jika mendengar anak perempuan satu-satunya bercerai hanya beberapa hari setelah menikah. Gosip warga kampung akan semakin menjadi-jadi. “Cantika sudah diceraikan karena tidak layak,” begitu kira-kira yang akan mereka katakan.

Ia juga memikirkan nasib rumah tangganya yang baru saja dimulai. Apakah ia mampu bertahan? Setiap hari melihat Arka yang jelas masih terikat dengan Viona, setiap kali harus bersembunyi seperti pencuri di apartemen sendiri, setiap malam tidur di kamar terpisah semua itu terasa menyiksa. Cantika bukan wanita yang suka merebut milik orang lain. Ia dibesarkan dengan nilai-nilai kesederhanaan dan harga diri. Tapi sekarang, ia terjebak dalam situasi yang membuatnya merasa rendah diri setiap saat.

Di luar kamar, suara pintu apartemen akhirnya terdengar tertutup. Langkah kaki Arka mendekat pelan ke arah kamar tamu. Cantika cepat-cepat mengusap air matanya dengan punggung tangan, berusaha menenangkan napasnya yang tersengal. Ia tidak mau Arka melihatnya semakin lemah.

Suasana hening kamarnya terpecahkan setelah mendengar ketukan dari luar pintu.

Tok ..Tok!!

“Cantika,” panggil Arka pelan sambil mengetuk pintu dua kali. “Viona sudah pergi. Kamu boleh keluar sekarang.”

Cantika tidak langsung menjawab. Ia berdiri, melangkah ke pintu, tapi tangannya ragu-ragu di pegangan pintu. Setelah menghela napas panjang, ia membuka pintu perlahan. Arka berdiri di depannya dengan wajah lelah. Mata pria itu menatapnya dengan campuran rasa bersalah dan kebingungan

Kamu … baik-baik saja?” tanya Arka, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Cantika mengangguk kecil, tapi matanya tidak berani menatap langsung ke mata Arka. “Saya baik, Tuan. Terima kasih sudah menyuruh saya masuk tadi.”

Arka menghela napas. Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan. “Maafkan aku. Situasinya … rumit.”

“Mengerti, Tuan,” jawab Cantika datar. Ia berjalan melewati Arka menuju ruang tamu, mengambil cangkir tehnya yang sudah dingin, lalu membawanya ke dapur. Arka mengikuti dari belakang.

Di dapur, Cantika membilas cangkir itu dengan air mengalir. Gerakannya pelan, seolah sedang berpikir keras. Arka bersandar di ambang pintu dapur, memperhatikannya.

“Kamu dengar semuanya?” tanya Arka akhirnya.

Cantika berhenti sejenak, lalu mengangguk tanpa menoleh. “Sedikit. Cukup untuk tahu bahwa saya memang sebaiknya tidak terlalu berharap.”

Arka terdiam. Kata-kata Cantika terasa seperti tamparan halus. Ia tahu ia telah menyakiti wanita ini, tapi ia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Viona adalah masa depan yang sudah direncanakan, sementara Cantika muncul secara tiba-tiba karena paksaan.

Cantika mematikan keran air dan mengeringkan tangannya dengan lap dapur. Ia berbalik menghadap Arka, kali ini matanya lebih tegar meski masih ada sisa air mata.

“Tuan, boleh saya bicara jujur?” tanyanya pelan.

Arka mengangguk. “Bicara saja.”

“Saya tahu pernikahan ini bukan keinginan Tuan. Saya juga tidak pernah bermimpi menikah dengan cara seperti ini. Tapi sekarang kita sudah sah di mata hukum dan agama. Saya bukan tipe wanita yang suka merebut milik orang. Kalau Tuan masih mencintai Mbak Viona dan ingin melanjutkan pertunangan itu, saya siap mundur. Kita bisa bicarakan perceraian secara baik-baik. Saya tidak akan menuntut apa-apa.”

Arka terkejut mendengar kata-kata itu. Ia tidak menyangka Cantika akan mengatakan hal sejujur itu. “Kamu… serius?”

Cantika tersenyum tipis, senyum yang penuh kepahitan. “Serius, Tuan. Saya lelah disembunyikan seperti ini. Saya lelah merasa seperti benalu di rumah tangga yang sebenarnya bukan milik saya. Setiap kali Mbak Viona datang, saya harus bersembunyi. Setiap kali Tuan bicara dingin, saya merasa semakin kecil. Saya tahu saya tidak punya apa-apa dibandingkan Mbak Viona. Tapi saya juga punya harga diri.”

Arka melangkah mendekat, tapi Cantika mundur selangkah, menjaga jarak.

“Saya sedang memikirkan apa yang harus saya lakukan selanjutnya,” lanjut Cantika. “Pulang ke kampung? Mencari pekerjaan di kota lain? Atau tetap di sini dan berusaha bertahan meski hati ini semakin hancur setiap hari? Saya bingung, Tuan. Rumah tangga ini baru dimulai, tapi sudah terasa seperti penjara. Apakah saya mampu bertahan? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya tidak mau menjadi penghalang kebahagiaan Tuan dan Mbak Viona.”

Arka terdiam lama. Ia menatap Cantika dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah yang semakin besar, ada juga sesuatu yang lain sesuatu yang hangat dan asing yang mulai muncul setiap kali ia melihat ketegaran wanita di depannya ini.

“Cantika … aku tidak bilang kamu harus pergi,” kata Arka pelan. “Situasinya memang rumit. Aku masih harus bicara dengan orang tua dan keluarga Viona. Aku tidak bisa langsung memutuskan segalanya dalam sekejap.”

Cantika menggeleng pelan. “Saya mengerti. Tapi saya mohon, jangan biarkan saya terus-terusan seperti ini. Kalau Tuan memilih Viona, katakanlah sekarang. Biar saya siapkan hati saya. Kalau Tuan ingin mencoba menjalani pernikahan ini … saya juga siap belajar. Tapi jangan setengah-setengah. Saya tidak kuat kalau setiap hari harus bersembunyi dan mendengar kata-kata manja Mbak Viona untuk Tuan.”

Suasana dapur menjadi hening. Hanya suara tetesan air dari keran yang bocor kecil yang terdengar. Arka menatap lantai, lalu kembali ke wajah Cantika yang pucat tapi penuh tekad

1
Nadia Zalfa
double up thorr. ..suka sama ceritanya cantika😍
MayAyunda: diusahakan kak🙏
total 1 replies
Lovelynzeaa🌷
lanjut thor, up yg bnyk
MayAyunda: di usahakan kak ..🙏🙏
total 1 replies
Alex
semoga segera kebongkar kebusukan mu viona dan Cantika gak sedih lagi arka gak bngung lagi 🥰
MayAyunda: iya kak
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!