NovelToon NovelToon
KEY

KEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: DAN DM

AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Mawar hitam

Matahari mulai meninggi, menyinari jalanan Kota Alengka yang ramai. Deon Key dan Kakek Genpo berjalan santai sambil membawa kantong-kantong belanjaan yang penuh. Wajah mereka cerah, perut kenyang, dan dompet kini terasa tebal berisi emas dan uang.

"Deon, ayo cepat pulang. Rasanya nggak tenang kalau kelamaan di sini," bisik Genpo sambil membetulkan topinya. "Ingat lho, kita ini sekarang orang yang 'punya rahasia besar'. Kalau ketemu orang salah, bisa bahaya."

"Tenang Kek, kan kita pakai pakaian biasa. Siapa juga yang mau peduli sama kita?" jawab Deon santai.

Namun, takdir berkata lain.

Saat mereka melewati sebuah alun-alun kecil yang teduh di depan sebuah bangunan bergaya mewah, langkah mereka terhenti.

Di sana, duduk di sebuah bangku batu yang dihias mewah, terlihat sosok yang sangat familiar.

Nona Prizeyl.

 

Dulu, Deon mengingatnya sebagai wanita yang galak, sombong, dan matanya memancarkan api kemarahan. Tapi hari ini... berbeda total.

Prizeyl duduk menunduk. Gaun biru langitnya masih tetap mewah dan mahal, tapi bahunya terlihat turun lesu. Wajahnya yang cantik kini terlihat pucat dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Matanya yang tajam kini tampak kosong dan berkaca-kaca. Di sebelahnya berdiri lelaki berjubah hitam bersimbol awan (Vorn) yang juga terlihat murung dan waspada.

Suasana di sekitar mereka terasa mendung, meski langit cerah.

"Paman Eyrod benar ya... dia lagi ada masalah soal batu itu," gumam Deon pelan. Ia menarik lengan Kakek Genpo untuk bersembunyi sedikit di balik tiang sebuah toko, cukup dekat untuk mendengar percakapan.

 

Aneh sekali melihat dia seperti ini.

Aku memperhatikan dengan seksama. Logikaku bekerja menganalisis bahasa tubuhnya. Postur tubuh yang tertutup, kepala menunduk, tangan yang saling mencengkeram... itu semua tanda stres berat dan keputusasaan.

Terdengar suara Prizeyl bicara pelan, suaranya bergetar, tidak lagi melengking dan marah seperti dulu.

"Vorn... bagaimana ini? Waktu tinggal sedikit lagi. Klan memberikan kepercayaan penuh padaku untuk membawa pulang Batu Giok Zamrud 3 kg itu sebagai persembahan utama upacara tahunan."

"Tapi Non... batu itu tiba-tiba hilang dari gudang penyimpanan semalam. Penjaga bilang tidak ada tanda-tanda pencurian, batu itu seolah... menguap begitu saja," jawab Vorn dengan nada lembut.

"Aku tahu! Tapi siapa yang mau dengar alasan?! Kakek dan paman-paman di Klan Awan pasti akan bilang aku gagal! Mereka akan bilang aku tidak pantas menjadi pewaris!" Suara Prizeyl mulai pecah, air mata mulai menetes di pipi putihnya.

"Aku sudah mengejar harapan itu selama seminggu. Aku bangga sekali karena dapat tugas itu. Dan sekarang... hilang begitu saja."

Prizeyl memukul pelan pahanya sendiri dengan frustrasi.

"Bahkan kalau ada batu pengganti... ukurannya harus minimal mendekati itu. Tapi di seluruh pasar Alengka, tidak ada zamrud sebersih dan sebesar itu. Yang ada cuma batu-batu kecil yang tidak layak buat upacara..."

Hati Deon terenyuh.

Jadi dia galak dan sombong kemarin... bukan karena dia jahat. Tapi karena dia tekanan banget sama tugas dan gengsi klannya.

Aku melirik ke arah ransel di punggungku.

Tadi saat membelah batu besar, aku sengaja menyisihkan beberapa potong bagus buat cadangan. Ada satu potong yang ukurannya... hmm... sekitar 4 kg. Lebih besar dan lebih bersih daripada yang 3 kg di cerita tadi!

Kalau dia nggak dapat batu ini... nasibnya bakal buruk ya.

Tanpa sadar, kakiku melangkah maju.

 

"Ee... Deon! Mau kemana?! Jangan gila!!" bisik Genpo panik mencoba menahan, tapi Deon sudah berjalan tenang menuju ke hadapan Prizeyl dan Vorn.

Saat melihat Deon muncul, mata Vorn langsung tajam dan tangannya siap siaga. Prizeyl juga mengangkat wajahnya, matanya kembali menyipit marah saat mengenali si orang kampung yang ditabraknya kemarin.

"Kau?!" seru Prizeyl kaget, lalu wajahnya berubah masam. "Apa kau mau mengejekku?! Atau mau meminta maaf yang benar sekarang?!"

Deon tidak mundur. Ia berdiri tegak, menatap mata Prizeyl dengan tenang.

"Tidak Nona. Saya tidak mau meminta maaf, dan tidak mau mengejek," jawab Deon datar. "Saya hanya mendengar bahwa Nona sedang kesulitan mencari batu Giok Zamrud yang besar dan bersih."

"Hah! Urusanmu tidak usah dicampuri! Orang sepertimu mana mungkin tahu soal batu kelas tinggi!" sentak Vorn.

"Mungkin saya tidak tahu banyak," Deon tersenyum tipis, lalu tangannya perlahan membuka ranselnya. "Tapi kebetulan sekali... saya ada stok barang di sini."

Dengan gerakan lambat, Deon mengeluarkan sebuah benda yang dibungkus kain lembut. Ia meletakkannya di atas bangku di hadapan mereka, lalu membuka pembungkusnya.

BERSINAR!!!

Warna hijau pekat, bening, dan megah terpancar! Ukurannya besar, bulat sempurna, dan beratnya jelas terlihat melebihi apa yang mereka cari!

"Ini..." Vorn terbelalak, lututnya lemas. "Lebih besar dari yang hilang... warnanya juga lebih hidup..."

Prizeyl diam mematung. Mulutnya terbuka lebar, air matanya masih menetes tapi ia tak berkedip melihat batu itu.

 

GILA! GILA! GILA!

Aku langsung lari mendekat, lalu memeluk kepala Deon sambil berbisik keras ditelinganya.

"DEON! KAMU GILA YA NAK?! ITU BARANG LANGKA! KENAPA KELUARIN SINI?! NANTI DIRAMPOK! NANTI DIBUNUH! HATI-HATI ITU ORANG KLAN! MEREKA GALAK DAN SOMBONG!"

Genpo berkeringat dingin, matanya melotot waspada ke kanan dan kiri, siap kalau-kalau ada hal buruk terjadi. "Jangan sembarangan nawarin! Nanti harganya dimainin! Hati-hati Nak..."

"Iya Kek... tenang. Saya tahu apa yang saya lakukan," jawab Deon pelan tanpa mengalihkan pandangan dari Prizeyl.

 

Prizeyl akhirnya sadar dari keterpakuannya. Ia menatap Deon dengan pandangan yang sangat rumit. Marah, takjub, tak percaya, dan ada secercah harapan.

"Kau... kau benar-benar mau menjualnya?" tanya Prizeyl, suaranya tidak lagi galak, justru terdengar lemah dan penuh harap. "Batu sebesar dan sebersih ini... berapa kau minta? Aku beli! Aku beli berapapun harganya!"

Deon menggeleng pelan.

"Bukan soal uang Nona. Uang saya sudah cukup."

"Terus kau mau apa?!" Vorn semakin bingung.

Deon menatap Prizeyl dalam-dalam.

"Saya mau Nona janji dua hal."

"Bilang saja! Apa saja aku janji!"

"Pertama," jari Deon menunjuk ke arah wajah Prizeyl. "Lain kali kalau jalan, lihat depan. Jangan ngebut-ngebut dan jangan mudah memaki orang. Orang kampung juga punya harga diri."

Prizeyl tersentak, wajahnya memerah padam karena malu. Ia menunduk dalam.

"Maafkan aku..." bisiknya sungguh-sungguh. "Aku... aku memang buruk perangai. Maafkan kemarin ya..."

"Kedua," Deon tersenyum kecil. "Batu ini saya berikan, tapi Nona harus janji akan merawatnya dengan baik dan menggunakannya untuk hal yang benar. Karena batu ini... bukan batu biasa."

Prizeyl mengangguk cepat berkali-kali, air matanya mengalir deras tapi kali ini air mata bahagia.

"Aku janji! Demi nama Klan Awan, aku janji! Terima kasih... terima kasih banyak..."

 

Dan di saat itu juga, hubungan antara si Jenius Reruntuhan dan Putri Klan Awan mulai terjalin. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai dua pihak yang saling menyimpan rahasia besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!