Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Ratu dan Benteng Rahasianya
Pintu baja lift baru saja terbuka di lantai dasar basement, namun kaki Bumi seolah terpaku pada lantai kabin.
Wajahnya yang beberapa detik lalu masih memerah karena sandiwara panas kami di ruang kerja, kini memucat pasi seputih kapas. Matanya menatap horor pada layar ponsel di tangannya.
"Bumi? Ada apa?" tanyaku panik. Aku meraih lengannya, merasakan otot-otot di sana menegang kaku sekeras batu.
Tanpa sepatah kata pun, Bumi memutar layar ponselnya ke arahku.
Napas ku seketika tercekat. Sebuah foto baru saja masuk dari nomor tak dikenal. Di dalam foto itu, Hajah Fatimah tampak sedang berjalan keluar dari sebuah minimarket sambil menenteng kantong plastik putih. Beliau difoto secara diam-diam dari balik kaca mobil gelap yang mengintainya dari seberang jalan.
Di bawah foto itu, tidak ada teks ancaman. Tidak ada kata-kata. Hanya ada ikon emoticon jam pasir. ⏳
Waktunya sedang berjalan.
"Ibu..." Suara Bumi terdengar bergetar hebat. Kepanikan yang sangat jarang ia tunjukkan kini merobek seluruh ketenangannya. Pria itu nyaris berlari keluar dari lift, tapi aku segera menahan lengannya dengan sekuat tenaga.
"Jangan gegabah! Jika kamu berlari ke sana tanpa rencana, mereka akan tahu kita panik, dan Rendra akan langsung menyekap ibumu!" desisku tajam, memaksanya menatapku.
"Itu ibuku, Aruna! Mereka mengincarnya karena aku berani melawan Rendra di ruanganmu tadi!" Bumi menatapku dengan mata yang memerah. Rasa bersalah dan kemarahan bercampur aduk di sana. "Aku harus ke sana sekarang!"
"Kamu tidak akan pergi sendirian," kataku mutlak.
Zirah CEO-ku, yang tadi sempat dihancurkan oleh teror Rendra, kini kembali tersusun dengan cara yang berbeda. Aku bukan lagi wanita rapuh yang menangis di pojok rak buku. Aku adalah seorang istri yang harus melindungi keluarga suaminya.
Aku merogoh ponselku dengan cepat, mencari satu nama yang tidak pernah kusentuh selama tiga tahun terakhir. Sebuah kontak darurat yang tidak ada hubungannya dengan jaringan Wiratmadja Tech maupun Sarah.
"Halo, Garda," sapaku dingin saat panggilan itu tersambung.
"Selamat siang, Nyonya Aruna. Lama tidak mendengar instruksi Anda," jawab sebuah suara bariton yang berat dari seberang sana. Garda adalah kepala tim sekuriti swasta bayaran tinggi yang dulu pernah disewa oleh ayahku. Kesetiaannya hanya pada uang pribadiku, bukan pada perusahaan.
"Kirimkan satu unit tim ekstraksi ke minimarket Indomaret di jalan raya depan Rumah Sakit Kasih Pelita. Ada seorang wanita paruh baya berhijab hitam di sana. Dia adalah mertuaku. Amankan dia dalam waktu kurang dari lima menit. Gunakan kendaraan tak terlacak, pastikan tidak ada mobil yang membuntuti, lalu bawa beliau ke titik koordinat Safe House Alpha."
"Dimengerti, Nyonya. Kami bergerak sekarang."
Aku mematikan telepon, lalu menatap Bumi yang masih menatapku dengan napas terengah.
"Ayo naik ke mobil," perintahku lembut namun tegas. "Kita jemput ibumu sekarang."
Tiga puluh menit kemudian, mobil SUV pengganti yang kami kendarai melaju memasuki sebuah kawasan perumahan elite dan eksklusif di daerah Kemang, Jakarta Selatan.
Kawasan ini sangat tertutup. Pagar temboknya menjulang tinggi seperti benteng, dan penjagaan di gerbang depan dilakukan oleh petugas bersenjata api. Kami melaju masuk hingga berhenti di halaman sebuah rumah bergaya kontemporer minimalis yang sangat asri.
Di teras rumah itu, Hajah Fatimah sedang duduk di kursi rotan, ditemani oleh secangkir teh hangat dan dua orang pria bertubuh tegap berpakaian preman—anak buah Garda.
Begitu mobil berhenti, Bumi langsung melompat keluar.
"Ibu!"
Bumi menghampiri Hajah Fatimah dan langsung bersimpuh di depan lutut ibunya, memeluk pinggang wanita paruh baya itu dengan erat. "Ibu tidak apa-apa? Ada yang luka? Ada orang yang mendekati Ibu tadi?" berondongnya dengan rentetan pertanyaan panik.
"Astaghfirullah, Le. Ibu tidak apa-apa," Hajah Fatimah mengusap kepala putranya dengan bingung. "Tadi saat Ibu beli buah di minimarket, tiba-tiba bapak-bapak berbadan besar ini mendatangi Ibu, bilang kalau mereka utusan Aruna. Mereka menyuruh Ibu masuk ke mobil dengan sangat sopan. Ada apa sebenarnya ini, Nak? Kenapa kita dibawa ke rumah mewah ini?"
Aku berjalan menyusul Bumi, berdiri di sebelahnya.
"Maafkan saya membuat Ibu terkejut," ucapku lembut, mengambil tangan Hajah Fatimah dan mencium punggung tangannya dengan takzim. "Keamanan di sekitar rumah sakit sedang tidak kondusif, Bu. Ada pihak-pihak tidak bertanggung jawab dari kantor yang sedang mencoba mengancam saya dan Mas Bumi. Demi keselamatan Ibu dan Sifa, saya memindahkan kalian ke mari."
"Sifa?" Hajah Fatimah mengerutkan kening, semakin bingung. "Tapi Sifa kan tidak bisa—"
Suara deru mesin diesel dari arah gerbang memotong ucapan Hajah Fatimah. Sebuah ambulans swasta tipe VVIP memasuki halaman. Pintu belakangnya terbuka, dan beberapa paramedis profesional menurunkan sebuah stretcher (brankar) otomatis.
Di atas brankar itu, Sifa terbaring dengan infus yang masih terpasang rapi, diiringi bunyi monitor EKG portabel yang berdetak stabil. Anak itu masih tertidur akibat efek obat penenang pasca-operasi, namun ia terlihat jauh lebih baik.
"Saya sudah memerintahkan Garda untuk mengurus izin pemindahan Sifa dari ruang ICU Kasih Pelita," jelasku pada Bumi yang menatap ambulans itu dengan syok. "Dokter Handoyo menentang keras pemindahan ini karena risikonya sangat tinggi. Tapi membiarkan Sifa di rumah sakit yang sudah disusupi pembunuh jauh lebih mematikan. Aku memaksa Dokter Handoyo ikut di dalam ambulans itu dengan bayaran berapa pun untuk memastikan Sifa selamat sampai di sini.
Di dalam rumah ini ada satu kamar yang sudah kuubah menjadi ruang perawatan intensif dengan fasilitas setara rumah sakit kelas satu. Ada satu dokter dan dua perawat pribadi yang akan berjaga dua puluh empat jam."
Bumi bangkit berdiri perlahan. Dia menatap ambulans, lalu menatap rumah besar di depannya, dan terakhir menatapku. Matanya berkaca-kaca.
"Aruna..." suaranya tercekat. "Ini... ini pasti menelan biaya miliaran."
Aku tersenyum tipis, merapikan sedikit kerah kemejanya yang berantakan. "Rumah ini kubeli secara diam-diam beberapa bulan sebelum Adrian meninggal, menggunakan uang pribadiku dari investasi yang tidak diketahui oleh Rendra maupun dewan direksi. Ini adalah blind spot (titik buta). Sarah tidak tahu tempat ini ada. Rendra tidak akan pernah bisa melacak kalian di sini."
Aku menatap mata suamiku dalam-dalam. "Kamu sudah mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkanku dari Rendra. Ini adalah caraku melindungimu. Ibumu dan adikmu aman bersamaku, Bumi."
Bumi terdiam. Untuk kesekian kalinya hari ini, pria itu kehabisan kata-kata. Dia tidak memelukku—karena kami sedang berada di depan ibunya—tetapi tatapannya mengatakan segala hal yang tidak bisa diucapkan bibirnya. Ada rasa hormat, kekaguman, dan sebuah ikatan kesetiaan yang mengakar semakin dalam di hatinya.
Malam harinya, setelah Hajah Fatimah beristirahat di kamar tamu utama dan Sifa dipastikan stabil di ruang perawatannya, rumah besar itu kembali sepi.
Tim keamanan Garda berjaga di perimeter luar. Aku dan Bumi duduk di area teras belakang rumah, menghadap ke arah kolam renang yang airnya memantulkan cahaya lampu kebiruan.
Udara malam Jakarta terasa cukup dingin. Aku merapatkan cardigan-ku, menatap secangkir teh chamomile yang asapnya masih mengepul di tanganku.
Bumi duduk di kursi sebelahnya. Dia sudah mandi dan berganti pakaian dengan kaus oblong hitam yang disiapkan pelayan safe house. Entah kenapa, suasana canggung yang sempat mereda siang tadi kembali menyergap kami.
Mungkin karena sekarang, di bawah langit malam yang tenang ini, pikiran kami mau tidak mau kembali pada kejadian di ruang kerjaku tadi siang.
"Ibumu sudah tidur?" tanyaku pelan, memecah keheningan.
"Sudah," Bumi mengangguk. Dia menatap lurus ke arah kolam renang. "Terima kasih, Aruna. Aku... aku tidak tahu harus membalas budimu dengan apa. Kamu memberikan segalanya untuk keluargaku."
Aku tersenyum kecil. "Kamu bisa memulainya dengan tidak mengungkit-ungkit hutang budi lagi. Kita sedang bertarung di kubu yang sama sekarang. Panggilannya juga sudah 'aku-kamu', ingat?"
Bumi berdeham pelan. Telinganya sedikit memerah. "Iya. Aku ingat."
Keheningan kembali turun selama beberapa menit. Hanya terdengar suara gemericik air kolam dan jangkrik dari taman belakang.
"Bumi..." aku memberanikan diri untuk bersuara lagi. Tanganku meremas cangkir teh hangatku untuk mencari kekuatan. "Soal sandiwara kita di ruang kerjaku tadi..."
Bumi langsung terbatuk. Dia tersedak air liurnya sendiri. Pria itu buru-buru meletakkan gelas air putihnya ke atas meja kaca, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.
"A-aku minta maaf!" sela Bumi cepat, nada bicaranya mendadak panik. Posisinya yang tadi bersandar santai kini menjadi tegak lurus. Dia menundukkan pandangannya. "Tadi... aku benar-benar kelewatan. Aku hanya ingin membuat rekaman audionya terdengar serealistis mungkin agar Sarah dan Rendra yakin kita sedang bertengkar hebat. Sentuhan itu... kecupan itu... aku mohon maaf jika itu membuatmu merasa dilecehkan."
Melihat kepanikannya yang begitu menggemaskan, sebuah tawa kecil lolos dari bibirku.
"Dilecehkan?" Aku menggeleng pelan, memiringkan kepalaku menatapnya. "Bumi, secara hukum agama dan negara, kamu suamiku. Kamu berhak menyentuhku jika kamu mau."
Kata-kata itu meluncur begitu saja sebelum otakku sempat menyaringnya. Begitu aku menyadari apa yang baru saja kukatakan, giliran wajahku yang terbakar sehebat lahar panas. Astaga, Aruna! Kau terdengar seperti sedang menawarkannya!
Bumi menelan ludah. Jakunnya naik turun. Dia memberanikan diri menatapku, matanya memancarkan keterkejutan yang bercampur dengan sesuatu yang sangat gelap dan memabukkan.
"A-aku tidak bermaksud seperti itu!" ralatku buru-buru, menutupi wajahku yang memerah dengan kedua tanganku. "Maksudku... kamu tidak perlu meminta maaf. Sandiwara tadi sangat meyakinkan. Kamu... aktingmu sangat bagus."
Bumi tersenyum tipis. Senyum yang membuat sisi maskulinnya kembali mendominasi kecanggungannya. Dia memutar posisi duduknya sedikit agar lebih menghadap ke arahku.
"Itu bukan sepenuhnya akting, Aruna," gumam Bumi pelan.
Napas ku tertahan. Aku menurunkan tanganku dari wajahku, menatapnya dengan bingung dan jantung yang berpacu liar. "Apa maksudmu?!"
Bumi menatap mataku dalam-dalam. "Aku benar-benar marah saat Rendra menyentuhmu. Aku benar-benar marah karena dia mengancam nyawamu dan mengolok-olok trauma masa lalumu. Dan saat aku... mendekapmu tadi..."
Bumi menghentikan kalimatnya, seolah mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaannya tanpa melanggar batasan kesopanannya. "...aku ingin mereka mendengar bahwa ada pria yang siap mati jika mereka berani menggores sedikit saja kulitmu."
Ruang di antara kami terasa menipis. Kata-katanya tidak puitis, tidak dirangkai seperti rayuan Don Juan, tapi ketulusannya begitu brutal hingga meruntuhkan sisa-sisa tembok di hatiku.
Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu. Mungkin aku yang sedikit mencondongkan tubuh ke depan, atau mungkin Bumi yang memangkas jarak. Tangan besarnya perlahan terangkat, menyentuh pipiku dengan kelembutan yang membuatku memejamkan mata. Ibu jarinya mengusap tulang pipiku pelan.
Jantungku bergemuruh. Ini bukan sandiwara. Tidak ada mikrofon Rendra di sini. Tidak ada tatapan tajam dewan direksi. Ini hanya kami berdua.
Namun, tepat di detik saat napas kami mulai berbaur...
TRING!
Ponsel kerjaku yang tergeletak di atas meja kaca berbunyi nyaring, menghancurkan gelembung sihir yang baru saja tercipta.
Kami berdua terlonjak kaget dan refleks menarik diri. Bumi buru-buru berdeham keras, membuang muka ke arah kolam dengan wajah yang kembali merah padam. Aku meraih ponselku dengan tangan gemetar, diam-diam merutuki siapa pun yang menelepon di saat yang sangat tidak tepat ini.
Sebuah email masuk. Pengirimnya adalah Sarah.
Keningku berkerut. Aku membuka email tersebut. Jantungku yang tadi berdebar karena romansa, kini berdebar karena hawa dingin yang merayap di tengkukku.
"Dari Sarah?" tanya Bumi, menyadari perubahan drastisku. Zirah pelindungnya langsung kembali terpasang.
Aku mengangguk, menyodorkan layar ponselku padanya. "Baca ini."
Di layar itu, terpampang sebuah undangan elektronik eksklusif dengan desain emas yang mewah.
UNDANGAN GALA DINNER AMAL & PENGHARGAAN WIRATMADJA TECH
Jumat Malam, Grand Ballroom Hotel Mulia.
Di bawah undangan resmi itu, terdapat pesan singkat dari Sarah:
"Selamat malam, Ibu Aruna. Bapak Rendra Daniswara selaku perwakilan Dewan Pemegang Saham Mayoritas menginstruksikan agar Ibu wajib hadir di acara Gala Dinner besok malam. Beliau juga menegaskan, untuk menepis rumor keretakan rumah tangga Anda di media hari ini, Ibu harus hadir bergandengan tangan dengan Bapak Bumi Arkan. Ketidakhadiran salah satu pihak akan dianggap sebagai konfirmasi bahwa pernikahan Anda hanyalah manipulasi korporat, dan RUPSLB akan langsung dijalankan keesokan harinya."
Bumi membaca pesan itu dengan rahang yang kembali mengeras.
"Dia mengundang kita ke kandang singa," gumam Bumi. Ia mendengus sinis. "Rendra mendengar pertengkaran kita siang tadi. Dia mengira kita saling membenci dan bersiap bercerai. Dengan memaksa kita tampil mesra besok malam, dia sedang bermain-main dengan mentalmu, Aruna. Dia ingin melihatmu tersiksa berakting sebagai istri yang bahagia, sambil dia menertawakan kehancuranmu dari kursi VVIP."
"Bukan hanya itu, Bumi," bisikku ngeri. Aku menatap tanggal di pojok undangan tersebut. "Jumat malam ini... adalah tepat malam peringatan tiga tahun kecelakaan Adrian."
____________________________________________
Mata Bumi membelalak menyadari fakta mengerikan itu. Rendra sengaja memilih tanggal kematian Adrian untuk mengadakan Gala Dinner. Pria psikopat itu tidak hanya ingin menguji sandiwara pernikahan kami; dia ingin menghancurkan mentalku berkeping-keping di depan publik. "Kita tidak punya pilihan," ucap Bumi, menatapku dengan sorot mata yang menggelap oleh tekad. "Besok malam, kita akan datang. Dan kita akan tunjukkan pada bajingan itu bahwa pertunjukan yang sebenarnya baru saja dimulai."
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘