Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Seseorang Dari Masa Lalu
Suasana restaurant kecil didekat kantor siang ini terasa cukup tenang, Nayara duduk dikursinya dengan tenang hanya saja wajahnya sesekali melihat jam ditangannya memastikan waktu tidak terlewat sesuai kesepakatan hanya tiga puluh menit.
Dihadapannya Adrian terlihat cukup santai dengan tangannya bergerak menuangkan air kedalam gelas.
" Ekhemmm... Sepertinya kamu sangat sibuk" ucap Adrian memecah keheningan.
" Aku memang sibuk, bukankah tadi aku sudah mengatakannya padamu?" jawab Nayara.
" Aku paham sekarang, bahkan aku bisa dengan jelas melihatnya secara langsung" jawab Adrian.
Beberapa detik keduanya makan dalam diam, keheningan kembali menemani suasana siang ini namun tatapan Adrian beberapa kali kembali tertuju pada wajah Nayara yang terlihat sedang menahan emosi seolah sesuatu sedang memenuhi pikirannya.
" Kenapa? Apa ada yang salah dari wajahku?" tanya Nayara yang akhirnya membuka suara.
" Kamu terlihat sangat berbeda hari ini"
" Aku selalu seperti ini, mungkin itu hanya perasaanmu saja" Nayara mencoba menutupi.
" Tidak... Aku memperhatikanmu dan aku tahu kamu sedang menutupi sesuatu bukan? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?" Adrian menyandarkan punggungnya dikursi.
" Kamu terlalu percaya diri, Adrian. Itu hanya perasaanmu saja" jawaban Nayara membuat suasana kembali hening.
Nayara sebenarnya tidak berniat untuk menjelaskan apapun kepada Adrian, kejadian dimasa lalu membuat Nayara merasakan krisis kepercayaan kepada orang-orang.
" Apakah seseorang datang menemuimu pagi tadi dikantor?" Adrian kembali berbicara.
" Kenapa kamu bertanya seperti itu?" pertanyaan Adrian membuat Nayara sedikit terkejut.
Adrian tidak langsung menjawab, saat ini ia hanya menatap Nayara dengan tenang.
" Karena aku melihat seseorang keluar dari gedung kantormu tadi"
" Lalu?" Nayara mengerutkan keningnya.
" Setelah itu ekspresimu berubah sampai sekarang" jawab Adrian masih dengan nada yang tenang.
Nayara kini menatap permukaan meja dihadapannya dengan tatapan kosong, entah apa yang harus ia lakukan saat ini.
" Dia seseorang dari masa laluku" beberapa detik berlalu suara pelan seperti bisikan akhirnya keluar.
Adrian tidak memotong untuk memastikan apa yang ia dengar, dengan sabar Adrian menjadi pendengar untuk Nayara melanjutkan ucapannya.
" Mantan kekasihku" kalimat itu cukup singkat, namun bisa membuat Adrian paham.
" Apakah dia masih mengganggumu?" tanya Adrian.
" Tidak ... Hanya saja tadi dia mencoba untuk berbicara lagi" Jawab Nayara cepat.
" Dana apakah kau menyukainya?" Tatapan Adrian kini terlihat semakin serius.
" Tidak sama sekali... Bagiku masa lalu seharusnya tetap berada dimasa lalu" Nayara menghela nafas pelan.
" Aku setuju" Adrian menganggukkan kepalanya pelan tidak berlebihan.
Namun ada sesuatu yang berubah dengan ekspresi wajahnya, sedikit lebih dingin dari sebelumnya.
Setelah makan siang selesai kini Nayara dan Adrian berjalan keluar dari restaurant, Nayara berhenti didekat mobil Adrian.
" Aku harus kembali ke kantor" ucap Nayara
Tanpa banyak bicara Aduran langsung membuka pintu mobil untuk Nayara.
" Baiklah, aku akan mengantarmu... Tidak perlu menolak jaraknya cukup dekat hanya lima menit " jawab Adrian yang kini tatapan dengan Ekspresi yang tidak memberikan ruang untuk sebuah perdebatan.
Akhirnya Nayara menyetujui dan masuk kedalam mobil, sepanjang perjalanan suasana kembali hening namun terasa berbeda.
Ketika mobil Adrian berhenti tepat didepan gedung Almeera Group, Nayara hendak membuka pintunya namun pergerakan itu terhenti ketika Adrian memanggil namanya.
" Nayara ... Jika pria itu datang lagi, tolong hubungi aku dan beritahu aku, mengerti?" Ucap Adrian.
" Kenapa?" Nayara mengerutkan keningnya.
" Karena aku tidak suka siapapun termasuk seseorang dari masa lalu mencoba mengganggu wanita yang akan menjadi istriku" Kalimat itu terlalu langsung.
Adria tersenyum tipis, namun ada sebuah ketegasan didalamnya.
" Kamu terlalu berlebihan, Adrian. Aku bahkan bisa mengurusnya sendiri" Ucap Nayara.
" Aku tahu, namun bukan berarti aku akan membiarkan kamu menghadapi semuanya sendirian" Adrian menganggukkan kepalanya pelan.
Nayara kembali menatap wajah Adrian lama, semakin terlihat ketulusan didalam setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Dan itu sedikit.... menganggu ketenangan yang Nayara rasakan.
Nayara akhirnya keluar dari mobil, namun. Sebelum pintu itu tertutup sempurna Adrian kembali bersuara.
" Nayara..."
" Iya?"
" Dengar... Mulai sekarang kamu tidak harus selalu kuat sendirian. Libatkan aku dalam hal apapun, aku akan selalu berada disampingmu" Adrian menatap wajah Nayara dengan lembut.
Kalimat itu membuat Nayara terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya ia mengangguk kepalanya dan menutup pintu mobil dan berjalan kembali ke gedung kantornya.
Sepanjang langkahnya setiap kalimat Adrian seperti sebuah mantra yang berputar dikepalanya, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama Nayara mulai bertanya kepada dirinya sendiri Apakah mungkin... Ada seseorang yang benar-benar ingin berada disisinya?
....
Sementara itu Adrian sampai saat ini masih setia duduk didalam mobilnya, tatapannya mengikuti langkah Nayara sampai wanita itu masuk kedalam gedung dengan selamat.
Apakah aku mulai menyukainya? Nayara benar-benar wanita yang sangat menarik untuk diabaikan.
Pertanyaan itu kini bersuara dalam pikirannya, Adrian masih menatap gedung tinggi dihadapannya sebelum akhirnya ia menyalakan mesin untuk kembali ke kantornya.